Esai

Narasi Bung Hatta dan Generasi Muda di Masa Depan

4 Mins read

KULIAHALISLAM.COM — Pada hari Senin, 2 Juli 2018, pemerhati kebudayaan Indra Tranggono menulis sebuah opini di surat kabar Kompas (halaman 7) dengan judul “Menarasikan Tokoh-Tokoh Bangsa”. Di awal paragrafnya, Tranggono mengutarakan bahwa nasionalisme kini menjadi “menu” yang kurang diminati oleh kalangan anak muda. Nasionalisme masih termarjinalisasi di atas “meja prasmanan” yang penuh sesak oleh nilai, gagasan, paham, filsafat, maupun ideologi yang berbasis pada agama, materi, kapital, dan pasar (Tranggono, 2018).

​Fenomena yang mengkhawatirkan ini dapat kita lihat dengan jelas dalam dunia pendidikan. Banyak sekolah berorientasi nasionalisme yang kini kusut, surut, bahkan gulung tikar. Kondisi ini berbanding terbalik dengan sekolah-sekolah berorientasi keagamaan yang justru semakin menguat. Di sisi lain, sekolah negeri yang semestinya menjadi garda terdepan dalam mengembangkan nilai-nilai kebangsaan, tidak sedikit yang justru terpapar paham radikal.

​Lebih lanjut, kehidupan berbangsa dan bernegara yang nirnasionalisme berpotensi melahirkan generasi muda yang “tunanasionalisme”. Mereka bersekolah, kuliah, lulus, mendapat ijazah, lalu bekerja hanya dengan cita-cita menimbun harta dan menjadi kaya raya, hingga lupa pada keadaan di kanan-kirinya.

​Mereka menjadi steril terhadap persoalan-persoalan kebangsaan seperti ketidakadilan, kemiskinan, dan kebodohan. Mereka mungkin pintar secara akademis, tetapi tidak lantip (memiliki orientasi nilai sosial) dan tidak waskito (memiliki orientasi nilai ideologis-spiritual).

​Bahaya terbesar bagi suatu bangsa adalah ketika mereka lupa pada sejarahnya sendiri. Bangsa yang ahistoris tidak lebih dari sekadar kumpulan besar manusia tanpa orientasi nilai. Bangsa seperti itu akan sangat mudah dikelilingi dan dikuasai oleh kekuatan asing yang mengincar kekayaan negeri. Dalam konteks inilah, inisiasi sekolah kebangsaan menjadi sangat krusial.

Refleksi Generasi Muda

​Tulisan Indra Tranggono di atas seyogianya menjadi bahan refleksi bagi kita sebagai generasi muda—penerus dan calon pemimpin bangsa Indonesia di masa depan. Kita dituntut untuk terus peduli dan bersemangat dalam memaknai setiap aktivitas di keluarga maupun masyarakat. Salah satu caranya adalah dengan menyelami kembali perjalanan sejarah tokoh-tokoh bangsa dalam memperjuangkan eksistensi kemerdekaan Indonesia.

Baca...  Menakar Riyadhah: Nalar Etis dan Sufistik ala Kiai Zuhri Zaini

​Sungguh sebuah kesedihan yang mendalam jika hari ini kita bersikap cuek dan lupa akan jasa-jasa para pendahulu, khususnya para founding fathers yang telah merumuskan dasar-dasar negara kita.

​Sang Proklamator RI, Bung Karno, pernah berpesan melalui pidato terkenalnya, “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah!” Beliau juga menegaskan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.

​Di sisi lain, sudah menjadi kesadaran naluriah kita dalam beragama untuk mengetahui sejarah perjuangan para nabi dan tokoh-tokoh yang membawa risalah demi menegakkan agama Islam. Begitu pula dalam konteks bernegara; kita sudah sepatutnya memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap sejarah perjuangan tokoh-tokoh bangsa seperti Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, Ki Hajar Dewantara, dan para pejuang lainnya.

​Melalui tulisan ini, penulis ingin menarasikan kembali perjalanan hidup, kontribusi, karakter pribadi, serta karya-karya untuk negara Indonesia dari sang proklamator sekaligus Wakil Presiden pertama Indonesia: Bung Hatta.

Mengenal Mohammad Hatta

​Dr. (H.C.) Drs. H. Mohammad Hatta—lahir dengan nama Mohammad Athar dan populer dengan sapaan Bung Hatta—dilahirkan di Fort de Kock (sekarang Bukittinggi, Sumatera Barat) pada 12 Agustus 1902, dan wafat di Jakarta pada 14 Maret 1980 pada usia 77 tahun (Wikipedia, 2026). Beliau adalah seorang pejuang, negarawan, ekonom, dan Wakil Presiden Indonesia yang pertama.

​Bersama Ir. Soekarno, beliau memainkan peranan sentral dalam memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda, yang puncaknya ditandai dengan Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Dalam karier politiknya, beliau juga pernah menjabat sebagai Perdana Menteri dalam Kabinet Hatta I, Hatta II, dan RIS. Beliau kemudian mundur dari jabatan Wakil Presiden pada tahun 1956 karena berselisih paham politik dengan Presiden Soekarno. Atas sumbangsih pemikirannya di sektor ekonomi kerakyatan, Hatta juga dinobatkan sebagai Bapak Koperasi Indonesia (Wikipedia, 2026).

Baca...  Remaja Problematik, Tanggung Jawab Siapa?

​Mohammad Hatta lahir dari pasangan Muhammad Djamil dan Siti Saleha yang berasal dari Minangkabau. Ayahnya merupakan keturunan ulama tarekat di Batuhampar, dekat Payakumbuh. Sementara itu, ibunya berasal dari keluarga pedagang di Bukittinggi.

​Nama “Athar” diambil dari bahasa Arab yang berarti “harum”. Beliau merupakan anak kedua setelah kakaknya, Rafiah, yang lahir pada tahun 1900. Sejak kecil, Hatta telah dididik dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat melaksanakan ajaran agama Islam. Kakeknya dari pihak ayah, Abdurahman Batuhampar, dikenal sebagai ulama pendiri Surau Batuhampar—satu dari sedikit surau yang selamat pasca-Perang Padri (Wikipedia, 2026).

Bung Hatta dan Pemuda

​Dalam salah satu pidato monumentalnya di Lapangan Ikada pada 11 September 1944, Bung Hatta memberikan pesan yang sangat mendalam bagi generasi muda:

“Pemuda Indonesia, harapan bangsa. Perhatikanlah teladan yang telah diberikan oleh prajurit Nippon itu, yang berjuang dan meninggal untuk keperluan tanah airnya. Tanamlah semangat keprajuritan dalam dadamu, bulatkanlah tekadmu untuk berjuang buat kebebasan bangsamu di kemudian hari. Bersiaplah engkau untuk menyusun barisan pertahanan tanah air.” (Hatta, 1944, dalam Kumpulan Karangan hlm. 204).

 

​Sejarah pergerakan selama berpuluh-puluh tahun telah menunjukkan bahwa pemuda selalu bersedia berjuang di baris depan dan menjadi pelopor perjuangan bangsa. Namun, Bung Hatta mengingatkan bahwa pemuda Indonesia tidak akan menemukan sejarah tanah airnya hanya dari daun lontar yang ditulis dengan aksara lama atau dari kitab tambo yang kertasnya telah menguning.

​Sejarah tanah air dapat dirasakan dari derasnya desakan darah yang mengalir dalam tubuh. Detak darah itulah yang akan senantiasa memperingatkan kewajiban pemuda sebagai putra bangsa untuk berjuang mati-matian di masa depan. Oleh karena itu, beliau menganjurkan kepada seluruh pemuda dan pemudi untuk memberikan hadiah terbaik bagi tanah air, yaitu segenap jiwa dan raga.

Baca...  Apakah Solusi Masalah Kesehatan Selalu Obat ?

​Tidak ada pengorbanan yang akan hilang percuma. Pengorbanan hari ini adalah fondasi untuk membangun tanah air di masa depan agar menjadi lebih besar dan lebih makmur daripada masa lampau (Hatta, 1944, hlm. 204).

​Dalam sejarah setiap bangsa yang lama tertindas, pemudalah yang selalu menjadi pelopor dan perintis jalan menuju perbaikan nasib bangsa. Suratan hidup pemuda Indonesia dalam lembaran sejarah masa lalu telah ditulis dengan tinta emas. Mulai dari para pemuda di sekolah dokter Jakarta (STOVIA) yang membuka jalan gerakan kebangsaan melalui Budi Utomo, hingga para pemuda di luar negeri yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia yang secara lantang menuntut Indonesia merdeka.

​Pemuda adalah tulang punggung bangsa, hati nurani bangsa, pembawa perubahan ke arah yang lebih baik, serta calon pemegang tampuk pimpinan umat dan negara di masa depan.

​Wahai pemuda dan pemudi Indonesia,

Wahai pemuda generasi pemimpin bangsa,

Bersatulah dan hiduplah dengan semangat gotong royong.

Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.

Indonesia Merdeka hingga akhir zaman!

Referensi Badan Teks (Sitasi):

  • ​Hatta, M. (1944). Kumpulan Karangan: Bab Pemuda. (Pidato di Lapangan Ikada, 11 September 1944), hlm. 204.
  • ​Tranggono, I. (2018). Menarasikan Tokoh-Tokoh Bangsa. Opini Harian Kompas, 2 Juli 2018, hlm. 7.
  • ​Wikipedia. (2026). Mohammad Hatta. Diakses dari laman artikel biografi Mohammad Hatta.

Profil Penulis:

Naskah ini ditulis oleh Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.

103 posts

About author
Alumni Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang. Sekarang menempuh studi Magister Pengkajian Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis adalah Redaktur Pelaksana Kuliah Al-Islam
Articles
Related posts
EsaiFilsafatTokoh

Teo-Humanisme Pluralistik dalam Diskursus Filsafat Gus Dur

6 Mins read
Diskursus mengenai pemikiran Islam modern di Indonesia sering kali terjebak dalam dikotomi rigid antara tradisi teks klasik (turats) dan modernitas Barat. Namun,…
Esai

Mengapa Manusia Modern Mudah Merasa Lelah?

2 Mins read
​Setiap hari kita berusaha menjaga kesehatan tubuh. Kita memilih makanan yang bergizi, berolahraga, dan beristirahat ketika merasa lelah. Namun, ada satu hal…
EsaiKeislamanSejarah

Menjemput Berkah di Gerbang Jam’iyah: Menghidupkan Kembali Askese Spiritual Wasiat Kiai As’ad

12 Mins read
Dalam konstelasi sejarah peradaban Islam Nusantara, khususnya dalam bentang garis linimasa Nahdlatul Ulama (NU), nama al-Maghfurlah KHR. As’ad Syamsul Arifin bukan sekadar…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *