Keislaman

Refleksi Surah Thaha Ayat 81: Bahaya Flexing dalam Islam

3 Mins read

Dalam menjalani hidup, manusia sering kali terjebak dalam keinginan untuk terus mengejar materi tanpa henti. Melalui Surah Thaha ayat 81, Allah SWT memberikan panduan etika bagi manusia dalam menikmati fasilitas dunia. Pesannya sangat jelas: kita diperintahkan untuk menikmati rezeki yang baik, namun di saat yang sama, kita dilarang keras untuk melampaui batas. Ayat ini menunjukkan bahwa agama sama sekali tidak melarang seseorang untuk menjadi sejahtera atau menikmati hasil jerih payahnya, melainkan melarang hilangnya kendali diri di tengah kesejahteraan tersebut.

​Dalam Al-Qur’an Surah Thaha ayat 81, Allah SWT berfirman:

​كُلُوا۟ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقْنَٰكُمْ وَلَا تَطْغَوْا۟ فِيهِ فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِى ۖ وَمَن يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِى Fَقَدْ هَوَىٰ

​Artinya: “Makanlah di antara rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia.”

​Konsep melampaui batas atau la tatghau (لَا تَطْغَوْا) dalam konteks ini memiliki dimensi yang sangat luas. Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa tughyan (melampaui batas) bisa berarti melupakan sumber nikmat itu sendiri, yaitu Sang Pemberi Nikmat, dan menggunakannya untuk hal-hal yang tidak diridhai-Nya.

​Jika ditarik ke konteks masa kini, larangan ini sangat berkaitan erat dengan fenomena flexing. Istilah yang berasal dari bahasa Inggris ini awalnya berarti memamerkan otot, namun kini bergeser makna menjadi perilaku memamerkan kemewahan secara sengaja untuk mendapatkan pengakuan sosial. Menurut pakar manajemen dan bisnis global, Profesor Rhenald Kasali dalam bukunya Flexing: Bad Innovation, Bad Strategy, and Fake Success, fenomena pamer ini sebenarnya sering kali menjadi kedok dari keberhasilan semu (fake success) yang dipicu oleh tekanan digital.

Baca...  Sang Manajer Islam Itu Bernama Muhammad

​Secara konteks historis (asbabun nuzul), Surah Thaha ayat 81 tidak hanya berbicara tentang makanan atau rezeki secara fisik, tetapi juga tentang cara manusia bersikap terhadap nikmat Allah. Ayat ini turun dalam rangka mengingatkan Bani Israil agar tidak menyalahgunakan nikmat (seperti hidangan Manna dan Salwa) yang telah Allah berikan. Pakar tafsir klasik, Ibnu Katsir, dalam kitab Tafsir Al-Qur’an al-Azhim, menegaskan bahwa ayat ini diturunkan sebagai peringatan agar manusia tidak membalas nikmat Allah dengan kemaksiatan atau menggunakan rezeki tersebut untuk kesombongan. Dari sini dapat dipahami bahwa rezeki bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga harus dijaga agar tidak berubah menjadi sebab kelalaian.

​Fenomena flexing pada masa kini dapat dipahami sebagai salah satu bentuk sikap melampaui batas, terutama ketika seseorang memamerkan harta, gaya hidup, atau pencapaian untuk mencari pengakuan dan merasa lebih tinggi dari orang lain. Dalam perspektif psikologi, perilaku ini sering kali berakar dari rasa tidak aman (insecurity). Psikolog sosial Susan Fiske melalui Stereotype Content Model menjelaskan bahwa manusia memiliki dorongan bawah sadar untuk memamerkan status demi mendapatkan kompetensi dan dominasi sosial di mata kelompoknya. Dalam keadaan seperti ini, harta tidak lagi menjadi sarana bersyukur, melainkan berubah menjadi alat untuk membangun citra diri yang manipulatif. Padahal, Islam mengajarkan bahwa nikmat seharusnya melahirkan rasa syukur, kerendahan hati, dan kepedulian sosial.

​Selain itu, flexing juga menimbulkan dampak sosial yang destruktif. Pamer kemewahan di ruang publik, terutama media sosial, bisa memunculkan iri hati, kecemburuan sosial, dan standar hidup palsu. Sosiolog Jean Baudrillard dalam teorinya tentang Consumer Society menyebutkan bahwa dalam masyarakat modern, konsumsi bukan lagi soal fungsi atau kebutuhan dasar, melainkan tentang simbol status sosial. Akibatnya, orang lain dapat terdorong untuk mengikuti gaya hidup konsumtif yang sebenarnya tidak sesuai dengan kemampuan ekonomi mereka demi sebuah gengsi. Karena itu, larangan “jangan melampaui batas” dalam ayat ini menjadi sangat relevan sebagai kritik terhadap budaya pamer yang semakin kuat di era digital.

Baca...  Menyingkap Rahasia Kesehatan Mental:Refleksi Tafsir Al-Azhar dan Tafsir Al-Misbah

​Dengan demikian, pesan utama Surah Thaha ayat 81 adalah pentingnya menjaga keseimbangan dalam menikmati rezeki. Islam tidak melarang kekayaan, tetapi melarang kesombongan, pemborosan (tabdzir), dan penggunaan nikmat untuk hal yang tidak diridhai Allah. Rezeki yang baik seharusnya membawa manusia semakin dekat kepada Allah, bukan justru membuatnya lupa diri.

​Ketika seseorang melakukan flexing demi merasa lebih tinggi dari orang lain, ia sebenarnya sedang terjebak dalam penyakit hati. Sejalan dengan hal ini, M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menekankan bahwa larangan melampaui batas dalam ayat ini adalah upaya menjaga keseimbangan hidup agar rezeki tetap membawa ketenangan dan keberkahan, bukan justru memicu penyakit hati seperti ria (pamer) dan ujub (bangga diri).

​Dampak dari melanggar larangan ini digambarkan secara drastis dalam ayat tersebut, yaitu “jatuhnya” seseorang di bawah murka Allah. Kata hawa (هَوَىٰ) dalam ayat ini mencerminkan kehancuran yang mendalam, seperti seseorang yang jatuh dari tempat yang tinggi ke jurang yang binasa, baik secara spiritual maupun eksistensi hidup. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengingatkan bahwa barangsiapa yang terkena kemurkaan Allah, maka ia telah merugi sesungguh-sungguhnya dan jatuh ke dalam kecelakaan.

​Di dunia modern, hal ini terlihat nyata dari banyaknya individu yang sukses secara materi namun hidupnya tidak tenang, diliputi kecemasan digital (FOMO/Fear of Missing Out), dan kehilangan keberkahan karena hartanya hanya menjadi beban mental serta pemicu konflik sosial.

​Sebagai penutup, Surah Thaha ayat 81 mengajak kita untuk kembali pada prinsip keseimbangan (tawazun). Allah menyediakan rezeki yang melimpah untuk dinikmati dengan cara yang elegan, bijaksana, dan bertanggung jawab, bukan untuk dijadikan alat pamer yang memicu kesenjangan. Menjaga diri dari perilaku konsumtif yang berlebihan dan menjauhkan diri dari sifat pamer adalah bentuk syukur yang paling nyata. Dengan menahan diri, kita tidak hanya menyelamatkan diri dari murka Tuhan, tetapi juga menciptakan tatanan hidup yang lebih tenang, sederhana, dan bermartabat.

1 posts

About author
Penulis
Articles
Related posts
Keislaman

Pesan QS Taha 114: Adab Menuntut Ilmu di Era Digital

5 Mins read
Dalam tradisi keilmuan Islam, adab dalam menuntut ilmu menempati posisi yang sangat penting. Ilmu tidak hanya dipandang sebagai kumpulan informasi, tetapi juga…
Keislaman

Tafsir QS An-Nur: Fenomena Trial by Social Media dalam Islam

6 Mins read
​Kita mungkin pernah menyaksikannya, atau bahkan tanpa sadar pernah ikut ambil bagian di dalamnya. Sebuah nama tiba-tiba ramai diperbincangkan. Foto atau tangkapan…
Keislaman

Menavigasi Kegelisahan Zaman lewat Moderasi Beragama Quraish Shihab

4 Mins read
Pendahuluan: Kegelisahan Zaman dan Krisis Keberagaman ​Masyarakat modern saat ini sedang menghadapi paradoks yang sangat unik. Di satu sisi, akses terhadap pengetahuan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *