Rocky Gerung telah lama dipuja sebagai ikon kritik di negeri ini. Setiap kalimatnya yang tajam dianggap sebagai oase di tengah gurun politik yang gersang akan gagasan. Publik menempatkannya di altar para pemikir bebas, seolah-olah ia adalah suara kebenaran yang tak tersentuh kepentingan.
Namun, pelantikannya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden oleh Prabowo Subianto menjadi palu godam yang menghancurkan patung yang ia bangun sendiri selama bertahun-tahun. Tiba-tiba, sang kritikus yang dulu menuding penguasa sebagai “pembuat hoaks terbaik” kini duduk di kursi yang sama dengan mereka yang pernah ia cerca. Ia bukan lagi singa yang mengaum di panggung debat, melainkan kucing yang mendengkur di pangkuan kekuasaan.
Betapa cepatnya metamorfosis itu terjadi. Dulu, ia begitu lantang menyatakan bahwa kritik adalah oksigen demokrasi. Kini, ia menjadi bagian dari mesin yang dulu ia tuduh mencekik oksigen tersebut. Publik yang mengaguminya merasa dikhianati, bukan karena ia menerima jabatan, melainkan karena ia membuktikan bahwa semua retorikanya hanyalah topeng yang bisa dilepas kapan saja demi kursi empuk.
Ia yang dulu menuduh orang lain “menjilat ludah sendiri” kini melakukan hal yang sama, bahkan mungkin lebih memalukan. Karena setidaknya, ludah yang ia jilat adalah ludah yang ia ludahkan sendiri ke wajah kekuasaan.
Kritik sejatinya bukan sekadar keterampilan berbicara, melainkan sikap berdiri. Ia menuntut jarak yang sengaja dijaga antara pengkritik dan yang dikritik. Jarak itulah yang membuat suara seseorang dipercaya: publik yakin bahwa ia berbicara tanpa utang budi, tanpa kursi yang harus dijaga, tanpa atasan yang harus disenangkan. Ketika jarak itu dihapus sendiri oleh sang kritikus, yang runtuh bukan hanya reputasi pribadinya, melainkan juga keyakinan publik bahwa kritik bisa tumbuh dari tempat yang bersih.
Logika yang Dijual demi Kursi
Ada keironian yang begitu pekat hingga sulit ditelan. Rocky Gerung pernah mendefinisikan kitab suci sebagai fiksi karena berisi janji-janji yang belum terwujud. Namun, janji-janji kritiknya sendiri kini terbukti lebih fiktif daripada apa pun yang pernah ia sebut.
Ia menjanjikan perlawanan tanpa kompromi, tetapi yang ia berikan adalah kompromi tanpa perlawanan. Ia menjanjikan independensi, tetapi yang ia tunjukkan adalah ketergantungan pada kekuasaan. Ia menjanjikan keberanian, tetapi yang ia perlihatkan adalah kepengecutan yang berkedok kebijaksanaan.
Argumen bahwa menerima jabatan adalah bagian dari strategi untuk mengubah sistem dari dalam adalah alasan yang sudah terlalu usang. Setiap politikus yang berkhianat selalu menggunakan dalih yang sama. Mereka mengatakan ingin mengawal dari dalam, tetapi yang terjadi adalah mereka diawasi dari luar oleh publik yang kecewa.
Sejarah politik kita penuh dengan contoh orang-orang yang berangkat dengan idealisme, lalu perlahan-lahan menyesuaikan diri. Mulanya mereka berkata akan tetap kritis. Lalu mereka mulai memilih kata yang lebih halus. Kemudian mereka belajar untuk diam pada isu-isu yang membuat atasan tidak nyaman.
Pada akhirnya, kritik yang tersisa hanyalah kritik yang aman, yang tidak pernah benar-benar menyentuh jantung kekuasaan. Dari dalam ruangan yang sama dengan penguasa, sulit membayangkan seseorang masih leluasa berkata “tidak” tanpa menanggung akibatnya.
Rocky Gerung bukanlah Trojan Horse yang menyusup ke dalam benteng kekuasaan untuk menghancurkannya dari dalam. Ia adalah pintu yang terbuka lebar bagi kekuasaan untuk masuk ke dalam relung-relung kepercayaan publik yang tersisa. Ia bukan mengubah sistem, melainkan sistem yang mengubahnya.
Publik pernah menganggapnya sebagai manusia setengah dewa karena kritik-kritiknya yang menukik. Kini, ia membuktikan bahwa ia hanyalah manusia biasa yang bisa dibeli dengan jabatan. Ia sama seperti mereka yang dulu ia hina.
Ia sama seperti mereka yang dulu ia sebut “bodoh” di panggung debat. Perbedaan satu-satunya adalah bahwa ia lebih pintar dalam menyembunyikan kepentingannya. Ia lebih lihai dalam membungkus pengkhianatan dengan bahasa intelektual yang membuat sebagian orang masih mencoba membelanya.
Di sinilah letak persoalan yang lebih dalam. Standar yang ia pakai untuk menghakimi orang lain kini berbalik menjadi standar yang menghakimi dirinya. Seorang kritikus yang selama bertahun-tahun mengukur moral para pejabat tidak bisa meminta pengecualian ketika dirinya yang diukur. Konsistensi adalah modal utama seorang pemikir. Tanpanya, kefasihan hanyalah hiburan dan ketajaman lidah hanyalah pertunjukan yang laku dijual.
Warisan Kritik yang Kini Menjadi Abon
Pertanyaan yang tersisa adalah: apa yang terjadi pada kritik di negeri ini setelah Rocky Gerung memilih bergabung dengan kekuasaan? Jawabannya sederhana: kritik kehilangan salah satu penjaganya yang paling vokal. Namun, bukan berarti kritik itu mati. Justru, kematian kredibilitas Rocky Gerung menjadi pelajaran berharga bagi publik. Ia mengajarkan bahwa tidak ada manusia yang benar-benar kebal terhadap godaan kekuasaan. Ia mengajarkan bahwa semua retorika, betapapun tajamnya, bisa menjadi tumpul ketika berhadapan dengan kepentingan pribadi.
Rocky Gerung telah menjadi abon dari singa yang dulu mengaum. Ia telah diolah, dibumbui, dan dikemas untuk dikonsumsi oleh kekuasaan. Rasa pedasnya masih terasa, tetapi teksturnya sudah hancur. Ia bukan lagi daging segar yang bisa menggigit, melainkan serpihan halus yang mudah ditelan. Publik yang dulu mengaguminya kini hanya bisa menelan kekecewaan. Mereka yang dulu menjadikannya panutan kini harus mencari figur lain yang lebih layak dipercaya.
Mungkin inilah saatnya publik berhenti menggantungkan harapan pada satu sosok. Kritik yang sehat tidak boleh bertumpu pada ketokohan seseorang, sebab manusia selalu rapuh oleh godaan dan kepentingan. Ia harus hidup di banyak tempat: di ruang-ruang kampus, di redaksi media, di organisasi masyarakat sipil, di warung kopi, dan di kolom komentar warga biasa yang tak punya panggung tetapi punya nurani. Semakin tersebar penjaganya, semakin sulit kritik itu dibungkam atau dibeli.
Terlepas dari apa pun itu, kisah Rocky Gerung adalah kisah tentang bagaimana kritik bisa dijual dan dibeli. Ia adalah cermin bagi semua orang yang mengaku kritis bahwa pada suatu titik mereka akan diuji. Dan Rocky Gerung, dengan segala kecerdasannya, telah gagal dalam ujian itu.
Ia bukan lagi manusia setengah dewa. Ia hanyalah manusia biasa yang telah menjual jiwanya kepada kekuasaan. Dan seperti kata sindiran, “Beri aku satu jabatan, niscaya aku akan bungkam dengan sendirinya.” Rocky Gerung telah membuktikan bahwa sindiran itu benar adanya. Sayangnya, ia membuktikannya dengan cara yang paling memalukan.

