KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Kritik Haris Al-Muhasibi kepada Ulama Pencinta Dunia

2 Mins read

Suatu ketika, Imam Haris Al-Muhasibi berkata kepada ulama-ulama jahat pencinta dunia (ulama su’). Katanya, “Celakalah kamu, wahai orang yang tertipu! Apa alasanmu mengenai uang, padahal sahabat Abdurrahman bin Auf, dengan kebajikan, ketakwaan, serta amal kebaikannya yang terkenal, selalu mengeluarkan hartanya di jalan Allah SWT? Dia juga salah satu sahabat Nabi yang dijamin masuk surga.”

​“Jika kalian tahu! Sekalipun Abdurrahman bin Auf kaya raya, dia akan dipaksa berdiri di Hari Kiamat. Meskipun uang yang dia peroleh secara halal digunakan demi amal kebaikan serta dibelanjakan hanya di jalan Allah SWT, namun dia tertahan untuk bersegera menuju surga bersama kaum fakir Muhajirin; dia harus merangkak mengikuti jejak mereka. Jadi, apa pendapatmu tentang orang-orang seperti kami yang tenggelam dalam cobaan dunia ini?”

​Gus Ulil menjelaskan bahwa sekalipun Abdurrahman bin Auf memiliki harta melimpah dan selalu menggunakannya di jalan Allah SWT, ia tetap akan diminta pertanggungjawaban atas hartanya tersebut.

​Syahdan, setelah Imam Haris Al-Muhasibi berkata demikian, sungguh ironis bahwa banyak orang yang tertipu justru berkubang dalam keraguan dan keuntungan haram. Imam Haris Al-Muhasibi kembali berujar, “Mereka tidak sadar bahwa dirinya telah memanjakan keinginan, perhiasan, dan kesombongan dalam godaan dunia ini, lalu mengutip sosok Abdurrahman bin Auf sebagai pembenaran. Mereka mengklaim bahwa jika mereka mengumpulkan kekayaan, maka para sahabat pun melakukannya. Seolah-olah perbuatan mereka menyerupai para pendahulu yang saleh (salafus shalih). Maka, celakalah kamu.”

​Tak berhenti di situ, Imam Haris Al-Muhasibi menegaskan, “Dengarlah! Aku akan menggambarkan kepadamu keadaan para pendahulu yang saleh agar kamu dapat mengenali aibmu dan memahami kebajikan para sahabat.”

​“Demi hidupku, sebagian sahabat memang memiliki kekayaan, namun mereka menggunakannya hanya di jalan Allah SWT. Mereka memperolehnya secara halal, berinfak secukupnya, dan memberi dengan murah hati. Mereka tidak menahan hak orang lain dan tidak pelit. Di masa sulit, mereka sering mengutamakan Allah SWT daripada diri sendiri. Demi Allah! Apakah engkau seperti itu? Demi Allah, engkau jauh dari sifat para sahabat tersebut.”

Baca...  Lima Pilar Rasionalisme Muktazilah: Telaah Penafsiran Qadi ‘Abd al-Jabbar dalam Tanzih al-Qur’an ‘an al-Mata‘in

​Lebih lanjut, Imam Haris Al-Muhasibi memaparkan bahwa para sahabat selalu rendah hati, tidak takut miskin, percaya kepada Allah SWT dalam urusan rezeki, dan rida dengan ketetapan-Nya. Mereka merasa puas meski dalam kesulitan, bersyukur saat mendapat rezeki, dan sabar dalam kesusahan.

​“Mereka rendah hati di hadapan Allah SWT dan selalu menjauhi cinta akan status sosial (jabatan) serta kekayaan. Mereka mengambil dunia hanya secukupnya, meninggalkan kesenangan dan kenikmatan duniawi yang sementara. Demi Allah! Apakah engkau seperti itu?”

​Bahkan, ketika kekayaan duniawi datang menghampiri, para sahabat justru bersedih dan berkata, “Ini adalah dosa yang hukumannya dipercepat oleh Allah Yang Mahakuasa.” Sebaliknya, saat kemiskinan mendekat, mereka menyambutnya, “Selamat datang, wahai lambang orang-orang saleh.”

​Begitulah gambaran kehidupan Abdurrahman bin Auf. Ia adalah sahabat yang sukses berdagang hingga kaya raya. Ia sering menyedekahkan seluruh hartanya, termasuk membiayai kafilah dagang untuk kepentingan umat.

​Namun, setelah mendengar hadis dari Siti Aisyah bahwa ia akan masuk surga paling akhir karena kekayaannya, ia bertekad menjadi miskin. Akan tetapi, usahanya untuk miskin selalu gagal. Mengapa? Karena setiap harta yang ia sedekahkan justru bertambah berlipat ganda. Inilah berkah rajin bersedekah. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 261:

​مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سبعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

​Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 261).

Baca...  Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Hasad Adalah Keegoisan dan Kebodohan Diri

​Dalam surah Saba’ ayat 39, Allah SWT kembali menegaskan bahwa apa pun yang diinfakkan akan diganti oleh-Nya dengan yang lebih baik di dunia maupun akhirat:

​قُلْ اِنَّ رَبِّيْ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ وَيَقْدِرُ لَهٗۗ وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗۚ وَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ

​Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya.’ Suatu apa pun yang kamu infakkan, pasti Dia akan menggantinya. Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.” (QS. Saba’ [34]: 39).

Wallahu a’lam bisshawab.

235 posts

About author
Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Penulis juga kontributor tetap di E-Harian Aula digital daily news Jatim.
Articles
Related posts
Keislaman

Qana'ah di Era Digital: Refleksi Islam Atasi Perbandingan Sosial

3 Mins read
Di era digital saat ini, manusia hidup dalam arus informasi yang terus bergerak tanpa henti. Dalam satu hari saja, seseorang dapat melihat…
KeislamanTafsir

Tafsir QS An Nur Ayat 31: Etika Menampakkan Perhiasan Wanita

4 Mins read
Landasan Ayat QS al-Nūr [24]: 31 ​Allah ﷻ berfirman: ​وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ​“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali…
Keislaman

Fiqh Sosial: Wujudkan Kesalehan Sosial & Kesejahteraan Umat

2 Mins read
​Fiqh sudah sepatutnya bersifat emansipatoris terhadap problem sosial-kemasyarakatan. Dengan karakteristik ini, fiqh sosial mengajarkan untuk meningkatkan kepekaan sosial, menggairahkan kegiatan sosial atau…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
KeislamanNgaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad

Bahaya Mengkafirkan Kelompok: Ngaji Al-Iqtishad fi Al-I’tiqad Gus Ulil