Kisah Abu Lahab bukan sekadar cerita tentang pertikaian keluarga, melainkan sebuah tragedi tentang kerasnya hati dan bagaimana kesombongan bisa membutakan seseorang dari kebenaran yang paling nyata. Dalam sejarah Islam, Abu Lahab menempati posisi yang unik sekaligus tragis; ia adalah keluarga dekat Nabi Muhammad SAW, namun namanya diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai simbol penentangan abadi.
Nama aslinya adalah Abdul Uzza bin Abdul Muthalib. Julukan “Abu Lahab” (Bapak Api yang Menyala) sebenarnya diberikan oleh ayahnya karena ketampanannya; wajahnya cerah dan kemerahan seperti api yang berkobar. Sebagai paman kandung Nabi, ia secara adat Arab seharusnya menjadi pelindung terdepan bagi keponakannya. Namun, sejarah mencatat sebaliknya.
Sejak dakwah terang-terangan dimulai di Bukit Shafa, Abu Lahab menjadi orang pertama yang menghardik Nabi dengan kalimat yang menyakitkan: “Celakalah engkau hari ini! Apakah hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami?”
Atas dasar itulah, Allah menurunkan Surat Al-Lahab (Surat ke-111) yang secara spesifik menubuatkan kehancuran Abu Lahab dan istrinya, Ummu Jamil, bahkan saat mereka masih hidup. Titik balik yang paling mencolok terjadi saat Perang Badar. Di sinilah awal mula kehancuran fisik dan mental Abu Lahab dimulai.
Ketakutan Menjelang Perang Badar
Pada tahun ke-2 Hijriah, ketika kaum Quraisy mempersiapkan pasukan besar untuk menghancurkan umat Islam di Badar, Abu Lahab tidak ikut berangkat secara langsung. Ada beberapa versi sejarah mengenai hal ini:
- Ia merasa ketakutan karena firasat buruk atau ramalan mengenai kekalahan Quraisy.
- Ia sedang sakit sehingga memilih menyewa orang lain untuk menggantikannya.
- Ia membayar Ash bin Hisyam untuk menggantikannya dengan imbalan penghapusan utang Ash sebesar 4.000 dirham.
Meski tidak hadir di medan laga, jantung Abu Lahab terus berdegup kencang menanti kabar dari Badar. Ia adalah orang yang paling cemas karena ia tahu, jika Muhammad menang, posisinya di Mekkah akan terancam.
Kabar Kekalahan dan Kemarahan
Setelah Perang Badar berakhir dengan kemenangan telak umat Islam, berita itu sampai ke Mekkah melalui Abu Sufyan bin Al-Harits (bukan Abu Sufyan bin Harb, pemimpin Quraisy). Abu Lahab sedang duduk di dekat sumur Zamzam ketika Abu Sufyan tiba. Dengan penuh harap, ia bertanya, “Kabarkan padaku, bagaimana keadaan orang-orang?”
Abu Sufyan menceritakan keajaiban di medan perang; bagaimana pasukan Quraisy yang jumlahnya tiga kali lipat justru lari kocar-kacir. Ia bahkan menyebutkan adanya sosok-sosok berpakaian putih di atas kuda-kuda yang terbang di antara langit dan bumi, yang diyakini sebagai bantuan malaikat.
Mendengar hal itu, seorang budak Muslim milik Al-Abbas bernama Abu Rafi’ yang ada di sana berseru kegirangan, “Demi Allah, itu adalah malaikat!”
Abu Lahab yang sudah emosional karena berita kekalahan tersebut langsung bangkit dan memukuli Abu Rafi’. Namun, istri Al-Abbas, Ummu Al-Fadl, tidak tinggal diam melihat budaknya disiksa. Ia mengambil tiang kayu dan memukulkannya ke kepala Abu Lahab hingga terluka parah.
Penyakit Al-Adas dan Akhir Hayat yang Hina
Luka di kepala Abu Lahab ternyata tidak kunjung sembuh. Dalam waktu singkat, ia terserang penyakit kulit yang mengerikan yang disebut Al-Adas. Banyak sejarawan dan ahli tafsir (seperti dalam Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam) menjelaskan bahwa penyakit ini mirip dengan bisul yang ganas atau pes. Kulitnya membusuk, bernanah, dan mengeluarkan bau busuk yang sangat menyengat hingga tidak ada seorang pun yang tahan berada di dekatnya.
Kematiannya adalah perpaduan antara penderitaan fisik dan isolasi sosial yang luar biasa:
- Ditinggalkan Keluarga: Anak-anaknya sendiri takut tertular, sehingga mereka membiarkannya menderita sendirian di rumah.
- Bau yang Menghina: Abu Lahab yang dulunya bangga dengan ketampanan dan statusnya, meninggal dalam kondisi tubuh yang hancur dan bau yang menjijikkan.
Ia meninggal tujuh hari setelah kekalahan Quraisy di Badar. Namun, nasib malangnya tidak berhenti di sana. Karena ketakutan akan tertular, jenazah Abu Lahab dibiarkan membusuk selama dua atau tiga hari di dalam rumahnya. Bau busuknya bahkan tercium hingga ke lingkungan sekitar.
Karena merasa malu ditegur oleh tetangga, anak-anaknya akhirnya menyewa beberapa orang luar untuk mengurus jenazahnya. Prosesnya sangat jauh dari kata terhormat:
- Mereka tidak memandikan jenazahnya secara langsung, melainkan menyiramkan air dari kejauhan.
- Mereka tidak mengangkat jenazahnya dengan tangan, tetapi menggunakan sebilah kayu atau galah untuk mendorongnya ke dalam lubang kubur.
- Setelah masuk ke lubang, jenazahnya dilempari batu dari jauh hingga tertimbun sepenuhnya.
Inilah pemenuhan janji Allah dalam Surat Al-Lahab: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.” Ia tidak hanya binasa harta dan kekuasaannya, tetapi juga kehormatannya sebagai manusia di akhir hayatnya.
Wallahu A’lam.

