Pemikir dan sufi yang satu ini lebih populer dengan nama Sari As-Saqati. Ia bernama lengkap Abul Hasan Sari As-Saqati. Tidak diketahui pasti kapan dan di mana ia lahir. Ia merupakan paman Junaid al-Baghdadi dari pihak ibu. Oleh sebab itu, nasab dan garis sanad keilmuannya tentu tidaklah sembarangan.
Diyakini, ia merupakan penyusun ajaran sufisme Islam secara sistematis. Bahkan, ia dianggap sebagai imam dan syekh bagi orang-orang Irak (Al-Asqalani, 1993). Sari As-Saqati sangatlah populer di Irak, terutama di Bagdad. Ia dianggap sebagai salah satu ulama paling warak pada abad ke-2 sampai ke-3 Hijriah. Selain itu, ia juga dikenal sebagai ulama berilmu tinggi dan alim.
Kealimannya di bidang ilmu-ilmu agama, terutama di bidang ilmu tasawuf, menempatkannya sebagai guru dari para ulama besar di Bagdad. Di antara ulama yang menjadi murid Sari As-Saqati adalah Samun, Khaldi, al-Junaid, dan Habib ar-Ra’i (Al-Hujwiri, 1992). Dari nama-nama tersebut, al-Junaid al-Baghdadi jelas yang paling masyhur.
Sari As-Saqati dikenal luas sebagai sufi yang memiliki disiplin tinggi dan kesanggupan total dalam mencapai maqam kewalian. Pasalnya, ia sangat rajin beribadah kepada Allah SWT. Boleh dikatakan bahwa ia termasuk seorang hamba yang berhasil menghiasi seluruh waktu hidupnya untuk bermunajat kepada Allah SWT. Wajar bila kemudian Allah SWT begitu mencintainya, sebagaimana ia juga sangat mencintai Tuhannya.
Ia wafat pada tahun 253 Hijriah atau sekitar tahun 867 Masehi (Ibnu Khallikan, 1978). Jenazahnya dikuburkan di Bagdad. Ribuan orang melayat dan mengantarkan Sari As-Saqati ke tempat peristirahatan terakhirnya. Mereka semua berduka atas kepergian sang guru besar dan wali agung yang derajat kewaliannya diakui oleh banyak ulama terkemuka di masa itu.
Tidak Cinta Dunia
Konon, Sari As-Saqati tidak pernah sudi memasukkan perkara duniawi ke dalam hatinya. Meskipun profesinya adalah pedagang, ia tidak menghabiskan banyak energinya untuk benar-benar mengurusi perdagangan tersebut (Attar, 2018).
Pernah suatu ketika ia menyumbangkan semua barang dagangannya dan seluruh hasil jualannya untuk membantu fakir miskin. Hal itu ia lakukan sebagai wujud penjagaan diri agar tidak terlena dengan urusan bisnis. Ia seakan-akan membatasi dirinya agar tidak terbuai dalam perkara duniawi.
Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa pada suatu hari salah seorang murid Sari As-Saqati, yakni Habib ar-Ra’i, berkunjung ke toko gurunya. Sari As-Saqati lantas menitipkan sesuatu kepada muridnya itu agar disumbangkan kepada orang-orang miskin.
Habib ar-Ra’i lantas bertanya kepada gurunya, “Mengapa engkau berbuat demikian, ya Syekh?” Sari As-Saqati menjawab, “Perkara dunia sudah tidak menarik hatiku lagi. Oleh sebab itu, semua hal yang dapat merusak kedamaian hatiku mesti kuberikan kepada orang lain” (Attar, 2018). Kisah tersebut menjadi bukti bahwa Sari As-Saqati benar-benar menjauhi perkara dunia, sekalipun ia hidup di tengah-tengahnya.
Pada hari yang lain, Junaid al-Baghdadi mengunjungi pamannya yang kebetulan tengah bersedih. Sang paman sedang meneteskan air mata, seakan-akan peristiwa besar baru saja terjadi. Untuk mengetahui keadaan pamannya, Imam Junaid bertanya, “Peristiwa apa yang sesungguhnya terjadi sehingga membuatmu bersedih hati, Paman?”
Sari As-Saqati menjawab, “Pada malam ini, sebenarnya aku berniat menggantungkan sekendi air untuk didinginkan agar aku dapat menggunakannya untuk minum. Namun di dalam mimpi, aku bertemu dengan seorang bidadari yang sangat cantik.”
“Aku lantas bertanya kepadanya, ‘Siapakah yang memilikimu?’ Kemudian ia menjawab bahwa dirinya adalah milik seseorang yang tidak mendinginkan air dengan menggantungkan kendi. Setelah itu, bidadari tersebut menghempaskan kendiku ke atas tanah. Saksikanlah olehmu sendiri, Junaid! Kendi itu benar-benar hancur di lantai ini.”
Mendengar kisah pamannya tersebut, Junaid hanya dapat terpaku diam. Apalagi ia mendapati sendiri bahwa pecahan-pecahan kendi yang dihempaskan oleh bidadari dalam mimpi pamannya tersebut masih tergeletak di atas lantai (Al-Qusyairi, 2007).
Junaid memahami bahwa mimpi pamannya ternyata bermanifestasi ke dunia nyata. Jadi, kendi yang hancur dilemparkan oleh bidadari dalam mimpi As-Saqati ternyata juga hancur di alam riil.
Peristiwa ini memperlihatkan bahwa Sari As-Saqati dianugerahi karamah berupa pengalaman-pengalaman spiritual yang tidak dialami oleh orang awam. Peristiwa aneh tersebut memperlihatkan kepada kita bahwa Allah SWT telah memberikan kemuliaan yang agung kepadanya melalui terbukanya mata batin, sehingga ia dapat menyaksikan perkara-perkara gaib yang tidak bisa disaksikan oleh sembarang orang.
Kalam Hikmah Sari As-Saqati
“Ada dua cara untuk sampai kepada Allah. Yang pertama dengan mengerjakan semua yang terkandung di dalam Al-Qur’an. Sedangkan yang kedua adalah dengan meninggalkan segala-galanya selain Allah.” (Al-Isfahani, 1987).
Dalam kehidupan manusia di dunia yang fana, Allah SWT merupakan tujuan tertinggi, teragung, dan paling hakiki. Oleh sebab itu, segala hal yang kita lakukan di dunia semestinya diarahkan untuk mencapai tujuan tersebut.
Melalui perkataannya, Sari As-Saqati menawarkan dua jalan agar cepat sampai ke hadirat-Nya. Pertama, dengan mengerjakan segala yang diperintahkan-Nya dalam Al-Qur’an, dan kedua, meninggalkan segala hal selain-Nya (dalam artian tidak menduakan cinta Allah di dalam hati).
Dua jalan yang ditawarkan oleh Sari As-Saqati tersebut tentu bukanlah hal yang mudah untuk ditempuh. Kita hanyalah manusia biasa yang boleh jadi memiliki banyak kelemahan, kesalahan, dan kekurangan. Adakalanya kita menerjang larangan-larangan-Nya, adakalanya pula kita melalaikan perintah-Nya. Padahal, amat jelas dan tegas Allah SWT menunjukkan batasan tersebut di dalam Al-Qur’an.
Karena itu, jalan yang ditawarkan oleh Sari As-Saqati mesti ditempuh dengan kesungguhan hati, kebulatan tekad, ketulusan niat, dan cinta yang mendalam kepada-Nya. Sebab, jalan menuju Allah SWT senantiasa berliku serta penuh cobaan dan rintangan. Hanya orang-orang beriman dan muhlis yang akan sukses menempuh jalan sulit tersebut.
Untuk sampai kepada Allah SWT diperlukan usaha yang keras (mujahadah). Kita tidak boleh berdiam diri, apalagi sengaja menerjang larangan-larangan-Nya. Semestinya, kita mengoptimalkan seluruh potensi yang telah Allah SWT karuniakan hanya untuk mengabdi kepada-Nya.
Namun demikian, kita harus tetap sadar diri bahwa segala kebaikan atau pengabdian yang kita kerjakan belum ada apa-apanya di hadapan Allah. Untuk sampai kepada-Nya dalam keadaan selamat, kita mesti senantiasa berharap pada rahmat dan rida-Nya, bukan bersandar pada kuantitas ibadah kita. Sebab, keselamatan diri kita kelak sejatinya merupakan hak prerogatif rahmat Allah SWT.
Tabir dan Hijab Ketuhanan
“Wahai Allah, berilah siksaan kepadaku. Namun jangan Engkau campakkan aku dengan hina tertutupnya hijab rahasia-Mu. Sebab dengan terbukanya hijab rahasia-Mu itu, siksaanku akan terkurangi. Sebaliknya, jika hijab itu menutupi rahasia-Mu, niscaya rahmat-Mu akan terputus untukku.” (Al-Qusyairi, 2007).
Allah SWT adalah Tuhan Yang Zahir (Maha Nyata) dan Yang Batin (Maha Tersembunyi). Untuk memandang hadirat-Nya, tentu tidak sama dengan cara kita melihat makhluk-makhluk-Nya yang berwujud fisik di dunia. Segala sesuatu yang lahir dapat kita saksikan dengan mata kepala, namun hal demikian tidak berlaku pada zat Allah SWT. Tidaklah mungkin bagi mata fisik manusia di dunia untuk menjangkau-Nya.
Artinya, untuk “melihat” tanda-tanda keagungan Allah, kita harus menggunakan bashirah atau mata batin. Namun, mata batin tersebut mestilah diasah terlebih dahulu sehingga hijab (pembatas) antara kita dengan-Nya akan semakin menipis. Selama hijab itu masih tebal, selama itu pula akan amat sulit bagi mata batin kita untuk menemukan dan menjangkau kedekatan dengan hadirat-Nya.
Tak heran jika dalam doanya yang mendalam, Sari As-Saqati berharap agar Allah SWT senantiasa membuka hijab rahasia-Nya. Kalaupun ia mesti memperoleh cobaan atau siksaan keduniawian, hal itu tidak mengapa baginya, asalkan Allah SWT tidak menutup diri-Nya dari perhatian sang sufi. Karena dengan terbukanya hijab, niscaya penderitaan apa pun akan terasa ringan. Sebaliknya, jika hijab itu menutupi rahasia-Mu, niscaya rahmat-Nya akan terputus.
Agar hijab kita dengan Allah SWT menjadi tipis, mengasah mata batin menjadi suatu keniscayaan. Mata batin ini hanya bisa diasah dengan kesungguhan hati untuk senantiasa mengabdi kepada-Nya, serta membebaskan diri dari pengaruh hawa nafsu dan kesenangan duniawi yang berlebihan. Artinya, hati kita mestilah “sepi” dari keterikatan dunia, namun “ramai” oleh mengingat Allah SWT.
Sepi dari dunia berarti segala hal yang sifatnya materialistis tidak sampai membuat kita lalai dari pengabdian kepada-Nya. Sementara ramai dengan Allah SWT bermakna bahwa hati kita mesti senantiasa berzikir dan memuji keagungan-Nya. Dengan begitu, terasahlah mata batin kita sehingga hijab rahasia-Nya akan terbuka.
Kesenangan duniawi itu hanya sebentar dan tidak kekal, maka janganlah sampai hati kita terperdaya olehnya hingga melalaikan urusan akhirat. Padahal jelas bagi kita bahwa mata batin akan keruh bila kita senantiasa lalai dari-Nya. Apabila hati sudah keruh, tentu akan amat sulit bagi kita untuk merasakan kehadiran-Nya. Wallahu a’lam bisshawab

