ٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ ١٥٣ ( البقرة/2: 153)
Terjemahan: “Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Terjemahan Kemenag)
Ayat ini menjadi salah satu ayat yang paling sering dikutip ketika seseorang menghadapi kesulitan. Namun, banyak orang hanya menghafalnya tanpa memahami konteks, kedalaman makna, dan strategi spiritual yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, pendekatan tahlili sangat tepat untuk mengurai lapis-lapis makna yang diselipkan Allah dalam ayat ini.
Munasabah Ayat dan Asbāb An-Nuzūl
Ayat ini turun setelah serangkaian ayat tentang ketaatan, perubahan kiblat, dan ujian keimanan. Sebelum ayat 153, Allah mengajarkan pentingnya zikir, syukur, dan ketaatan total kepada-Nya. Perintah-perintah itu bukan teori belaka; ia hadir dalam situasi nyata, ketika umat Muslim awal menghadapi tekanan dari kaum musyrik dan Yahudi Madinah.
Ayat 153 hadir sebagai peneguh jiwa. Allah seolah berkata:
“Setelah Aku memerintahkan kalian untuk taat, bersyukur, dan teguh menghadapi perubahan-perubahan besar, maka inilah bekal batin yang kalian butuhkan: sabar dan salat.”
Al-Wāḥidī dan As-Suyūṭī tidak mencantumkan sebab khusus turunnya ayat ini sehingga ayat ini bersifat umum, berlaku untuk seluruh bentuk ujian, kapan pun dan di mana pun.
Namun, Ibn ‘Āsyūr menjelaskan bahwa ayat ini sangat relevan dengan situasi umat Islam kala itu yang baru mengalami perpindahan kiblat, sedang membangun komunitas yang masih rapuh, dan membutuhkan kekuatan mental yang stabil. Maka, ayat ini adalah pembinaan karakter, bukan sekadar teori kesabaran.
Penafsiran
At-Ṭabarī (Jāmi‘ al-Bayān)
Menurut At-Ṭabarī, “sabar” artinya menahan diri. Bukan hanya menahan marah, Al-Ṭabarī menafsirkan sabar sebagai ḥabs al-nafs, yakni menahan diri dari keluh kesah dalam menghadapi perintah Allah, larangan, dan musibah.
Salat, menurutnya, menjadi wasīlah al-‘aẓīmah (sarana terbesar) untuk meminta pertolongan karena ia “mengumpulkan hati kepada Allah.” (Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān, Juz 3).
Al-Qurṭubī (Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān)
Al-Qurṭubī menjelaskan bahwa sabar dalam ayat ini mencakup tiga hal: sabar dalam ketaatan, sabar menjauhi maksiat, dan sabar menghadapi musibah. Menurutnya, sabar bukan sikap pasif, melainkan keteguhan hati untuk tetap berada di jalan Allah.
Ia menegaskan bahwa pertolongan Allah tidak turun bagi orang yang tergesa-gesa atau cepat menyerah. Karena itu, salat disebut sebagai penegak kekuatan jiwa ketika menghadapi berbagai ujian.
Ayat ini, lanjut Al-Qurṭubī, mengajarkan bahwa sabar dan salat adalah dua penopang utama hidup seorang mukmin. Sabar menjaga keteguhan hati, sementara salat menenteramkan dan memperkuat jiwa. Melalui keduanya, seorang hamba mampu bertahan hingga datangnya pertolongan Allah. Inilah makna terdalam yang ia tegaskan dalam tafsirnya. (Qurṭubī, Al-Jāmi’, Juz 2).
Ibn Kathīr (Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm)
Ibn Kathīr menjelaskan bahwa makna “Allah bersama orang-orang yang sabar” adalah bahwa Allah memberikan dukungan, penjagaan, pertolongan, serta keberkahan dalam setiap langkah mereka. Baginya, sabar bukan sekadar menahan diri, melainkan sikap teguh yang dijaga oleh kekuatan ilahi.
Ia juga menegaskan bahwa salat merupakan penenang rohani terbesar karena salat menghubungkan seorang hamba langsung kepada sumber kekuatan itu sendiri, yaitu Allah. Dengan demikian, sabar dan salat menjadi dua pilar yang menghadirkan pendampingan Allah dalam kehidupan seorang mukmin. (Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Juz 1).
Wahbah az-Zuḥaylī (At-Tafsīr al-Munīr)
Wahbah az-Zuḥaylī menekankan bahwa ayat ini menggabungkan dua kekuatan, yaitu kekuatan dalam diri (sabar) dan kekuatan vertikal (salat). Sabar disebut sebagai energi tahan banting, sedangkan salat sebagai energi penyambung langit—dua fondasi spiritual yang jika bersinergi akan menghasilkan keteguhan luar biasa. (Az-Zuḥaylī, Al-Munīr, Juz 1).
Pendapat Ulama
Imam al-Ghazālī mengatakan bahwa sabar adalah fondasi seluruh akhlak karena tanpa sabar maka tidak ada syukur, tidak ada tawakal, dan tidak ada keteguhan ibadah.
Sementara itu, salat menurutnya adalah momen kembali kepada pusat ketenangan batin. Ia ibarat pengisi daya (charger) rohani yang memperbaiki energi spiritual seseorang.
Rasulullah saw. bersabda:
الصَّبْرُ ضِيَاءٌ
“Sabar adalah sinar cahaya.” (HR Muslim).
أَنَّهُ كَانَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ فَزِعَ إِلَى الصَّلَاةِ
“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mengalami suatu masalah serius, beliau segera melakukan salat.” (HR Abu Daud, hasan).
Artinya, sabar menerangi pikiran dan hati sehingga seseorang dapat melihat jalan keluar dengan lebih jelas, sedangkan salat bukan hanya ritual, melainkan ruang terapi spiritual.
Analisis Kritis
Ayat ini sering dipahami secara dangkal: “Kalau ada masalah, sabar dan salat saja.” Padahal, ayat ini adalah strategi penguatan mental, bukan perintah untuk pasrah atau menyerah. Ada dua kritik penting di sini:
Kesalahan Memaknai Sabar
Sebagian orang mengira sabar berarti menahan diri tanpa melakukan apa pun. Padahal, sabar dalam Al-Qur’an berarti bertahan, mengatur emosi, tetap berjalan sesuai aturan Allah, dan tidak goyah dalam komitmen. Sabar adalah kekuatan aktif, bukan pasif.
Reduksi Makna Salat
Salat sering dipandang sebagai kewajiban rutin semata. Padahal, salat adalah alat pengendali diri. Salat yang benar itu menenangkan pikiran, mengurangi stres, menyatukan hati, dan mendorong seseorang untuk membuat keputusan yang benar. Dengan demikian, salat bukan hanya ibadah, melainkan terapi jiwa dan penguat mental.
Hikmah Ayat dalam Kehidupan Sehari-Hari
Sabar sebagai ketahanan mental
Sabar mengajarkan kita untuk tidak membiarkan emosi menguasai pikiran. Dalam kehidupan, saat mendapat kritik, sabar menahan kita dari reaksi berlebihan; saat gagal, sabar mendorong kita bangkit kembali; saat kecewa, sabar menjaga kita tetap waras.
Salat sebagai stabilisator emosi
Salat yang khusyuk menenangkan saraf dan mengurangi kecemasan. Dalam rutinitas harian, salat membuat pikiran kembali segar, memberi waktu untuk refleksi, dan menata ulang energi positif.
Kesadaran bahwa pertolongan Allah hadir melalui proses
Allah tidak menjanjikan jalan keluar instan. Pertolongan-Nya sering hadir dalam bentuk ketenangan jiwa, ide yang tiba-tiba muncul saat salat, atau ketetapan hati yang lebih kuat.
Kesabaran membentuk karakter berkelas
Orang sabar biasanya lebih dihormati, lebih dipercaya, lebih mampu memimpin, dan lebih reflektif dalam menghadapi masalah.
Kisah Ringkas yang Menguatkan Makna Ayat
Dalam Perang Badar, Rasulullah menghadapi situasi sangat berat. Pasukan Islam sedikit, senjatanya minim. Para sahabat merasa tertekan. Apa yang diperintahkan Nabi?
Beliau tidak berkata, “Tenang saja, Allah akan menolong kita,” tanpa tindakan. Yang dilakukan Rasulullah adalah berdoa panjang-panjang, salat, tetap menyusun strategi perang, dan tetap memotivasi pasukan. Ini bukti bahwa sabar dan salat merupakan kekuatan luar biasa yang melahirkan kemenangan.
Kesimpulan
Al-Baqarah ayat 153 bukan sekadar ayat penghibur, melainkan panduan strategi hidup. Para mufasir sepakat bahwa sabar dan salat adalah dua kekuatan besar yang saling melengkapi. Sabar menguatkan dari dalam, salat menguatkan dari atas (Allah). Keduanya melahirkan pribadi yang tenang, kuat, dan terarah dalam menghadapi kesulitan.
Ayat ini mengajarkan bahwa pertolongan Allah tidak datang kepada orang yang tergesa-gesa atau mudah putus asa. Pertolongan Allah datang kepada mereka yang sabar, konsisten, tetap beribadah, dan tidak meninggalkan salat.
Sebagai mahasiswa Ilmu Al-Qur’an, memahami ayat ini secara mendalam membantu kita menyadari bahwa sabar bukan sikap diam, melainkan upaya aktif menjaga kestabilan diri. Sementara itu, salat adalah sarana penenang sekaligus penuntun jalan keluar. Dengan menggabungkannya, seseorang mampu menghadapi berbagai tantangan hidup dengan keyakinan dan ketenangan.
Daftar Pustaka
Al-Ghazālī, Abū Ḥāmid. Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn. Beirut: Dār al-Ma‘rifah, t.t.
Al-Qurṭubī, Muḥammad ibn Aḥmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Juz 2. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003.
As-Suyūṭī, Jalāluddīn. Lubāb an-Nuqūl fī Asbāb an-Nuzūl. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1983.
Ibn ‘Āsyūr, Muḥammad Ṭāhir. At-Taḥrīr wa at-Tanwīr. Tunis: Dār Sahnūn, 1997.
Ibn Kathīr, Abū al-Fidā’. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Juz 1. Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999.
Ṭabarī, Muḥammad ibn Jarīr. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān. Juz 3. Beirut: Mu’assasah ar-Risālah, 2000.
Wāḥidī, Ali ibn Aḥmad. Asbāb an-Nuzūl. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1991.
Zuḥaylī, Wahbah. At-Tafsīr al-Munīr. Juz 1. Damaskus: Dār al-Fikr, 1998.
Hadis: Muslim, Imām. Ṣaḥīḥ Muslim. Beirut: Dār Ihyā’ at-Turāth al-‘Arabī.
Abū Dāwud, Imām. Sunan Abī Dāwud. Beirut: Dār al-Fikr.

