Kata qashas merupakan bentuk jamak dari kata qishah. Secara bahasa, qishah berarti suatu cerita, hikayat, atau riwayat. Kata tersebut berasal dari kata al-qash yang berarti menelusuri atsar (jejak).
Sementara itu, menurut Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy (2002), qishah ialah pemberitaan masa lalu tentang suatu umat serta menerangkan jejak peninggalan kaum terdahulu. Maka, qashas Al-Qur’an dapat dipahami sebagai kejadian, cerita, atau kisah-kisah di dalam Al-Qur’an yang menceritakan hal-ihwal umat-umat terdahulu.
Pakar ulumul Qur’an, Manna’ al-Qhattan (2006), membagi kisah dalam Al-Qur’an menjadi tiga macam: kisah para nabi, kisah peristiwa atau orang-orang yang belum tentu nabi (seperti Ashabul Kahfi dan Luqman al-Hakim), serta kisah peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah SAW.
Kisah-kisah dalam Al-Qur’an cukup dominan; hampir setiap surah menyajikannya dalam bentuk narasi yang kuat. Sebagaimana dalam Surah Al-Baqarah yang menceritakan tentang kisah pencarian sapi betina berwarna kuning keemasan guna mengungkap misteri pembunuhan seseorang pada masa Nabi Musa AS. Surah Ali ‘Imran menceritakan kisah keluarga Imran yang saleh. Surah Al-Ma’idah mengungkapkan kisah umat Nabi Isa AS yang meminta diturunkan makanan dari langit.
Selanjutnya, Surah Yusuf memaparkan perjalanan seorang hamba Allah yang saleh, mulai dari disingkirkan oleh saudaranya sendiri sampai akhirnya menjadi pemimpin agung yang ditaati oleh kaumnya. Surah An-Nahl menceritakan tentang kehidupan lebah sebagai analogi keteraturan. Surah Al-Isra’ menyajikan kisah Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Surah Al-Kahfi menceritakan tentang pemuda-pemuda yang keluar dari desa tempat tinggalnya demi menyelamatkan akidah, lalu ditidurkan oleh Allah di dalam sebuah gua selama kurang lebih 300 tahun syamsiyah (atau 309 tahun qamariyah).
Ada pula Surah Maryam yang mengandung kisah kelahiran Nabi Isa AS, Surah Ar-Rum yang mengisahkan proses kehancuran sebuah negara dan kemenangan Islam, Surah Al-Munafiqun yang mengungkapkan intrik orang-orang munafik ketika Islam hampir mencapai kemenangan, serta Surah At-Takatsur yang mengandung kisah orang-orang kaya yang suka menumpuk harta kekayaannya. Tentu masih banyak kisah-kisah inspiratif lainnya dalam Al-Qur’an.
Peristiwa dan kisah-kisah tersebut merupakan fakta yang benar-benar terjadi, bukan angan-angan belaka, mitos, ataupun rekayasa manusia. Mengenai hal ini, M. Quraish Shihab (2013) dalam tafsirnya menegaskan bahwa kisah-kisah Al-Qur’an bukanlah karya fiksi, melainkan kebenaran mutlak (al-haq) yang sengaja dipaparkan untuk mendidik jiwa manusia melalui teladan konkret.
Qashas dalam Al-Qur’an menjadi metode istimewa Allah SWT dalam membentuk umat yang berakal dan berintelektual tinggi. Kisah-kisah ini memiliki daya sentuh yang kuat bagi jiwa, sehingga mampu menggugah kesadaran atas keimanan dan perbuatan yang sesuai dengan syariat Islam.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nisa’ ayat 82 yang artinya:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”
Dalam Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah yang disusun oleh Markaz Ta’dzhim Al-Qur’an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz (2020), diterangkan bahwa Allah memerintahkan hamba-Nya untuk mentadaburi Al-Qur’an. Makna dari tafsir tersebut adalah:
”Apakah mereka tidak mentadaburi wahyu yang diturunkan kepadamu sehingga mereka tidak berpaling darinya? Karena dengan mentadaburinya, akan tersingkap bukti-bukti kebenarannya dan bersinar cahayanya. Barang siapa yang mengamati makna-makna Al-Qur’an, niscaya dia akan mendapatinya penuh keselarasan, kebenaran, dan kesempurnaan. Andaikata Al-Qur’an ini bukan dari sisi Allah, niscaya mereka akan mendapatinya saling bertentangan dan penuh dengan kedustaan serta kekurangan.”
Mari sejenak kita membaca Al-Qur’an dan perhatikan ayat demi ayatnya. Begitu banyak bagian dalam Al-Qur’an yang mengisahkan umat terdahulu agar dapat dijadikan ibrah (pelajaran) bagi umat manusia kini. Sebagaimana dikisahkan dalam Surah Luqman yang berisi nasihat Luqman kepada anaknya. Dari kisah tersebut, kita bisa mengambil pelajaran bahwa mempersekutukan Allah adalah kezaliman yang besar.
Selain itu, kisah tersebut mengajarkan bahwa di atas ilmu ada adab atau akhlak. Artinya, adab dalam berilmu itu sangatlah penting. Kita juga dilarang keras menyakiti hati kedua orang tua, bahkan untuk sekadar mengucapkan kata “ah” kepada keduanya. Sebab, jika kita menyakiti ataupun mengecewakan hati orang tua sekecil apa pun, Allah tidak akan meridai kita. Seperti yang telah kita ketahui bersama, rida Allah tergantung pada rida kedua orang tua.
Sebaliknya, Surah Al-Lahab menceritakan tentang balasan bagi musuh dakwah Islam, yaitu paman Nabi Muhammad yang bernama Abu Lahab beserta istrinya di akhirat kelak. Mereka memfitnah, menentang ajaran Islam, bahkan menjelek-jelekkan nama baik Nabi Muhammad SAW. Dari kisah tragis tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa pelaku fitnah pasti akan celaka. Setiap orang harus menjauhi sifat takabur, iri, dan dengki, sebab Allah akan membalas perbuatan manusia sesuai dengan apa yang mereka lakukan selama hidup di dunia.
Begitu pula kita sebagai umat Nabi Muhammad—umat terbaik yang telah diberi berbagai keagungan oleh Allah SWT, yang salah satu karunia terbesarnya adalah diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup—sangat dianjurkan untuk mentadaburi setiap ayat yang kita baca. Dengan demikian, kita bisa mengambil ibrah dan hikmah dari setiap kejadian umat terdahulu untuk menjalani kehidupan di masa kini.
Tidak hanya itu, pengaplikasian pesan moral qashas Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari akan menumbuhkan kehidupan yang tenteram, sejahtera, dan rukun dalam menjaga persatuan antar-sesama. Kita akan menjadi pribadi yang lebih berhati-hati dan berpikir dua kali sebelum melakukan suatu perbuatan (berpikir sebelum bertindak). Alhasil, perbuatan yang kita lakukan tidak akan berdampak buruk bagi diri sendiri maupun orang lain.

