Sudah mafhum bahwa hasad (dengki) atau iri hati adalah sikap mental yang menimbulkan rasa sakit hati apabila melihat orang lain mendapatkan kesenangan atau kemuliaan, serta diiringi keinginan agar kesenangan dan kemuliaan itu hilang dari mereka.
Orang yang memiliki sifat ini disebut pendengki (hasid) karena mereka berusaha agar kesenangan dan kemuliaan orang lain berpindah ke diri mereka sendiri. Ciri sederhananya adalah merasa senang apabila melihat orang lain menderita, dan sedih apabila melihat orang lain melakukan hal yang lebih baik darinya atau mendapatkan nikmat.
Gus Ulil mengutip pernyataan Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin bahwa hasad adalah kondisi ketika seseorang tidak senang dengan kenikmatan yang dimiliki saudaranya dan justru senang ketika kenikmatan itu hilang darinya. Dengan kata lain, ia tidak senang melihat orang lain mendapat manfaat, tetapi bahagia melihat orang lain mengalami kesulitan.
Masih tentang hasad, kitab Ihya’ membahas penyakit hati ini dengan sangat rinci dan panjang lebar. Ini tentu saja karena hasad memiliki dampak yang sangat buruk, termasuk mempengaruhi batin manusia. Hati menjadi sedih dan tertekan, yang bersangkutan sering berbuat maksiat, mencelakakan orang lain, merugikan diri sendiri, dan sulit menerima kebenaran. Ia juga pasti gelisah jika melihat orang lain bahagia dengan dirinya sendiri.
Mengapa Al-Ghazali membahasnya dengan begitu rinci? Karena hasad dapat bersarang di hati seseorang dan menghalangi kebaikan serta karunia Tuhan dari orang yang didengkinya. Lebih dari itu, cahaya spiritual dan percikan iman—yang membuat manusia lebih mulia dari segala sesuatu di dunia ini—jelas tidak dapat bersanding dengan hasad yang gelap.
Parahnya lagi, wajah pendengki akan tampak suram, hati menjadi sedih dan tertekan, serta dada terasa sempit dan sesak. Ini menandakan bahwa iman seseorang menurun seiring dengan menguatnya sifat hasad ini. Padahal, imanlah yang memberikan keselamatan di akhirat dan kini justru dipertaruhkan. Akhirnya, penyakit hasad ini meninggalkan si pendengki dalam keadaan yang merugi.
Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 32:
وَلَا تَتَمَنَّوْا۟ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا ٱكْتَسَبُوا۟ ۖ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٌ مِّمَّا ٱكْتَسَبْنَ ۚ وَسْـَٔلُوا۟ ٱللَّهَ مِن فَضْلِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا
Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 32).
Dalam sebuah kisah, Nabi SAW pernah bertanya kepada seorang Badui, “Apa yang sudah engkau siapkan untuk hari kiamat?” Orang Badui itu menjawab, “Aku tidak menyiapkan bekal yang banyak berupa puasa (sunah) dan shalat (sunah), kecuali aku hanya mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya.” Kemudian Nabi menjawab, “Engkau akan dikumpulkan bersama orang-orang yang engkau cintai.”
Mendengar hal itu, sahabat Anas ibn Malik berkata, “Tidak pernah seorang muslim bergembira seperti gembiranya mereka pada hari itu (mendengar sabda Nabi).” Orang Badui itu pun merasa senang dan optimis mendengar jawaban Nabi. Namun, menurut Gus Ulil, kita tidak boleh menjadikan hadis ini sebagai alasan untuk bermalas-malasan dalam beribadah. Kita harus memaknai hadis ini secara proporsional, bukan sebagai pembenaran untuk meninggalkan amal saleh.
Hal ini berkaitan dengan lawan dari sifat hasad. Ketika si A mendapat nikmat, setan merasa cemas. Namun, jika si B ikut senang dengan nikmat yang diterima si A, maka setan bertambah cemas. Sikap tidak hasad si B terhadap si A membuat setan sedih. Mengapa demikian? Karena jika B senang dengan nikmatnya A, ia akan mendapatkan pahala bersama A dan kelak dikumpulkan bersama orang-orang yang dicintainya (orang-orang saleh).
Sahabat Abu Musa al-Asy’ari meriwayatkan bahwa seseorang bertanya kepada Nabi, “Ada seorang laki-laki mencintai orang yang shalat (sunah) tapi ia sendiri tidak mengerjakannya. Ia juga mencintai orang yang puasa (sunah) tapi ia sendiri tidak puasa.” Nabi SAW menjawab, “Laki-laki ini akan bersama orang yang dicintainya.”
Senada dengan hal itu, pernah ada seseorang yang bertanya kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz tentang sebuah nasihat bijak: “Jika kamu mampu menjadi orang yang alim, maka jadilah alim. Namun jika tidak mampu menjadi alim, maka belajarlah (menjadi santri/penuntut ilmu). Jika tidak mampu belajar, maka jadilah orang yang mencintai mereka. Akan tetapi jika mencintai masih tidak mampu, maka setidaknya kamu jangan pernah membenci mereka.” Allah SWT benar-benar membuat jalan keluar dan rahmat bagi hamba-Nya.
Penting untuk diingat bahwa ketidakmampuan untuk menjadi orang alim tidak berarti rahmat Allah telah hilang. Ada banyak cara lain untuk mendapatkan rahmat Allah yang tersebar di mana pun.
Dengan kata lain, orang-orang yang beriman masih memiliki harapan dalam hidup mereka. Harapanlah yang membuat hidup seseorang tetap berjalan. Selain itu, kuncinya adalah tidak membenci para ulama dan orang saleh. Dalam Surah Az-Zumar, Allah SWT berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ. وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
Artinya: “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).’” (QS. Az-Zumar [39]: 53-54).
Ayat ini adalah seruan bagi setiap orang yang terjerumus dalam dosa untuk bertaubat kepada Allah. Selain itu, ayat ini menyampaikan kabar gembira bahwa Allah SWT mengampuni setiap dosa bagi siapa saja yang bertaubat kepada-Nya, meskipun dosa itu sangat banyak seperti buih di lautan.
Mencintai orang yang mendapat nikmat—alih-alih mendengkinya—berarti melepaskan belenggu setan dari diri seseorang. Namun, ini tidak berarti iblis akan tinggal diam. Ia akan terus mencari cara untuk menjatuhkan manusia ke dalam lubang hasad selama ia masih hidup.
Oleh karena itu, Imam Al-Ghazali menekankan bahwa manusia harus senantiasa menyucikan hati dari kotoran dan penyakit hati. Sebab penyakit seperti hasad, riya’, dan ujub dapat menyusup kapan saja dan membawa manusia pada kebinasaan diri. Wallahu a’lam bis Shawab.

