EsaiOpini

Trump Klaim Iran Menyerah: Retorika Kemenangan atau Realitas Geopolitik?

1 Mins read

Oleh: Dr. Emaridial Ulza, MA

(Akademisi Associate Professor Uhamka, Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Hubungan Luar Negeri, Anggota Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional Majelis Ulama Indonesia)

Pernyataan  Donald Trump dalam unggahan di platform Truth Social, yang menyebut Iran sebagai “ The Loser of the Middle East” dan menggambarkan Iran sudah “menyerah” kepada negara-negara tetangganya, tidak menganggambarkan situasi geopolitik yang sedang terjadi.  Emaridial Ulza menyebut pernyataan tersebut tidak lebih dari sekadar retorika politik dan bukan gambaran nyata dari Timur Tengah saat pertempuran berkecamuk.

Donald Trump memiliki kebiasaan komunikasi mengambil kemenangan sebagai pesan pertama untuk mencoba menekan lawan secara psikologis” ujar  Emaridial Ulza.  Pernyataan Donald Trump mengatakan Iran “telah meminta maaf dan menyerah” kepada negara  tetangga setelah serangan AS dan Israel, dan bahkan menyebut bahwa Iran bukanlah Pengganggu Timur Tengah, melainkan Pecundang Timur Tengah. Serta memberikan ancaman  Iran akan menghadapi “pukulan sangat keras,”, membuka kemungkinan penargetan wilayah atau kelompok yang sebelumnya tidak masuk dalam target.

Menurut Emaridial Ulza pernyataan tersebut  penuh kontradiksi yang menunjukan bahwa situasi di lapangan dalam agenda perang  kemungkinan sangat kompleks dan Amerika dalam keadaan terdesak.

Ia juga menambahkan bahwa dalam  banyak situasi perang atau konflik internasional deklarasi kemenangan sepihak biasanya digunakan sebagai bagian dari strategi negosiasi untuk membangun opini publik.  Pola ini sudah berulang kali terlihat: dari negosiasi dagang dengan Tiongkok, krisis Korea Utara, hingga konflik-konflik sebelumnya di kawasan yang sama. Klaim bahwa Iran “telah menyerah” hampir pasti merupakan framing untuk konsumsi domestik membangun narasi triumfalis yang ia butuhkan untuk rakyatnya dan juga dunia, bukan deskripsi akurat atas kondisi di lapangan.

Baca...  Fenomena No Viral No Justice: Keadilan Negara vs Derita Rakyat

“Deklarasi kemenangan di media sosial bukanlah perdamaian. Dalam banyak kasus sejarah, retorika semacam ini justru dapat memperpanjang siklus eskalasi konflik, Apalagi ditambah dengan tidak ikut sertanya negara sekutu seperti UK atau juga spanyol menyusul jerman yang tidak akan terlibat langsung dalam perang ini memperkuat bahwa Trump butuh negosiasi” kata Emaridial.

Amerika Terdesak begitu juga Iran perlu ada penengah dan Indonesia bisa menjadi bagian penting dengan menggalang pertemuan melalui OKI atau juga dengan negara  Timur Tengah lain sebagai salah satu negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia.

Indonesia dalam posisi berada di Board of Peace bentukan Trump dan juga Indonesia bagian dari BRICS bisa menjadi penghubung walaupun tidak secara langsung minimal niat baik Presiden Prabowo sedikit mengurangi keteganggan dengan segala konsekuensi yang didapatkan.

2528 posts

About author
Kuliah Al Islam - Mencerdaskan dan Mencerahkan
Articles
Related posts
KATA KITAOpiniSejarah

Spanyol, Palestina, dan Misi Kemanusiaan di Panggung Dunia

4 Mins read
Dunia sepak bola malam itu tidak hanya menyaksikan bergulirnya si kulit bundar di atas rumput hijau, tetapi juga menyaksikan sebuah drama geopolitik…
Opini

Antara Rp300 Triliun dan Rp6 Juta: Kisah Dua Dunia di Balik MBG

3 Mins read
​Ada momen ketika sebuah bangsa berhenti sejenak, menarik napas, lalu bertanya pada dirinya sendiri: apa yang sebenarnya sedang terjadi? Demonstrasi bertajuk #MenujuIndonesiaBangkrut…
OpiniPolitik

Menggugat Alibi Stunting dalam Makan Bergizi Gratis: Sebuah Kritik Kebijakan yang Irasional

5 Mins read
Kebijakan publik yang ideal lahir dari rahim objektivitas teknokratik, bukan dari syahwat politik yang dipaksakan. Ketika sebuah program nasional bernilai ratusan triliun…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *