“Zuhudlah, sederhanalah, jangan cinta dunia, kata orang yang baru turun dari dunia.”
Mobil mewah itu berhenti tepat di depan panggung, pintunya terbuka dengan suara halus khas kendaraan seharga puluhan rumah tipe subsidi, dan turunlah sosok yang beberapa menit kemudian akan berbicara panjang lebar soal bahaya cinta dunia. Jamaah di bawah mimbar (yang sebagian besar baru saja menunda membeli beras demi menabung untuk acara shalawatan ini) mengangguk khusyuk sambil menahan perut lapar. Sungguh tontonan spiritual yang mengharukan, kalau saja tidak begitu memalukan.
Pertanyaannya adalah: Benarkah dagelan kesederhanaan di atas mimbar berlapis sponsor? Kita hidup di zaman ketika kesederhanaan menjadi materi ceramah paling laku, tapi paling jarang dipraktikkan oleh yang menceramahkannya. Kisah Nabi menambal sandal sendiri diceritakan dengan penuh haru, lengkap dengan suara yang sengaja digetarkan agar jamaah menitikkan air mata. Namun, begitu mikrofon dimatikan, sang penceramah kembali sibuk memilih filter Instagram mana yang membuat jam tangannya berkilau lebih maksimal.
Yang lebih menggelikan, jadwal ceramah itu sendiri kini diatur lewat manajer artis, lengkap dengan rate card dan minimal down payment, persis skema job endorsement skincare. Bedanya cuma satu: yang diendorse bukan produk kecantikan, melainkan surga. Dan anehnya, semakin mahal tarifnya, semakin dianggap “berkah” isi ceramahnya. Logika macam apa ini? Barangkali logika yang hanya masuk akal bagi yang menghitung pundi-pundi, bukan bagi yang menghitung dosa.
Ironisnya, kotak amal tetap diedarkan kepada jamaah yang bahkan kesulitan membayar cicilan motor. Uang recehan itu terkumpul, sebagian mengalir untuk membayar honor yang koleksi jam tangannya setara dengan puluhan tahun gaji jamaah yang menyumbang. Rasanya ini bukan dakwah lagi; ini reinvestasi kemewahan berkedok pahala. Dan yang paling lucu, tak ada satu pun pihak yang merasa perlu meralat istilah “sedekah jariyah” menjadi “sponsor tetap panggung”.
Belum lagi soal konten. Setiap potongan ceramah yang viral otomatis menaikkan follower, dan follower yang banyak otomatis menaikkan tarif endorsement produk lain di luar agama: mulai dari skincare, madu penambah stamina, sampai obligasi investasi yang belakangan ternyata bodong. Rantai bisnis ini berjalan mulus karena satu bahan bakar utama: kepercayaan buta jamaah yang menganggap segala yang keluar dari mulut sang ustaz pasti membawa berkah, termasuk produk yang sebenarnya cuma numpang popularitas religi.
Ada semacam teologi baru yang diam-diam disebarkan lewat pola hidup semacam ini, meski tak pernah tertulis di kitab mana pun: kemewahan adalah tanda kasih sayang Tuhan, sementara kemiskinan jamaah adalah semata soal kurang ikhtiar dan kurang ikhlas. Teologi dadakan ini sungguh praktis. Ia membebaskan yang di atas panggung dari kewajiban berbagi, sekaligus menimpakan seluruh beban moral kepada yang di bawah panggung, yang justru paling megap-megap secara ekonomi.
Padahal jamaah yang duduk di saf belakang itu tidak sedang krisis iman. Mereka sedang menghadapi galbay pinjaman online, uang sekolah anak yang menunggak, dan gaji yang tak pernah cukup sampai akhir bulan. Yang mereka butuhkan bukan sekadar dalil tentang sabar, melainkan bukti bahwa orang yang mereka percaya sebagai penyambung firman juga sungguh-sungguh berempati. Bukan cuma berempati di kalimat pembuka ceramah, lalu lupa begitu turun panggung dan mengecek notifikasi transfer honor.
Umat Jadi Penonton, Rekening Jadi Prioritas
Yang paling menggelikan dari semua ini adalah ketika kritik semacam ini dilontarkan, jawaban baku yang keluar selalu sama: “Itu rezeki dia, jangan suudzon.” Kalimat yang terdengar bijak, padahal sebenarnya cuma tameng murahan untuk menghindari pertanyaan yang jauh lebih mendasar: kalau memang gaya hidup pribadi tak boleh dikaitkan dengan isi ceramah, mengapa isi ceramahnya sendiri tak henti-hentinya menyalahkan cinta dunia sebagai biang segala masalah umat?
Yang tak kalah menarik, argumen “jangan suudzon” ini nyaris tak pernah dipakai secara konsisten. Ia hanya muncul ketika yang dikritik adalah kemewahan sang penceramah. Namun, ketika seorang jamaah biasa kedapatan mencicil gawai baru, argumen yang sama nyaris tak pernah dipakai untuk membelanya dari cap “kurang bersyukur” atau “gila dunia”. Standar ganda semacam ini rasanya terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Barangkali inilah yang paling menyakitkan: dakwah hari ini pelan-pelan berubah wujud dari sarana pembinaan menjadi industri hiburan religi. Jamaah bukan lagi umat yang harus diperjuangkan nasibnya, melainkan penonton yang menyumbang rating, tepuk tangan, dan amplop.
Semakin dramatis ceramahnya, semakin tinggi engagement-nya, semakin deras pula tawaran job berikutnya. Kesederhanaan yang diceritakan di atas panggung sesungguhnya cuma properti, sama fungsinya dengan mikrofon dan lighting, dipakai untuk membangun suasana, lalu ditinggalkan begitu saja begitu lampu panggung padam.
Bukan berarti setiap orang berkecukupan otomatis munafik. Kaya itu bukan aib dan tak ada dalil yang mewajibkan penceramah hidup miskin. Yang jadi soal adalah ketika kemewahan itu dipertontonkan secara vulgar tepat di hadapan jamaah yang sedang berjuang makan tiga kali sehari, sementara isi ceramahnya justru menuntut mereka lebih zuhud dan lebih pasrah menerima kesempitan hidup. Itu bukan lagi soal selera pribadi. Itu soal keadilan yang sedang dipertaruhkan atas nama agama.
Kalau saja kemewahan itu diimbangi dengan kedermawanan yang sepadan (beasiswa untuk anak jamaah, bantuan modal usaha, atau sekadar transparansi soal ke mana honor ceramah itu benar-benar mengalir), barangkali kritik ini tak akan pernah lahir.
Namun, yang lebih sering terjadi justru sebaliknya: kemewahan dipamerkan, sementara kedermawanan disembunyikan rapat-rapat, seolah berbagi itu memalukan sementara memamerkan jam tangan justru layak dipertontonkan sebagai bukti “keberkahan usaha dakwah”.
Syahdan. Umat yang jeli tentu bisa membedakan pesan dari pembawa pesannya. Tapi itu bukan alasan bagi pembawa pesan untuk lepas tangan dari konsistensi antara ucapan dan gaya hidupnya. Sebab kredibilitas dakwah tak pernah lahir dari kefasihan berbicara semata, melainkan dari keteladanan yang bisa dipertanggungjawabkan.
Selama jarak antara mimbar dan etalase Instagram masih selebar itu, jangan kaget kalau makin banyak jamaah yang, alih-alih menangis mendengar kisah kesederhanaan Nabi, justru diam-diam bergumam: kelihatannya yang bercerita saja tidak percaya pada ceritanya sendiri. Wallahu a’lam bisshawab.

