Membicarakan sejarah Arab pra-Islam sering kali membuat pikiran kita melayang pada padang pasir yang statis. Namun, dalam karyanya yang bertajuk “Islam Öncesi Güney ve Kuzey Arabistan”, Mahmut Kelpetin mengajak kita membedah realitas yang jauh lebih dinamis dan terstruktur di wilayah Yaman. Melalui Bab 1, kita diajak memahami bahwa sebelum fajar Islam menyingsing, wilayah ini telah menjadi rumah bagi kerajaan-kerajaan besar yang memiliki sistem politik dan ekonomi yang sangat maju.
Kekuatan Ekonomi dan Diplomasi Mainliler
Perjalanan sejarah ini dimulai dengan Mainliler, sebuah kelompok yang memegang peran vital dalam stabilitas politik dan ekonomi Yaman. Mereka bukan sekadar penghuni wilayah tersebut, melainkan penguasa strategis yang mengendalikan urat nadi perdagangan antar-daerah. Kelpetin mencatat bahwa keberhasilan mereka berakar pada sistem pemerintahan yang terorganisir, yang mampu membangun infrastruktur pendukung bagi aktivitas pertanian dan perdagangan. Tidak berhenti di situ, Mainliler juga aktif menjalin interaksi dengan bangsa asing, sebuah langkah diplomasi yang memperkokoh posisi mereka di kancah regional. Pemahaman atas stabilitas yang mereka ciptakan menjadi pondasi penting untuk melihat latar belakang sosial yang nantinya memengaruhi penyebaran ajaran Islam.
Inovasi Irigasi dari Sebililer
Beralih dari Mainliler, kita bertemu dengan Sebililer, kelompok yang pengaruhnya tak kalah signifikan dalam sejarah Yaman. Mereka dikenal sebagai masyarakat yang sangat efisien dalam mengelola sumber daya alam. Salah satu warisan terbesarnya adalah kemampuan mengembangkan infrastruktur irigasi canggih yang menjadi tulang punggung sektor pertanian mereka. Kelpetin menekankan bahwa Sebililer tidak hanya berperan sebagai penguasa lokal, tetapi juga menjadi agen budaya yang membentuk tradisi masyarakat Arab kala itu. Melalui pengelolaan yang apik ini, Sebililer memberikan gambaran tentang struktur kekuasaan yang mapan jauh sebelum kedatangan ajaran Nabi Muhammad SAW.
Jembatan Antar-Benua: Katabanlilar dan Hadramutlular
Kerajaan Katabanlilar membawa kita pada perspektif yang lebih luas. Mereka dikenal sebagai penguasa wilayah strategis yang menghubungkan jazirah Arab dengan Afrika dan India melalui jalur perdagangan yang mereka kembangkan. Di balik kemakmuran dagang tersebut, Katabanlilar memiliki sistem pemerintahan yang stabil dan kemampuan mengelola irigasi yang mumpuni. Mereka pun menjalin hubungan diplomatik yang kuat dengan kerajaan tetangga, sembari menyumbangkan warisan seni dan arsitektur yang memperkaya budaya lokal.
Senada dengan itu, Hadramutlular juga muncul sebagai aktor penting berkat posisi geografis dan kekayaan alamnya. Seperti tetangga mereka, Hadramutlular mengelola jalur perdagangan internasional yang vital menuju Afrika dan India. Kelpetin menyoroti bahwa sistem pemerintahan mereka yang terstruktur dan sistem irigasi yang canggih mampu menjaga stabilitas sosial dalam waktu yang lama. Interaksi mereka dengan berbagai suku menjadikan wilayah ini sebagai pusat kebudayaan dan tradisi yang kaya.
Era Himyeliler: Menjelang Transisi Baru
Terakhir, kita melihat peran Himyeliler, kelompok yang memegang kendali atas perdagangan rempah-rempah dan barang berharga lainnya. Dengan sistem pemerintahan yang efisien, mereka mampu mempertahankan kekuasaan dan mengembangkan infrastruktur sosial yang mendukung kehidupan masyarakat luas. Kelpetin menguraikan bahwa interaksi kompleks yang dibangun oleh Himyeliler dengan kerajaan-kerajaan lain menciptakan dinamika politik yang menjadi konteks penting bagi sejarah pra-Islam.
Melalui penelusuran terhadap kerajaan-kerajaan di Arab Selatan ini, kita dapat melihat bahwa Islam tidak hadir di ruang hampa. Kondisi sosial, politik, dan ekonomi yang telah dibentuk oleh Mainliler hingga Himyeliler menjadi latar belakang esensial yang memengaruhi transisi besar menuju era baru yang dibawa oleh ajaran Nabi Muhammad SAW.

