Abstrak
Anak usia SD/MI (sekitar 6–11 tahun) tidak lepas dari dunia bermain dan bersenda gurau. Mereka cenderung fokus pada dunia permainan. Di sisi lain, orang tua dan guru berkewajiban memperhatikan aspek spiritual anak di sela-sela aktivitas bermain mereka, mengingat anak yang telah berusia 7 tahun sudah diwajibkan menjalankan ibadah, terutama shalat. Sementara itu, pada masa sekarang, bahkan peserta didik di jenjang SMA/MA pun sering kali kurang memperhatikan ibadahnya. Hal ini menunjukkan pentingnya penguatan iman sejak jenjang dasar (SD/MI). Selain itu, anak-anak masa kini juga mengalami dekadensi moral, seperti bersikap kasar kepada orang tua, kurang menghormati orang yang lebih tua, dan hilangnya rasa ta’dzim kepada guru. Gambaran kehidupan anak modern ini memerlukan perhatian serius dari lembaga pendidikan Islam, khususnya guru pendidikan agama Islam yang mengemban amanah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kata kunci: Penguatan iman, Siswa SD/MI, Irsyadul Ibad, Pembiasaan ibadah, Karakter religius.
Abstract
Children of primary school age (roughly 6–11 years old) naturally engage in play and lighthearted fun, often becoming fully immersed in their world of games. However, parents and teachers must also attend to the children’s spiritual development amidst these playful activities; after all, children aged seven and older are required to observe acts of worship, particularly prayer. In contrast, even high school students today often neglect their religious obligations, highlighting the need to strengthen faith at the foundational primary school level. Furthermore, children today are experiencing a moral decline manifested in rude behavior toward parents, a lack of respect for elders, and a loss of reverence for teachers. This snapshot of modern childhood warrants serious attention, including from Islamic educational institutions, particularly regarding the role of religious education teachers—figures entrusted with the task of intellectually and spiritually uplifting the nation.
Keywords: Strengthening faith, Elementary school students (SD/MI), Irsyadul Ibad, Cultivating worship habits, Religious character.
PENDAHULUAN
Iman merupakan salah satu pondasi utama yang harus melekat pada diri setiap muslim. Seseorang tidak cukup hanya berstatus Islam tanpa memiliki keimanan yang menancap dalam dirinya. Iman yang dimaksud adalah meyakini keberadaan Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, hari akhir, serta qada dan qadar (takdir baik maupun buruk), yang diwujudkan melalui hati, ucapan, dan perbuatan.
Terkait keimanan kepada Allah, sebagai muslim kita dituntut untuk mempelajari dan memahami makna beriman kepada-Nya. Dalam naskah ini, diuraikan makna iman kepada Allah serta kemahaesaan Allah SWT yang selama ini kita yakini bersama. Keyakinan atas kemahaesaan dan sifat-sifat Allah tentu tidak cukup hanya diucapkan di bibir, melainkan menjadi kewajiban bersama untuk dipelajari dan diamalkan.
Pada anak usia 6–11 tahun di jenjang SD/MI, diperlukan penanaman pengetahuan dan pengamalan iman agar mereka tumbuh menjadi individu yang bertanggung jawab terhadap ibadahnya saat dewasa kelak. Rentang usia tersebut merupakan fase awal untuk mempelajari dasar-dasar agama dan akidah sebelum melangkah pada pendalaman ilmu fikih dan disiplin ilmu keislaman lainnya.
KAJIAN TEORI
Konsep Penguatan Iman dalam Perspektif Kitab Irsyadul Ibad
Secara etimologi, kata iman berasal dari bahasa Arab, yaitu bentuk masdar dari kata āmana – yu’minu – īmānan (آَمَنَ – يُؤْمِنُ – إِيْمَانًا), yang berarti beriman atau percaya. Dalam bahasa Indonesia, percaya berarti meyakini bahwa sesuatu yang dipercayai itu benar atau nyata adanya. Iman juga dimaknai sebagai i’tirāf (pengakuan), membenarkan, atau pembenaran yang bersifat khusus. Menurut Poerwadarminta, iman adalah kepercayaan, keyakinan, serta ketetapan atau keteguhan hati. Abul A’la al-Maududi menterjemahkan iman dalam bahasa Inggris sebagai faith, yaitu “to know, to believe, to be convinced beyond the least shadow of doubt” (mengetahui, memercayai, dan meyakini tanpa ada keraguan sedikit pun).
Iman adalah keyakinan yang merujuk pada keagamaan, yaitu kepercayaan kepada Allah, nabi, kitab-kitab, dan hal ghaib lainnya. Keimanan diyakini di dalam hati dengan membenarkan dan meyakini sepenuh hati penciptaan alam semesta beserta seluruh isinya (Suryani et al., 2021).
Kitab Irsyadul Ibad dikutip dan disarikan dari dua kitab utama (Ali, 2018), yaitu Az-Zawajir dan Mursyidut Thullab, yang dirangkum oleh Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari dengan merujuk pula pada karya Syekh Shihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitami.
Kitab Irsyadul Ibad merupakan kitab fikih klasik karya Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz yang sangat populer dikaji di pondok pesantren Nusantara. Secara bahasa, judul kitab ini terdiri dari dua kata, yaitu Irsyād dan ‘Ibād. Irsyād berarti petunjuk, sedangkan ‘Ibād berarti hamba-hamba. Dengan demikian, Irsyadul Ibad bermakna “petunjuk bagi para hamba”, yang berisi panduan bagi seorang mukalaf dalam menjalankan agamanya. Kitab ini tidak hanya memuat kajian ilmu fikih, tetapi juga mencakup pembinaan akhlak, hadis-hadis Nabi, masalah-masalah keagamaan, nasihat, serta kisah-kisah teladan yang relevan dengan tiap babnya (Nisa, 2021).
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَٰشٗا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءٗ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖ فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ
Artinya: “Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. (Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 21–22).
Maksud dari “sekutu-sekutu” adalah tuhan-tuhan selain Allah SWT yang disembah, padahal manusia mengetahui bahwa tuhan-tuhan sesembahan itu hanyalah makhluk yang tidak mampu menciptakan apa pun. Anak-anak SD/MI sebelum mempelajari materi fikih tingkat lanjut perlu dibekali pengetahuan dasar tentang pengenalan kepada Allah SWT dan tata cara mengimaninya.
Dalam Syarah Sahih Muslim, Imam an-Nawawi mengutip kesepakatan (ijma’) para ahli sunnah, ahli hadis, ahli fikih, dan ahli tauhid bahwa seseorang yang beriman di dalam hatinya tetapi lisan/lidahnya enggan mengucapkan kalimat syahadat padahal ia mampu mengucapkannya, maka jika meninggal dunia ia terancam masuk neraka. Oleh karena itu, anak usia SD/MI perlu dituntun untuk mengenal dan mengucapkan dua kalimat syahadat sejak dini. Syahadat merupakan rukun Islam yang pertama; tanpa pengakuan syahadat, amalan ibadah lainnya seperti shalat, zakat, maupun haji tidak akan bernilai di sisi Allah SWT.
Implementasi Penguatan Iman pada Anak SD/MI
Beberapa bentuk implementasi penguatan iman telah diterapkan oleh berbagai lembaga pendidikan. Nilai-nilai yang terkandung dalam kitab Irsyadul Ibad mencakup ibadah mahḍah (ibadah ritual yang berhubungan langsung dengan Allah) dan ibadah gairu mahḍah (ibadah sosial yang berhubungan dengan sesama manusia). Tujuan implementasi ini adalah untuk memperbarui dan memperkuat iman peserta didik, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: جَدِّدُوْا إِيْمَانَكُمْ، قِيْلَ: وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيْمَانَنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: أَكْثِرُوْا مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ. (رواه أحمد والحاكم)
Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda: ‘Perbaruilah imanmu.’ Para sahabat bertanya: ‘Bagaimana kami memperbarui iman kami, wahai Rasulullah?’ Beliau memperjelas: ‘Perbanyaklah mengucapkan Laa ilaaha illallah’.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim).
a. Pembiasaan Shalat Dhuha
Dalam kitab Irsyadul Ibad dijelaskan keutamaan shalat sunnah Dhuha, di antaranya diampuni dosa-dosa orang yang melaksanakannya walaupun sebanyak busa di laut, serta memperoleh pahala yang melimpah. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. dalam kitab Irsyadul Ibad bab shalat sunnah, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ حَافَظَ عَلَى شُفْعَةِ الضُّحَى غُفِرَتْ لَهُ ذُنُوبُهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
Artinya: “Barangsiapa merawat/memelihara dua rakaat shalat Dhuha, maka dosa-dosanya akan diampuni walaupun sebanyak busa di laut.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
Melalui pembiasaan ini, guru dapat mengarahkan peserta didik SD/MI sebelum Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dimulai untuk melaksanakan shalat Dhuha berjamaah yang dilanjutkan dengan zikir dan doa bersama (Saputra, 2023, hlm. 75).
b. Shalat Malam (Qiyamul Lail)
Menurut pembagian waktu dalam kitab Irsyadul Ibad, waktu pelaksanaan shalat malam terbagi menjadi tiga tingkatan:
- Sepertiga malam pertama (sekitar pukul 19.00 hingga 22.00).
- Sepertiga malam kedua (sekitar pukul 22.00 hingga 01.00 dini hari).
- Sepertiga malam terakhir (sekitar pukul 01.00 dini hari hingga masuk waktu Subuh), yang merupakan waktu paling utama (Harfiah & Machfudh, 2021).
Berdasarkan wawancara dengan Badiya Izza, seorang guru di SD Muhammadiyah 1 Gempol, pembiasaan shalat malam ini diterapkan saat kegiatan PERSAMI (Perkemahan Sabtu Minggu) atau PERJUSA (Perkemahan Jumat Sabtu) pada kepanduan Hizbul Wathan. Kegiatan ini bertujuan membentuk karakter religius, melatih kedisiplinan, memperkuat mental spiritual, serta menumbuhkan keimanan di dalam hati peserta didik.
c. Menghormati Tamu dan Sesama
Dalam hadis diriwayatkan bahwa seorang muslim dianjurkan untuk memuliakan tamu sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, bahkan mendahulukan kepentingan tamu di atas kepentingan pribadi (Ali, 2018). Penanaman nilai karakter ini bertujuan meningkatkan kepedulian sosial peserta didik, memupuk keimanan, serta membangun kesadaran etika dan kesopanan sejak dini.
PENUTUP
Penguatan iman pada siswa Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) merupakan bagian krusial dalam pendidikan Islam. Hal ini tidak cukup dilakukan hanya melalui penyampaian teori dan hafalan materi semata, tetapi harus diwujudkan melalui pengamalan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pada usia dasar, siswa membutuhkan bimbingan, keteladanan, dan pembiasaan yang konsisten agar nilai keimanan tertanam kuat dan tercermin dalam perilaku sehari-hari. Oleh karena itu, peran guru dan orang tua sangat penting dalam mendampingi perkembangan spiritual anak.
Perspektif kitab Irsyadul Ibad karya Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz memberikan landasan syariat dan akhlak yang relevan untuk mengintegrasikan ibadah, keimanan, dan pembentukan karakter. Nilai-nilai dalam kitab tersebut dapat diadaptasi sesuai perkembangan anak SD/MI melalui pembiasaan ibadah (seperti shalat Dhuha, pengenalan shalat malam melalui pendampingan keluarga) serta pembentukan akhlak terpuji (seperti menghormati sesama, memuliakan tamu, dan bersikap sopan santun).
DAFTAR PUSTAKA
Ali, M. (2018). Terjemah Irsyad al-Ibad. Surabaya: Mutiara Ilmu.
Harfiah, N., & Machfudh, M. S. (2021). Pembentukan Karakter Religius Siswa Melalui Pembiasaan Ibadah. Jurnal Komunikasi dan Konseling Islam, 1(1), 70–71.
Nisa, Z. K. (2021). Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Kitab Irsyadul Ibad Karya Syekh Zainuddin Bin Abdul Aziz dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam (Skripsi sarjana, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto).
Saputra, D. (2023). Implementasi Karakter Dalam Kitab Irsyad Al-Ibad: Represif Degradasi Moral Remaja di Pondok Pesantren. SALIMIYA: Jurnal Studi Keagamaan Islam, 4(3), 70–82.
Suryani, I., Matsum, H., Santi, N., & Manik, M. (2021). Rukun Iman Dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak. Jurnal Medan Resources Center, 1(1), 1–10. https://doi.org/10.57251/ici.v1i1.7

