Keislaman

Tafsir QS Ibrahim Ayat 26: Retorika Perumpamaan & Strategi Dakwah

3 Mins read

​Al-Qur’an merupakan kitab suci yang tidak hanya berisi ajaran akidah, syariat, dan akhlak, tetapi juga memiliki keindahan bahasa yang luar biasa. Salah satu metode penyampaian pesan yang sering digunakan dalam Al-Qur’an adalah amsal (perumpamaan). Melalui perumpamaan, pesan-pesan yang abstrak menjadi lebih mudah dipahami oleh manusia. Metode ini memiliki kekuatan retoris yang mampu menggugah akal, hati, dan perasaan pembaca maupun pendengarnya.

​Salah satu contoh perumpamaan yang menarik terdapat dalam QS. Ibrahim ayat 26, di mana Allah menggambarkan kalimat yang buruk dengan pohon yang buruk yang tercabut dari akarnya dan tidak memiliki keteguhan. Ayat ini menjadi contoh bagaimana Al-Qur’an menggunakan bahasa yang sederhana tetapi mengandung makna yang sangat mendalam. Selain menjelaskan hakikat kebatilan, ayat ini juga memberikan pelajaran penting bagi aktivitas dakwah Islam. Allah berfirman dalam surat Ibrahim ayat 26:

​وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيْثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيْثَةِ ࣙاجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْاَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ ۝٢٦

“Adapun perumpamaan kalimah khabīṡah seperti pohon yang buruk, akar-akarnya telah dicabut dari permukaan bumi, dan tidak dapat tetap tegak sedikit pun.”

​Para mufasir menjelaskan bahwa kalimah khabisah (kalimat yang buruk) mencakup berbagai bentuk kebatilan, seperti kekufuran kepada Allah, kesyirikan, ucapan dusta, fitnah, kebohongan, dan segala perkataan yang bertentangan dengan kebenaran (Ibn Kathir, 1999: 4/478–479). Dalam konteks yang lebih luas, kalimat buruk juga dapat dipahami sebagai ideologi, keyakinan, atau pemikiran yang menyimpang dari petunjuk Allah.

​Allah mengibaratkan kalimat buruk sebagai syajarah khabisah (pohon yang buruk). Pohon biasanya menjadi simbol kehidupan, pertumbuhan, dan kebermanfaatan. Akan tetapi, pohon yang dimaksud dalam ayat ini adalah pohon yang tidak memiliki manfaat dan tidak memiliki akar yang kuat.

Baca...  Fitrah Manusia dalam Perspektif Islam : Urgensi dan Makna Hikakat Fitrah

​Para ulama tafsir menjelaskan bahwa pohon tersebut melambangkan kebatilan yang tampak berdiri untuk sementara waktu, tetapi pada hakikatnya rapuh dan mudah runtuh (Al-Tabari, 2001: 16/564–566). Sebagaimana pohon tanpa akar tidak dapat bertahan menghadapi angin dan cuaca, demikian pula keyakinan dan perkataan yang batil tidak akan mampu bertahan di hadapan kebenaran.

​Frasa “ijtusthat min fauqil-ard” menunjukkan bahwa pohon tersebut telah tercabut dari akarnya. Akar merupakan sumber kekuatan dan kehidupan bagi pohon. Dalam perspektif retorika, pencabutan akar menggambarkan tidak adanya landasan yang kokoh, tidak adanya hubungan dengan sumber kehidupan, serta ketidakmampuan untuk berkembang dan bertahan (Al-Qurtubi, 2006: 11/329–331).

​Dari sudut pandang retorika Al-Qur’an, pencabutan akar tersebut melambangkan hilangnya fondasi yang menjadi dasar keberadaan sesuatu. Kebatilan digambarkan sebagai sesuatu yang tidak memiliki pijakan yang kokoh karena tidak dibangun di atas prinsip-prinsip kebenaran yang berasal dari Allah. Selain itu, perumpamaan ini juga menunjukkan terputusnya hubungan dengan sumber kehidupan yang sejati, yaitu petunjuk dan wahyu Ilahi. Akibatnya, segala bentuk pemikiran, keyakinan, maupun ucapan yang didasarkan pada kebatilan tidak akan mampu berkembang secara sehat dan tidak memiliki daya tahan untuk bertahan dalam jangka waktu yang panjang.

​Meskipun dalam kenyataannya kebatilan terkadang tampak kuat, dominan, dan mampu memengaruhi banyak orang, kekuatan tersebut sesungguhnya hanya bersifat sementara dan semu. Karena tidak memiliki landasan yang benar dan kokoh, kebatilan pada akhirnya akan mengalami kehancuran serta kehilangan pengaruhnya. Sebaliknya, kebenaran yang berakar pada wahyu dan petunjuk Allah akan tetap teguh dan bertahan menghadapi berbagai tantangan. Dengan demikian, perumpamaan ini menegaskan bahwa segala sesuatu yang tidak memiliki dasar kebenaran pada akhirnya akan lenyap, sedangkan kebenaran akan tetap hidup dan memperoleh kemenangan pada waktunya.

Baca...  Peringatan Maulid Nabi, Ini Analogi Dari Ustadz Sambo

​Selanjutnya, kata “ma laha min qarar” secara harfiah berarti “tidak mempunyai ketetapan” atau “tidak memiliki kestabilan sama sekali.” Frasa ini merupakan bagian akhir dari perumpamaan yang digunakan Allah dalam QS. Ibrahim ayat 26 untuk menggambarkan keadaan pohon yang buruk. Setelah menjelaskan bahwa pohon tersebut telah dicabut dari permukaan bumi, Allah menegaskan bahwa pohon itu tidak memiliki qarar, yaitu tempat berpijak, keteguhan, atau keadaan yang membuatnya dapat berdiri dan bertahan (Al-Tabari, 2001: 16/566). Dalam bahasa Arab, kata qarar mengandung makna ketetapan, kemantapan, dan kestabilan yang memungkinkan sesuatu tetap eksis dalam jangka waktu yang lama.

​Dalam konteks perumpamaan ini, ungkapan tersebut menunjukkan bahwa segala bentuk kebatilan, baik berupa keyakinan, pemikiran, maupun perkataan yang bertentangan dengan kebenaran, pada hakikatnya tidak memiliki fondasi yang kuat untuk menopang keberlangsungannya. Kebatilan mungkin tampak berkembang dan memperoleh dukungan dari banyak orang, tetapi keberadaannya tidak dibangun di atas dasar yang kokoh. Oleh karena itu, ia tidak memiliki kemampuan untuk bertahan menghadapi ujian waktu, perubahan keadaan, maupun datangnya kebenaran yang akan menyingkap kelemahannya.

​Dari sudut pandang retorika Al-Qur’an, penggunaan frasa ini memberikan penegasan yang sangat kuat terhadap kelemahan kebatilan. Allah tidak hanya menggambarkan pohon buruk sebagai pohon yang tercabut dari akarnya, tetapi juga menambahkan bahwa pohon tersebut sama sekali tidak memiliki keteguhan. Dengan demikian, pembaca memperoleh gambaran yang utuh mengenai rapuhnya kebatilan. Sebagaimana pohon yang tidak memiliki akar akan mudah roboh diterpa angin dan tidak mampu menghasilkan buah yang bermanfaat, demikian pula perkataan dan keyakinan yang dibangun di atas kebatilan akan kehilangan pengaruhnya dan pada akhirnya lenyap.

​Ayat ini mengajarkan bahwa dakwah Islam harus dibangun di atas dasar tauhid, ilmu, dan kebenaran. Dakwah yang tidak memiliki landasan yang benar akan mudah runtuh sebagaimana pohon yang tidak memiliki akar. Oleh karena itu, seorang dai harus menjaga perkataannya agar tidak mengandung kebohongan, fitnah, atau ujaran yang menyakiti orang lain. Kalimat yang buruk tidak akan menghasilkan manfaat dan bahkan dapat merusak tujuan dakwah. Sebagaimana pohon memerlukan akar yang kuat, dakwah juga memerlukan proses penanaman nilai-nilai keimanan secara mendalam. Dakwah tidak cukup hanya menyampaikan informasi, tetapi harus membentuk keyakinan yang kokoh dalam hati umat.

Baca...  Ali Al-Madini Ulama Periwayat Hadis

​Referensi

​Al-Qurtubi, Abd Allah. (2006). Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an. Beirut: Mu’assasah al-Risalah.

​Al-Tabari, Muhammad ibn Jarir. (2001). Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an. Kairo: Dar Hijr.

​Ibn Kathir, Ismail. (1999). Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Riyadh: Dar Tayyibah.

1 posts

About author
Penulis
Articles
Related posts
KeislamanKisahTokoh

Kisah Sufi Al-Hallaj: Pengembaraan, Karamah, dan Akhir Hidupnya

6 Mins read
Sudah mafhum bahwa nama Al-Hallaj tidak asing lagi bagi sebagian pembaca buku di Indonesia. Ia adalah seorang teolog terkemuka dan figur sufi…
Keislaman

​Tafsir Al-Hajj Ayat 1–2: Dahsyatnya Kiamat & Urgensi Takwa

3 Mins read
​يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ ﴿١﴾ يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ…
Keislaman

Refleksi Surah Thaha Ayat 81: Bahaya Flexing dalam Islam

3 Mins read
Dalam menjalani hidup, manusia sering kali terjebak dalam keinginan untuk terus mengejar materi tanpa henti. Melalui Surah Thaha ayat 81, Allah SWT…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *