EsaiKeislaman

Perkembangan Teknologi Keuangan dalam Perspektif Filsafat Ilmu dan Etika Ekonomi Islam

2 Mins read

​Perkembangan teknologi yang pesat sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari, mengubah hal-hal yang membutuhkan banyak tenaga dan waktu menjadi lebih praktis. Kemudahan ini sangat terasa dalam berbagai hal, seperti komunikasi, mencari informasi, bahkan dalam kegiatan transaksi. Pernahkah kalian membayangkan bahwa kita dapat melakukan transaksi hanya dengan memindai kode QR? Bahkan, ketika pergi keluar rumah kita tidak perlu membawa uang tunai, atau kita bisa melakukan transaksi tanpa harus bertatap muka antara penjual dan pembeli. Perkembangan teknologi yang pesat ini sangat memengaruhi cara kita dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

​Perkembangan teknologi yang menggabungkan antara keuangan dan teknologi disebut dengan fintech, yang akhirnya mengubah model bisnis dari konvensional menjadi modern (Jamal et al., 2023). Kehadiran fintech tentu saja dapat memberikan banyak kemudahan bagi kita. Contohnya dengan adanya QRIS yang memudahkan pembayaran hanya dengan memindai kode QR, e-wallet yang memudahkan kita untuk menyimpan saldo dan melakukan berbagai transaksi seperti DANA dan GoPay, serta mobile banking yang memudahkan transfer tanpa harus ke bank. Namun, dalam perspektif filsafat ilmu, kita perlu mempertanyakan tujuan kemajuan teknologi dan dampaknya. Kemajuan teknologi seharusnya memberikan kemudahan, tetapi tidak meninggalkan nilai-nilai moral yang dapat dipertanggungjawabkan.

​Dalam perspektif cabang filsafat ilmu, ontologi digunakan untuk memahami perubahan realitas ekonomi yang terjadi akibat perkembangan teknologi digital. Jika pada ekonomi tradisional aktivitas ekonomi banyak dilakukan melalui interaksi fisik dan pertukaran langsung, ekonomi digital menghadirkan realitas baru berupa interaksi virtual yang berbasis jaringan internet dan teknologi informasi. Sementara itu, epistemologi membahas sumber, metode, and validitas pengetahuan. Dalam perkembangan ekonomi digital, epistemologi berperan dalam menjelaskan bagaimana pengetahuan ekonomi dihasilkan, dikembangkan, dan digunakan dalam pengambilan keputusan. Adapun aksiologi membahas nilai, manfaat, dan tujuan penggunaan ilmu pengetahuan. Dalam konteks ekonomi digital, aksiologi berfungsi untuk menilai dampak perkembangan teknologi digital terhadap kehidupan masyarakat (Nasution et al., 2026).

Baca...  Apakah Basmalah Merupakan Ayat Alqur’an?

​Jadi, kaitan ketiga cabang filsafat ilmu dengan perkembangan teknologi keuangan adalah sebagai berikut. Ontologi membahas perubahan realitas ekonomi akibat perkembangan digital, yang dapat dicontohkan dengan penggunaan QRIS—kemudahan membayar hanya dengan memindai kode QR, yang membuktikan perubahan metode pembayaran dari tunai menjadi digital. Epistemologi membahas bagaimana pengetahuan diperoleh, dikembangkan, and digunakan untuk mengambil keputusan; hal ini sangat diperlukan agar kita dapat menggunakan layanan digital dengan tepat dan aman, misalnya ketika menggunakan e-wallet, kita harus memahami cara bertransaksi dan menjaga keamanan akun agar tidak menjadi korban penipuan. Terakhir, aksiologi membahas nilai, manfaat, and tujuan penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi; hal ini memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menuntut penggunaan yang bertanggung jawab, yang dapat dicontohkan dengan adanya mobile banking yang memudahkan transfer tanpa ke bank, namun diiringi kewajiban menjaga keamanan data pribadi dan bertransaksi secara jujur.

​Walaupun perkembangan fintech memberikan banyak kemudahan dan manfaat, hal ini juga disertai dengan berbagai tantangan di baliknya. Pernahkah terlintas ketika data dan privasi kita bocor karena ulah pihak yang tidak bertanggung jawab? Tentunya kita akan mengalami kerugian finansial akibat adanya modus penipuan yang biasanya mengatasnamakan pihak resmi. Selain itu, ketika kita tidak benar-benar memahami layanan transaksi digital, kita bisa saja mengalami kerugian, misalnya adanya biaya administrasi, denda, atau saldo yang tiba-tiba terpotong. Dan yang paling perlu diperhatikan adalah sifat konsumtif kita yang bisa jadi meningkat karena kemudahan dalam bertransaksi. Ketika kita tidak sadar, hanya sekadar memindai kode QR lalu mengecek saldo, tiba-tiba saldo sudah terkuras—aduh!

​Maka dari itu, kita sangat perlu meningkatkan literasi terkait keuangan digital, memperkuat keamanan data dan privasi dengan menjaga kata sandi, tidak sembarang mengklik tautan, serta memastikan kebenaran data sebelum melakukan transaksi. Yang paling utama adalah menerapkan prinsip kejujuran dan melakukan kegiatan transaksi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Baca...  Penegakan Hukum dan Keadilan dalam Lensa Tafsir Al-Qurthubi

​Pada akhirnya, perkembangan teknologi keuangan tidak hanya tentang kemudahan yang disediakan, tetapi juga tantangan yang perlu kita hadapi dan dampak buruk yang perlu kita waspadai. Filsafat ilmu memegang peranan penting dalam membentuk cara kita berpikir kritis sebelum melakukan sebuah transaksi, serta etika ekonomi yang harus menjadi landasan untuk melakukan transaksi dengan jujur, adil, and dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, perkembangan teknologi keuangan diharapkan dapat memberikan kemudahan dan manfaat bagi masyarakat, namun di balik kemudahan tersebut, kita juga harus tetap berpegang teguh pada nilai-nilai moral dan menjadi pribadi yang bertanggung jawab dalam melakukan transaksi digital.

1 posts

About author
Kotributor Kuliah Al Islam
Articles
Related posts
KeislamanPendidikan

Mendidik Akidah Anak di Era Digital: Peran Orang Tua & Guru

6 Mins read
Di era digital yang terus berkembang pesat saat ini, banyak orang tua merasakan kekhawatan dan kegelisahan saat melihat pertumbuhan anak mereka. Fenomena…
HukumKeislaman

Mengenal Akad Paylater: Mana yang Halal dan Syubhat dalam Islam?

4 Mins read
​Memasuki era digital, saat ini banyak ditemukan inovasi baru yang dirancang untuk memudahkan aktivitas manusia. Perkembangan teknologi yang begitu cepat menuntut manusia…
KeislamanPendidikanSejarah

Melawan Budaya Instan: Menumbuhkan Kesabaran Anak SD Lewat Sejarah Islam

4 Mins read
Suatu hari di kelas, seorang siswa kelas empat menaruh pensilnya baru dua menit setelah menghadapi soal yang sulit. “Susah, Bu, aku enggak…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *