KeislamanOpini

Mengapa Orang Paling Alim Bisa Jadi Predator Paling Berbahaya?

4 Mins read

Pesantren adalah rumah ilmu, rumah doa, dan rumah pembentukan akhlak—institusi yang selama berabad-abad menjadi tulang punggung peradaban Islam di Nusantara. Namun, bayangkan: di balik dinding pesantren yang sama, di mana lantunan ayat suci bergema setiap malam, lebih dari 50 santriwati menjadi korban pencabulan oleh orang yang justru mereka panggil kiai. Kejahatan ini bukan sekadar dosa seksual biasa. Ini adalah pengkhianatan berlapis: terhadap tubuh korban, terhadap kepercayaan keluarga, terhadap institusi Islam, dan terhadap Allah itu sendiri.

​Yang membuat kasus oknum kiai dari Kabupaten Pati, Jawa Tengah ini begitu menggemparkan bukan hanya jumlah korbannya—lebih dari 50 santriwati—tetapi pola kejahatannya yang sistematis dan berlangsung di waktu yang paling suci dalam tradisi pesantren: malam hari. Saat santri seharusnya bertahajud, berdoa, dan mendekatkan diri kepada Allah, justru di sanalah predator bersorban itu melancarkan aksinya.

​Peringatan Al-Qur’an yang Tak Pernah Salah Sasaran

​Al-Qur’an, jauh sebelum kasus ini viral, telah berbicara tegas. Surah Al-Hajj ayat 9–10 menggambarkan sosok yang “memalingkan lehernya dengan congkak untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah”. Bagi sosok itu, Allah menjanjikan dua hal: kehinaan di dunia dan azab yang membakar di akhirat.

​ثَانِيَ عِطْفِهٖ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ لَهٗ فِى الدُّنْيَا خِزْيٌ وَّنُذِيْقُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ عَذَابَ الْحَرِيْقِ

​ذٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدٰكَ وَاَنَّ اللّٰهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِ

“Sambil memalingkan lehernya (dengan congkak) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Baginya kehinaan di dunia dan pada hari Kiamat Kami mencicipkan kepadanya azab neraka yang membakar. (Akan dikatakan kepadanya,) ‘Hal itu disebabkan apa yang dahulu kamu lakukan dan sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.'” (Q.S. Al-Hajj: 9–10)

 

​Redaksi Arab tsaniya ‘ithfih yang berarti “memalingkan leher dengan sombong” bukan sekadar gambaran fisik. Ini adalah gambaran psikologis seseorang yang merasa berwenang secara agama, merasa ilmunya cukup, lalu dengan kesombongan itulah ia justru menyesatkan orang lain. Tidak ada profil yang lebih pas untuk menggambarkan pelaku kekerasan seksual berlabel ulama.

Baca...  Nabi Sya'ya Dalam Riwayat Ibnu Katsir

​Apa Kata Para Ulama Tafsir?

​Para ulama tafsir telah menjabarkan makna dari ayat tersebut dengan sangat mendalam:

  • Ibnu Katsir: Menafsirkan bahwa “kehinaan di dunia” yang dijanjikan ayat ini berwujud terbongkarnya kedok pelaku di hadapan manusia dan jatuhnya hukuman yang menimpa mereka secara nyata.
  • Al-Qurthubi: Memperinci lebih jauh bahwa khizy (kehinaan) mencakup dua dimensi sekaligus: kehinaan sosial berupa aib yang terbongkar, dan hukuman fisik berupa sanksi hukum. Dengan kata lain, proses penangkapan, persidangan, hingga vonis penjara yang kini menimpa pelaku adalah bagian dari sunnatullah yang telah Allah tetapkan dalam firman-Nya.
  • Al-Thabari: Menegaskan bahwa “menyesatkan dari jalan Allah” bukan hanya soal kesesatan akidah, melainkan segala tindakan yang menjauhkan manusia dari apa yang Allah ridai. Korban kekerasan seksual di pesantren datang untuk semakin dekat kepada Allah, namun justru mereka dijauhkan dari-Nya, dirampas ketenangan, kepercayaan, dan rasa aman mereka dalam beragama. Itulah penyesatan dalam pengertian yang paling luas.
  • Al-Razi: Menambahkan argumen teologis yang paling menohok: semakin tinggi posisi seseorang dalam hierarki agama, semakin berat pertanggungjawaban moralnya, dan semakin keras azabnya ketika ia mengkhianati posisi tersebut. Kiai yang menzalimi santrinya bukan hanya pelaku kejahatan biasa; ia adalah pengkhianat ganda, kepada hukum manusia dan kepada Allah yang telah memberinya kepercayaan.

​Ilmu Tanpa Takwa Sama Saja dengan Senjata di Tangan Setan

​Bagaimana bisa seseorang yang hafal ayat suci, paham hukum Islam, dan dihormati sebagai ulama justru menjadi predator seksual? Jawabannya tersimpan dalam Surah Al-Hajj ayat 3–4 yang menggambarkan akar kejahatan ini: seseorang yang berbicara tentang agama “tanpa ilmu yang benar” sambil mengikuti setan. Ilmu agama yang dimiliki pelaku hanyalah aksesori intelektual; ia tidak disertai takwa, sehingga ia menjadi kendaraan setan.

  • Secara Psikologis: Ada jurang lebar antara kapasitas kognitif dan regulasi emosi. Memahami pasal hukum atau menghafal ayat suci adalah aktivitas intelektual di tingkat neokorteks (neocortex). Namun, dorongan seksual predatoris berakar dari sistem limbik yang tidak otomatis jinak hanya karena seseorang bergelar kiai. Ilmu menjadi aksesori luar, sementara penyimpangan tumbuh di ruang gelap yang tak tersentuh etika.
  • Secara Sosiologis: Gelar “orang suci” menciptakan asimetri kekuasaan yang berbahaya. Efek Halo (Halo Effect) membuat publik berasumsi bahwa keahlian di bidang agama berarti kesempurnaan moral di segala aspek, dan celah inilah yang dieksploitasi predator. Ditambah dengan impunitas sosial: gelar dan reputasi berubah menjadi benteng, korban takut melapor karena dianggap melawan “orang besar”, dan lingkungan cenderung menutup mata demi menjaga nama institusi.
Baca...  Tanda-tanda Munafik dalam Islam: Ciri, Bahaya, dan Balasannya

​Ancaman Khusus bagi Pemimpin yang Berkhianat

​وَعَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ : مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيْهِ اللهُ رَعِيَّةً يَمُوْتُ يَوْمَ يَمُوْتُ وَهُوَ غَاشُ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

​Rasulullah ﷺ bersabda dengan tegas: “Tidak ada seorang hamba pun yang dipercayakan Allah untuk memelihara umat-Nya, lalu ia meninggal dalam keadaan menipu umat yang dipercayakan kepadanya, kecuali Allah akan mengharamkan surga baginya.” (HR. Muttafaq ‘alaih)

 

​Kiai yang mencabuli santrinya telah melakukan penipuan dalam bentuk paling kotor: memanfaatkan kepercayaan yang diberikan untuk merusak, bukan membangun.

​Lima Pelajaran yang Tidak Bisa Diabaikan

  1. Otoritas agama adalah amanah, bukan kekuasaan. Semakin besar gelar seseorang, semakin besar pula potensi kerusakannya jika ia mengkhianati posisi tersebut.
  2. Ilmu tanpa takwa adalah senjata di tangan setan. Pelaku menggunakan pengetahuan agamanya untuk memanipulasi korban, membuat mereka patuh, dan menutup mulut mereka dengan ancaman dosa.
  3. Kehinaan di dunia adalah kehendak Allah. Proses hukum yang menghukum pelaku adalah manifestasi nyata dari khizy fi al-dunya yang Allah janjikan. Mendukung proses hukum adalah tindakan yang selaras dengan kehendak Allah.
  4. Korban berhak atas keadilan, di dunia dan akhirat. Allah tidak menganiaya hamba-hamba-Nya; penderitaan korban tidak akan pernah diabaikan-Nya. Namun, ini bukan alasan untuk tidak memperjuangkan keadilan di dunia, justru sebaliknya.
  5. Reformasi sistem, bukan sekadar menghukum satu pelaku. Selama lembaga pesantren tidak memiliki mekanisme perlindungan yang transparan dan selama korban masih takut berbicara, kejahatan serupa akan terus terulang.

​Diam adalah Bagian dari Kezaliman

​Al-Qur’an Surah Al-Hajj ayat 9 bukan sekadar teks kuno yang indah dibaca. Ia adalah peringatan hidup yang kembali membuktikan relevansinya dalam kasus oknum kiai Pati: jubah agama, gelar kiai, dan hafalan ilmu tidak menghindarkan seseorang dari jerat dosa dan hukum. Justru sebaliknya, semakin tinggi posisi, semakin berat pertanggungjawaban.

Baca...  Di Manakah Allah 'Azza Wajalla?

​Kasus ini bukan hanya urusan satu pelaku. Ini adalah cermin dari sistem yang terlalu lama melindungi otoritas tanpa membangun perlindungan bagi yang lemah. Selama pesantren tidak punya mekanisme pengawasan yang transparan, selama korban masih dicap “melawan orang suci” ketika berani bersuara, dan selama masyarakat menutup mata demi nama institusi, kejahatan ini akan terus berulang.

​Pesan terbesar Al-Hajj ayat 9 dan 10 bukan hanya untuk pelaku, tetapi untuk kita semua: diam di hadapan kezaliman adalah bagian dari kezaliman itu sendiri. Dan memastikan keadilan bagi korban adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar.

11 posts

About author
Mahasiswa S1 Universitas PTIQ Jakarta, Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir dan Santri PonPes eLSiQ Tabarakarrahman.
Articles
Related posts
Opini

Sejarah & Evolusi Iluminasi Manuskrip Al-Qur'an Kuno

5 Mins read
Sejak dahulu kala, salinan teks Al-Qur’an telah dihiasi oleh berbagai bentuk ornamen dan hiasan. Tujuan utamanya adalah untuk memisahkan bagian-bagian teks, mempermudah…
Opini

Bahaya Menilai Tanpa Konteks di Media Sosial

3 Mins read
​Di era digital sekarang, satu klip video berdurasi beberapa detik dapat tersebar lebih cepat daripada penjelasan panjang yang diperlukan untuk klarifikasi. Media…
Keislaman

Rahasia Kafaah dalam Pernikahan: Kunci Keluarga Sakinah

3 Mins read
Tiada satu pun ciptaan Allah yang hampa tanpa makna. Setiap yang hadir di alam semesta menyimpan hikmah yang halus dan indah, meski…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
BeritaSUMU

Peluang Kerja di Jerman: SUMU & eGrad.id Sosialisasi Ausbildung