Esai

Mengapa Manusia Modern Mudah Merasa Lelah?

2 Mins read

​Setiap hari kita berusaha menjaga kesehatan tubuh. Kita memilih makanan yang bergizi, berolahraga, dan beristirahat ketika merasa lelah. Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: kita hampir tidak pernah memikirkan apa yang setiap hari memenuhi ruang kesadaran kita.

​Padahal, sejak membuka mata di pagi hari hingga menjelang tidur, pikiran kita terus menerima berbagai “asupan”. Berita datang tanpa henti. Video berganti satu demi satu. Percakapan memenuhi media sosial. Pendapat saling bertabrakan. Bahkan ketika tubuh sedang diam, kesadaran kita tetap bekerja tanpa jeda.

​Mungkin inilah salah satu alasan mengapa manusia modern merasa cepat lelah.

​Ironisnya, kehidupan hari ini sebenarnya jauh lebih mudah dibandingkan dengan masa lalu. Banyak pekerjaan berat telah digantikan oleh teknologi. Informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik. Berbagai kebutuhan dapat dipenuhi tanpa harus meninggalkan rumah.

​Namun, kemudahan ternyata tidak selalu menghadirkan ketenangan.

​Yang bertambah bukan hanya kenyamanan, melainkan juga jumlah rangsangan yang setiap hari masuk ke dalam diri kita. Mata terus melihat. Telinga terus mendengar. Pikiran terus memproses. Tanpa disadari, semua itu menghabiskan energi batin sedikit demi sedikit. Fenomena ini sejalan dengan pandangan filsuf Arthur Schopenhauer dalam salah satu esainya yang bertajuk Parerga and Paralipomena, yang menyatakan bahwa kebisingan dan interupsi yang terus-menerus dialami manusia dapat menguras energi mental serta merusak kemampuan berpikir jernih.

​Saya pernah bertanya kepada diri sendiri, mengapa ada hari-hari ketika pekerjaan tidak terlalu banyak, tetapi tubuh tetap terasa letih. Setelah mencoba memperhatikan lebih dalam, saya menemukan bahwa rasa lelah itu sering kali tidak berasal dari aktivitas fisik, melainkan dari padatnya isi kepala.

​Terlalu banyak informasi ternyata dapat membuat batin kehilangan ruang untuk bernapas.

Baca...  Harmoni Spiritual Tiga Agama: Makna Ramadan, Paskah, dan Nyepi

​Kita hidup di zaman ketika mengetahui segala sesuatu dianggap sebagai keharusan. Kita merasa perlu mengikuti setiap berita, memahami setiap peristiwa, dan menanggapi setiap perdebatan. Padahal tidak semua hal yang terjadi di luar sana benar-benar perlu dibawa masuk ke dalam diri.

​Kesadaran memiliki kapasitas. Ia bukan ruang tanpa batas.

​Dalam tradisi pemikiran Islam, masalah kelelahan batin akibat stimulus luar ini juga telah lama dikaji. Imam Al-Ghazali dalam kitab monumental Ihya Ulumuddin mengingatkan bahwa kalbu manusia ibarat cermin yang orisinalnya jernih, namun dapat menjadi buram dan gelap akibat terlalu banyak menyerap perkara duniawi yang tidak penting. Menurutnya, kesehatan jiwa sangat bergantung pada kemampuan seseorang dalam menyaring apa saja yang masuk ke dalam hatinya agar batin tidak terjebak dalam kegelisahan yang melelahkan.

​Setiap gambar yang kita lihat, setiap suara yang kita dengar, dan setiap emosi yang kita rasakan akan meninggalkan bekas. Satu demi satu mungkin tampak ringan. Namun, ketika terus menumpuk setiap hari, bekas-bekas itu dapat berubah menjadi beban yang sulit dijelaskan.

​Barangkali itulah sebabnya banyak orang merasa gelisah tanpa mengetahui penyebabnya. Bukan karena hidupnya buruk, melainkan karena kesadarannya tidak pernah diberi kesempatan untuk menjadi jernih kembali.

​Kita terbiasa membersihkan rumah ketika mulai berdebu. Kita mencuci pakaian ketika mulai kotor. Kita mandi setiap hari agar tubuh tetap segar.

​Tetapi, kapan terakhir kali kita membersihkan isi pikiran kita?

​Kapan terakhir kali kita sengaja mematikan layar, menjauh dari keramaian, lalu membiarkan batin beristirahat tanpa gangguan?

​Mungkin yang kita perlukan bukan tambahan informasi, melainkan keberanian untuk berhenti sejenak.

​Tidak semua berita harus kita baca.

Tidak semua video harus kita tonton.

Baca...  Ingatkan Anak Saya

Tidak semua pendapat harus kita tanggapi.

​Ada kalanya menjaga diri justru dimulai dengan memilih apa yang tidak kita izinkan masuk ke dalam kesadaran.

​Pada akhirnya, kelelahan zaman ini mungkin bukan karena tubuh bekerja terlalu keras, melainkan karena kesadaran kita terlalu lama dipenuhi oleh hal-hal yang sebenarnya tidak perlu.

​Barangkali, sebelum mencari cara untuk hidup lebih tenang, kita perlu belajar kembali satu keterampilan sederhana yang mulai terlupakan: menyaring apa yang masuk melalui mata dan telinga, lalu menyediakan ruang sunyi agar diri kita dapat bernapas kembali.

1 posts

About author
Penulis
Articles
Related posts
EsaiKeislamanSejarah

Menjemput Berkah di Gerbang Jam’iyah: Menghidupkan Kembali Askese Spiritual Wasiat Kiai As’ad

12 Mins read
Dalam konstelasi sejarah peradaban Islam Nusantara, khususnya dalam bentang garis linimasa Nahdlatul Ulama (NU), nama al-Maghfurlah KHR. As’ad Syamsul Arifin bukan sekadar…
EsaiKeislaman

Keikhlasan dan Keberkahan Al-Ajurumiyah

3 Mins read
Dalam tradisi intelektual Islam, sebuah karya tulis tidak hanya dinilai dari kedalaman isinya atau keindahan bahasanya, melainkan dari kedalaman niat sang penulis…
EsaiKeislamanKisahSejarah

Menapaki Jejak Agung Sayyidul Ayyam: Transformasi Sejarah, Teologi, dan Eksistensi Hari Jum’at

6 Mins read
Bagi seorang Muslim, waktu bukanlah sekadar perputaran jarum jam yang dingin atau pergantian siang dan malam yang mekanis. Waktu adalah hamparan sakral…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *