يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ . يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّسُكَارَىٰ وَمَا هُمْ بِسُكَارَىٰ وَلَٰكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ
Artinya: “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya guncangan hari Kiamat itu adalah sesuatu yang sangat besar. Pada hari kamu melihatnya (guncangan itu), semua perempuan yang menyusui melupakan anak yang disusuinya, setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk. Akan tetapi, azab Allah itu sangat keras.” (QS. Al-Hajj: 1–2).
QS. Al-Hajj ayat 1–2 merupakan salah satu nas Al-Qur’an yang menggambarkan secara sangat kuat tentang kedahsyatan Hari Kiamat. Allah SWT menyeru seluruh manusia untuk bertakwa dan memperingatkan bahwa guncangan pada hari tersebut adalah peristiwa makro yang sangat besar. Gambaran Al-Qur’an tentang manusia yang kehilangan kendali kognitif, ibu yang melupakan anaknya, serta kondisi psikologis yang tampak seperti orang mabuk menunjukkan betapa dahsyatnya kehancuran total tersebut.
Sabab Nuzul
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa QS. Al-Hajj ayat 1–2 turun sebagai peringatan universal kepada umat manusia, khususnya masyarakat Arab jahiliah yang saat itu meragukan adanya kebangkitan setelah kematian (Kementerian Agama RI, 2019). Orang-orang musyrik Mekah menganggap bahwa manusia yang telah hancur menjadi tanah tidak mungkin dihidupkan kembali. Maka dari itu, Allah SWT menurunkan ayat ini untuk menegaskan bahwa Hari Kiamat pasti terjadi dan jauh lebih dahsyat daripada segala peristiwa bencana di dunia.
Dalam beberapa riwayat otentik, ketika Nabi Muhammad SAW membacakan ayat ini kepada para sahabat, mereka merasakan ketakutan psikologis yang sangat mendalam (Ibnu Katsir, 2000). Namun, Nabi SAW kemudian menenangkan gejolak batin mereka dengan menjelaskan bahwa rahmat Allah SWT tetap luas bagi orang-orang yang senantiasa memelihara keimanan dan ketakwaan.
Munasabah Ayat
Hubungan kontekstual (munasabah) antara QS. Al-Hajj dengan surah sebelumnya, QS. Al-Anbiya, sangat erat dalam poros tema hari akhir. Pada akhir QS. Al-Anbiya ditegaskan garis besar bahwa setiap manusia akan menerima balasan objektif atas amalnya. QS. Al-Hajj kemudian membuka penjelasan yang jauh lebih detail mengenai visualisasi suasana Hari Kiamat.
Selain itu, hubungan struktural antara ayat 1 dan 2 juga terjalin dalam pola kausalitas. Ayat pertama memerintahkan manusia untuk bertakwa karena dahsyatnya guncangan kiamat (zalzalatus-sā‘ah), sedangkan ayat kedua menjelaskan secara rinci bentuk kondisi riil manusia saat peristiwa itu terjadi. Dengan demikian, ayat pertama bersifat makro-doktrinal, sedangkan ayat kedua memberikan gambaran konkret-empiris.
Kajian Kosa Kata dan Tafsir
Beberapa istilah penting dalam ayat ini antara lain yā ayyuhan-nās yang berarti “wahai manusia”, menunjukkan bahwa seruan teologis ini bersifat universal tanpa terkecuali. Kata ittaqū rabbakum berarti perintah untuk bertakwa, yaitu menaati perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Adapun zalzalatus-sā‘ah berarti guncangan besar yang menandai kehancuran sistemik Hari Kiamat.
Frasa tadhhalu kullu murdi‘atin ‘ammā arda‘at menggambarkan ibu menyusui yang sampai melupakan anaknya akibat kepanikan yang luar biasa. Gambaran antropomorfis ini menunjukkan betapa dahsyatnya kondisi psikologis manusia pada hari tersebut hingga memutuskan ikatan naluriah terkuat makhluk hidup.
Menurut Ibnu Katsir (2000), ayat ini menegaskan bahwa Hari Kiamat adalah peristiwa objektif yang wajib diimani, dan manusia harus mempersiapkan diri sedini mungkin dengan modal iman serta amal saleh. Sementara itu, Imam At-Tabari (2001) menjelaskan bahwa inklusivitas seruan kepada seluruh manusia menunjukkan sifat universal peringatan ini, di mana tidak ada satu pun makhluk yang dapat melarikan diri dari ketetapan Ilahi.
Mufasir kontemporer Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi (1997) menambahkan bahwa ayat ini sejatinya merupakan wujud kasih sayang (rahmah) Allah SWT agar manusia segera bertobat sebelum terlambat. Guncangan yang disebutkan tidak hanya bersifat destruksi fisik, tetapi juga meruntuhkan kestabilan psikologis manusia hingga kehilangan kendali kesadaran. Sejalan dengan itu, menurut Sayyid Qutb (2003), Al-Qur’an menghadirkan suasana kiamat secara hidup dan teatrikal demi menggugah kesadaran spiritual manusia. Tujuan utama ayat ini adalah mengetuk dan mengubah orientasi hati manusia agar segera kembali kepada Allah SWT.
Hikmah dan Relevansi dalam Kehidupan Modern
QS. Al-Hajj ayat 1–2 sangat relevan dalam menavigasi kehidupan modern yang penuh dengan ketidakpastian. Meskipun manusia saat ini merasa lebih aman dengan superioritas teknologi dan kemajuan sains, berbagai peristiwa besar seperti gempa bumi, banjir bandang, krisis iklim, dan pandemi global menunjukkan keterbatasan absolut manusia sebagai makhluk hidup.
Fenomena krisis kesehatan global beberapa waktu lalu menjadi contoh nyata bagaimana sistem peradaban dunia bisa berubah secara drastis dalam waktu singkat. Selain itu, krisis sosial, konflik geopolitik global yang memicu instabilitas ekonomi internasional (Kompas.com, 2025), serta meningkatnya prevalensi gangguan kesehatan mental mencerminkan adanya “guncangan” eksistensial dalam bentuk lain. Gaya hidup materialistis, tekanan media sosial, dan ketidakstabilan ekonomi sering membuat manusia disorientasi dan kehilangan arah hidup. Dalam kondisi anomali ini, ayat ini hadir sebagai pengingat hakiki bahwa satu-satunya jangkar kehidupan yang kokoh adalah ketakwaan kepada Allah SWT.
Kesimpulan
QS. Al-Hajj ayat 1–2 adalah maklumat eskatologis yang tegas dari Allah SWT kepada seluruh umat manusia tentang kepastian datangnya Hari Kiamat yang penuh dengan kedahsyatan sistemik luar biasa. Visualisasi tentang runtuhnya insting protektif seorang ibu menyusui dan manusia yang tampak laksana orang mabuk merupakan instrumen bahasa Al-Qur’an untuk menunjukkan betapa besarnya guncangan tersebut.
Para ahli tafsir terkemuka, mulai dari era klasik seperti Ibnu Katsir (2000) dan At-Tabari (2001) hingga era kontemporer seperti Asy-Sya’rawi (1997) dan Sayyid Qutb (2003), mengonsolidasikan pesan utama yang sama: pentingnya menjadikan ketakwaan, keimanan, dan amal saleh sebagai bekal absolut menghadapi kehidupan akhirat.
Dalam konteks modern, ayat ini juga mengingatkan bahwa materi dunia sangat rapuh dan dapat berubah kapan saja. Oleh karena itu, manusia tidak boleh terjebak dalam delusi kekuatan materi dan teknologi, melainkan harus menempatkan iman dan takwa sebagai fondasi integral kehidupan. Dengan demikian, QS. Al-Hajj ayat 1–2 menegaskan bahwa kesiapan terbaik dalam menghadapi segala bentuk “guncangan”, baik di dunia maupun akhirat, adalah dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Daftar Pustaka
- Asy-Sya’rawi, Muhammad Mutawalli. (1997). Tafsir Asy-Sya’rawi. Kairo: Akhbar al-Yaum Press.
- At-Tabari, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir. (2001). Jāmi‘ al-Bayān fī Ta’wīl al-Qur’ān. Beirut: Mu’assasah al-Risalah.
- Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. (2000). Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
- Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan Tafsirnya (Edisi Penyempurnaan). Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
- Kompas.com. (2025). “Menakar Untung Rugi Konflik Israel-Iran bagi Indonesia.” Diakses dari https://money.kompas.com/.
- Qutb, Sayyid. (2003). Fī Ẓilāl al-Qur’ān. Kairo: Dar al-Syuruq.

