KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Gus Ulil Ngaji Ihya: Khutbah Al-Muhasibi tentang Bahaya Harta

2 Mins read

Kita tahu Imam Haris Al-Muhasibi adalah salah satu dari sekian tokoh sufi yang cukup terkenal. Banyak yang belum mengetahui bahwa julukan “Al-Muhasibi” disematkan kepada beliau karena sifat dan kebiasaannya yang gemar melakukan muhasabah secara mendalam setiap waktu. Beliau dikenal sangat berhati-hati terhadap getaran hati, niat, serta kebersihan jiwanya dari penyakit hati seperti riya dan ujub.

​Itu sebabnya, tak heran jika ada banyak sarjana Islam yang sepakat bahwa Imam Haris Al-Muhasibi merupakan guru spiritual tidak langsung yang memengaruhi pemikiran tasawuf Al-Ghazali. Jika Al-Muhasibi hidup tiga abad sebelum Al-Ghazali menulis kitab Ihya’ Ulumuddin, maka beliau sudah berhasil membangun fondasi tasawuf sunni (moderat) yang menyelaraskan syariat (hukum Islam) dan hakikat (spiritual).

​Berbeda dengan pandangan lainnya yang menjauhkan rasionalitas dari spiritual, Al-Muhasibi justru memandang akal sebagai jembatan menuju makrifat dan sarana memahami pengalaman batin.

​Bagi Al-Muhasibi, cinta dunia secara berlebihan adalah akar dari segala kerusakan hati dan bencana spiritual. Jelasnya, dunia hanyalah tempat singgah yang fana, sementara akhirat adalah tujuan akhir yang menuntut persiapan bekal sebanyak-banyaknya.

​Khutbah Al-Muhasibi

​Suatu ketika Al-Muhasibi pernah berkhotbah kepada orang-orang pencinta dunia. Katanya, “Jika mengumpulkan kekayaan benar-benar merupakan kebajikan yang besar, maka hendaklah kalian meneladani Nabi kalian dalam akhlak yang mulia, karena Allah telah membimbing kalian melalui Nabi, dan hendaklah kalian menerima apa yang beliau pilih untuk dirinya sendiri dalam menjauhi hawa nafsu duniawi.”

​“Celakalah kalian! Renungkanlah apa yang telah kalian dengar dan yakinlah bahwa kebahagiaan dan kesuksesan sejati terletak pada menjauhi hawa nafsu duniawi. Maka berjalanlah bersama panji Sang Terpilih. Berjuanglah menuju surga.”

​Bukankah Nabi Muhammad SAW telah bersabda: “Para pemimpin orang-orang beriman di surga adalah mereka yang jika makan siang, tidak mendapat makan malam; jika berutang, tidak mendapat pengembalian; dan tidak memiliki pakaian tambahan selain yang menutupi tubuh mereka, dan tidak mampu mencari nafkah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Namun, meskipun demikian, mereka menghabiskan waktu sore dan pagi mereka dengan puas bersama Tuhan mereka.”

Baca...  Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Mencela Sifat Kikir

​Dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 69 difirmankan:

​وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا ۝٦٩

​Artinya: “Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nabi Muhammad), mereka itulah orang-orang yang (akan dikumpulkan) bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (An-Nisa’ [4]: 69).

​“Wahai saudaraku,” lanjut Al-Muhasibi, “kapan engkau akan mengumpulkan kekayaan ini setelah penjelasan ini? Engkau keliru dalam klaimmu bahwa engkau mengumpulkannya untuk kebaikan dan kebajikan. Tidak, engkau mengumpulkannya karena takut miskin dan untuk kemewahan, perhiasan, penumpukan harta, kesombongan, keangkuhan, kemunafikan, reputasi, dan pembesaran diri. Lalu engkau mengklaim bahwa engkau mengumpulkannya untuk amal!”

​“Celakalah engkau! Takutlah kepada Allah dan malulah atas klaimmu, wahai orang yang tertipu! Celakalah engkau! Jika engkau terpikat oleh cinta uang dan dunia ini, maka akuilah bahwa kebaikan dan kebajikan sejati terletak pada kepuasan dengan kecukupan dan menghindari kelebihan.”

​“Sesungguhnya, ketika engkau mengumpulkan kekayaan, rendahkan dirimu, akui kesalahanmu, dan takutlah akan perhitungan (hisab). Ini lebih aman bagimu dan lebih dekat kepada kebajikan daripada mencari pembenaran untuk mengumpulkan kekayaan.”

​“Saudara-saudariku, ketahuilah bahwa di zaman para sahabat, rezeki yang halal tersedia, namun mereka termasuk orang-orang yang paling saleh dan menjaga kesucian, bahkan dalam hal-hal yang diperbolehkan.”

​“Kita hidup di zaman di mana rezeki yang halal sangat langka. Bagaimana kita bisa mendapatkan rezeki yang halal bahkan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menutupi aurat kita? Adapun mengumpulkan kekayaan di zaman kita, semoga Allah melindungi kita dan kalian dari hal itu.”

Baca...  Gus Ulil Ngaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad: Klaim Keempat Akidah Asy’ariyah tentang Tindakan Tuhan

​“Di manakah kita dapat menemukan seseorang seperti para sahabat dalam kesalehan dan ketelitian, asketisme (zuhud), dan kehati-hatian mereka? Di manakah kita dapat menemukan seseorang seperti mereka dalam hati nurani dan niat baik?”

​“Betapa beruntungnya orang-orang yang disembunyikan dosa-dosa mereka pada Hari Kiamat, dan betapa besar kesedihan orang-orang yang mengumpulkan kekayaan dan mencampurnya dengan harta duniawi!”

​“Aku telah menasihatimu. Jika kamu mau menerimanya atau menolaknya, terserah kamu. Semoga Allah, dalam rahmat-Nya, membimbing kita dan kamu kepada semua kebaikan.” Wallahu a’lam bisshawab.

237 posts

About author
Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Penulis juga kontributor tetap di E-Harian Aula digital daily news Jatim.
Articles
Related posts
Keislaman

Dakwah Digital di Era Media Sosial: Tantangan & Solusi Bijak

5 Mins read
PENDAHULUAN ​Media sosial telah menjadi bagian penting dari kehidupan manusia di era teknologi modern. Melalui platform seperti TikTok, Instagram, YouTube, dan X,…
Keislaman

​Tafsir Surah Al-Hajj Ayat 1–2: Kedahsyatan Kiamat & Relevansi Modern

3 Mins read
Teks dan Terjemahan ​يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ . يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلu مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ…
KeislamanSejarah

Sejarah Tafsir Al-Qur'an: Dari Masa Nabi hingga Era Kitab

5 Mins read
​Al-Qur’an adalah kitab suci yang tidak hanya dibaca, tetapi juga memerlukan pemahaman mendalam. Sejak pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pada…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Berita

SPPG Muhammadiyah Pamulihan 2 Berikan Santunan untuk Siswa Berprestasi MTs Muhammadiyah Babakanloa