Dunia modern hari ini kerap kali didakwa sebagai panggung megah bagi tumbuh suburnya individualisme ekstrem. Manusia kontemporer dipaksa (atau mengondisikan diri) untuk senantiasa terlibat dalam kompetisi global yang menuntut efisiensi, akumulasi kapital, dan pemuasan ego pribadi di atas segalanya.
Dalam ekosistem yang serba cepat ini, narasi yang paling sering digaungkan adalah tentang bagaimana menyelamatkan diri sendiri, bagaimana menjadi yang pertama, dan bagaimana mendominasi ruang publik. Manusia perlahan-lahan mereduksi eksistensinya menjadi sekadar makhluk kalkulatif yang hanya mau memberi jika ada kepastian akan menerima kembali hal yang setara atau bahkan lebih menguntungkan.
Di tengah gempuran mentalitas utilitarian tersebut, bedah kitab “Ihya’ Ulumuddin” karya Imam Al-Ghazali yang diampu oleh KH. Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) hadir bagaikan oase yang mendinginkan dahaga spiritual. Salah satu tema krusial yang diangkat dalam catatan pengajian tersebut adalah konsep itsar atau yang dalam terminologi sosiologi dan psikologi modern dikenal sebagai altruisme.
Kita tahu bahwa altruisme bukanlah sekadar tindakan berbuat baik atau berderma biasa. Ia adalah sebuah capaian spiritual dan moral tertinggi di mana seorang individu dengan penuh kesadaran menomorduakan kepentingan, kenyamanan, bahkan keselamatan dirinya sendiri demi mengutamakan orang lain.
Melalui rasi cerita-cerita sufistik, fragmen sejarah para sahabat Nabi, hingga analogi dunia fauna, Gus Ulil membedah anatomi altruisme bukan sebagai teori etika yang mengawang-awang di menara gading intelektual, melainkan sebagai sebuah laku hidup (the way of life).
Tulisan ini akan mengeksplorasi secara mendalam esensi altruisme melalui fragmen-fragmen kisah legendaris yang tertuang dalam catatan ngaji “Ihya’ Ulumuddin”, membedah dimensi psikologis dan teologisnya, serta merefleksikan relevansinya bagi kehidupan sosial kita hari ini.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib: Arsitek Altruisme Eksistensial
Manifestasi altruisme yang paling radikal dan dramatis dalam sejarah Islam awal dapat kita temukan pada malam hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Fragmen sejarah ini bukan sekadar taktik militer atau strategi pelarian politik, melainkan sebuah demonstrasi cinta dan pengorbanan yang melampaui batas-batas logika keselamatan diri. Ketika konspirasi pembunuhan Nabi oleh kaum Quraisy telah mencapai titik kulminasi, seorang pemuda bernama Ali bin Abi Thalib mengambil keputusan yang berisiko merenggut nyawanya: tidur di ranjang Nabi dengan mengenakan selimut hijau milik beliau.
Kisah metafisik yang menyertai peristiwa ini memberikan gambaran betapa agungnya tindakan Ali di mata vertikal. Ketika Allah SWT menguji dua malaikat agung-Nya, Jibril dan Mikail, dengan menawarkan pilihan kepada siapa yang bersedia mengalah demi memberikan umur yang lebih panjang kepada saudaranya, kedua makhluk suci tersebut justru terjebak dalam naluri eksistensial untuk mempertahankan kelangsungan hidup masing-masing. Tidak ada yang mau mengalah.
Di sinilah letak ironi kosmik yang dihadirkan oleh Sang Pencipta: Jibril dan Mikail, yang tidak memiliki nafsu insaniyah, ternyata kalah dalam hal pengorbanan jika dibandingkan dengan seorang manusia bernama Ali bin Abi Thalib.
Allah SWT kemudian berfirman kepada kedua malaikat tersebut: “Mengapa kalian tidak seperti hamba-Ku, Ali bin Abi Thalib? Aku menjadikan ia dan Muhammad sebagai saudara, lalu Ali bersedia mengorbankan jiwanya demi menebus nyawa Muhammad agar tidak dibunuh oleh musuhnya. Sekarang, turunlah kalian ke bumi dan jagalah Ali.”
Tindakan Sayyidina Ali ini mengabadikan turunnya Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 207 yang berbunyi:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ رَءُوْفٌ بِۢالْعِبَادِ
Artinya: “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 207).
Secara fenomenologis, apa yang dilakukan oleh Sayyidina Ali adalah altruisme eksistensial. Ia tidak lagi memikirkan kelanjutan biologis dari eksistensinya sendiri. Ketika ia menarik selimut Nabi ke atas tubuhnya, ia tahu bahwa setiap detik yang berlalu bisa menjadi detik terakhir hidupnya jika pedang kaum Quraisy menembus kamar tersebut.
Ali mentransendensikan dirinya; ia melihat bahwa keselamatan risalah kenabian jauh lebih berharga daripada denyut nadinya sendiri. Di sinilah altruisme bertransformasi menjadi sebuah teologi cinta yang aktif, sebuah keberanian untuk tiada agar yang lain dapat ada.
Solidaritas dalam Kegelapan: Sufi Ray dan Misteri Roti yang Utuh
Jika kisah Sayyidina Ali berada pada level makropolitik dan keselamatan risalah, maka kisah yang dialami oleh Abu Hasan Al-Antaqi beserta tiga puluh pengikutnya di desa Ray (wilayah dekat Iran modern) membawa kita pada dimensi altruisme kolektif dalam ranah domestik dan pemenuhan kebutuhan dasar.
Dikisahkan bahwa kelompok sufi ini berada dalam kondisi kelaparan yang ekstrem, sementara sumber daya makanan yang tersedia hanyalah beberapa potong roti yang secara matematis tidak akan pernah cukup untuk mengenyangkan tiga puluh perut yang lapar.
Solusi yang mereka ambil sangat unik dan sarat akan kecerdasan psikologis. Mereka memotong-motong roti tersebut menjadi bagian-bagian kecil, kemudian mematikan lampu ruangan sebelum makan dimulai.
Tujuannya sangat mulia: agar masing-masing orang dapat mengonsumsi makanan tanpa perlu merasa diawasi, dan yang lebih penting, agar tidak ada rasa bersalah jika seseorang memakan lebih banyak daripada yang lain. Namun, apa yang terjadi ketika lampu kembali dinyalakan? Roti-roti tersebut masih utuh tak tersentuh.
Peristiwa ini sepintas tampak seperti mukjizat mistis, namun jika kita bedah secara psikologis, yang terjadi adalah fenomena kebajikan timbal balik yang sunyi (silent reciprocal altruism).
Dalam kegelapan malam, setiap individu dalam ruangan tersebut berpikir: “Sahabat di sebelahku lebih lapar dariku, biarlah aku menahan diri agar ia bisa makan dengan kenyang.” Karena setiap kepala memiliki pikiran altruistik yang sama, tidak ada satu pun tangan yang terulur untuk mengambil potongan roti tersebut. Semua orang memilih untuk lapar demi memberikan kesempatan kenyang kepada saudaranya.
Kisah sufi di Desa Ray ini menjungkirbalikkan teori ekonomi klasik yang menyatakan bahwa manusia adalah Homo Economicus: makhluk yang selalu bertindak rasional untuk memaksimalkan kepuasan pribadinya dalam situasi kelangkaan.
Para sufi ini menunjukkan bahwa di hadapan kelangkaan fisik, manusia justru mampu memaksimalkan kekayaan spiritualnya. Kegelapan lampu tidak digunakan untuk menyembunyikan ketamakan, melainkan untuk menyembunyikan keluhuran budi agar terhindar dari penyakit riya dan kesombongan spiritual.
Ketulusan yang Merunduk: Kerendahan Hati Syu’bah dalam Berderma
Altruisme sering kali diuji bukan hanya pada saat kita memiliki kelebihan, melainkan justru ketika kita berada di titik nadir kemiskinan dan keterbatasan. Hal inilah yang dicontohkan oleh ulama besar, Syu’bah. Ketika pintu rumahnya diketuk oleh seorang pengemis yang meminta bantuan, Syu’bah berada dalam kondisi finansial yang benar-benar kosong. Ia tidak memiliki uang sepeser pun dan tidak ada sisa makanan di dapurnya yang layak diberikan.
Namun, alih-alih menolak pengemis tersebut dengan kalimat penolakan yang halus, radar empati Syu’bah menolak untuk bersikap pasif. Ia masuk ke dalam rumahnya, mencopot salah satu perabot rumah tangganya yang masih bernilai jual, lalu menyerahkannya kepada si pengemis. Tindakan ini sendiri sudah merupakan bentuk itsar yang luar biasa; ia merelakan fungsi utilitas rumah tangganya berkurang demi menyambung hidup orang lain.
Menariknya, drama altruisme ini tidak berhenti pada penyerahan barang tersebut. Syu’bah justru merasa bersalah dan meminta maaf kepada si pengemis karena ia merasa barang yang diberikannya kurang berharga dan tidak sebanding dengan beban penderitaan yang sedang dipikul oleh si peminta-minta.
Di sinilah kita melihat etika altruisme yang sangat mendalam: penghancuran ego keakuan. Syu’bah tidak menempatkan dirinya sebagai “pahlawan” atau “penyelamat” yang berada pada posisi lebih tinggi daripada si penerima. Ia justru merunduk, menempatkan dirinya sebagai pihak yang berutang budi karena diberikan kesempatan untuk berbuat baik.
Dalam perspektif tasawuf, sikap Syu’bah ini mencerminkan pemahaman bahwa orang miskin yang mengetuk pintu sejatinya adalah “hadiah” dari Allah untuk menyucikan jiwa sang dermawan. Meminta maaf kepada pengemis adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap martabat kemanusiaan yang sering kali diabaikan dalam praktik filantropi modern yang transaksional dan cenderung pamer.
Tragedi Perang Yarmuk: Tegukan Air Terakhir yang Menembus Maut
Puncak estetika moral dari sifat altruisme ini terekam dengan tinta emas dalam sejarah peradaban Islam pada peristiwa Perang Yarmuk. Di bawah terik matahari gurun yang membakar dan di antara desing senjata serta erangan kematian pasukan yang bertempur melawan Imperium Romawi, Sahabat Hudaifah Al-Adawiy bergerak di antara tumpukan tubuh yang terluka, mencari anak pamannya (sepupunya) yang sekarat karena dehidrasi hebat.
Ketika Hudaifah menemukan sepupunya dalam kondisi kritis dan menawarkan sekantong air, sang sepupu mengangguk lemah: sebuah isyarat bahwa air itu adalah garis tipis yang memisahkan dirinya dari kematian. Namun, tepat sebelum bibir kantong air itu menyentuh mulutnya, terdengar erangan dari prajurit lain di dekat mereka, Hisyam bin Al-Ash, yang memekik kehausan. Tanpa ragu, sepupu Hudaifah memberikan isyarat mata: “Berikan air itu kepadanya terlebih dahulu.”
Hudaifah bergegas membawa air itu kepada Hisyam. Namun, skenario yang sama terulang kembali. Ketika Hisyam hendak minum, suara rintihan prajurit ketiga memecah kesunyian malam di medan perang. Hisyam pun menolak meminum air tersebut dan menyuruh Hudaifah untuk membawanya kepada prajurit ketiga.
Ketika Hudaifah sampai di tempat prajurit ketiga, sosok tersebut telah mengembuskan napas terakhirnya. Hudaifah segera berlari kembali ke arah Hisyam, namun Hisyam pun telah syahid. Akhirnya, dengan kepanikan yang luar biasa, ia kembali ke tempat sepupunya dan sepupunya pun telah berpulang ke haribaan Sang Pencipta dalam kondisi tenggorokan yang kering kerontang.
Ketiga prajurit tersebut meninggal dunia tanpa sempat meminum air setetes pun. Secara kalkulasi material, ini adalah sebuah tragedi yang mengenaskan; air yang ada menguap sia-sia tanpa menyelamatkan satu nyawa pun. Namun, secara spiritual, ini adalah orkestrasi moral terbesar yang pernah dipertunjukkan oleh umat manusia.
Pada detik-detik paling krusial dalam hidup manusia, yaitu sakaratul maut, di mana insting biologis manusia akan berfokus penuh pada upaya bertahan hidup, para sahabat Nabi ini justru berhasil menaklukkan insting purba tersebut. Mereka menolak meminum air bukan karena mereka tidak butuh, melainkan karena mereka tidak sanggup membiarkan saudara mereka menderita kehausan di samping mereka. Kematian mereka dalam keadaan dahaga fisik adalah kelahiran mereka sebagai manusia-manusia dengan jiwa yang kenyang akan keutamaan moral.
Gus Ulil menggarisbawahi kisah ini sebagai bukti konkret bahwa akhlak para sahabat bukanlah sekadar konsep teoritis, melainkan darah dan daging yang mengalir dalam tindakan nyata, bahkan di ambang maut sekalipun.
Bisyr bin Harits: Wafat dalam Balutan Jubah Pinjaman
Kehidupan para tokoh sufi selalu dipenuhi dengan paradoks yang menawan bagi akal sehat manusia awam. Salah satu tokoh yang mewakili keunikan ini adalah Bisyr bin Harits, atau yang dikenal dengan julukan Bisyr Al-Hafi (si telanjang kaki). Sahabatnya, Abbas bin Dikhan, memberikan kesaksian yang sangat puitis sekaligus filosofis mengenai kematian Bisyr: “Tidak ada orang yang meninggalkan dunia ini persis seperti saat ia memasukinya, dalam keadaan benar-benar tidak memiliki apa-apa, kecuali Bisyr bin Harits.”
Bagaimana mungkin seorang manusia dewasa yang telah hidup puluhan tahun di dunia bisa mati tanpa meninggalkan aset apa pun, bahkan pakaian yang melekat di tubuhnya sendiri? Jawabannya terletak pada sebuah peristiwa di ranjang kematiannya. Ketika Bisyr sedang terbaring sakit parah menanti ajal, seorang lelaki miskin datang ke rumahnya dan mengeluhkan kemiskinannya yang akut karena ia tidak memiliki pakaian yang layak untuk menutupi tubuhnya.
Dalam kondisi sakit yang payah, Bisyr tidak berpikir panjang. Ia melepaskan baju yang sedang ia kenakan (satu-satunya pakaian layak yang ia miliki saat itu) lalu menyerahkannya kepada lelaki tersebut. Akibat tindakan nekat yang didasari oleh cinta kasih ini, Bisyr tidak lagi memiliki pakaian untuk menutup auratnya sendiri. Teman-temannya terpaksa mencarikan pinjaman baju agar Bisyr dapat menghadapi ajalnya dengan layak. Ia pun mengembuskan napas terakhirnya dengan mengenakan pakaian pinjaman.
Tindakan Bisyr bin Harits ini merepresentasikan konsep pelepasan total (tajrid). Bagi Bisyr, dunia dan segala aksesorinya (termasuk pakaian) hanyalah pinjaman sementara dari Tuhan. Ketika ada hamba Allah lain yang membutuhkan pinjaman tersebut untuk bertahan hidup atau menjaga kehormatannya, Bisyr dengan senang hati mengembalikannya melalui perantara orang miskin tersebut.
Kematian Bisyr dalam baju pinjaman adalah sebuah simbol kritik keras terhadap manusia modern yang sibuk menimbun harta, tanah, dan pakaian di dalam lemari-lemari besar mereka, sementara di luar sana banyak manusia lain yang kedinginan dan kelaparan. Bisyr mengajarkan bahwa kekayaan sejati adalah kemampuan untuk melepaskan segala hal yang kita miliki demi meringankan beban sesama.
Meneladani Altruisme: Dari Membaca hingga Menjadi Nyata
Mendengar dan merenungkan kisah-kisah di atas sering kali memunculkan perasaan minder atau inferioritas moral dalam diri kita. Bagaimana mungkin kita yang hidup di zaman kenyamanan digital ini (di mana kita sering kali bertengkar hanya karena berebut kuota internet atau ruang parkir) bisa menyamai level pengorbanan Sayyidina Ali, para sufi di Ray, Syu’bah, para syuhada Yarmuk, atau Bisyr bin Harits?
Gus Ulil dengan sangat bijaksana memberikan sebuah catatan reflektif yang penting. Sifat-sifat altruisme tingkat tinggi (itsar) seperti yang ditunjukkan dalam kisah-kisah tersebut memang sangat sulit, atau bahkan hampir mustahil untuk ditiru secara instan oleh manusia rata-rata di era modern. Struktur sosial, tekanan ekonomi, dan konstruksi psikologis kita hari ini telah didesain sedemikian rupa untuk membuat kita menjadi makhluk yang egois dan protektif terhadap kepemilikan pribadi.
Namun, ketidakmampuan kita untuk meniru secara sempurna tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan atau melupakan kisah-kisah tersebut. Menurut Gus Ulil, membaca, merenungkan, dan menceritakan kembali kisah-kisah keluhuran budi ini memiliki fungsi pedagogis dan terapeutik bagi jiwa kita.
Pertama, ia berfungsi sebagai alarm spiritual yang senantiasa mengingatkan kita bahwa egoisme bukanlah satu-satunya cara untuk hidup. Ada jalan lain yang lebih mulia yang pernah ditempuh oleh manusia-manusia sebelum kita.
Kedua, proses membaca ini adalah bentuk latihan batin (riyadhah) secara perlahan-lahan. Ia menanamkan benih-benih empati di dalam alam bawah sadar kita. Ketika kita terbiasa mengagumi kebaikan orang lain, secara bertahap ego kita akan terkikis dan akan muncul dorongan internal untuk mempraktikkan kebaikan tersebut dalam skala yang lebih kecil dan kontekstual di kehidupan sehari-hari.
Kita mungkin tidak perlu tidur di ranjang kematian untuk menyelamatkan orang lain, namun kita bisa mulai dengan memberikan kursi kita di kereta umum kepada ibu hamil atau lansia. Kita mungkin tidak perlu memberikan seluruh pakaian kita sehingga harus meminjam baju orang lain, namun kita bisa menyumbangkan sebagian pakaian layak pakai yang menumpuk di lemari kita kepada korban bencana alam. Altruisme tingkat tinggi dimulai dari pembiasaan altruisme tingkat mikro.
Pelajaran dari Alam: Altruisme Kosmik Sang Anjing di Tarsus
Sebagai penutup yang sangat mengejutkan sekaligus reflektif, Gus Ulil membawakan sebuah narasi yang bersumber dari pengalaman para ahli sufi di kota Tarsus: sebuah kota bersejarah yang juga menjadi tempat kelahiran Paulus dalam tradisi Kristen. Kisah ini tidak lagi mengambil aktor dari kalangan manusia, melainkan dari dunia fauna: seekor anjing jalanan.
Ketika sekelompok sufi keluar dari gerbang kota Tarsus untuk ikut berjihad, seekor anjing mengikuti mereka dari belakang. Di dekat gerbang kota, mereka menemukan bangkai hewan yang telah mati dan para sufi tersebut memutuskan untuk beristirahat di sana. Anjing yang mengikuti mereka melihat bangkai tersebut, namun ia tidak langsung memakannya. Ia justru berlari kembali ke dalam kota dan tak lama kemudian kembali dengan membawa kawanan yang terdiri dari sekitar dua puluh anjing lainnya.
Hal yang paling menakjubkan dari pengamatan para sufi adalah perilaku anjing penemu tersebut setelah membawa kawanannya. Ia tidak ikut berebut makanan. Ia justru duduk menyendiri di sudut pojok, menyaksikan dengan tenang kawanan anjing yang dibawanya melahap bangkai tersebut hingga kenyang dan pergi kembali ke kota. Ketika semua anjing telah pergi dan yang tersisa hanyalah tulang-belulang kering, barulah anjing tersebut mendekat, memakan sisa-tulang yang ada, lalu pergi berlalu.
Kisah ini membawa tamparan keras bagi antroposentrisme manusia: paham yang menganggap manusia sebagai satu-satunya makhluk yang memiliki moralitas dan keluhuran budi. Dalam tradisi hukum Islam (fikih), anjing sering kali dikategorikan sebagai hewan yang memiliki unsur kenajisan (najis mughallazah), dan dalam kultur sosial sering kali digunakan sebagai metafora untuk menghina atau merendahkan seseorang.
Namun, melalui kisah ini, Imam Al-Ghazali dan Gus Ulil ingin menunjukkan bahwa di dalam diri makhluk yang sering kali kita hinakan tersebut, terdapat kilatan cahaya ketuhanan berupa sifat altruisme yang sangat murni.
Anjing di Tarsus tersebut mempraktikkan itsar dalam bentuknya yang paling murni: altruisme komunitas. Ia menahan lapar egonya demi memastikan bahwa kawan-kawannya terbebas dari kelaparan terlebih dahulu. Jika seekor binatang yang tidak dibekali akal budi, tidak dijanjikan pahala surga, dan tidak diancam dengan siksa neraka mampu menunjukkan tingkat pengorbanan sedemikian rupa, maka muncul sebuah pertanyaan retoris yang sangat mengguncang eksistensi kita sebagai manusia: “Jika anjing saja memiliki sifat altruisme, apakah kita yang mengaku sebagai makhluk paling mulia dan berakal tidak mampu bersikap altruistik?”
Membumikan Altruisme di Era Kontemporer
Secara keseluruhan, saripati dari pengajian “Ihya’ Ulumuddin” yang disampaikan oleh Gus Ulil mengenai keutamaan sifat altruisme memberikan kita sebuah peta jalan spiritual untuk keluar dari penjara egoisme modern.
Altruisme bukanlah sebuah konsep utopia yang mustahil diraih. Ia adalah sebuah spektrum yang luas; ia bisa mewujud dalam bentuk pengorbanan nyawa radikal seperti Sayyidina Ali dan para syuhada Yarmuk, solidaritas sosial dalam sunyi seperti sufi di Ray, kerendahan hati dalam memberi seperti Syu’bah, pelepasan kepemilikan materi seperti Bisyr bin Harits, hingga naluri berbagi yang dimiliki oleh seekor anjing di kota Tarsus.
Di era di mana manusia sering kali terjebak dalam sindrom “aku, milikku, dan untukku”, kisah-kisah altruisme ini menantang kita untuk mengubah paradigma hidup menjadi “kamu, milikmu, dan untuk kita”. Membaca dan merenungkan kisah-kisah ini adalah langkah awal yang krusial untuk melembutkan hati yang telah mengeras akibat gesekan kompetisi duniawi.
Dengan memupuk sifat altruisme, kita tidak hanya sedang membantu orang lain untuk meringankan penderitaan mereka, melainkan sejatinya kita sedang menyembuhkan diri kita sendiri dari penyakit kesepian eksistensial dan keterasingan jiwa. Karena pada akhirnya, kemanusiaan kita tidak diukur dari seberapa banyak hal yang berhasil kita kumpulkan dan miliki, melainkan dari seberapa banyak hal yang berani kita lepaskan dan berikan demi kebahagiaan makhluk lain di sekitar kita. Wallahu a’lam bisshawab.

