SejarahTokoh

Benarkah Nabi Muhammad SAW Menikahi Aisyah Pada Usia 6 Tahun ?

5 Mins read

​Analisis Al-Qur’an dan hadis untuk meluruskan kepercayaan yang selama ini disalahpahami. Selama ini, sebagian besar umat Islam mempercayai riwayat yang disebutkan dalam kitab hadis Sahih Bukhari dan Muslim yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW menikahi Aisyah ketika berumur 6 tahun, dan mencampurinya ketika Aisyah berumur 9 tahun.

​Benarkah Rasulullah SAW menikahi Aisyah ketika Aisyah baru saja melewati masa balitanya? Di mana dalam hadis dan sejarah diceritakan bahwa saat Aisyah menikah dengan Rasulullah SAW, dia masih bermain-main dengan boneka dan ayunannya?

​Para ulama dan umat Islam yang membenarkan pendapat ini akan mencari-cari pembenaran pernikahan Rasulullah SAW dengan Aisyah. Mereka mengatakan bahwa pernikahan seperti itu adalah wajar pada masa itu. Di sisi lain, ada yang mengatakan bahwa Nabi menikahi Aisyah yang masih anak-anak dengan tujuan kemaslahatan agama, di mana kelak Aisyah akan meriwayatkan hadis-hadis dari Nabi karena dia seorang anak yang cerdas dan memiliki daya ingat yang kuat.

​Mereka yang terus percaya dengan pendapat ini, tanpa disadari, sebenarnya justru telah mempropagandakan sebuah fitnah terhadap Nabi mereka.

​Kalau Anda menganggap bahwa semua perilaku Rasulullah merupakan sunah, maka sama saja Anda membenarkan dibolehkannya menikah dengan anak perempuan yang masih berusia 6 tahun atau yang belum balig. Apa jawaban Anda ketika seorang laki-laki berusia 55 tahun yang mengaku muslim—yang beritanya beredar di stasiun televisi seluruh dunia—menikahi seorang anak perempuan berumur 6 tahun?

​Tulisan ini mencoba meluruskan riwayat pernikahan Rasulullah dengan Aisyah yang telah berabad-abad lamanya diyakini secara tidak rasional.

​Efeknya, orientalis Barat pun memanfaatkan celah argumen data pernikahan ini untuk menyerang kehormatan diri Rasulullah yang suci, pribadi yang maksum, dan teladan umat Islam, dengan menganggapnya sebagai pedofilia.

Pedofilia: Kondisi orang yang mempunyai ketertarikan atau hasrat seksual kepada anak-anak yang belum memasuki usia remaja. (Definisi dari Wikipedia Indonesia)

​Perlu diingat bahwa Rasulullah membawa ajaran Al-Qur’an, maka tentunya segala tindak-tanduk dan perilakunya harus sejalan dengan Al-Qur’an. Aisyah mengatakan bahwa akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an (HR. Muslim).

​Lalu, apakah mungkin Rasulullah melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan Al-Qur’an? Benarkah Rasulullah menikahi Aisyah saat berumur 6 tahun?

Baca...  Amina Wadud dan Gagasan Hermeneutika Keadilan Gender

​Untuk menjawab pertanyaan tersebut, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mencari jawabannya di dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah sumber rujukan pertama. Ketika akan mempelajari suatu topik tertentu, yang pertama dilakukan adalah mencari topik itu di dalam Al-Qur’an, baru sesudah itu kita menengok hadis. Kenapa?

​Karena pengetahuan yang berasal dari Al-Qur’an merupakan kebenaran yang mutlak. Pengetahuan dari Al-Qur’an tersebut harus dipakai sebagai Al-Furqan, yaitu menjadi penentu atas pengetahuan dari sumber lainnya. Al-Qur’an adalah sumber utama dan terjaga keotentikannya oleh Allah, sedangkan hadis tidak dijamin terjaga keasliannya (QS. Al-Hijr ayat 9).

​Jadi, suatu hadis yang bertentangan dengan Al-Qur’an tidak memiliki nilai. Suatu hadis hanya dapat diterima dan dianggap sahih apabila hadis itu sejalan dengan Al-Qur’an.

​Ketika kita menggunakan metodologi yang salah dengan memulai mempelajari hadis dan bukan dimulai dengan Al-Qur’an, kita bisa salah dalam mengambil kesimpulan. Misalnya, ketika membahas mengenai lepasnya Yakjuj dan Makjuj.

​Pemahaman umat Islam selama ini menganggap bahwa Yakjuj dan Makjuj baru akan dilepas nanti pada saat Nabi Isa turun kembali ke dunia dan setelah membunuh Dajjal. Hal ini karena mereka mengacu kepada satu hadis riwayat Muslim yang menyebutkan demikian. Benarkah kesimpulan itu?

​Kalau kita menengok kepada Al-Qur’an, Al-Qur’an tidak menghubungkan pelepasan Yakjuj dan Makjuj dengan turunnya Nabi Isa ke dunia setelah membunuh Dajjal. Al-Qur’an menjelaskan bahwa dilepaskannya Yakjuj dan Makjuj ke dunia ini dihubungkan dengan kembalinya suatu kaum ke kota kecil, di mana mereka sebelumnya diusir dari kota tersebut oleh Allah.

​Sesudah mereka diusir dari kota itu, Allah melarang mereka kembali ke sana sampai suatu saat di mana Yakjuj dan Makjuj dilepaskan dan sudah menyebar ke berbagai penjuru (QS. Al-Anbiya ayat 95 dan 96). Jadi, Al-Qur’an mengatakan bahwa pelepasan Yakjuj dan Makjuj bukanlah pada saat Nabi Isa turun kembali ke dunia, tetapi ketika suatu penduduk yang telah diusir dari kotanya kembali lagi ke kota itu. Itulah yang terjadi ketika kita hanya merujuk kepada satu hadis dengan mengabaikan Al-Qur’an.

​Tinjauan Pernikahan dalam Al-Qur’an

​Kita kembali ke topik. Karena di dalam Al-Qur’an tidak disebutkan mengenai pernikahan Nabi SAW dengan Aisyah, maka kita harus melihat konsep pernikahan di dalam Al-Qur’an secara umum. Pertanyaannya, kapan wanita boleh dinikahi? Apakah Al-Qur’an memperbolehkan pernikahan dengan seorang anak perempuan walaupun dia belum mencapai umur pubertas (mengalami menstruasi)?

Baca...  Keruntuhan Perpustakaan: Layunya Ilmu Pengetahuan

​Di dalam Al-Qur’an, ketika merujuk kepada perkawinan atau hubungan intim, Al-Qur’an selalu menggunakan istilah Nisa (QS. An-Nisa ayat 3, QS. Al-Baqarah ayat 223). Secara khusus, Al-Qur’an merujuk nisa sebagai hars, yaitu ladang yang dibajak agar biji-bijian dapat ditanam dengan harapan biji-bijian tersebut subur, tumbuh, dan menghasilkan tanaman.

​Allah SWT berfirman:

“Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai.” (QS. Al-Baqarah ayat 223)

 

​Jadi, perkawinan hanya bisa dilakukan ketika seorang anak perempuan sudah melewati masa pubertas atau telah mengalami menstruasi. Perempuan yang sudah menstruasi berada di usia di mana rahim mereka dapat dikualifikasikan sebagai hars atau ladang yang dapat ditanami dan bertumbuh. Dalam arti, sudah bisa dinikahi untuk melakukan hubungan biologis dengan laki-laki.

​Lalu bagaimana dengan riwayat yang mengatakan bahwa Aisyah dinikahi Rasulullah saat usianya 6 tahun? Jawabannya adalah tidak benar bahwa Rasulullah menikahi Aisyah ketika berumur 6 tahun!

​Aisyah saat berumur 6 tahun masih merupakan anak perempuan yang tentunya belum mengalami pubertas (menstruasi), sehingga Nabi SAW tidak mungkin melanggar Al-Qur’an dengan menikahi seorang anak kecil yang belum menjadi nisa. Dengan demikian, hadis yang meriwayatkan bahwa Nabi SAW menikahi Aisyah saat berumur 6 tahun tidak sejalan dengan Al-Qur’an, sehingga merupakan hadis yang harus dikesampingkan.

​Rasulullah dalam riwayat tidak pernah mengatakan bahwa dia menikahi Aisyah ketika berumur 6 tahun. Suatu hadis hanya bisa dikonfirmasi kalau itu didengar langsung dari mulut Nabi SAW atau diriwayatkan oleh mayoritas atau banyak sahabat Nabi. Faktanya, tidak ada sahabat-sahabat Nabi lainnya yang menceritakan umur Aisyah saat menikah.

​Lebih aneh lagi ketika kita mengetahui bahwa tidak ada penduduk Madinah atau Makkah yang meriwayatkan hadis bahwa Nabi SAW menikahi Aisyah saat umur 6 tahun. Bukankah Madinah adalah tempat di mana Aisyah dan Rasulullah pernah tinggal, serta tempat di mana penduduk Madinah menyaksikan waktu di mana Aisyah mulai berumah tangga dengan Rasulullah SAW?

Baca...  Kahlil Gibran: Kisah Pencarian Makna Cinta Sang Penyair dari Libanon

​Jika kita lihat, hadis-hadis yang meriwayatkan bahwa Rasulullah menikahi Aisyah saat dia berumur 6 tahun ternyata hanya diriwayatkan oleh satu orang, yaitu Hisyam bin Urwah yang didengarnya sendiri dari ayahnya. Dalam catatan sejarah, Hisyam bin Urwah mengucapkan hadis tersebut tatkala telah bermukim di Irak, sedangkan usianya saat itu sudah 71 tahun.

​Banyak ulama yang menolak hadis yang diriwayatkan oleh Hisyam bin Urwah tersebut. Malik bin Anas menolak penuturan Hisyam yang dilaporkan oleh penduduk Irak (Ibn Hajar Al-Asqalani, Tahzib al-Tahzib, Dar Ihya al-Turats al-Islami, Jilid II, hal. 50). Termaktub pula dalam buku tentang sketsa kehidupan para perawi hadis, bahwa tatkala Hisyam berusia lanjut, ingatannya sangat menurun (Al-Maktabah Al-Athriyah, Jilid 4, hal. 301).

​Alhasil, riwayat umur pernikahan Aisyah yang bersumber dari Hisyam bin Urwah tertolak.

​Umur Berapakah Aisyah Saat Dinikahi oleh Nabi?

​Jika tidak benar bahwa Rasulullah menikahi Aisyah pada umur 6 tahun, lalu berapa sebenarnya umur Aisyah saat menikah dengan Rasulullah SAW?

​Secara sederhana, data yang dapat digunakan untuk menganalisis umur Aisyah adalah dengan melihat umur kakaknya, yaitu Asma binti Abu Bakar (Aisyah dan Asma adalah dua anak perempuan Abu Bakar).

​Menurut catatan sejarah, Asma 10 tahun lebih tua dari Aisyah. Para ulama salaf sepakat Asma meninggal pada umur 100 tahun di tahun 73 atau 74 Hijriah.

​Artinya, apabila Asma meninggal dalam usia 100 tahun pada tahun 73 atau 74 Hijriah, maka Asma berumur 27 atau 28 tahun pada waktu Hijrah ke Madinah. Dengan demikian, Aisyah berumur:

(27 \text{ atau } 28) – 10 = 17 \text{ atau } 18 \text{ tahun} pada waktu Hijrah.

​Berdasarkan hitungan tersebut, bisa disimpulkan bahwa Aisyah mulai hidup berumah tangga dengan Nabi Muhammad SAW pada waktu berumur 19 atau 20 tahun, karena pernikahan Nabi SAW dengan Aisyah secara resmi baru berumah tangga di Madinah pada tahun kedua Hijriah.

Wallahu a’lam.

Related posts
EsaiFilsafatTokoh

Teo-Humanisme Pluralistik dalam Diskursus Filsafat Gus Dur

6 Mins read
Diskursus mengenai pemikiran Islam modern di Indonesia sering kali terjebak dalam dikotomi rigid antara tradisi teks klasik (turats) dan modernitas Barat. Namun,…
ArtikelSejarahTokoh

Memoar Singkat, Ancaman, dan Misteri Gugurnya Baharuddin Lopa

7 Mins read
“Terlalu banyak orang yang ketakutan jika saya diangkat menjadi Jaksa Agung, sehingga logis jika orang ramai-ramai memotongi saya agar tidak menjadi Jaksa…
KisahOpiniSejarahTokoh

Lentera di Ujung Pulau: Refleksi Teologis dan Sosiologis KH. Syarfuddin Abdus Shomad

7 Mins read
Narasi besar tentang penyebaran Islam di Nusantara sering kali berpusat pada kota-kota besar, pesisir utara Jawa, atau pusat-pusat kesultanan yang megah. Kita…

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *