Dalam tradisi intelektual Islam, sebuah karya tulis tidak hanya dinilai dari kedalaman isinya atau keindahan bahasanya, melainkan dari kedalaman niat sang penulis saat menggoreskan tintanya. Salah satu potret paling agung mengenai hakikat ketulusan ini tertuang dalam lembaran sejarah penyusunan kitab “Al-Ajurumiyah”, sebuah kitab masteris bidang ilmu nahwu yang ditulis oleh Syekh Ibnu Ajurrum ash-Shanhaji.
Narasi mengenai prosesi spiritual di balik lahirnya kitab ini diabadikan dengan sangat indah oleh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dalam kitab “Mukhtashar Jiddan”, sebuah karya syarah (penjelas) atas “Al-Ajurumiyah”. Beliau menukil sebuah kisah yang sarat akan makna sufistik:
حكي أنه ألف هذا المتن تجاه البيت الشريف وحكي أيضا انه لما الفه ألقاه في البحر وقال: ان كان خالصا لوجه الله تعالى فلا يبل، وكان الأمر كذلك. اه من حاشية الحامدي على الكفراوي
Artinya: “Dikisahkan bahwa Syekh ash-Shanhaji menulis kitab matan ini di hadapan Ka’bah yang mulia. Dikisahkan pula, bahwa ketika beliau selesai menyusun kitab “Al-Ajurumiyah”, beliau lantas pergi ke laut dan melemparkan karyanya tersebut ke dalam riak ombak seraya berujar pasrah: “Jika kitab ini ditulis dengan ikhlas demi mengharap rida Allah SWT, maka ia tidak akan basah. Dan kuasa Allah SWT pun bekerja, kitab tersebut tetap utuh, tidak basah oleh air laut, dan tidak pula rusak tersapu ombak.”
Catatan sejarah yang bersumber dari “Hasyiyah al-Hamidi ala Al-Kafrawi” ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur atau mitos masa lalu. Kisah ini adalah sebuah manifesto spiritual yang menjelaskan sebuah anomali sejarah: bagaimana sebuah kitab ringkas, yang ditulis berabad-abad lalu di sudut magis pelataran Ka’bah, mampu bertahan melintasi ruang dan waktu hingga tetap dibaca, dihafalkan, dan dipelajari oleh jutaan pencinta ilmu di seluruh dunia hingga hari ini.
Metafor Air dan Ketulusan Jiwa
Ujian melemparkan kitab ke dalam laut adalah sebuah tindakan simbolis yang sangat radikal sekaligus sublim. Air laut senantiasa identik dengan sifat melarutkan, menghancurkan, dan melenyapkan. Mengorbankan naskah fisik yang ditulis dengan jerih payah ke dalam lautan lepas adalah bentuk kepasrahan total (tawakal) seorang hamba yang telah melepaskan ego keduniawiannya.
Syekh ash-Shanhaji tidak sedang mencari validasi manusia, tidak pula mengejar popularitas, atau mengharapkan keuntungan materiil dari lembaran-lembaran kertas tersebut. Beliau hanya menginginkan satu hal: penerimaan di sisi Allah SWT.
Secara logika manusia, kertas yang terkena air pasti akan hancur dan tintanya akan luntur. Namun, ketika hukum alam bersinggungan dengan ketulusan yang murni, mukjizat non-nabi (karamah) sering kali menampakkan dirinya. Kitab yang tidak basah tersebut menjadi simbol nyata bahwa apa saja yang dijaga oleh Allah SWT karena keikhlasan penulisnya, tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh hukum alam sekalipun. Keikhlasan bertindak sebagai pelindung gaib yang membuat karya tersebut abadi.
Syahdan. Hari ini, kita hidup di era di mana karya diproduksi secara “massal” dan “instan”. Semua orang berlomba-lomba menulis, membuat konten, dan menyebarkan gagasan dengan motivasi yang sering kali terjebak pada angka digital: jumlah pengikut, tanda suka (likes), tayangan (views), atau keuntungan finansial. Akibatnya, banyak karya yang lahir hari ini langsung terlupakan esok hari. Mereka lenyap ditelan “lautan” algoritma digital karena sejak awal tidak memiliki jangkar spiritual yang kuat.
Berkah yang Melintasi Generasi
Perbedaan mendasar antara karya ulama terdahulu dengan karya manusia modern terletak pada aspek barakah (keberkahan). Berkah secara bahasa berarti “ziyadatul khair”, yakni bertambahnya kebaikan. Kitab “Al-Ajurumiyah” adalah pengejawantahan sempurna dari definisi berkah tersebut. Meskipun secara fisik kitab ini sangat tipis dan ringkas, tetapi kebaikan yang dipancarkannya begitu raksasa.
Sejak abad ke-8 Hijriah hingga detik ini, tidak ada pesantren, madrasah, atau universitas Islam yang mempelajari bahasa Arab melainkan menempatkan “Al-Ajurumiyah” sebagai gerbang pertama yang harus ditekuni. Kitab ini telah melahirkan ribuan ulama besar, menjadi jembatan bagi jutaan manusia untuk memahami Al-Qur’an dan Sunnah, serta memicu lahirnya ratusan kitab komentar (syarah) dan catatan kaki (hasyiyah) dari generasi ke generasi.
Keberlanjutan ini adalah buah manis dari keikhlasan Syekh ash-Shanhaji saat melempar karyanya ke laut. Allah SWT mengabulkan doanya bukan hanya dengan menjaga lembaran kertasnya agar tidak basah pada hari itu, melainkan dengan menjaga kemanfaatan ilmunya agar tidak pernah kering hingga akhir zaman.
Keikhlasan memiliki daya hidupnya sendiri. Ia seperti benih yang ditanam di tanah yang subur; meskipun sang penanam telah tiada dan jasadnya telah menyatu dengan tanah, pohon yang tumbuh dari benih itu terus berbuah dan menaungi siapapun yang berteduh di bawahnya. Syekh ash-Shanhaji telah wafat ratusan tahun yang lalu, namun setiap kali seorang santri di pelosok nusantara mengeja “Al-Kalamu huwal lafzhul murakkabul mufidu bil wadgh’i…”, pahala jariyahnya terus mengalir tiada henti ke kubur beliau.
Refleksi bagi Penulis Zaman Komemporer
Kisah magis dari kitab “Al-Ajurumiyah” ini memberikan tamparan keras sekaligus pelajaran berharga bagi kita semua yang berkecimpung dalam dunia literasi dan intelektualisme modern. Kita sering kali terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara memasarkan karya kita, bagaimana agar tulisan kita viral, atau bagaimana agar nama kita dikenal luas. Kita lupa menanyakan satu hal yang paling krusial pada hati kecil kita: “Jika karya ini aku lemparkan ke dalam lautan kehidupan tanpa ada satu pun orang yang memujiku, apakah aku akan tetap ridha?”
Ketulusan Syekh ash-Shanhaji mengajarkan bahwa kualitas dan keabadian sebuah karya tidak ditentukan oleh strategi pemasaran yang canggih, melainkan oleh kebersihan hati saat merumuskannya. Ketika sebuah karya ditulis dengan ego yang kerdil untuk pamer, ia akan mati bersamaan dengan hilangnya tren. Namun, ketika karya ditulis dengan air mata ketulusan di hadapan Ka’bah, ia akan menjadi warisan abadi kemanusiaan.
Setidaknya, kisah yang dinukil oleh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dalam “Mukhtashar Jiddan” ini bukan sekadar tentang mukjizat fisik sebuah buku yang kebal air, melainkan pelajaran teologis bahwa Allah SWT adalah sebaik-baik penjaga. Apa yang diniatkan murni karena-Nya tidak akan pernah sia-sia.
Tugas kita sebagai manusia hanyalah berkarya dengan sebaik-baiknya, memurnikan niat sebersih-bersihnya, lalu membiarkan Allah SWT yang mengantarkan karya tersebut menuju keabadiannya. Semoga kita semua mampu mengambil ibrah dari ketulusan Syekh ash-Shanhaji, sehingga apa pun yang kita perbuat di dunia ini dapat meninggalkan jejak kebaikan yang tak lekang oleh waktu. Wallahu a’lam bisshawab.

