EsaiKeislamanSejarah

Menjemput Berkah di Gerbang Jam’iyah: Menghidupkan Kembali Askese Spiritual Wasiat Kiai As’ad

12 Mins read

Dalam konstelasi sejarah peradaban Islam Nusantara, khususnya dalam bentang garis linimasa Nahdlatul Ulama (NU), nama al-Maghfurlah KHR. As’ad Syamsul Arifin bukan sekadar deretan huruf mati yang bersemayam dalam lembaran-lembaran kusam buku sejarah. Beliau adalah representasi dari jangkar spiritual, seorang arsitek batin sekaligus pelaku sejarah yang sangat vital.

Beliau bertindak sebagai wasilah suci yang menjembatani isyarah spiritual berupa tasbih dan amalan ayat-ayat Al-Qur’an dari Syaikhona Kholil Bangkalan kepada Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari, sesaat sebelum fondasi kultural dan struktural jam’iyah ini ditancapkan kokoh ke bumi Nusantara. Peran sentral Kiai As’ad ini menegaskan bahwa eksistensi beliau berada di titik epik kelahiran NU: sebuah rahim sejarah yang melahirkan gerakan keagamaan terbesar di dunia.

Di antara sekian banyak khazanah intelektual, keteladanan moral, dan warisan spiritual yang beliau tinggalkan bagi generasi penerus, terdapat lima wasiat monumental yang hingga detik ini terus menjadi kompas moral dan teologis. Wasiat-wasiat tersebut laksana mercusuar bagi para santri, alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, serta jutaan warga Nahdliyin lintas generasi secara universal.

Dua di antara lima wasiat suci tersebut secara eksplisit, tegas, dan tanpa kompromi menekankan sebuah kewajiban ontologis: untuk tetap berada di dalam barisan Nahdlatul Ulama. Perintah ini bukanlah sekadar anjuran sosial biasa, melainkan sebuah maklumat ideologis sekaligus spiritual yang mengikat batin para pengikutnya agar tidak sekali-kali tergelincir atau dengan sengaja keluar dari garis perjuangan panjang jam’iyah ini.

Namun, ketika kita menapakkan kaki di era modernitas kontemporer (sebuah zaman di mana batas antara ketulusan pengabdian dan panggung pencitraan artifisial kian hari kian bias dan mengabur) wasiat suci tersebut seakan berteriak meminta sebuah rekontekstualisasi, dekonstruksi, dan refleksi batin yang radikal.

Kita dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang menggugat relung kesadaran kita yang paling dalam: Apa sejatinya hakikat, esensi, dan substansi sejati dari perintah “tetap ber-NU” yang digariskan dengan tinta emas oleh Sang Guru Mulia Kiai As’ad? Apakah perintah itu hanya sekadar tentang pengakuan formal-birokratis, ataukah sebuah perjalanan spiritual yang melampaui batas-batas keduniawian?

Dua Sisi Mata Uang: Dimensi Eksoteris Ber-NU

Secara metodologis, manifestasi dari komitmen untuk “tetap ber-NU” sebagaimana digariskan dalam wasiat Kiai As’ad dapat dipahami melalui kacamata syariat dan tarekat organisasi, atau yang dalam istilah spiritual disebut sebagai dimensi eksoteris (lahiriah) dan esoteris (batiniah). Secara eksoteris, manifestasi ber-NU dapat dibelah dan diklasifikasikan ke dalam dua dimensi utama yang saling berkelindan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Dimensi pertama adalah dimensi kultural-spiritual. Ini adalah manifestasi ber-NU yang paling murni, yang hidup dan berdenyut dalam urat nadi kehidupan sehari-hari masyarakat akar rumput. Dimensi ini mewujud dalam bentuk keteguhan yang gigih untuk tetap merawat, mengamalkan, menginternalisasi, serta mendakwahkan seluruh khazanah amaliyah Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

Ini adalah wilayah tradisi yang kaya akan muatan spiritualitas: gema tahlilan yang menggetarkan jiwa, pembacaan manakib yang menghidupkan kecintaan pada para kekasih Allah, tradisi ziarah kubur sebagai pengingat akan keabadian akhirat, bait-bait istighasah yang melangit, serta corak berpikir keagamaan (manhajul fikr) yang senantiasa berpegang teguh pada prinsip moderat (tawassuth), toleran (tasamuh), seimbang (tawazun), dan tegak adil (i’tidal). Di sinilah NU hidup sebagai sebuah ruh, sebagai jalan hidup yang menuntun karakter manusia Nusantara agar menjadi pribadi yang saleh secara ritual sekaligus santun secara sosial.

Dimensi kedua adalah dimensi struktural-organisatoris. Dimensi ini mewujud dalam bentuk keterlibatan fisik, kontribusi pemikiran, serta partisipasi aktif dan nyata dalam menggerakkan roda birokrasi organisasi. Dinamika ini berkelindan secara hierarkis mulai dari tingkatan yang paling bawah, yang bersentuhan langsung dengan denyut nadi umat, seperti Pengurus Ranting (PR) di tingkat desa-desa terpencil, Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) di tingkat kecamatan, Pengurus Cabang (PCNU) di tingkat kabupaten, hingga puncaknya di level Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang berkedudukan di ibu kota negara.

Dalam dimensi ini, ber-NU membutuhkan pengorbanan waktu, tenaga, materi, dan manajemen modern agar gagasan-gagasan besar para ulama dapat membumi dan dirasakan manfaatnya secara konkret melalui kebijakan-kebijakan sosial, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

Namun, bahaya laten muncul ketika kita terjebak dalam miopia organisatoris, di mana kita menganggap bahwa dimensi eksoteris ini adalah tujuan akhir dari ber-NU. Jika kita menyelami lebih dalam ke samudera dimensi esoteris (batiniah) dari petuah luhur Kiai As’ad, kita akan menemukan sebuah kebenaran yang menggetarkan: perintah untuk ber-NU sama sekali tidak boleh direduksi, dikerdilkan, atau didegradasi menjadi sekadar ajang “rebutan” jabatan struktural, panggung legitimasi politik praktis, ataupun perlombaan profan untuk menduduki kursi kekuasaan keduniawian.

Mengubah dan menggeser orientasi NU menjadi arena kompetisi perebutan kekuasaan politik dan ekonomi adalah sebuah bentuk simplifikasi yang amat fatal. Ia tidak hanya merusak nalar organisasi, melainkan juga menodai kesucian amanah teologis dan spiritual yang telah dititipkan oleh para muassis (pendiri) dengan derai air mata dan riyadhah batin yang panjang.

Cermin Askese Politik Sang Singa Situbondo

Untuk dapat menyelami, meraba, dan memahami rahasia spiritual yang tersembunyi di balik teks lahiriah wasiat tersebut, kita mutlak harus meminjam cermin kehidupan dan lembaran biografi Kiai As’ad Syamsul Arifin sendiri.

Sejarah, dengan tinta emasnya yang tidak akan pernah luntur oleh zaman, telah mencatat dengan sangat rapi bagaimana Sang Guru Mulia mempraktikkan apa yang dalam terminologi sosiologi-politik keagamaan disebut sebagai askese politik: sebuah sikap zuhud, berjarak, dan tidak silau terhadap gemerlap kilau kekuasaan keduniawian, bahkan di saat kekuasaan besar tersebut disodorkan dan berada tepat di depan kelopak mata beliau.

Baca...  Moderasi Perspektif Prof. Mohd Mizan Aslam

Sikap askese politik yang paripurna ini menemukan panggung pembuktian otentiknya pada momentum historis Muktamar NU ke-27 yang diselenggarakan di bumi Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, pada tahun 1984. Kala itu, Nahdlatul Ulama sedang berada di persimpangan jalan sejarah yang amat krusial dan menegangkan. NU dituntut untuk mengambil keputusan teologis-organisatoris yang mahapenting: memutuskan secara bulat untuk keluar dari hiruk-pikuk politik praktis partai dan kembali khittah sejati, yaitu Khittah 1926.

Dalam suasana dinamis yang sarat dengan ketegangan kultural, friksi politik nasional, dan pergulatan pemikiran antar-generasi tersebut, Kiai As’ad memegang posisi yang amat sentral dan menentukan hitam-putihnya masa depan organisasi. Atas kesepakatan para kiai sepuh, beliau ditunjuk sebagai Anggota Tunggal Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), adalah lembaga normatif tertinggi yang memiliki mandat dan otoritas mutlak tanpa batas untuk menentukan siapa figur yang paling layak memimpin nakhoda organisasi sebesar NU.

Jika kita menggunakan kacamata dan logika politik modern yang pragmatis dan oportunistik, posisi sebagai Anggota Tunggal AHWA adalah puncak dari segala manifestasi otoritas dan kekuasaan absolut. Kiai As’ad memiliki legitimasi penuh, legalitas mutlak, dan kekuatan moral untuk menunjuk dirinya sendiri sebagai Rais Aam Syuriyah PBNU: jabatan tertinggi, paling sakral, dan paling dihormati dalam seluruh struktur organisasi NU.

Itu artinya, jika beliau menghendaki hal itu, tidak akan ada satu pun manusia di dalam forum muktamar yang berani menentang. Seluruh kiai, santri, dan muktamirin dari sabang sampai merauke dipastikan akan menyatakan sikap sam’an wa tho’atan. Bahkan, lembaran sejarah mencatat bahwa pasca-muktamar usai, banyak kiai sepuh dan tokoh nasional yang secara langsung datang bersimpuh, memohon, dan mendesak beliau dengan sangat agar berkenan menduduki jabatan struktural tersebut demi menjaga stabilitas dan marwah organisasi.

Namun, di sinilah letak keagungan jiwa Sang Singa Situbondo. Apa tindakan yang beliau ambil? Beliau menolak semua tawaran posisi formal tersebut dengan ketegasan yang luar biasa. Beliau memilih untuk melangkah mundur dari panggung struktural formal, melipat jubah kekuasaan, dan memilih kembali ke bilik pesantrennya yang sunyi di Sukorejo demi mendidik para santri, menanamkan ilmu, dan mengaji kitab kuning. Beliau dengan keikhlasan yang paripurna menyerahkan tampuk kepemimpinan struktural tertinggi tersebut kepada figur ulama lain yang beliau pandang cakap dan tepat.

Sikap legowo dan asketis ini diambil bukan karena beliau abai atau tidak peduli terhadap masa depan organisasi, melainkan sebuah demonstrasi nyata, sebuah khotbah tanpa kata (lisanul hal), bahwa berkhidmat kepada Nahdlatul Ulama tidak pernah dan tidak boleh digantungkan pada stempel resmi sebuah jabatan atau keabsahan sebuah surat keputusan (SK).

Dengan kata lain, beliau mengajarkan sebuah doktrin abadi: bahwa wibawa, karisma, dan kemuliaan seorang tokoh NU tidak pernah lahir dari kartu tanda anggota, fasilitas organisasi, atau SK kepengurusan, melainkan memancar murni dari kedalaman samudra ilmu, ketulusan pengabdian yang tanpa pamrih, serta integritas moral yang tidak goyah diterpa badai zaman.

Anatomi Manipulasi: Jebakan Ego di Balik Jargon “Demi NU”

Apabila kita menggeser lensa analisis kita untuk meneropong dinamika sosial-organisasional yang terjadi dalam tubuh jam’iyah hari-hari ini, kita akan sering kali disuguhi oleh kepulan asap jargon dan pekik retoris yang menggema di ruang publik: “Demi NU!” Kalimat pendek ini begitu perkasa, kerap kali dijadikan laksana jimat sakti yang kebal kritik untuk melegitimasi segala bentuk tindakan, manuver politik, pergerakan massa, bahkan hingga faksionalisme tajam dan gesekan yang terjadi di dalam tubuh organisasi. Namun, mari kita bedah jargon tersebut secara jujur, objektif, dan berani dengan menggunakan pisau analisis spiritual (tazkiyatun nafs) yang telah diwariskan oleh keteladanan Kiai As’ad.

Ketika seseorang bergerak, berorasi, dan membuat keputusan dengan tameng jargon “Demi NU”, sering kali tanpa disadari oleh ego psikologisnya, muncul sebuah ilusi spiritual yang sangat halus namun beracun (syahwatul khafiyah): yaitu perasaan bahwa dirinya adalah variabel penentu, aktor utama, sang penyelamat yang tanpanya NU akan berjalan pincang atau bahkan runtuh berkeping-keping.

Tanpa sadar, sang aktivis telah terperosok ke dalam lubang kesombongan batin yang terselubung (ujub). Muncul bisikan-bisikan halus dalam jiwanya yang merasa bahwa: “Karena kontribusi pemikiran saya, NU menjadi kelihatan hebat. Karena kelincahan diplomasi saya, NU menjadi tampak keren. Karena kerja keras dan cucuran keringat saya, NU menjadi digdaya, disegani, dan jaya di panggung nasional.”

Pandangan dan mentalitas seperti ini, jika kita tilik dari kacamata epistemologi spiritual wasiat Kiai As’ad, adalah sebuah kekeliruan, pembangkangan, dan sesat pikir yang sangat fatal. Nahdlatul Ulama bukanlah organisasi profan biasa yang didirikan berdasarkan kesepakatan politik di atas meja kafe. NU adalah sebuah institusi berkah yang didirikan di atas fondasi air mata, riyadhah, tahajud, dan tirakat panjang para waliyullah (para kekasih Allah).

Menempatkan posisi diri kita seolah-olah sebagai “pahlawan penyelamat” NU adalah bentuk kepongahan spiritual yang luar biasa, yang justru mengerdilkan dan merendahkan keluhuran mukjizat sosial jam’iyah ini. Kebenaran absolutnya adalah: NU sama sekali tidak membutuhkan diri kita untuk menjadi organisasi yang besar dan berwibawa, justru sebaliknya, kitalah yang sangat fakir dan membutuhkan NU agar hidup kita yang singkat ini menjadi memiliki arah, bernilai ibadah, dan dialiri oleh tetesan berkah para ulama.

Baca...  Keselarasan Pesan Agama dan Bangsa (Serpihan Gagasan Sukidi PhD)

Ketika motif yang awalnya suci “Demi NU” ini telah terdistorsi, terkontaminasi, dan terinfeksi oleh virus ego personal, maka nilai pengabdian tersebut secara otomatis akan gugur di hadapan Allah SWT. Ia tidak lagi bernilai keikhlasan. Kehadiran kita di dalam ruang-ruang rapat organisasi tidak lagi digerakkan oleh semangat murni untuk memberi, melainkan telah bergeser menjadi semangat buruk untuk membanggakan diri, mencari panggung, dan pamer pengaruh.

Kita lupa atau pura-pura lupa bahwa di dalam tubuh NU, ada jutaan manusia: para kiai kampung, guru ngaji surau, ibu-ibu Muslimat dan Fatayat di pelosok desa, serta para penambang batin yang bergerak dalam kesunyian, tanpa pernah tercatat dalam struktur formal, tanpa pernah mendapatkan tepuk tangan publik, namun justru doa-doa tulus dan air mata sunyi merekalah yang menjadi pilar gaib yang menjaga organisasi ini tetap kokoh berdiri melintasi pergantian zaman.

Oportunisme Akut: Komodifikasi Organisasi “Demi Saya di NU”

Di kutub ekstrem yang lain, yang jauh lebih merusak dan memprihatinkan, muncul sebuah penyakit mental organisatoris yang bersifat kronis dan destruktif. Penyakit itu mewujud dalam corak motif: “Demi Saya di NU”. Ini adalah potret nyata dari pragmatisme akut, degradasi moral, dan oportunisme vulgar yang memandang dan memperlakukan Nahdlatul Ulama sekadar sebagai kendaraan politik praktis, batu loncatan untuk meraup keuntungan ekonomi, atau instrumen pemburu status sosial demi menaikkan gengsi pribadi.

Bagi kelompok manusia yang mengidap sindrom oportunisme akut ini, segala bentuk aktivitas, keterlibatan, dan dinamika ber-NU selalu ditakar dan dihitung dengan menggunakan kalkulator untung-rugi materialistis. Mereka masuk, mendaftarkan diri, dan berebut untuk duduk ke dalam struktur kepengurusan sama sekali bukan untuk mengurus dan melayani NU, melainkan dengan niat terselubung untuk “diurus”, dihidupi, dan difasilitasi oleh NU.

Setiap kali mereka melangkahkan kaki menghadiri acara organisasi, setiap kali mereka menyumbangkan segelintir tenaga, secuil pikiran, atau sedikit materi, selalu ada nota tagihan pamrih tersembunyi yang diletakkan di bawah meja untuk ditagih di kemudian hari. Mereka akan selalu bertanya dalam hati: “Apakah dengan posisi ini saya akan mendapatkan tiket pencalonan legislatif? Apakah saya akan mendapatkan akses proyek-proyek kedinasan? Apakah status sosial dan posisi tawar saya akan melambung tinggi di mata para pejabat dan masyarakat luas?”

Jika motif ber-NU di era kontemporer ini telah bergeser dan mengalami pembusukan menjadi “Demi Saya di NU”, maka esensi, ruh, dan substansi wasiat suci Kiai As’ad telah dikhianati secara terang-terangan di siang bolong. Struktur formal kepengurusan organisasi tidak lagi dipandang dengan rasa takut sebagai sebuah amanah berat (beban tanggung jawab ukhrawi), melainkan telah mengalami komodifikasi dan dipandang sebagai ghanimah (harta rampasan perang) yang seksi, yang harus dikejar, direbut, dan dipertahankan dengan segala macam cara. Cara-cara pragmatis ini bahkan kerap kali menghalalkan segala cara yang mencabik-cabik kode etik dan melanggar prinsip akhlakul karimah.

Dampak nyata dari pembusukan motif ini adalah munculnya gesekan internal yang tajam, faksionalisme yang melelahkan, serta kegaduhan-kegaduhan politik internal yang menguras habis energi umat. Waktu yang seharusnya digunakan untuk memikirkan pemberdayaan ekonomi umat, kualitas pendidikan santri, dan tantangan global, justru habis terbakar di dalam tungku konflik internal yang sia-sia, hanya demi memuaskan dahaga ambisi pribadi atau faksi kecil yang haus akan eksistensi di panggung struktural.

Menemukan Formula “Demi Kebaikan bagi Saya melalui NU”

Melalui perenungan batin yang jernih, mendalam, dan radikal atas seluruh warisan keteladanan hidup yang dipertontonkan oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin, kita seakan ditantang dan dituntut untuk melakukan dekonstruksi total terhadap cara pandang kita selama ini dalam berorganisasi. Kita dituntut untuk merumuskan ulang formula motivasi kita agar selamat dari jebakan-jebakan ego yang mematikan.

Formula yang paling tepat, paling aman, dan paling menyelamatkan dalam menerjemahkan bait-bait wasiat sang guru mulia bukanlah jargon “Demi NU” (yang rentan melahirkan kesombongan tersembunyi), bukan pula motif “Demi Saya di NU” (yang secara nyata melahirkan oportunisme pragmatis), melainkan sebuah kesadaran teologis-spiritual yang berbunyi: “Demi (Kebaikan Bagi) Diri Saya Melalui Nahdlatul Ulama”.

Tanpa kita sadari, kalimat ini memiliki kedalaman makna spiritual yang luar biasa, yang mampu membalikkan 180 derajat cara pandang kita terhadap eksistensi organisasi. Ber-NU (baik ketika garis takdir menempatkan kita berada di dalam struktur formal kepengurusan yang mentereng, maupun ketika kita berada di luar struktur sebagai jamaah kultural jelata) sejatinya adalah sebuah instrumen egoistik yang bernilai positif-transendental. Ber-NU adalah cara kita untuk menyelamatkan diri kita sendiri dari kerasnya hantaman dunia dan akhirat.

Kita meluangkan waktu ikut tahlilan, kita bersedia repot mengurus kepengurusan ranting di tingkat desa, kita menyumbangkan materi dan tenaga untuk menyukseskan pengajian NU, dilakukan bukan karena NU sedang kekurangan bantuan manusia, melainkan karena jiwa kita yang miskin ini sangat fakir, haus, dan rindu akan pancaran barakah.

Kita juga sangat membutuhkan wadah spiritual raksasa ini sebagai kompas pemandu jalan hidup kita yang penuh maksiat, sebagai benteng kokoh yang menjaga keselamatan akidah Ahlussunnah wal Jamaah di tengah gempuran badai sekularisme dan radikalisme zaman, serta sebagai sarana penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dari kotoran-kotoran kesombongan duniawi.

Baca...  Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Cara Mengobati Penyakit Ujub

Dengan mengadopsi paradigma “Demi Kebaikan bagi Diri Saya”, secara otomatis kita menempatkan posisi diri kita sebagai pihak yang berutang budi setinggi gunung kepada Nahdlatul Ulama, dan bukan sebaliknya sebagai pihak yang berjasa kepada NU. Melalui kacamata batin ini, baik ketika kita terpilih menjadi ketua umum, sekretaris, bendahara, atau bahkan ketika kita hanya menjadi jamaah jelata yang bertugas menggelar tikar, menyapu sampah, dan memarkir sepeda motor di acara pengajian akbar NU, esensi dan nilainya di mata Allah tetaplah sama: kita semua sedang mengemis dan menjemput barokah demi keselamatan hidup di dunia yang fana dan di akhirat yang baka kelak.

Apabila cara pandang yang jernih ini telah menghujam kuat, mengakar dalam, dan mengkristal di dalam sanubari setiap individu warga Nahdliyin, maka fenomena perebutan jabatan struktural yang tidak sehat, saling sikut menjelang muktamar atau konferensi, dan intrik politik kotor di tubuh NU akan lenyap dan sirna dengan sendirinya.

Mengapa demikian? Karena bagi manusia yang telah tercerahkan batinnya, berada di dalam struktur formal kepengurusan atau berada di luar jalur kultural tidak lagi menjadi persoalan materi dan status sosial. Kedua posisi tersebut dipandang sama-sama memiliki nilai strategis sebagai ladang subur untuk memanen barokah ulama.

Seorang kader yang tidak terpilih dalam bursa kepengurusan tidak akan pernah merasa sakit hati, kecewa, lalu menciptakan faksi barisan sakit hati, sebab ia sadar sesadar-sadarnya bahwa ia tetap bisa ber-NU dan merengkuh aliran berkahnya secara deras melalui jalur kultural.

Sebaliknya, mereka yang terpilih dan diamanahi jabatan struktural tidak akan menari kegirangan, melainkan tubuhnya akan gemetar ketakutan dan wajahnya memucat, karena mereka sadar sepenuhnya bahwa beban tanggung jawab moral dan spiritualnya di hadapan para wali pendiri NU dan di hadapan mahkamah keadilan Allah SWT menjadi jauh lebih berat dan mengerikan.

Merawat Iman, Menjemput Rengkuhan Spiritual Ulama

Wasiat suci KHR. As’ad Syamsul Arifin yang memerintahkan agar para santri, alumni, dan segenap pengikutnya untuk tetap kokoh ber-NU serta tidak sekali-kali keluar dari shaf perjuangan NU adalah seutas tali spiritual (hablun ma’nawi) yang sangat kokoh. Tali inilah yang mengikat, menyambungkan, dan mengintegrasikan diri kita yang daif ini pada sanad keilmuan, sanad perjuangan, dan sanad spiritualitas yang bersifat muttasil (bersambung secara mata rantai yang tidak terputus) hingga bermuara kepada para sahabat, tabi’in, dan berujung pada pribadi agung Baginda Rasulullah SAW.

Nahdlatul Ulama, dalam konteks ini, berperan sebagai sebuah wasilah (perantara suci), sebuah bahtera besar, di mana tujuan akhir dari pelayaran panjangnya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menggapai ridha Allah SWT melalui jalur penjagaan syariat Islam yang ramah, damai, toleran, santun, dan menyatu dengan kebudayaan lokal Nusantara.

Kini, di era disrupsi teknologi dan dinamika zaman yang terus berputar cepat secara turbulen, yang membawa serta segala macam kompleksitas krisis global, ujian terhadap tingkat keikhlasan kita dalam ber-NU akan terus datang silih berganti dengan ombak yang jauh lebih besar. Oleh karena itu, di tengah hiruk-pikuk ini, mari kita sejenak mengambil waktu untuk menyendiri, membasuh wajah, dan membersihkan cermin hati kita masing-masing dari debu-debu keserakahan duniawi.

Mari kita tanyakan kembali pertanyaan retoris ini ke dalam lubuk jiwa kita yang paling dalam, setiap kali kita melangkahkan kaki menghadiri rapat organisasi, pengajian, ataupun kegiatan jam’iyah: “Apakah setiap jengkal gerakan, ucapan, dan pemikiran kita ini benar-benar didorong oleh nafsu kesombongan yang terbungkus rapi oleh jargon “Demi NU”? Ataukah justru digerakkan oleh ketamakan nafsu duniawi “Demi Saya di NU”?”

Tak berhenti di sini, mari kita lakukan pertobatan organisatoris. Mari kita kembalikan khittah perjuangan personal kita masing-masing pada garis lurus yang telah dicontohkan secara nyata oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin: sebuah kesadaran penuh bahwa aktivitas ber-NU kita adalah murni berorientasi “Demi Kebaikan bagi Diri Kita Sendiri”.

Kita ikut merawat, menjaga, dan membesarkan NU, sejatinya agar NU berkenan merawat, menjaga, dan membentengi keimanan kita yang sering kali naik-turun ini. Kita meluangkan waktu untuk berkhidmat di NU, semata-mata berharap agar kelak di hari akhir yang menegangkan, para wali pendiri Nahdlatul Ulama berkenan menatap wajah kita, mengenali nama kita, dan mengumpulkan kita ke dalam shaf panjang sebagai santri-santri mereka.

Sebab pada akhirnya, kita harus sadar secara penuh: Nahdlatul Ulama akan selalu tetap tegak berdiri, jaya, digdaya, dan berkembang pesat, dengan atau tanpa melibatkan kehadiran diri kita. NU tidak akan merugi sedikit pun jika kita pergi menjauh. Namun, diri kita sendirilah yang belum tentu akan selamat dan bahagia di dunia dan akhirat tanpa adanya aliran barakah, rengkuhan spiritual, serta doa suci dari para ulama kekasih Allah yang bersemayam di dalam jiwa Nahdlatul Ulama. Wallahu a’lam bisshawab.

258 posts

About author
Penulis Lepas dan Pemerhati Isu Sosial Politik.
Articles
Related posts
HukumKeislaman

Hukum Jual Beli Saat Salat Jumat: Tafsir Al-Jahdhami (QS. Al-Jumu’ah: 9)

3 Mins read
Jual beli dapat disebut juga dengan perdagangan. Adapun jual beli dalam bahasa Arab sering disebut dengan al-mubadalah (المبادلة), at-tijarah (التجارة), dan al-bai’…
EsaiKeislaman

Keikhlasan dan Keberkahan Al-Ajurumiyah

3 Mins read
Dalam tradisi intelektual Islam, sebuah karya tulis tidak hanya dinilai dari kedalaman isinya atau keindahan bahasanya, melainkan dari kedalaman niat sang penulis…
KeislamanTafsir

Mengenal Tafsir Al-Munir Syekh Wahbah az-Zuhaili

4 Mins read
Kuliahalislam.Tafsir Al-Munir ; Aqidah, Syari’ah dan Manhaj merupakan salah satu karya tafsir terbaik yang dimiliki umat Islam era modern ini. Tafsir al-Munir…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *