KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Gus Ulil Ngaji Ihya: Nasihat Al-Muhasibi untuk Ulama

2 Mins read

Suatu ketika, Imam Haris Al-Muhasibi berkata kepada ulama pencinta dunia, “Telah diceritakan bahwa beberapa ulama berkata: ‘Aku tidak akan senang memiliki unta-unta terbaik sekalipun, jika aku tidak termasuk dalam barisan terdepan bersama Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.’”

​“Wahai manusia (ulama pencinta dunia)! Bersegeralah bergabung dengan barisan para Rasul. Takutlah agar tidak tertinggal dan terputus dari Nabi Muhammad SAW, sebagaimana orang-orang bertakwa merasakannya.”

​Imam Haris Al-Muhasibi kemudian melanjutkan, “Diceritakan bahwa salah seorang Sahabat merasa haus dan meminta air. Ia diberi air minum dan madu. Ketika mencicipinya, ia diliputi emosi dan menangis, hingga membuat orang lain ikut menangis. Ia menyeka air matanya dan hendak berbicara, tetapi kembali menangis tersedu-sedu.”

​Saat ditanya, “Apakah semua ini karena minuman ini?” Beliau menjawab: “Ya. Suatu hari, ketika aku bersama Rasulullah SAW dan tidak ada orang lain di rumah, beliau mulai menjauhkan diri sambil berkata, ‘Tinggalkan aku sendiri!’ Aku bertanya, ‘Semoga ayah dan ibuku dikorbankan untukmu! Aku tidak melihat siapa pun di hadapanmu, kepada siapa engkau berbicara?’”

​Rasulullah menjawab: “Dunia ini menjulurkan leher dan kepalanya ke arahku dan berkata: ‘Wahai Muhammad, ambillah aku.’ Aku bersabda: ‘Menjauhlah dariku.’ Ia berkata: ‘Jika engkau lolos dariku, wahai Muhammad, maka tidak seorang pun setelahmu akan lolos dariku.’ Aku takut hal ini telah menimpaku. Kalian akan memisahkan aku dari Rasulullah SAW.”

​“Wahai manusia! Orang-orang saleh ini menangis karena takut bahwa seteguk air halal saja akan memisahkan mereka dari Rasulullah SAW. Celakalah kalian! Kalian tenggelam dalam segala macam nikmat dan keinginan dari hasil haram serta sumber yang meragukan, namun kalian tidak takut terpisahkan. Malulah! Betapa besarnya kebodohan kalian!”

Baca...  Salahuddin Al-Ayyubi Pembebas Baitul Maqdis

​“Jika kalian tertinggal dari Muhammad Sang Terpilih pada Hari Kiamat, kalian pasti akan menyaksikan kengerian yang bahkan ditakuti malaikat dan nabi. Jika kalian tertinggal dalam perlombaan, mengejar ketertinggalan akan menjadi tugas yang panjang dan berat. Jika kalian menginginkan banyak hal, kalian akan menghadapi perhitungan (hisab) yang sulit.”

​“Jika tidak puas dengan yang sedikit, kalian akan menghadapi penderitaan panjang. Jika kalian rida menjadi golongan yang tertinggal, kalian akan terputus dari para sahabat di sisi kanan dan dari Rasulullah SAW. Kalian akan tertunda meraih kebahagiaan.”

​Lebih lanjut, Imam Haris Al-Muhasibi mengatakan, “Jika kamu mengaku sebagai pengikut pendahulu yang saleh, maka merasa cukuplah dengan yang sedikit, menjauhi syubhat, dermawan dengan harta, mendahulukan orang lain, tidak takut miskin, dan tidak menumpuk harta untuk hari esok.”

​“Celakalah wahai orang yang tertipu! Renungkanlah. Tidakkah kamu tahu bahwa meninggalkan keasyikan dengan harta benda dan membebaskan hati untuk berzikir, merenung, dan berkontemplasi itu lebih aman bagi iman? Hal itu memudahkan perhitungan, meringankan pertanyaan di akhirat, dan meningkatkan kedudukanmu di sisi Allah berkali-kali lipat.”

​Imam Al-Muhasibi juga mengutip pendapat ulama tentang orang yang mengumpulkan harta untuk tujuan amal. Mereka berkata: “Lebih baik baginya untuk tidak mengumpulkannya.” Bahkan, salah seorang Tabi’in terbaik menjelaskan bahwa menjaga diri dari mengejar kekayaan membuat tubuh lebih tenang, pikiran tenteram, dan kekhawatiran berkurang.

​“Sesungguhnya, keterlibatanmu dalam mengingat Allah SWT jauh lebih baik daripada menghabiskan energi mengumpulkan kekayaan, meski untuk jalan-Nya. Dengan demikian, kamu akan memperoleh ketenangan di dunia dan pahala yang lebih besar di akhirat.” Wallahu a’lam bisshawab.

367 posts

About author
Penulis Lepas dan Pemerhati Isu Sosial Politik.
Articles
Related posts
KeislamanPendidikan

Mengatasi Popcorn Brain pada Anak Menurut Imam Al-Ghazali

4 Mins read
​Pernahkah Anda memperhatikan betapa cepatnya seorang anak sekarang yang menyerah begitu saja saat diminta untuk belajar dan membaca teks panjang, namun sanggup…
KeislamanTafsir

​Makna Sakit Sebagai Ujian dalam Perspektif Tafsir Al-Qur’an Kontemporer

5 Mins read
​I. Pendahuluan ​Sakit merupakan bagian dari eksistensi manusia yang dapat menimpa siapa saja tanpa memandang usia, status sosial, maupun latar belakang individu….
KeislamanOpini

Ilmu yang Menjaga, Harta yang Dijaga: Menyingkap Filosofi Keutamaan Ilmu Warisan Sayyidina Ali bin Abi Thalib

7 Mins read
Sebuah ironi yang menyelinap diam-diam ke dalam peradaban manusia modern: semakin canggih instrumen yang kita ciptakan untuk mengejar pengetahuan, semakin kabur pula…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Gus Ulil Ngaji Ihya: Pesan Haris Al-Muhasibi Soal Ulama & Harta