OpiniSejarah

Ketika Sandal Menjadi Guru: Membaca Ulang Ketawaduan Kiai Hasyim Asy’ari dan Gurunya

7 Mins read

Sejarah keilmuan pesantren Nusantara tidak selalu diwariskan melalui risalah tebal atau doktrin yang rumit. Sering kali, ia hidup dalam potongan peristiwa kecil yang tampak remeh di permukaan, namun menyimpan kedalaman makna yang nyaris tak terduga. Salah satu peristiwa itu adalah kisah tentang dua pasang sandal di halaman masjid: sandal Kiai Hasyim Asy’ari dan sandal gurunya, Kiai Khozin Sidoarjo.

Sepintas, ini hanya anekdot sederhana tentang siapa yang lebih dulu membetulkan alas kaki siapa. Namun, jika direnungkan lebih jauh, peristiwa ini adalah miniatur dari sebuah pergulatan filosofis tentang kekuasaan, pengetahuan, dan kerendahan hati: tiga hal yang dalam sejarah peradaban manusia justru kerap saling meniadakan.

Kita hidup di zaman ketika ilmu pengetahuan dan gelar akademik sering dijadikan alat legitimasi untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Maka, kisah Kiai Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus salah satu tokoh intelektual Islam terpenting di Nusantara, yang justru berlomba merendahkan diri di hadapan gurunya sendiri, menjadi semacam sindiran halus bagi zaman ini.

Ia bukan sekadar cerita nostalgia pesantren tempo dulu, melainkan cermin yang memantulkan pertanyaan mendasar: apakah ilmu benar-benar membuat manusia lebih arif, atau justru sering menjelma menjadi kendaraan bagi ego yang lebih canggih?

Jejak Sanad: Dari Sidoarjo ke Tanah Suci, Kembali sebagai Guru

Riwayat menyebutkan bahwa sebelum menjejakkan kaki di Tanah Suci, Kiai Hasyim Asy’ari lebih dulu berguru kepada Kiai Khozin di Sidoarjo. Di sanalah fondasi keilmuannya mulai dibangun, sebelum kemudian diperkaya melalui pengembaraan intelektual ke Makkah, tempat ia mengabdikan enam tahun hidupnya untuk berguru kepada para ulama besar dari berbagai penjuru dunia Islam.

Pengembaraan itu bukan sekadar perjalanan geografis, melainkan juga perjalanan batin: dari seorang penuntut ilmu di kampung halaman, menjadi bagian dari jaringan intelektual global ulama Haramain.

Namun, yang menarik, ketika Kiai Hasyim pulang dan mendirikan pesantren (yang kelak menjadi cikal bakal Pesantren Tebuireng, salah satu pusat keilmuan Islam paling berpengaruh di Nusantara), posisi sosial dan keilmuannya secara struktural telah berubah.

Ia bukan lagi murid, melainkan seorang kiai besar dengan pesantren sendiri, bahkan gurunya, Kiai Khozin, datang untuk turut menimba ilmu kepadanya. Di titik inilah logika hierarki konvensional semestinya berbalik: si murid kini menjadi guru dan si guru menjadi murid.

Tetapi justru di persimpangan status inilah ketawaduan sejati diuji. Sebab tawadhu yang mudah adalah tawadhu seorang murid kepada gurunya; itu sudah menjadi keniscayaan struktural, hampir tidak memerlukan perjuangan batin yang berarti.

Yang jauh lebih berat, dan karena itu jauh lebih mulia, adalah tawadhu seorang guru besar kepada orang yang dahulu adalah gurunya, padahal secara keilmuan dan pengaruh sosial ia telah jauh melampaui posisi tersebut.

Perebutan Sandal: Anatomi Sebuah Simbol

Di dalam kitab karya Kiai Musa Musthafa at-Tamani, berjudul “Ha’ula Masyayikhuna”, ada kejadian yang begitu penting untuk diabadikan, meski secara lahiriah tampak sepele: seusai menunaikan salat berjamaah di masjid, kedua kiai ini saling bergegas menyiapkan sandal satu sama lain. Dikatakan:

كَانَ حَضْرَةُ الشَّيْخِ كِيَاهِيْ هَاشِمْ أَشْعَرِيْ يَطْلُبُ الْعُلُوْمَ عِنْدَ الشَّيْخِ كِيَاهِيْ خَازِنْ سِيْدَاهَرْجَا قَبْلَ رِحْلَتِهِ إِلَى مَكَّةَ، فَلَمَّا رَجَعَ مِنْ مَكَّةَ بَعْدَ أَنْ جَالَسَ أَيْ لَازَمَ عِنْدَ الْعُلَمَاءِ يَطْلُبُ فِيْهِمُ الْعُلُوْمَ سِتَّةَ سَنَوَاتٍ أَسَّسَ الْمَعْهَدَ فَيَطْلُبُ الْعُلُوْمَ مِنْهُ الشَّيْخُ كِيَاهِيْ خَازِنْ، فَلَمَّا فَرَغَا مِنَ الصَّلَاةِ فِي الْمَسْجِدِ يَتَبَادَرَانِ نَعْلَيْهِمَا، فَالشَّيْخُ خَازِنْ يَتَبَادَرُ أَنْ يُجَهِّزَ نَعْلَيْ الشَّيْخِ هَاشِمْ لِيُلْبِسَهُمَا سَهْلًا لِأَنَّهُ شَيْخُهُ، وَالشَّيْخُ هَاشِمْ يَتَبَادَرُ أَنْ يُجَهِّزَ نَعْلَيْ الشَّيْخِ خَازِنْ لِيُلْبِسَهُمَا كَذَلِكَ

Baca...  Gerakan Usmani Muda di Turki

Artinya: “Dahulu Syaikh Kiai Hasyim Asy’ari menuntut ilmu kepada Syaikh Kiai Khozin Sidoarjo sebelum keberangkatannya ke Makkah. Ketika beliau pulang dari Makkah setelah bermukim dan berguru kepada para ulama di sana selama enam tahun, beliau mendirikan pesantren, sehingga Syaikh Kiai Khozin pun menuntut ilmu kepadanya. Maka tatkala keduanya selesai melaksanakan salat di masjid, mereka saling bergegas mengambil sandal masing-masing: Syaikh Khozin bergegas menyiapkan sandal Syaikh Hasyim agar mudah dikenakannya, karena beliau (dahulu) adalah gurunya; dan Syaikh Hasyim pun bergegas menyiapkan sandal Syaikh Khozin agar dapat dikenakannya pula.”

Dua kalimat pendek yang menutup narasi ini, “فَالشَّيْخُ خَازِنْ يَتَبَادَرُ” dan “وَالشَّيْخُ هَاشِمْ يَتَبَادَرُ”, memuat kata kerja yang sama persis: يَتَبَادَرُ “bergegas” atau “berlomba mendahului”. Kesetaraan gramatikal ini bukan kebetulan retoris belaka. Ia menegaskan pesan inti dari kisah tersebut: bahwa perlombaan sejati dalam ilmu bukanlah perlombaan untuk memperoleh pengakuan, melainkan perlombaan untuk merendahkan diri.

Jika ditelaah secara semiotik, sandal dalam konteks ini bukan sekadar alas kaki. Sandal adalah objek yang secara kultural diletakkan paling rendah, menyentuh tanah, debu, dan kotoran: simbol dari segala sesuatu yang dianggap “di bawah” dalam struktur tubuh maupun struktur sosial.

Menyiapkan sandal orang lain, dalam banyak tradisi Timur, adalah gestur pelayanan yang biasanya mengalir dari yang berstatus rendah kepada yang berstatus tinggi, dari santri kepada kiai, dari bawahan kepada atasan.

Maka dengan demikian, ketika seorang kiai besar seperti Hasyim Asy’ari justru memburu kesempatan untuk melakukan hal itu kepada mantan gurunya, ia sesungguhnya sedang melakukan sebuah pembalikan tatanan simbolik: meletakkan dirinya, secara sukarela, di posisi yang oleh masyarakat umum dianggap “rendah”.

Tawadhu’ sebagai Epistemologi, Bukan Sekadar Etika

Selama ini, tawadhu atau kerendahan hati sering direduksi menjadi sekadar persoalan etika personal; soal sikap sopan, soal tidak sombong, soal menjaga perasaan orang lain. Padahal, jika ditilik lebih dalam, tawadhu dalam tradisi keilmuan Islam klasik sesungguhnya adalah sebuah sikap epistemologis: cara pandang tentang bagaimana ilmu itu sendiri harus diperlakukan.

Ilmu, dalam pandangan ini, bukanlah properti yang dimiliki dan dipertontonkan, melainkan amanah yang justru menuntut peningkatan kewaspadaan diri. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula potensi bahaya yang mengintai batinnya: rasa lebih unggul, rasa berhak dihormati, rasa layak didahulukan.

Dengan demikian, tawadhu’ bukan sekadar hiasan moral tambahan bagi orang berilmu, melainkan penawar struktural bagi penyakit yang secara inheren mengintai siapa pun yang menguasai pengetahuan.

Dalam kerangka ini, menarik untuk membandingkan kisah Kiai Hasyim dengan gagasan epistemologi Barat modern, yang sejak Descartes hingga positivisme abad kesembilan belas cenderung meletakkan subjek yang mengetahui (knowing subject) sebagai pusat yang berdaulat atas objek pengetahuannya.

Pengetahuan, dalam paradigma itu, menjadi instrumen penguasaan atas alam, atas orang lain, bahkan atas kebenaran itu sendiri. Sebaliknya, dalam tradisi yang direpresentasikan oleh kisah dua kiai ini, pengetahuan justru berfungsi membalikkan arah: semakin seseorang mengetahui, semakin ia didorong untuk melayani, bukan menguasai.

Baca...  Nabi Sya'ya Dalam Riwayat Ibnu Katsir

Terdapat pula pijakan tekstual yang menjadi rujukan spiritual dari sikap semacam ini, sebagaimana termaktub dalam sebuah hadis masyhur:

مَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ رَفَعَهُ اللَّهُ

Artinya: “Barangsiapa merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya.”

Pesan hadits ini menyingkap sebuah paradoks yang justru menjadi inti dari seluruh kisah: derajat yang tinggi tidak diraih dengan mengejarnya secara langsung, melainkan lahir sebagai buah dari kesediaan untuk merendah.

Artinya, semakin seseorang berusaha meninggikan diri secara aktif, semakin ia berjarak dari kemuliaan sejati; sebaliknya, semakin ia bersedia menempatkan diri di posisi rendah, semakin besar kemungkinan kemuliaan itu justru mendatanginya tanpa diminta.

Dialektika Guru-Murid: Siapa yang Lebih Pantas Merendah?

Salah satu aspek paling menggugah dari kisah ini adalah bagaimana ia menantang logika hierarki konvensional dalam relasi guru-murid. Dalam banyak tradisi keilmuan, termasuk tradisi pesantren, ketawaduan murid kepada guru adalah hal yang lumrah, bahkan diwajibkan secara adab. Namun, kisah ini justru menyoroti sisi yang jarang dibicarakan: ketawaduan guru kepada mantan muridnya, terutama ketika sang murid telah melampaui posisi sosial dan keilmuan sang guru.

Hal ini mengandung kritik implisit terhadap kecenderungan manusiawi yang universal: kesulitan menerima bahwa orang yang dahulu kita bimbing kini justru berdiri lebih tinggi dari kita. Dalam banyak konteks (akademik, profesional, bahkan keagamaan) situasi semacam ini sering melahirkan kecemburuan halus, sikap defensif, atau setidaknya keengganan untuk mengakui pergeseran posisi tersebut secara tulus.

Kiai Khozin, dalam kisah ini, justru melakukan hal sebaliknya. Ia tidak canggung mendatangi pesantren mantan muridnya untuk kembali menimba ilmu dan bahkan berlomba melayani mantan muridnya itu dengan menyiapkan sandalnya.

Di sisi lain, Kiai Hasyim Asy’ari sendiri tidak memanfaatkan momentum pembalikan status ini untuk menegaskan otoritas barunya. Ia justru tampak berusaha keras mempertahankan posisi sebagai murid di hadapan gurunya, seolah status sosial dan pencapaian intelektual yang telah diraihnya tidak pernah benar-benar menghapus rasa hormat dan pengakuan atas jasa gurunya di masa lalu.

Ini adalah bentuk kesetiaan epistemik: pengakuan bahwa segala pencapaian keilmuan seseorang senantiasa berpijak di atas fondasi yang diletakkan oleh orang lain sebelumnya, dan fondasi itu tidak boleh dilupakan hanya karena bangunan di atasnya telah menjulang lebih tinggi.

Kritik atas Wajah Keilmuan Kontemporer

Jika kisah ini ditarik ke dalam konteks kekinian, kita akan menemukan kontras yang cukup tajam, bahkan memprihatinkan. Dunia intelektual modern, baik di ranah akademik maupun keagamaan, kerap menampilkan wajah yang berlawanan dengan semangat kisah dua kiai ini.

Gelar akademik, jumlah pengikut di media sosial, jam terbang ceramah, atau posisi struktural dalam organisasi keagamaan tidak jarang justru menjadi alat untuk menegaskan jarak, bukan mempersempitnya.

Jelasnya, semakin tinggi jenjang keilmuan seseorang, semakin sulit pula ia disapa, semakin protokoler pula cara orang lain memperlakukannya, dan tak jarang semakin besar pula rasa berhak yang tumbuh dalam dirinya untuk didahulukan dan dihormati secara berlebihan.

Baca...  Benarkah Nabi Muhammad SAW Menikahi Aisyah Pada Usia 6 Tahun ?

Yang demikian ini melahirkan apa yang bisa disebut sebagai “aristokrasi pengetahuan”, sebuah kondisi di mana ilmu, alih-alih menjadi jembatan kesetaraan spiritual antarmanusia, justru berubah menjadi tembok pemisah kelas baru.

Padahal, jika merujuk pada spirit kisah Kiai Hasyim dan Kiai Khozin, ilmu sejati semestinya berbanding terbalik dengan kesombongan: semakin tinggi ilmu seseorang, semestinya semakin rendah pula hatinya, karena ia semakin memahami betapa luasnya samudra pengetahuan yang belum ia jamah, dan betapa banyak orang lain (termasuk mereka yang tampak lebih rendah secara struktural) yang telah berjasa membentuk dirinya.

Dalam konteks ini, pesantren sebagai institusi pendidikan Islam Nusantara sesungguhnya menyimpan modal filosofis yang sangat berharga untuk ditawarkan kepada wacana pendidikan global yang tengah dilanda krisis relasi guru-murid yang semakin transaksional.

Ketika pendidikan modern cenderung memposisikan guru sebagai penyedia jasa dan murid sebagai konsumen, kisah dua kiai ini menawarkan model relasi yang jauh lebih mendalam: relasi yang dibangun di atas rasa hormat timbal balik, pengakuan jasa lintas generasi, dan kesediaan untuk terus-menerus saling merendah meski status sosial telah berubah.

Ketawaduan sebagai Bentuk Perlawanan terhadap Ego

Ada satu hal yang perlu digarisbawahi: ketawaduan yang ditampilkan dalam kisah ini bukanlah kepasifan atau kelemahan. Ia justru merupakan bentuk perlawanan aktif terhadap godaan ego yang jauh lebih halus dan lebih berbahaya dibandingkan dengan godaan-godaan lain yang lebih kasatmata.

Ego intelektual adalah salah satu bentuk kesombongan paling sulit dideteksi, karena ia sering bersembunyi di balik topeng kesalehan, di balik jargon keilmuan, bahkan di balik gestur-gestur yang tampak rendah hati namun sesungguhnya masih menyimpan hasrat pengakuan.

Perlombaan menyiapkan sandal antara dua kiai ini, jika direnungkan secara jujur, adalah bentuk perjuangan batin melawan bisikan halus dalam diri yang berkata: “Aku sudah lebih tinggi darinya sekarang, tidak perlu lagi aku merendah.”

Bisikan semacam ini sangat manusiawi dan hampir semua orang yang mencapai posisi tertentu dalam hidupnya pernah bergulat dengannya. Yang membedakan Kiai Hasyim Asy’ari bukanlah ketiadaan godaan tersebut, melainkan kesediaannya untuk terus-menerus memenangkan pergulatan batin itu, bahkan dalam hal-hal yang tampak sepele seperti urusan sandal.

Syahdan. Kisah dua pasang sandal di halaman masjid ini mengajarkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar anekdot biografis. Ia mengajarkan bahwa kebesaran sejati seseorang tidak diukur dari seberapa banyak orang yang melayaninya, melainkan dari seberapa besar kesediaannya untuk tetap melayani, bahkan setelah dunia mengakuinya sebagai tokoh besar.

Ia juga mengajarkan bahwa ilmu yang tidak melahirkan kerendahan hati sesungguhnya belum benar-benar menjelma menjadi hikmah. Ia baru sebatas informasi yang menumpuk, belum menjadi cahaya yang menerangi jiwa.

Di tengah zaman yang gemar mempertontonkan pencapaian dan mengejar validasi, kisah Kiai Hasyim Asy’ari dan gurunya, Kiai Khozin Sidoarjo, hadir sebagai teguran yang lembut namun tajam: bahwa perlombaan yang paling mulia bukanlah perlombaan menjadi yang paling dihormati, melainkan perlombaan menjadi yang paling bersedia merendah. Dan barangkali, di situlah letak pelajaran terpenting yang dapat dipetik generasi hari ini dari sepasang sandal yang diperebutkan bukan untuk dimiliki, melainkan untuk diberikan. Wallahu a’lam bisshawab.

361 posts

About author
Penulis Lepas dan Pemerhati Isu Sosial Politik.
Articles
Related posts
KeislamanOpini

Ilmu yang Menjaga, Harta yang Dijaga: Menyingkap Filosofi Keutamaan Ilmu Warisan Sayyidina Ali bin Abi Thalib

7 Mins read
Sebuah ironi yang menyelinap diam-diam ke dalam peradaban manusia modern: semakin canggih instrumen yang kita ciptakan untuk mengejar pengetahuan, semakin kabur pula…
HukumOpini

Ketika Seragam Menjadi Perisai: Menggugat Paradoks Peradilan Militer di Indonesia

4 Mins read
Setiap kali putusan banding terhadap seorang prajurit yang terlibat tindak pidana diumumkan, publik seolah sudah bisa menebak arahnya jauh sebelum palu diketuk….
OpiniPolitik

Bayang-Bayang Singapura: Membaca Ulang Skandal Devisa Sawit dan Nasib Ekspor Satu Pintu

4 Mins read
Ada momen-momen tertentu ketika sebuah angka statistik berhenti menjadi sekadar data dan berubah menjadi cermin yang memantulkan wajah tata kelola sebuah bangsa….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *