Opini

Membaca Kitab Alam dengan Mata Hati

7 Mins read

Di sebuah kampus, seorang mahasiswa kedokteran menghafal ratusan halaman anatomi. Ia hafal nama otot, pembuluh darah, dan saraf. Pada ujian, ia lulus dengan nilai tinggi. Namun, ketika menunggu jenazah neneknya, ia hanya merasa berdiri di hadapan sebuah objek biologis. Tidak ada getaran apa pun. Ilmunya lengkap, tetapi penglihatannya sempit.

Kegelisahan semacam ini disentuh Al-Ghazali dalam “Ihya’ Ulumuddin” ketika berbicara tentang orang-orang yang tidak sanggup membaca tulisan Tuhan di alam semesta. Dalam teks yang dikutip, ia menyebut mereka:

الَّذِينَ يَعْجِزُونَ عَنْ قِرَاءَةِ الْأَسْطُرِ الْإِلٰهِيَّةِ الْمَكْتُوبَةِ عَلَى صَفَحَاتِ الْمَوْجُودَاتِ بِخَطٍّ إِلٰهِيٍّ لَا حَرْفَ فِيهِ وَلَا صَوْتَ، الَّذِي لَا يُدْرَكُ بِعَيْنِ الْبَصَرِ بَلْ بِعَيْنِ الْبَصِيرَةِ

Artinya: “Orang-orang yang tidak mampu membaca garis-garis ketuhanan yang tertulis pada lembaran-lembaran segala yang ada, dengan tulisan ilahi yang tidak berhuruf dan tidak bersuara, yang tidak dapat ditangkap oleh mata kepala, tetapi oleh mata hati.”

Kalimat ini memuat tiga gagasan. Pertama, alam adalah teks dengan baris-baris yang bisa dibaca. Kedua, teks itu ditulis dengan cara yang berbeda dari kitab pada umumnya, tanpa huruf dan tanpa bunyi. Ketiga, perangkat untuk membacanya bukan indra lahir, melainkan bashirah, daya penglihatan batin.

Gagasan ini berakar pada Al-Qur’an, yang memakai kata “ayat” untuk dua hal sekaligus: kalimat wahyu dan gejala alam. Allah berfirman:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ

Artinya: “Kelak Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar.” (QS. Fussilat [41]: 53).

Ayat ini menempatkan cakrawala dan diri manusia sejajar dengan wahyu sebagai sumber tanda. Alam dan jiwa sama-sama halaman yang menunggu dibaca. Karena itu, Al-Ghazali tidak sedang menawarkan mistisisme yang lepas dari tradisi. Ia menagih konsistensi: bila Al-Qur’an memerintahkan kita memperhatikan langit, bumi, dan diri sendiri, orang beriman semestinya benar-benar melakukannya, tidak berhenti pada hafalan bunyi ayat.

Persoalannya terletak pada kata “tidak mampu” (ya’jizun). Al-Ghazali tidak menyebut mereka tidak mau, tidak tahu, atau tidak diberi kesempatan. Yang ia soroti adalah ketidakmampuan, semacam kelumpuhan daya baca. Orang yang buta huruf pun melihat deretan aksara, hanya saja tidak menangkap maknanya. Begitu pula manusia yang setiap hari melihat matahari terbit, hujan turun, dan bayi lahir, tetapi tidak membaca apa pun di balik peristiwa itu.

Buta yang Tidak Terdeteksi Dokter

Al-Qur’an menyebut jenis kebutaan ini dengan terang:

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Artinya: “Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj [22]: 46).

Kebutaan ini tidak terdeteksi oleh pemeriksaan mata mana pun. Pelakunya bisa memiliki penglihatan sempurna, gelar akademik, bahkan pengetahuan agama yang luas. Dalam kerangka Al-Ghazali, ukuran kesehatan penglihatan bukan ketajaman retina, melainkan kejernihan hati. Di bagian lain, dalam “Ihya’ Ulumuddin”, ia menjelaskan bahwa hati ibarat cermin. Cermin yang berkarat tidak memantulkan gambar, dan kesalahan itu ada pada cermin, bukan pada benda di depannya.

Baca...  Ontologi Keadilan Kosmis: Etika Kepemimpinan Ekologis Umar bin Khattab

Dari sini muncul pertanyaan yang tidak nyaman bagi masyarakat beragama: mungkinkah kita rajin beribadah, rajin mengaji, dan tetap buta terhadap tanda-tanda Tuhan? Jawaban Al-Ghazali, bila dibaca dengan jujur, adalah mungkin. Ritual yang dijalankan tanpa perenungan menjadi gerak yang kehilangan penerima pesan.

Kita bisa mengucapkan “Subhanallah” ratusan kali sehari tanpa pernah benar-benar takjub pada apa pun. Kita bisa membaca ayat tentang penciptaan langit dan bumi lalu menutup mushaf tanpa sekali pun menengadah. Padahal Al-Qur’an menyebut kelompok yang layak disebut berakal sebagai mereka yang merenungkan penciptaan:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ

Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” (QS. Ali Imran [3]: 190).

Perhatikan bahwa ayat ini mengaitkan tanda-tanda alam dengan ulul albab, bukan dengan ahli ibadah atau ahli hafalan. Ukurannya adalah kapasitas berpikir dan merenung. Ini menegaskan bahwa membaca alam adalah tugas intelektual sekaligus spiritual, tidak hanya urusan perasaan.

Kritik ini relevan bagi cara kita beragama hari ini. Keberagamaan kita sering terjebak dalam dua kutub yang sama-sama melewatkan kitab alam. Kutub pertama adalah formalisme, yakni agama sebagai daftar kewajiban dan larangan yang dijalankan sebagai rutinitas. Kutub kedua adalah teknokratisme, yakni alam dipandang semata-mata sebagai sumber daya yang diukur, diekstraksi, dan dijual. Dua kutub ini tampak bertentangan, tetapi sama-sama membuat alam bisu. Yang pertama membisukannya dengan mengabaikannya, yang kedua dengan mereduksinya menjadi angka.

Contohnya mudah ditemukan di sekitar kita. Hutan yang gundul dibicarakan sebagai selisih produksi kayu; sungai yang tercemar sebagai biaya pengolahan limbah. Sementara itu khotbah Jumat membahas kerusakan akhlak tanpa menyinggung kerusakan ciptaan. Seandainya lembaran alam benar-benar dibaca sebagai tulisan Tuhan, merusaknya akan terasa seperti mencoret-coret kitab suci.

Kerusakan lingkungan yang terus berlangsung di negeri yang mayoritas penduduknya beragama menunjukkan bahwa sebagian besar kita memang belum mampu membaca. Kita pandai membaca huruf, tetapi gagap membaca kenyataan.

Kebutaan batin juga punya bentuk yang lebih halus di era digital. Layar ponsel menyuguhkan ribuan gambar setiap hari, tetapi hampir semuanya adalah gambar tentang gambar, rekaman tentang rekaman. Perhatian kita dipecah dan dipendekkan. Membaca tulisan Tuhan membutuhkan jeda, sedangkan arus informasi membuat jeda terasa seperti kerugian. Pengamatan yang dalam menuntut diam, sementara kita hidup dalam kebisingan yang kita pilih sendiri.

Al-Ghazali menulis delapan abad sebelum ponsel ditemukan, tetapi diagnosisnya tepat: persoalan manusia bukan kekurangan objek untuk dilihat, melainkan kekurangan daya untuk menembus permukaan.

Mata hati bukan alasan untuk meninggalkan akal

Setiap gagasan tentang penglihatan batin menghadapi risiko disalahpahami. Ada dua kesalahan yang perlu dihindari. Kesalahan pertama adalah menjadikan “mata hati” sebagai pembenaran bagi klaim-klaim tanpa dasar. Dalam sejarah, tidak sedikit orang yang mengaku melihat dengan mata batin lalu menuntut orang lain tunduk tanpa bertanya.

Ucapan “ini hanya bisa dipahami dengan hati” berubah menjadi tameng yang menutup kritik. Pembacaan semacam ini tidak sejalan dengan Al-Ghazali. Ia seorang pemikir yang menulis “Mi’yar al-Ilm” dan “Mihakk al-Nazar” tentang logika, dan dalam “al-Mustashfa” ia menempatkan logika sebagai perangkat nalar yang sah.

Baca...  Belajar Al-Qur’an dari Nol: Lebih Efektif Lewat Media Digital atau Guru Ngaji (Talaqqi)?

Dalam “al-Munqidz min al-Dhalal”, ia juga menceritakan bagaimana dirinya melewati krisis keraguan yang hebat, dan jalan keluarnya tidak berupa penolakan terhadap akal, melainkan perjalanan panjang menimbang ulang cara-cara mengetahui. Mata hati dalam kerangka ini tidak menggantikan akal, melainkan menyempurnakannya. Akal yang kering dipertemukan dengan rasa, dan rasa yang liar dikawal oleh akal.

Kesalahan kedua adalah kebalikannya: menolak seluruh gagasan penglihatan batin sebagai sisa takhayul, lalu menganggap hanya yang terukur yang nyata. Sains modern memang membawa kita jauh. Kita mengetahui usia alam semesta, struktur DNA, dan mekanisme gempa. Tetapi pengetahuan itu menjawab pertanyaan “bagaimana”, sedangkan pertanyaan “untuk apa” dan “apa artinya bagiku” tidak bisa dijawab oleh instrumen laboratorium.

Ahli astrofisika boleh menghitung jarak bintang dengan presisi luar biasa, lalu tetap bertanya mengapa ada sesuatu dan bukan ketiadaan. Pertanyaan itu sah, dan di situlah penglihatan batin bekerja. Ia tidak membantah sains; ia melanjutkan pertanyaan di titik di mana sains berhenti.

Karena itu, pembacaan yang paling adil terhadap Al-Ghazali adalah melihat kedua mata itu bekerja bersama. Mata kepala mengamati, mengukur, dan mencatat. Mata hati bertanya dan merenung tentang makna dan arah. Orang yang hanya memakai satu mata akan kehilangan kedalaman. Dalam bahasa penglihatan, itulah ketiadaan perspektif tiga dimensi.

Al-Qur’an sendiri memberi isyarat bahwa memiliki organ tidak sama dengan memakainya. Kelompok yang dikecam dalam surah al-A’raf digambarkan:

لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا

Artinya: “Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah).” (QS. al-A’raf [7]: 179).

Yang dicela di sini adalah kelalaian memakai perangkat yang sudah diberikan. Manusia tidak kekurangan alat, tetapi sering lalai mengaktifkannya.

Melatih Mata, Membangun Ekosistem Membaca

Bila membaca tulisan Tuhan adalah kemampuan, ia bisa dilatih, dan pelatihan itu membutuhkan ekosistem. Pertanyaan praktisnya: apa yang bisa dilakukan oleh pendidikan, lembaga keagamaan, dan masyarakat?

Pertama, pendidikan agama perlu bergeser dari transfer informasi ke pembentukan kepekaan. Santri dan siswa cukup banyak diajari hukum shalat, tetapi jarang diajak merenungkan mengapa waktu shalat mengikuti perjalanan matahari. Pelajaran biologi, fisika, dan geografi hampir tidak pernah dipertemukan dengan pelajaran tauhid.

Sekat antara “ilmu agama” dan “ilmu umum” menghasilkan lulusan yang terbelah: yang satu fasih dalil tetapi gagap terhadap kenyataan, yang lain cakap data tetapi kering makna. Menyatukan kembali dua jalur itu bukan perkara menempelkan ayat pada buku sains. Yang dibutuhkan adalah cara mengajar yang membuat murid berhenti sejenak, bertanya, dan takjub.

Kedua, mimbar dan majelis taklim perlu memperluas cakupan tema. Khotbah yang menyentuh krisis air, banjir, kebakaran lahan, dan limbah plastik dengan bahasa tauhid akan menjadikan kerusakan alam sebagai persoalan iman, bukan sekadar persoalan teknis atau kebijakan. Bila alam adalah teks yang ditulis Tuhan, maka merawatnya adalah bentuk penghormatan terhadap teks itu, dan mengotorinya adalah bentuk penistaan yang nyata, bukan hanya yang ramai diperdebatkan di media sosial.

Baca...  Air Mata Nabi untuk Para Pendosa

Ketiga, perlu ada kerendahan hati intelektual. Membaca alam menuntut kesediaan untuk tidak buru-buru menyimpulkan. Orang yang selalu merasa sudah tahu tidak akan menemukan hal baru di lembaran yang sama. Banyak perdebatan kita, baik soal agama maupun politik, mandek karena masing-masing pihak merasa membawa kebenaran final.

Tradisi yang diwariskan Al-Ghazali justru memuliakan keraguan yang jujur sebagai pintu menuju keyakinan yang kokoh. Kegelisahan yang ia lalui menjadi bukti bahwa membaca dengan benar sering berawal dari mengakui bahwa kita belum bisa membaca.

Keempat, ada kebutuhan untuk memulihkan keheningan. Hal ini terdengar remeh, tetapi dampaknya besar. Tanpa waktu untuk memandang langit, berjalan tanpa gawai, atau duduk lama di depan sesuatu yang tumbuh, tulisan tanpa huruf itu tidak akan pernah terbaca. Tradisi sufi mengenal khalwat dan tafakkur bukan sebagai pelarian dari dunia, melainkan sebagai latihan memusatkan perhatian.

Versi kontemporernya tidak harus berupa pertapaan. Cukup disiplin kecil: mematikan layar pada jam tertentu, membaca satu hal dengan tuntas, atau memperhatikan satu pohon selama sepuluh menit.

Ada keberatan yang layak dijawab. Sebagian orang akan bertanya, bukankah seruan semacam ini hanya menambah beban bagi masyarakat yang sudah dihimpit urusan ekonomi? Orang yang berjuang memenuhi kebutuhan harian tidak punya waktu merenungi langit. Keberatan ini serius dan tidak boleh diabaikan. Kemiskinan memang menyempitkan ruang batin, dan ceramah tentang kontemplasi kepada orang yang kelaparan terdengar jauh dari kenyataan.

Namun, jawabannya bukan meninggalkan seruan itu, melainkan menempatkannya bersama keadilan sosial. Masyarakat yang adil memberi semua anggotanya kesempatan untuk berhenti dan merenung. Dalam arti ini, perjuangan melawan kemiskinan dan perjuangan membuka mata hati saling menopang. Hati yang buta terhadap tanda-tanda Tuhan biasanya juga buta terhadap penderitaan sesama, dan keduanya dipelihara oleh cara hidup yang sama: tergesa-gesa, tertutup, dan berpusat pada diri sendiri.

Maka kutipan Al-Ghazali tadi sebaiknya dibaca sebagai undangan sekaligus peringatan. Undangannya: seluruh semesta terbuka sebagai kitab, dan siapa pun bisa belajar membacanya. Peringatannya: kita bisa menghabiskan seluruh hidup di tengah halaman-halaman itu tanpa pernah memahami satu baris pun, karena yang rusak bukan bahan bacaannya, melainkan alat bacanya.

Penting untuk dikatakan bahwa ukuran keberagamaan tidak hanya terletak pada banyaknya ritual atau luasnya hafalan, tetapi pada seberapa jauh seseorang berubah ketika berhadapan dengan tanda-tanda itu. Ia semakin rendah hati, semakin peduli, dan semakin sadar bahwa dirinya hanya bagian kecil dari tulisan yang jauh lebih besar. Jika setelah bertahun-tahun beragama kita masih memandang alam sebagai latar yang bisu, barangkali yang perlu diperiksa bukan kitabnya, melainkan mata yang kita pakai. Wallahu a’lam bisshawab.

439 posts

About author
Penulis Lepas dan Pemerhati Isu Sosial Politik.
Articles
Related posts
FilsafatOpini

Neoplatonisme dan Jalan Sufi Falsafi

6 Mins read
Setiap gagasan besar lahir dari perjumpaan. Tasawuf sering dibayangkan sebagai laku sunyi di sudut masjid atau zawiyah, padahal ia tumbuh dari pergaulan…
Opini

Ketika Akal Menagih Bukti: Membaca Ulang Pesan Imam Syafi’i

5 Mins read
Di ruang-ruang diskusi keagamaan kita, kalimat “ini sudah dalil” sering diucapkan sebagai pengunci perdebatan. Setelah kalimat itu terdengar, pertanyaan lanjutan dianggap kurang…
Opini

Ketika Teks dan Nalar Berselisih Jalan: Membaca Ulang Ibnu Rusyd

6 Mins read
Ibnu Rusyd (1126-1198), hakim sekaligus tabib istana dari Cordoba, menulis risalah kecil yang gaungnya melampaui zamannya: “Fashl al-Maqal fima bayna al-Hikmah wa…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *