Dalam pandangan Muhammadiyah, Islam merupakan din al-hadlarah, yakni agama yang membawa misi peradaban dan kemajuan bagi seluruh aspek kehidupan. Dalam menghadapi tantangan ekonomi Indonesia ke depan, pendekatan konvensional yang bertumpu pada konsumsi domestik dan perdagangan komoditas semata tidak lagi memadai. Diperlukan lompatan strategis menuju transformasi ekonomi yang bertumpu pada inovasi fundamental sebagai wujud nyata semangat tajdid (pembaharuan).
Inovasi yang memberikan pencerahan tidak lahir secara instan atau sekadar dari intuisi. Ia tumbuh dari fondasi yang kokoh berupa Riset dan Pengembangan (Research and Development/R&D) serta penguasaan bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Dalam kerangka Manhaj Islam Berkemajuan, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian dari pendekatan burhani, yakni pendekatan rasional dan berbasis penelitian ilmiah untuk menjawab persoalan kemanusiaan secara konkret.
Pada 23 April 2026, Sekretaris Jenderal Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU), Ghufron Mustaqim, berkesempatan mengunjungi kampus Hong Kong University of Science and Technology (HKUST) Guangzhou. Kunjungan tersebut memberikan gambaran nyata tentang bagaimana ekosistem pendidikan tinggi masa depan dirancang untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan industri.
“Saya melihat langsung bagaimana pendidikan tinggi tidak lagi sekadar menghasilkan lulusan, tetapi benar-benar membangun ekosistem inovasi yang terhubung dengan industri. Ini adalah model yang perlu kita pelajari dan adaptasi untuk melahirkan pengusaha berkemajuan,” ujar Ghufron Mustaqim.
Bagi SUMU, semangat menjadi Pengusaha Berkemajuan menuntut adanya peningkatan kapasitas keilmuan secara berkelanjutan serta dinamisasi dalam praktik muamalah dunia. Para pelaku usaha tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, melainkan harus bertransformasi menjadi pencipta solusi sebagai perwujudan peran khalifah fil ardh, melalui amal ilmiah yang berbasis R&D.
Model Pendidikan Integratif: Sinergi Ilmu Tanpa Sekat
Salah satu hal paling menonjol dari HKUST Guangzhou adalah keberanian mereka dalam merombak struktur akademik konvensional yang selama ini terkotak dalam departemen-departemen terpisah. Mereka mengusung sistem Cross-Disciplinary Hubs, sebuah pendekatan yang berorientasi pada penciptaan solusi nyata, bukan sekadar pengembangan teori.
Menurut Ghufron, pendekatan ini sangat relevan bagi dunia usaha modern.
“Model lintas disiplin ini mengajarkan bahwa inovasi lahir dari kolaborasi berbagai bidang ilmu. Inilah yang menjadi kunci bagi pengusaha untuk menciptakan bisnis yang disruptif dan berdaya saing tinggi,” jelasnya.
Empat pilar utama dalam sistem ini meliputi:
- Function Hub (Fondasi Material): Berfokus pada pengembangan elemen dasar teknologi masa depan seperti Advanced Materials, Microelectronics, dan Earth & Marine Sciences. Di sinilah fondasi utama inovasi dibangun. Tanpa penguasaan aspek ini, industri hanya akan berada pada posisi sebagai perakit, bukan pencipta teknologi.
- System Hub (Integrasi & Manufaktur): Menitikberatkan pada integrasi berbagai komponen teknologi menjadi sistem yang efisien dan cerdas. Bidang seperti robotika, manufaktur pintar, dan transportasi cerdas menjadi inti pengembangan. Inilah fondasi utama industri 4.0 yang mendorong efisiensi dan otomatisasi produksi.
- Information Hub (Kecerdasan Digital): Menjadi pusat pengolahan data dan kecerdasan digital melalui pengembangan Artificial Intelligence (AI), Data Science, dan Internet of Things (IoT). Penguasaan bidang ini memungkinkan lahirnya model bisnis berbasis data yang presisi, adaptif, dan prediktif.
- Society Hub (Dampak & Hilirisasi): Menghubungkan hasil riset dengan kebutuhan masyarakat dan pasar melalui pengembangan Financial Technology (FinTech), Innovation Policy, serta Urban Governance. Hub ini memastikan bahwa inovasi tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial yang selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Model integratif ini memastikan bahwa setiap riset memiliki jalur hilirisasi yang jelas menuju dunia industri, sehingga inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata.
Peluang Beasiswa untuk Kader Muhammadiyah
Sebagai bagian dari komitmen global dalam pengembangan SDM unggul, HKUST Guangzhou juga menyediakan peluang beasiswa penuh bagi mahasiswa internasional, termasuk kader Muhammadiyah. Program yang ditawarkan meliputi:
- Program PhD: dengan tunjangan hidup sekitar 15.000 RMB (±Rp37,5 juta) per bulan.
- Program Master (MPhil): dengan tunjangan hidup sekitar 10.000 RMB (±Rp25 juta) per bulan.
- Fasilitas: berupa pembebasan biaya kuliah secara penuh serta penyediaan asrama modern di lingkungan kampus.
Menurut Ghufron, peluang ini merupakan kesempatan strategis bagi kader muda Muhammadiyah untuk melakukan ijtihad di bidang ekonomi dan teknologi tanpa terbebani persoalan biaya.
“Ini adalah peluang besar yang harus dimanfaatkan. Kita membutuhkan lebih banyak kader yang menguasai teknologi dan mampu melahirkan inovasi berbasis riset untuk memperkuat ekonomi umat dan bangsa,” tegasnya.
Terletak di kawasan strategis Greater Bay Area (GBA), kampus HKUST Guangzhou memberikan akses langsung ke ekosistem riset dan investasi global yang mencakup Shenzhen, Hong Kong, dan Macao. Hal ini membuka peluang kolaborasi, pengembangan teknologi, hingga akses terhadap modal investasi berskala internasional.
Dengan bekal keilmuan yang kuat, jejaring global, dan akses terhadap ekosistem inovasi, kader-kader Muhammadiyah diharapkan mampu melahirkan terobosan-terobosan fundamental yang berdampak luas.
Ghufron pun mengajak seluruh anggota Serikat Usaha Muhammadiyah untuk mengambil peran dalam momentum ini.
“Saya mengajak seluruh kader dan pengusaha Muhammadiyah untuk tidak ragu melangkah. Mari kita manfaatkan peluang ini untuk melahirkan inovator-inovator yang membawa misi pencerahan, demi kemajuan umat, bangsa, dan persyarikatan,” pungkasnya.
[Media dan Publikasi Serikat Usaha Muhammadiyah/Soleh]

