Keislaman

Hati-hati Dengan Ucapan: Sebuah Renungan Dari Ibrahim An-Nakha’i

1 Mins read

Diriwayatkan dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin, hal. 193:

قال إبراهيم النخعي: كانوا يقولون: إذا قال الرجل للرجل

 يا حمار، يا كلب، يا خنزير، قال الله له يوم القيامة: أتراني خلقتُه كلبًا، أو حمارًا، أو خنزيرًا؟

Artinya: “Imam Ibrahim An-Nakha’i berkata: “Dulu, para ulama mengatakan bahwa jika seseorang berkata kepada orang lain, “Wahai keledai”, Wahai anjing”, atau “Wahai babi!”, maka pada hari kiamat Allah akan berkata kepadanya. Apakah engkau melihat Aku menciptakannya sebagai seekor anjing, keledai, atau babi?”

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar orang saling memanggil dengan sebutan kasar. Ada yang menganggapnya sebagai candaan, ada pula yang menggunakannya untuk merendahkan orang lain. Namun, tahukah kita bahwa dalam Islam, lisan yang tak terjaga bisa menjadi sebab kesulitan di akhirat?

Islam sangat menekankan adab dalam berbicara. Rasulullah Saw. pernah bersabda yang artinya: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari Muslim).

Lisan adalah pedang bermata dua: bisa menjadi sumber kebaikan, tetapi juga bisa menjadi penyebab penyesalan abadi. Ucapan buruk tidak hanya mencerminkan akhlak seseorang, tetapi juga dapat melukai hati orang lain, merusak hubungan, bahkan menjadi dosa yang berat di hadapan Allah Swt.

Lebih dari sekadar etika sosial, menjaga lisan adalah bagian dari iman. Dalam dunia yang semakin gaduh dengan hinaan dan caci maki, kita memiliki pilihan: apakah ingin menjadi bagian dari mereka yang menjaga kehormatan lisan, atau justru termasuk mereka yang kelak harus menjawab pertanyaan berat dari Allah?

Sebelum berbicara, tanyakan pada diri sendiri: Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini akan menyelamatkanku di akhirat? Jika tidak, maka diam adalah pilihan terbaik. Wallahu a’lam bisshawab.

Baca...  Sejarah Samarra Ibukota Abbasiyah
265 posts

About author
Penulis Lepas dan Pemerhati Isu Sosial Politik.
Articles
Related posts
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Mengatasi Egosentrisme dan Merayakan Kemanusiaan: Refleksi Altruisme dalam Khazanah Ihya’ Ulumuddin Bersama Gus Ulil

10 Mins read
Dunia modern hari ini kerap kali didakwa sebagai panggung megah bagi tumbuh suburnya individualisme ekstrem. Manusia kontemporer dipaksa (atau mengondisikan diri) untuk…
Keislaman

Etika AI dan Islam: Tantangan Kejujuran Intelektual Muslim

6 Mins read
Pendahuluan Dunia hari ini sedang menyaksikan revolusi besar melalui Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI). AI bekerja berdasarkan serangkaian instruksi atau prosedur…
Keislaman

Tawakal dan Takdir dalam Islam: Pelabuhan Damai Jiwa Berserah

3 Mins read
Segala hal yang dialami oleh makhluk-Nya adalah manifestasi dari takdir yang telah ditulis oleh-Nya. Jauh sebelum dunia ini bising, Allah telah mengatur…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
KeislamanTafsir

Fisika Spiritual: Menjaga Gravitasi Ruhani di Tengah Fluktuasi Iman