KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Kedermawanan Itu Harus Dipaksa

2 Mins read

Suatu waktu, Imam Abu Hasan Al-Busyanji hendak masuk ke dalam toilet. Ia kemudian memanggil muridnya dan berkata, “Tolong lepaskan gamisku ini dan berikanlah kepada si fulan.” Si murid menyahut, “Wahai guruku! Nanti saja setelah engkau keluar dari toilet.” Imam Abu Hasan menjawab, “Jangan menunggu aku keluar dari toilet. Kalau aku berubah pikiran bagaimana?”

​Anda tahu, sifat pelit itu tidak akan hilang jika tidak dipaksa, kata Imam Abu Hasan. Memang seseorang akan disebut dermawan jika memberi tanpa ada paksaan. Akan tetapi, untuk menjadi dermawan, kita harus melawan rasa pelit. Jika tidak, selamanya kita akan menjadi orang yang kikir.

​Begitulah caranya kita menjadi dermawan, kata Gus Ulil. Mula-mula harus dipaksakan. Sangat mustahil seseorang menjadi dermawan tanpa latihan dan paksaan. Inilah yang di dalam filsafat etika disebut dengan al-fadhilah (etika keutamaan).

Al-fadhilah adalah sifat yang sudah mengakar pada jiwa seseorang sehingga ia bisa melakukan kebaikan tanpa paksaan dan rasa berat karena sudah menjadi kebiasaan. Tentu saja, kata Gus Ulil, al-fadhilah berbeda dengan sekadar taat pada peraturan lalu lintas, seperti berhenti saat lampu merah. Al-fadhilah adalah ketika membantu mereka yang tidak mampu telah menjadi kebiasaan hidup yang dilakukan tanpa beban.

Bagaimana cara mengobati sifat pelit?

​Tentu saja menghilangkan sifat pelit sangatlah sulit. Ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan agar sifat ini hilang. Gus Ulil mengatakan bahwa cara mengobatinya adalah dengan sedikit “mengelabui” diri sendiri.

​Mula-mula kita berkata pada diri sendiri, “Saya ingin bersedekah, tapi ini sangat berat. Namun, mungkin jadi ringan kalau sambil dibuatkan konten video sehingga orang-orang bisa melihat dan memuji saya.”

Baca...  Makna Spiritual Pengampunan Nabi Adam Berkat Nur Muhammad

​Ini hanya langkah sementara saja, kata Gus Ulil. Jika sudah terbiasa, Anda tidak akan lagi terpikirkan hal itu. Sesuatu yang baik sering kali harus dimulai dengan “dipaksa” sampai menjadi kebiasaan. Kenapa demikian? Jika menunggu hati ikhlas sepenuhnya, maka kesempatan untuk berbuat baik mungkin tidak akan pernah terlaksana.

Dialog Kiai Bisri Mustafa dan Kiai Ali Maksum

​Inilah yang terjadi pada Kiai Bisri Mustafa. Kita tahu, Kiai Bisri Mustofa (1915–1977) adalah ulama karismatik pendiri Pondok Pesantren Roudlotut Thalibin di Rembang, Jawa Tengah, sekaligus ayah dari Gus Mus (Mustofa Bisri). Selain dikenal sebagai orator ulung dan pemikir moderat, ia juga merupakan penulis produktif. Salah satu karyanya yang fenomenal adalah Tafsir Al-Ibriz.

​Suatu waktu, Kiai Ali Maksum Krapyak Yogyakarta berkata, “Bisri, kamu itu alimnya sama dengan saya, ya 11-12 lah. Bahkan sepertinya saya lebih alim darimu. Tapi kenapa karyamu sangat banyak?”

​Kiai Bisri Mustafa menjawab, “Iya, itu kan salahnya Sampean saja.” Kiai Ali Maksum heran, “Salah saya di mana?” Kiai Bisri Mustafa menjawab lagi, “Sampean kalau mengarang kitab tujuannya ikhlas karena Allah saja.” Kiai Ali Maksum berkata, “Lho! Namanya juga amal ya harus ikhlas dong. Masa kamu memarahi saya? Kalau tidak ikhlas terus bagaimana?”

​Kiai Bisri Mustafa menjelaskan, “Kalau saya mengarang kitab, tujuannya agar dapat uang untuk memberi nafkah istri. Saya ingin dapat honor, makanya semangat menulis. Akan tetapi, ketika tulisan selesai dan mau disetorkan ke penerbit, baru saya niatkan karena Allah SWT.”

​Memang hawa nafsu terkadang perlu iming-iming, kata Gus Ulil. Ia seperti anak kecil. Jika mau disapih dari ibunya, maka harus diberi iming-iming. Benar apa yang dikatakan oleh Imam Al-Bushiri dalam qasidah Burdah:

Baca...  Perjuangan Jihad Teungku Tjik Di Tiro

​وَالنّفْسُ كَالطّفِلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى ۞ حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ

​Artinya: “Nafsu bagaikan bayi, bila kau biarkan akan tetap menyusu. Namun bila kau sapih, maka bayi akan berhenti sendiri.”

​Keberadaan nafsu sangat memengaruhi manusia dalam segala tingkah laku dan perbuatan. Manusia tidak mungkin mengalahkan nafsu hanya dengan sekali perlawanan. Karena itu, lawanlah nafsu secara berulang dan terus-menerus.

​Tentu saja, dalam melawan nafsu perlu kerja keras dan kewaspadaan. Kendalikanlah hawa nafsu dengan tali takwa dan sifat wara’ agar tabiat nafsu terarah menuju kebaikan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Yusuf ayat 53:

​وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

​Artinya: “Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf: 53).

​Apabila manusia sudah dikuasai hawa nafsunya, ia akan terjatuh ke tingkatan terendah sehingga menyerupai hewan. Akan tetapi, apabila manusia mampu mengatasinya, ia akan dengan mudah mengatur dan mengendalikannya. Wallahu a’lam bisshawab.

352 posts

About author
Penulis Lepas dan Pemerhati Isu Sosial Politik.
Articles
Related posts
KeislamanOpini

Ketika Yang Luar Biasa Menuntut Yang Tak Biasa: Membaca Ulang Hikmah Ibnu Atha’illah tentang Mujahadah dan Karamah

4 Mins read
Ada satu kerinduan purba dalam jiwa manusia: kerinduan untuk menyaksikan atau bahkan mengalami sesuatu yang melampaui hukum kebiasaan alam. Kita menyebutnya mukjizat…
KeislamanOpini

Menolak Klaim Atas Sifat Ilahi: Tafakur atas Hikmah Ibnu Atha’illah tentang Batas Diri Manusia

5 Mins read
Ada satu titik dalam kehidupan spiritual manusia di mana ia lupa bahwa dirinya hanyalah peminjam, bukan pemilik. Ia lupa bahwa napas yang…
KeislamanOpini

Antara Usaha dan Anugerah: Membaca Ulang Paradoks Wushul dalam Al-Hikam

4 Mins read
Salah satu pasal paling menggetarkan dalam Al-Hikam karya Syaikh Ibnu Atha’illah as-Sakandari adalah pasal tentang jalan menuju Allah (wushul) yang justru menampik…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
PendidikanPolitikTokoh

Anis Matta, Pemantik Kata dan Diplomasi Muslim Akhir Zaman