KeislamanOpini

Ketika Peradaban Menjauhi Lentera Ilmu: Refleksi atas Peringatan dalam Kitab Nashaihul Ibad

5 Mins read

Dalam panggung sejarah manusia, keberadaan penuntun moral dan pemikir spiritual selalu menjadi pilar yang menjaga keseimbangan peradaban. Dalam tradisi Islam, kedudukan tersebut diampu secara mulia oleh para ulama dan ahli fikih. Mereka bukan sekadar penghafal teks-teks keagamaan, melainkan warisan para nabi yang bertugas menyalakan pelita di tengah kegelapan zamannya.

Namun, dinamika zaman kerap membawa manusia pada titik keangkuhan intelektual dan krisis spiritual, di mana petuah kebenaran dianggap sebagai beban, dan keberadaan para penjaga ilmu justru dihindari.

Fenomena menjauhnya masyarakat dari para ulama telah diprediksi secara tajam oleh Rasulullah Muhammad SAW. Peringatan ini diabadikan secara anggun oleh Syekh Nawawi al-Bantani dalam karya fenomenalnya, kitab “Nashaihul Ibad”. Sebuah matan hadis yang dinukilkan dalam kitab tersebut menegaskan:

قال النبي : سيأتي زمان على أمتي يفرون من العلماء والفقهاء فيبتليهم الله بثلاث بليات أولاها يرفع الله البركة من كسبهم، والثانية يسلط الله تعالى عليهم سلطانا ظالما، . والثالثة يخرجون من الدنيا بغير إيمان

نصائح العباد، ص: ٤

Pernyataan kenabian ini menggambarkan sebuah realitas sosial yang memprihatinkan: “Akan datang suatu masa pada umatku, mereka lari menjauh dari para ulama dan ahli fikih. Maka Allah akan menguji mereka dengan tiga macam musibah. Pertama, Allah mencabut keberkahan dari rezeki dan usaha mereka. Kedua, Allah menguasakan atas mereka seorang penguasa yang zalim. Ketiga, mereka keluar dari dunia tanpa membawa iman.”

Peringatan ini bukanlah sekadar ancaman eskatologis yang menakutkan, melainkan sebuah analisis sosiologis dan spiritual yang amat mendalam. Ketika suatu masyarakat secara kolektif memilih untuk mengasingkan diri dari bimbingan ilmu dan kearifan, maka akan terjadi keretakan tatanan hidup yang berdampak pada dimensi ekonomi, politik, hingga titik akhir keberadaan manusia itu sendiri.

Ulama sebagai Lentera Moralitas dan Penjaga Peradaban

Untuk memahami kedalaman peringatan ini, kita perlu terlebih dahulu merenungi hakikat keberadaan ulama di tengah masyarakat. Ulama yang sejati adalah gabungan antara kedalaman ilmu dan ketakwaan yang nyata. Mereka berfungsi sebagai kompas moral yang mengingatkan manusia ketika melenceng dari nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan. Dalam dialektika kehidupan sosial, ulama bertindak sebagai penyeimbang antara ambisi keduniaan yang tak terbatas dan kesadaran spiritual yang menenangkan.

Namun, era modern sering kali melahirkan kecenderungan baru yang mengikis peran vital tersebut. Arus rasionalisme mentah, materialisme hiperaktif, serta gelombang informasi digital yang tidak tersaring telah menciptakan rasa percaya diri palsu pada manusia modern.

Baca...  Mengenal Sekilas Apa Itu Kajian Living Qur’an

Banyak orang merasa tidak lagi membutuhkan bimbingan ulama karena menganggap pengetahuan dapat diakses secara instan melalui jemari tangan. Ilmu keagamaan yang mendalam dan membutuhkan kesabaran dalam menuntutnya, sering ditukar dengan potongan-potongan konten instan yang dangkal.

Proses lari atau menjauh dari ulama tidak selalu berarti melarikan diri secara fisik. Dalam konteks zamani, menjauh dari ulama dapat berwujud sikap meremehkan fatwa, enggan mendengarkan nasihat kebaikan, hingga mengabaikan etika dan sanad keilmuan. Ketika rasa hormat terhadap otoritas moral ini luntur, maka masyarakat telah membuka pintu bagi datangnya tiga musibah besar yang ditegaskan dalam hadis tersebut.

Sirnanya Keberkahan di Tengah Kelimpahan Materi

Musibah pertama yang diancamkan adalah diangkatnya keberkahan dari rezeki dan usaha manusia. Keberkahan adalah sebuah konsep spiritual yang melampaui sekadar akumulasi angka atau hitungan matematis.

Berkah berarti bertambahnya kebaikan dan ketenangan dalam sesuatu yang dimiliki. Rezeki yang berkah, sekecil apa pun jumlahnya, mampu mencukupi kebutuhan, menghadirkan kedamaian dalam keluarga, serta menggerakkan pemiliknya untuk berbuat kebaikan bagi sesama.

Ketika masyarakat menjauhi ulama, orientasi hidup mereka cenderung bergeser sepenuhnya menjadi materialistis tanpa kendali etis. Tanpa bimbingan fikih dan moralitas, aktivitas ekonomi kerap kehilangan ruh keadilannya.

Praktik kecurangan, eksploitasi, suap, dan pengabaian hak sesama dianggap sebagai hal yang lumrah demi mencapai keuntungan finansial semata. Hasil dari usaha seperti ini mungkin menghasilkan tumpukan kekayaan yang berlimpah, tetapi kekayaan tersebut telah kehilangan jiwanya.

Di sinilah letak hilangnya keberkahan. Harta yang berlimpah tidak lagi menghadirkan ketenangan, melainkan kecemasan yang terus-menerus. Uang yang terkumpul justru habis untuk biaya penyelesaian konflik, penyakit spiritual, atau gaya hidup konsumtif yang tak pernah memuaskan dahaga jiwa.

Masyarakat menjadi kaya secara finansial, namun miskin secara eksistensial. Kehilangan keberkahan adalah krisis ketika manusia memiliki segalanya untuk hidup, tetapi kehilangan alasan dan kedamaian untuk menikmati hidup itu sendiri.

Lahirnya Kepemimpinan yang Mengabaikan Keadilan

Musibah kedua yang muncul sebagai konsekuensi logis dari pengabaian ilmu adalah hadirnya kepemimpinan yang zalim. Hubungan antara kondisi moral masyarakat dan karakter pemimpinnya adalah hubungan yang sangat erat. Pemimpin yang lahir dari masyarakat yang mengabaikan nilai-nilai kebenaran dan bimbingan moral cenderung menjadi cerminan dari masyarakat itu sendiri.

Baca...  Menemukan Keberadaan Allah Menurut Quraish Shihab

Ketika ulama tidak lagi didengar dan nasihat keagamaan dianggap angin lalu, maka panggung politik dan kekuasaan akan kehilangan pengawas moral yang independen. Kekuasaan yang berjalan tanpa bimbingan etik akan dengan mudah tergelincir menjadi oligarki atau tirani yang menindas. Para penguasa tidak lagi memandang jabatan sebagai amanah suci untuk melayani rakyat, melainkan sebagai instrumen untuk menumpuk kekayaan dan mempertahankan dominasi.

Penguasa yang zalim dalam konteks ini bukan hanya sosok tirani yang menggunakan kekerasan fisik, tetapi juga sistem kepemimpinan yang manipulatif, merusak tatanan hukum, mengabaikan hak-hak rakyat kecil, serta merusak lingkungan demi kepentingan segelintir elit.

Ketika kezaliman menjadi hal yang terinstitusi, rakyatlah yang paling menanggung penderitaannya. Ini adalah buah pahit dari keputusan masyarakat yang membiarkan kehidupan bernegara dan berbangsa berjalan tanpa bimbingan moral yang diajarkan oleh para ulama sejati.

Krisis Spiritual dan Tragedi Keretakan Iman

Musibah ketiga merupakan bentuk ancaman yang paling tragis dan menakutkan bagi seorang mukmin, yaitu keluar dari dunia atau meninggal dunia tanpa membawa iman. Jika dua musibah sebelumnya berdampak pada kehidupan duniawi berupa krisis ekonomi dan sosial-politik, maka musibah ketiga ini berdampak langsung pada nasib abadi manusia di akhirat kelak.

Iman bukanlah sesuatu yang statis, melainkan seperti tanaman yang membutuhkan siraman ilmu, pemeliharaan moral, dan lingkungan spiritual yang sehat. Ulama berperan sebagai penjaga tatanan spiritual tersebut. Melalui pengajaran, keteladanan, dan doa-doa mereka, iman masyarakat terus dipelihara dan diperbarui. Menjauhi ulama berarti memutus aliran nutrisi spiritual yang sangat dibutuhkan oleh jiwa manusia.

Ketika seseorang mengasingkan diri dari majelis ilmu dan bimbingan ulama, hatinya secara bertahap akan mengeras. Kemaksiatan yang dilakukan berulang kali tanpa adanya teguran moral akan menumpuk menjadi noda hitam yang menutupi nurani.

Lama-kelamaan, rasa takut kepada Tuhan memudar, keraguan terhadap kebenaran agama mulai merayap, dan kebanggaan atas kemaksiatan mulai tumbuh. Proses perusakan iman ini sering kali berjalan sangat halus tanpa disadari oleh pelakunya.

Pada titik akhir kehidupan, ketika sakaratulmaut menghampiri, kondisi batin seseorang sangat ditentukan oleh apa yang biasa ia pupuk sepanjang hidupnya. Seseorang yang terbiasa menolak bimbingan kebenaran, menyombongkan diri dari ilmu, dan membiarkan hatinya diselimuti kegelapan duniawi, akan kesulitan untuk mengucapkan kalimat tauhid di penghujung napasnya. Kehilangan iman di akhir hayat adalah kebangkrutan tertinggi yang membuat seluruh pencapaian duniawi menjadi tidak bernilai sama sekali.

Baca...  Tadabbur Surat At-Tahrim Ayat 6: Makna dan Dampaknya Menurut Quraish Shihab

Membangun Kembali Jembatan Penghormatan pada Ulama

Merenungi ancaman tiga musibah dalam kitab “Nashaihul Ibad” ini seharusnya tidak membuat kita tenggelam dalam ketakutan yang pasif, melainkan mendorong lahirnya kesadaran untuk melakukan perbaikan secara mendasar. Peringatan Rasulullah SAW ini adalah cermin jernih bagi kita untuk melihat sejauh mana hubungan kita dengan para pewaris nabi telah terjalin.

Langkah awal untuk memperbaiki tatanan ini adalah dengan membangun kembali kesadaran akan pentingnya ilmu yang bersambung sanadnya. Kita perlu menanamkan rasa rendah hati intelektual bahwa sebanyak apa pun literatur atau informasi yang kita baca, bimbingan langsung dari guru dan ulama yang bertakwa tetap tidak dapat tergantikan. Keberkahan ilmu hanya dapat diraih melalui etika penuntut ilmu, yaitu rasa hormat, kerendahan hati, dan kesetiaan untuk mengamalkannya.

Selain itu, penting bagi masyarakat untuk dapat membedakan antara ulama sejati yang memegang teguh nilai kebenaran dengan pihak-pihak yang hanya memanfaatkan atribut keagamaan demi kepentingan pragmatis. Ulama sejati adalah mereka yang menghadirkan kedamaian, mengajak pada ketakwaan, serta berani menyuarakan kebenaran di hadapan kezaliman. Mendekat kepada mereka adalah sarana untuk menjaga kebersihan jiwa dan meluruskan arah perjalanan hidup.

Syahdan. Kehidupan dunia yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian ini membutuhkan pegangan yang kokoh. Petuah yang tertuang dalam kitab “Nashaihul Ibad” karya Syekh Nawawi al-Bantani kembali mengingatkan kita akan hakikat keselamatan hidup. Menjauhi para ulama bukan sekadar tindakan individual yang tanpa konsekuensi, melainkan sebuah awal dari keruntuhan sosial, krisis moral, dan bencana spiritual.

Dengan merawat keberkahan rezeki melalui tatanan ekonomi yang jujur, memperjuangkan keadilan sosial demi melahirkan kepemimpinan yang amanah, serta terus memelihara kelanjutan iman hingga hembusan nafas terakhir, kita dapat menghindarkan diri dari tiga bencana besar tersebut. Menjadikan ulama sebagai sahabat dalam berpikir, pembimbing dalam melangkah, dan lentera dalam kegelapan adalah kunci utama untuk meraih keselamatan di dunia hingga alam keabadian kelak. Wallahu a’lam bisshawab.

295 posts

About author
Penulis Lepas dan Pemerhati Isu Sosial Politik.
Articles
Related posts
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Tamparan Logika Al-Ghazali terhadap Kesombongan Nasab Dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin

8 Mins read
Di dalam labirin sejarah kemanusiaan, salah satu ilusi paling tegar yang terus bertahan melewati berbagai zaman adalah anggapan bahwa martabat seseorang secara…
KeislamanOpini

Trinitas Eksistensial: Menemukan Inti Kehidupan di Tengah Kebisingan Dunia

4 Mins read
Pertanyaan tentang apa yang paling berharga dalam hidup sering kali terjebak dalam jebakan konsumerisme dan obsesi pencapaian material. Ketika manusia dihadapkan pada…
KeislamanOpini

Membedah Nasihat Mus’ab bin Az-Zubair tentang Hakikat Ilmu Dalam Kitab Minhajul Muta’allim

5 Mins read
Dalam relung sejarah peradaban Islam, pengajaran bukan sekadar transfer informasi teknis, melainkan sebuah pewarisan nilai dan penataan orientasi hidup. Salah satu petuah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *