Manusia merupakan makhluk paling sempurna yang diciptakan oleh Allah SWT. Kesempurnaan manusia dibandingkan dengan makhluk Allah yang lain terletak pada akal dan hawa nafsu yang dimilikinya.
Dalam Al-Qur’an diterangkan bahwa manusia berasal dari tanah yang pada akhirnya membentuk segumpal daging. Allah SWT berfirman:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ ۚ ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍ ۖ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَۗ فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَۗ
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (yang berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 12-14).
Karena manusia pada dasarnya diciptakan dari tanah yang merupakan material alam, maka sifat-sifat lahiriah seorang manusia mengandung kekuatan alam sebagaimana makhluk hidup yang lain. Manusia saling membutuhkan dan saling bergantung dengan alam serta lingkungannya.
Tidak hanya bergantung, aktivitas yang dilakukan manusia juga memengaruhi lingkungan sekitar. Namun, tak ada yang lebih baik daripada bergantung kepada Allah SWT semata, Sang Pencipta alam semesta dan Yang Maha Kuasa.
Sebagai makhluk Allah yang paling sempurna, manusia tetaplah insan yang pada sifat dasarnya saling membutuhkan antara satu sama lain. Menurut Aristoteles, seorang filsuf klasik, manusia adalah zoon politikon, yaitu makhluk yang pada kodratnya selalu ingin bergaul dan berkumpul dengan sesamanya.
Bahkan dalam menghadapi dirinya sendiri pun, ketika diliputi perasaan kecewa, gelisah, sakit hati, rapuh, dan sebagainya, manusia membutuhkan orang lain untuk mencari jalan keluar dari masalah tersebut. Seseorang yang tepercaya dan dengan setia mendengarkan keluh kesahnya, dialah yang sering disebut dengan sahabat.
Bersahabat dengan manusia merupakan suatu keadaan yang menunjukkan bahwa itulah hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Menurut sosiolog Soerjono Soekanto (2012), di dalam diri manusia pada dasarnya terdapat hasrat untuk menjadi satu dengan manusia lain dan menyatu dengan lingkungan alamnya. Namun, hal wajar dalam kehidupan bersosial—seperti pergesekan kecil yang memicu renggangnya persahabatan—sering kali terjadi.
Manusia tidak hanya mendapatkan berbagai ujian kehidupan, tetapi juga menerima berbagai kenikmatan. Kenikmatan terbesar manusia adalah dengan diturunkannya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dan petunjuk ke jalan kebenaran (QS. Al-Baqarah [2]: 185).
Kesadaran atas keagungan Al-Qur’an harus selalu ada dalam jiwa setiap manusia. Selain dianjurkan untuk dibaca dan dipahami, Al-Qur’an juga harus diikuti dengan langkah nyata, yakni dengan menerapkan isinya dalam realitas kehidupan sehari-hari.
Menjadi sahabat Al-Qur’an memerlukan perjuangan dengan cara membacanya setiap hari. Upaya pendekatan tersebut harus dilakukan secara intensif agar terbangun kemampuan memahami dan mengamalkannya, sehingga melekatlah jiwa Qurani dalam pribadi tersebut. Ahli tafsir terkemuka, M. Quraish Shihab (2007) dalam Tafsir Al-Misbah, menjelaskan bahwa berinteraksi dengan Al-Qur’an tidak boleh hanya sekadar menyentuh aspek kognitif (bacaan), melainkan harus menyentuh aspek afektif dan psikomotorik, di mana nilai-nilainya diinternalisasikan ke dalam akhlak sehari-hari.
Jika seseorang telah dekat dengan Al-Qur’an, semua beban akan terasa ringan, hidup terasa aman, dan yang pasti akan mendapatkan keberkahan.
Mereka tidak pernah merasa hampa dalam menjalani kehidupan sehari-hari karena Al-Qur’an telah berada di dekatnya. Al-Qur’an mengandung sumber kekuatan dan ketenangan sehingga pembacanya merasa aman dalam kondisi apa pun, sesuai dengan firman Allah bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram (QS. Ar-Ra’d [13]: 28).
Jadilah pembaca Al-Qur’an sehingga kita dapat merasakan adanya jalinan persahabatan yang erat dengan Al-Qur’an. Rasulullah SAW menyebut orang yang menjalin kedekatan dengan Al-Qur’an sebagai shahibul Qur’an.
Seseorang dikatakan dekat dengan Al-Qur’an ketika ia selalu membacanya di setiap waktu. Mereka meluangkan waktu lebih banyak dengan Al-Qur’an karena bagi mereka, hidup terasa hampa jika tidak membaca Al-Qur’an.
Ketika seseorang dekat dengan Al-Qur’an, maka Al-Qur’an akan membawa syafaat baginya. Sebagaimana dalam hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ
“Bacalah Al-Qur’an, maka sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat dengan memberi syafaat kepada para pembacanya.” (HR. Muslim).
Kita dapat membedakan antara seseorang yang dekat dengan Al-Qur’an dan yang tidak. Bagi mereka yang dekat dengan Al-Qur’an, kehidupan sehari-harinya tidak akan terasa berat.
Mereka selalu merasa tenang di mana pun berada. Sebab, interaksi yang benar dengan Al-Qur’an akan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Begitu pula sebaliknya, kesalahan dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an—seperti berpaling dan mengabaikannya—akan menjauhkan diri dari Allah SWT, bahkan dapat mendatangkan kerugian di akhirat.
Menjadi Shahibul Qur’an memang berat karena targetnya adalah surga Allah SWT. Surga tersebut adalah surga Firdaus yang merupakan surga tertinggi.
Kenikmatan surga tidak mungkin bisa didapatkan dengan santai dan upaya yang ringan. Artinya, butuh perjuangan dan keistiqamahan. Terlebih jika kita mengistimewakan Al-Qur’an, maka kita pun akan diistimewakan oleh Allah SWT.
Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia saja, melainkan sebagai petunjuk bagi seluruh alam semesta. Shahibul Qur’an, yang merupakan orang yang dekat dengan Al-Qur’an, adalah mereka yang siap menyerap petunjuk dalam Al-Qur’an serta menerapkannya.
Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Oleh karena itu, jangan meremehkan upaya sekecil apa pun yang kita lakukan dalam mendekatkan diri dengan Al-Qur’an.
Marilah kita terus bersemangat untuk mendapatkan rida Allah SWT dengan mulai bertekad membangun hubungan kedekatan dengan Al-Qur’an. Dari proses interaksi tersebut, akan lahir keimanan yang lebih mendalam terhadap Al-Qur’an. Semakin kita dekat dan bersahabat dengan Al-Qur’an, semakin pula kita mendapatkan ketenangan dan kemudahan dalam menghadapi berbagai ujian serta cobaan dalam kehidupan.

