KeislamanOpini

Menolak Klaim Atas Sifat Ilahi: Tafakur atas Hikmah Ibnu Atha’illah tentang Batas Diri Manusia

5 Mins read

Ada satu titik dalam kehidupan spiritual manusia di mana ia lupa bahwa dirinya hanyalah peminjam, bukan pemilik. Ia lupa bahwa napas yang dihirupnya, akal yang dipakainya untuk berpikir, bahkan kesadaran yang membuatnya mampu berkata “aku”, semuanya adalah titipan yang sewaktu-waktu bisa ditarik kembali oleh Sang Pemberi.

Dalam kealpaan semacam inilah tumbuh benih kesombongan: manusia mulai mengklaim apa yang bukan haknya, bahkan berani menisbatkan kepada dirinya sendiri sifat-sifat yang semata-mata milik Allah.

Syaikh Ibnu Atha’illah as-Sakandari, dalam kitab “Al-Hikam” yang disyarahkan oleh Syaikh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati, menyentuh persoalan ini dengan satu kalimat yang tampak sederhana namun menyimpan kedalaman metafisik yang luar biasa:

مَنَعَكَ أَنْ تَدَّعِيَ مَا لَيْسَ لَكَ بِمَا لِلْمَخْلُوقِيْنَ، أَفَيُبِيحُ لَكَ أَنْ تَدَّعِيَ وَصْفَهُ وَهُوَ رَبُّ الْعَالَمِينَ؟

Artinya: “Allah telah mencegahmu untuk mengklaim sesuatu yang bukan milikmu, sekalipun itu hanya berkaitan dengan hak-hak sesama makhluk. Maka mungkinkah Dia kemudian membiarkanmu mengklaim salah satu sifat-Nya, sedangkan Dia adalah Tuhan Pemelihara seluruh alam semesta?”

Kalimat ini bukan sekadar larangan moral biasa. Ia adalah pintu masuk menuju kesadaran tauhid yang paling dasar: bahwa eksistensi manusia, betapapun megah ia rasakan, tetap berada dalam kerangka ketergantungan mutlak kepada Yang Maha Ada.

Logika Bertingkat: Dari Larangan Kecil Menuju Larangan Besar

Ibnu Atha’illah menyusun argumennya dengan logika bertingkat yang khas para sufi: ia mulai dari hal yang paling mudah dipahami akal, lalu menariknya menuju kesimpulan yang jauh lebih besar. Ia mengingatkan bahwa mengklaim harta, jabatan, atau kehormatan milik sesama manusia saja sudah merupakan pelanggaran serius. Dalam bahasa syarah, tindakan ini disebut sebagai udwan, yakni sikap melampaui batas dan sekaligus kezaliman terhadap hak orang lain.

Jika mengambil alih hak sesama makhluk (yang sama-sama fana, sama-sama lemah, sama-sama membutuhkan) sudah dianggap pelanggaran serius, bagaimana mungkin logika yang sama tidak berlaku ketika seorang hamba berani mengklaim sifat-sifat Allah, Tuhan yang menciptakan dan memelihara seluruh alam?

Di sinilah letak kekuatan argumentasi Ibnu Atha’illah: ia menggunakan metode qiyas awla, analogi yang lebih utama. Jika larangan mengambil hak makhluk saja begitu tegas, maka larangan mengklaim sifat Sang Pencipta jauh lebih tegas dan konsekuensinya lebih berat.

Wajah-Wajah Klaim yang Tersamar

Dalam kehidupan sehari-hari, klaim atas sifat ketuhanan jarang muncul dalam bentuk yang vulgar. Tidak banyak orang yang secara terang-terangan berkata, “Akulah yang menciptakan,” atau “Akulah pemberi rezeki.”

Klaim semacam itu justru menyusup melalui celah-celah kecil kesadaran: ketika seseorang merasa kaya lalu memandang rendah yang miskin, ketika seseorang merasa berkuasa lalu lupa bahwa kekuasaan itu titipan, ketika seseorang merasa terhormat lalu menuntut penghormatan sebagai hak mutlak, ketika seseorang merasa kuat lalu meremehkan yang lemah, atau ketika seseorang merasa berilmu lalu memandang orang lain sebagai bodoh.

Baca...  Dalil Hadis dan Tanggung Jawab Politik: Apakah Golongan Putih Bisa Diterima dalam Islam?

Semua sifat itu (kaya, berkuasa, terhormat, kuat, dan alim) pada hakikatnya adalah sifat-sifat rububiyah, sifat yang menunjukkan otoritas dan kesempurnaan yang mutlak hanya layak disandarkan kepada Allah.

Manusia boleh saja memiliki kekayaan, kekuasaan, atau ilmu, tetapi ketika ia menjadikan kepemilikan itu sebagai identitas absolut dirinya, seolah-olah sifat itu melekat secara hakiki pada dirinya sendiri dan bukan sekadar pinjaman sementara, di situlah ia telah melangkah masuk ke wilayah klaim ketuhanan yang paling halus.

Para arifin, yakni mereka yang telah mencapai makrifat yang mendalam, memandang persoalan ini bukan sebagai dosa biasa, melainkan sebagai bentuk syirik yang tersembunyi di dalam hati. Ini yang dalam tradisi tasawuf sering disebut syirik khafi: syirik yang tidak tampak dalam ritual penyembahan berhala, tetapi hidup dalam struktur ego yang menempatkan diri sendiri sebagai pusat, sebagai sekutu tersembunyi bagi Allah dalam ruang batin manusia.

Ego sebagai Berhala yang Paling Halus

Filsafat sufi memandang ego, atau yang biasa disebut nafs atau ananiyah (keakuan), sebagai berhala paling canggih yang pernah diciptakan oleh alam bawah sadar manusia. Berhala dari batu bisa dihancurkan dengan kapak, tetapi berhala keakuan tidak bisa dihancurkan kecuali dengan penyaksian yang terus-menerus bahwa segala sifat baik yang ada pada diri manusia sesungguhnya adalah pancaran dari sifat Allah, bukan milik pribadi yang berdiri sendiri.

Ketika seseorang berkata dalam hatinya, “Aku kuat,” ia sedang lupa bahwa kekuatannya hanyalah pinjaman dari Yang Maha Kuat. Ketika ia berkata, “Aku berilmu,” ia sedang lupa bahwa ilmu yang dimilikinya hanyalah percikan kecil dari samudra pengetahuan Allah yang tak bertepi.

Kesombongan, dalam pandangan ini, bukanlah sekadar sifat buruk yang berdiri sendiri, melainkan gejala dari sebuah penyakit metafisik yang lebih dalam: lupa akan posisi diri sebagai makhluk yang serba bergantung.

Inilah yang membuat penyair-filosof sufi sering menyebut jalan tasawuf sebagai jalan fana: peleburan diri, penghancuran ego, agar yang tersisa hanyalah kesadaran akan Yang Maha Ada. Bukan berarti manusia harus menghilangkan dirinya secara fisik, tetapi ia harus menghancurkan ilusi bahwa dirinya adalah pusat dari segala sifat baik yang ia miliki.

Baca...  Gus Ulil Ngaji Ihya’: Pesan Haris Al-Muhasibi untuk Ulama Su’

Kibriya’ dan Azhamah: Dua Selendang yang Tak Boleh Dipinjam

Untuk mempertegas peringatan ini, Ibnu Atha’illah mengutip sebuah hadis qudsi yang menjadi salah satu teks paling menggetarkan dalam khazanah tasawuf:

الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ

Artinya: “Kesombongan adalah selendang-Ku dan kebesaran adalah sarung-Ku. Barangsiapa yang berani menyaingi-Ku dalam salah satu dari keduanya, niscaya akan Kulemparkan ia ke dalam neraka.”

Metafora “selendang” dan “sarung” dalam hadis ini sangat kaya makna filosofis. Pakaian adalah sesuatu yang melekat pada diri seseorang, menjadi identitas visual yang membedakannya dari yang lain.

Ketika Allah menyebut kesombongan dan kebesaran sebagai pakaian-Nya, itu berarti kedua sifat tersebut adalah identitas eksklusif Allah yang tidak dapat dipinjam, ditiru, apalagi direbut oleh siapa pun, termasuk oleh makhluk paling mulia sekalipun.

Kata kunci dalam hadis ini adalah naza’a, yang berarti “menyaingi” atau “menandingi”. Para ulama syarah menjelaskan bahwa makna menandingi di sini bukanlah dalam pengertian fisik atau kekuatan material, melainkan dalam pengertian batin: melalui keyakinan hati dan pengakuan lisan.

Seseorang yang di dalam hatinya meyakini bahwa kebesaran atau kesombongannya adalah miliknya sendiri, atau seseorang yang dengan lisannya menegaskan keagungan dirinya sebagai sesuatu yang berdiri sendiri tanpa sandaran kepada Allah, ia telah (secara metafisik) mencoba menandingi Sang Pemilik Sejati kedua sifat tersebut.

Kritik atas Antroposentrisme Spiritual

Jika direnungkan lebih jauh, pesan Ibnu Atha’illah ini sesungguhnya adalah kritik tajam terhadap kecenderungan antroposentrisme spiritual: paham yang menempatkan manusia dan pencapaiannya sebagai pusat nilai tertinggi, tanpa mengembalikannya kepada sumber yang lebih transenden.

Dunia modern, dengan segala pemujaannya terhadap pencapaian individu, kesuksesan pribadi, dan aktualisasi diri, sesungguhnya rentan menumbuhkan bentuk klaim ketuhanan yang sama, hanya dengan kemasan yang berbeda.

Budaya kontemporer sering mengajarkan bahwa manusia adalah “pencipta nasibnya sendiri”, bahwa kesuksesan adalah murni hasil kerja keras pribadi tanpa keterlibatan faktor apa pun di luar diri.

Narasi semacam ini, meskipun tampak memotivasi, sesungguhnya menyimpan potensi bahaya spiritual yang sama seperti yang dikritik Ibnu Atha’illah delapan abad yang lalu: manusia mulai memandang dirinya sebagai sumber dari kekuatan, kekayaan, dan kecerdasannya sendiri, bukan sebagai penerima yang berutang budi kepada Yang Maha Memberi.

Baca...  Matematika dalam Al-Qur'an: Misteri Ayat Dibalik Wahyu

Kritik tasawuf terhadap fenomena ini bukanlah ajakan untuk pasif atau menafikan usaha manusia. Sebaliknya, ia adalah ajakan untuk meletakkan usaha manusia dalam kerangka yang benar: bahwa segala daya, upaya, kecerdasan, dan keberhasilan adalah anugerah yang dipinjamkan, bukan hak milik yang berdiri sendiri secara ontologis.

Jalan Menuju Kesadaran Hakiki: Antara Rasa Syukur dan Peniadaan Diri

Lantas, bagaimana manusia bisa keluar dari jerat klaim halus ini? Tasawuf menawarkan jalan yang disebut sebagai tahaqquq bi al-ubudiyyah, yaitu perwujudan diri secara total sebagai hamba. Ini bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan penghayatan mendalam bahwa setiap sifat baik yang dimiliki manusia adalah pancaran, bukan sumber.

Ada perbedaan mendasar antara memiliki kekayaan dan merasa memiliki kekayaan sebagai hak absolut. Ada perbedaan antara memiliki ilmu dan merasa bahwa ilmu itu menjadikan diri lebih tinggi dari yang lain secara hakiki. Kesadaran sufi mengajarkan bahwa segala kepemilikan duniawi hanyalah amanah sementara yang harus disyukuri, bukan dibanggakan sebagai identitas permanen.

Dalam konteks ini, rasa syukur menjadi penawar bagi racun kesombongan. Ketika seseorang bersyukur, ia mengakui bahwa apa yang dimilikinya datang dari luar dirinya. Sebaliknya, ketika seseorang sombong, ia mengklaim bahwa apa yang dimilikinya adalah hasil murni dari dirinya sendiri, terlepas dari campur tangan Yang Maha Memberi.

Merunduk di Hadapan Yang Maha Besar

Hikmah yang disampaikan Ibnu Atha’illah ini pada akhirnya mengantarkan manusia pada satu kesadaran fundamental: bahwa kebesaran sejati hanya layak disandarkan kepada Allah, dan manusia, betapapun tinggi pencapaiannya, tetaplah makhluk yang fana dan bergantung.

Mengklaim sifat-sifat ketuhanan, baik secara terang-terangan maupun secara halus melalui kesombongan batin, adalah bentuk pelanggaran paling mendasar terhadap tatanan kosmis yang telah ditetapkan sejak azali.

Pesan ini relevan bukan hanya bagi mereka yang menempuh jalan spiritual formal, tetapi bagi setiap manusia yang hidup dalam godaan untuk merasa besar, merasa berkuasa, atau merasa berhak atas pengakuan mutlak. Di titik inilah tasawuf menawarkan penawar yang paling sederhana namun paling sulit dijalankan: merunduk.

Merunduk bukan sebagai tanda kelemahan, melainkan sebagai pengakuan jujur bahwa segala kebesaran yang tampak pada diri manusia hanyalah bayangan tipis dari Kebesaran yang sesungguhnya, yang tidak pernah, dan tidak akan pernah, bisa dipinjam oleh siapa pun selain Pemiliknya yang hakiki. Wallahi a’lam bisshawab.

352 posts

About author
Penulis Lepas dan Pemerhati Isu Sosial Politik.
Articles
Related posts
KeislamanOpini

Ketika Yang Luar Biasa Menuntut Yang Tak Biasa: Membaca Ulang Hikmah Ibnu Atha’illah tentang Mujahadah dan Karamah

4 Mins read
Ada satu kerinduan purba dalam jiwa manusia: kerinduan untuk menyaksikan atau bahkan mengalami sesuatu yang melampaui hukum kebiasaan alam. Kita menyebutnya mukjizat…
KeislamanOpini

Antara Usaha dan Anugerah: Membaca Ulang Paradoks Wushul dalam Al-Hikam

4 Mins read
Salah satu pasal paling menggetarkan dalam Al-Hikam karya Syaikh Ibnu Atha’illah as-Sakandari adalah pasal tentang jalan menuju Allah (wushul) yang justru menampik…
OpiniPolitik

Setelah Muktamar Ke-35: Masihkah Nahdlatul Ulama Layak Mengurus Tambang?

5 Mins read
Muktamar bukanlah panggung basa-basi lima tahunan yang habis begitu spanduk diturunkan. Ia adalah ruang di mana sebuah organisasi berhadapan dengan bayangannya sendiri:…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *