KeislamanOpini

Membedah Nasihat Mus’ab bin Az-Zubair tentang Hakikat Ilmu Dalam Kitab Minhajul Muta’allim

5 Mins read

Dalam relung sejarah peradaban Islam, pengajaran bukan sekadar transfer informasi teknis, melainkan sebuah pewarisan nilai dan penataan orientasi hidup. Salah satu petuah monumental yang terus bergema melintasi zaman terekam indah dalam kitab “Minhajul Muta’allim” karya Imam Az-Zarnuji pada halaman sebelas.

Kitab yang menjadi peta jalan bagi para penuntut ilmu tersebut mengabadikan perkataan seorang tokoh besar, Mus’ab bin Az-Zubair, saat beliau memberikan wasiat mendasar kepada anak-anaknya:

وقال مصعب بن الزبير لبنيه تعلموا العلم، فإن كان لكم مال؛ كان العلم لكم جمالا، وإن لم يكن لكم مال؛ كان العلم لكم مالا

منهاج المتعلم، ص: ۱۱

Mus’ab bin Az-Zubair berkata kepada anak-anaknya: “Pelajarilah ilmu. Jika kalian memiliki harta, maka ilmu akan menjadi perhiasan (kemuliaan) bagi kalian. Dan jika kalian tidak memiliki harta, maka ilmu akan menjadi harta bagi kalian.”

Kalimat ini singkat, namun secara epistemologis dan sosiologis menyimpan kejelasan visi yang luar biasa. Mus’ab bin Az-Zubair (seorang pemimpin, ksatria, sekaligus putra dari sahabat mulia Az-Zubair bin Al-Awwam) memahami betul dinamika roda kehidupan duniawi.

Dalam kalimat pendek tersebut, beliau memetakan hubungan dialektis antara ilmu, harta, dan martabat kemanusiaan. Petuah ini menyibak rahasia mengapa ilmu merupakan investasi tertinggi yang tak pernah tergerus oleh fluktuasi zaman, inflasi ekonomi, maupun perubahan status sosial.

Dialektika Harta dan Ketiadaannya dalam Pandangan Orang Tua

Ketika seorang ayah yang bijak berbicara kepada anak-anaknya mengenai masa depan, kecenderungan awam kerap tertuju pada peninggalan materi: tanah yang luas, emas yang melimpah, atau kekuasaan politik yang kokoh.

Namun, Mus’ab bin Az-Zubair tidak mengawali petuah kepengasuhannya dengan membicarakan pembagian warisan materi. Beliau menyadari kekeliruan mendasar yang sering menimpa banyak keluarga kaya maupun kurang mampu, yaitu menganggap harta sebagai tujuan akhir dan pelindung utama kehidupan.

Harta benda, dalam segala bentuknya, memiliki watak dasar yang rapuh dan mengalir. Ia bisa datang menggebu-gebu di masa mudik keberuntungan, namun dapat lenyap seketika oleh bencana, krisis, politik yang berganti, atau ketidakmampuan mengelolanya. Menggantungkan kehormatan dan kelangsungan hidup semata-mata pada ketersediaan materi adalah bentuk kepasrahan pada ketidakpastian.

Oleh karena itu, instruksi pertama Mus’ab adalah sebuah perintah aktif: “Pelajarilah ilmu.” Kata “ta’allamul ilma” di sini berkedudukan sebagai fondasi universal. Perintah ini tidak bersyarat pada kondisi finansial keluarga.

Baca...  Kiprah Tokoh Penyebar Islam di Jawa Pra Walisongo: Syekh Maulana Akbar

Baik sang anak dilahirkan di dalam istana yang serba ada maupun di dalam gubuk yang bersahaja, menuntut ilmu adalah kewajiban eksistensial. Melalui perintah ini, Mus’ab meletakkan ilmu sebagai kurikulum utama kehidupan yang melampaui sekat-sekat kelas sosial.

Ilmu Sebagai Jamal: Mahkota Penyempurna Kekayaan

Bagian pertama dari argumen Mus’ab menyoroti kondisi ideal di mana seseorang dianugerahi kelimpahan materi: “Jika kalian memiliki harta, maka ilmu akan menjadi perhiasan (kemuliaan) bagi kalian.”

Pernyataan ini membongkar sebuah fenomena sosial yang sering kita saksikan sepanjang sejarah manusia. Harta tanpa ilmu dan kebijaksanaan cenderung melahirkan kesombongan yang vulgar, kebiasaan konsumtif yang picik, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Orang kaya yang fakir ilmu sering kali hanya dipandang karena uangnya, bukan karena kepribadian atau kontribusinya. Ketika uangnya habis, sirna pulalah rasa hormat masyarakat kepadanya. Dalam kondisi ini, harta justru menjadi beban keangkuhan yang memperlihatkan kekosongan jiwa pemiliknya.

Di sinilah ilmu berperan sebagai jamal: sebuah keindahan, perhiasan, dan keagungan yang sejati. Ilmu mendisiplinkan harta. Ia memberi arah ke mana modal harus dialokasikan, bagaimana kekayaan didistribusikan untuk kemaslahatan publik, dan bagaimana seorang yang berharta menyikapi dunia dengan rendah hati.

Ketika ilmu menyatu dengan kelimpahan materi, lahir sosok-sosok seperti Utsman bin Affan atau Abdurrahman bin Auf, figur-figur yang menjadikan kekayaan sebagai sarana peradaban, bukan sekadar pemuas ego pribadi.

Ilmu mengubah kekayaan fisik menjadi kehormatan intelektual dan spiritual. Kekayaan memberi seseorang pengaruh fisik, tetapi ilmu memberi seseorang wibawa moral. Tanpa ilmu, perhiasan materi hanyalah hiasan luar yang menutupi ketidaktahuan.

Namun, dengan ilmu, harta bertransformasi menjadi alat untuk menanam kebaikan yang dampaknya melampaui usia pemiliknya. Maka bagi orang kaya, ilmu adalah penyeimbang, pemurni, sekaligus peningkat derajat dari sekadar “orang beruang” menjadi “manusia bermartabat”.

Ilmu Sebagai Maal: Modal Abadi dalam Keterbatasan

Namun, kehidupan tidak pernah menjamin kelestarian kekayaan. Mus’ab bin Az-Zubair secara realistis mengantisipasi kemungkinan terburuk yang bisa menimpa anak-cucunya di kemudian hari: “Dan jika kalian tidak memiliki harta, maka ilmu akan menjadi harta bagi kalian.”

Inilah puncak elastisitas ilmu pengetahuan. Ketika garis takdir menempatkan seseorang dalam kondisi kemelaratan atau kehilangan seluruh aset ekonominya, ilmu bertindak sebagai modal independen yang tak dapat disita oleh siapa pun.

Baca...  Metode Ijtihad Imam Asy-Syatibi

Harta fisik dapat dicuri, dibakar, atau disita oleh penguasa yang zalim. Tetapi ilmu yang telah menancap dalam akal dan dada seseorang adalah properti abadi yang melekat pada eksistensi pemiliknya.

Dalam konteks kemiskinan materi, ilmu berfungsi sebagai maal, sumber daya, modal, dan alat pertahanan diri. Secara praktis, ilmu memberi seseorang kemampuan untuk memecahkan masalah, menciptakan karya, menawarkan keahlian, dan membuka pintu-pintu rezeki baru yang tidak dapat diakses oleh mereka yang tidak berpendidikan.

Ilmu menjadi alat mobilitas sosial yang paling demokratis. Sejarah Islam mencatat betapa banyak mantan budak atau masyarakat kelas bawah (mawali) yang berkat penguasaan ilmu agama dan sains, naik derajat menjadi ulama besar, hakim agung, dan penasihat istana yang ditaati oleh para penguasa.

Lebih mendalam dari sekadar nilai ekonomi, ilmu sebagai “harta” bagi mereka yang kurang mampu memberikan kecukupan jiwa (qana’ah) dan rasa percaya diri yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Orang yang berilmu tetapi miskin harta tidak akan pernah merasa hina di hadapan orang kaya, karena ia membawa peradaban di dalam kepalanya. Ia tidak perlu mengemis untuk mendapatkan kehormatan, sebab ilmunya secara otomatis memancarkan daya tarik yang membuat masyarakat mendatanginya untuk meminta nasihat, petunjuk, dan solusi atas problematika kehidupan.

Relevansi Petuah Mus’ab dalam Era Disrupsi Modern

Meski diucapkan berabad-abad yang lalu dalam konteks masyarakat klasik, petuah Mus’ab bin Az-Zubair dalam kitab “Minhajul Muta’allim” ini memiliki relevansi yang sangat tajam bagi masyarakat modern di abad ke-21.

Kita hidup di era ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy), di mana aset terpenting sebuah bangsa dan individu bukan lagi sumber daya alam atau tumpukan modal fisik, melainkan kapasitas intelektual, kreativitas, dan penguasaan sains.

Hari ini, kita menyaksikan bagaimana kekayaan materi dapat lenyap dalam semalam akibat krisis finansial, perubahan teknologi yang mendadak, atau disrupsi industri. Keterampilan dan keahlian yang relevan (yang merupakan wujud nyata dari ilmu) adalah satu-satunya daya tawar yang tersisa agar manusia tetap bertahan hidup.

Baca...  Kisah di Balik Tanda Waqaf dalam Mushaf Al-Qur’an

Bagi mereka yang berada di puncak kemakmuran modern, nasihat ini menjadi teguran keras terhadap budaya pamer (flexing) dan hedonisme yang dangkal. Kekayaan materi yang dipamerkan tanpa landasan keilmuan dan etika hanya menghasilkan riuh rendah di media sosial tanpa meninggalkan jejak peradaban yang bermakna.

Sebaliknya, ketika orang-orang berpunya menginvestasikan kekayaan mereka untuk ilmu (baik untuk diri sendiri maupun untuk membangun lembaga pendidikan), maka kekayaan itu bertransformasi menjadi perhiasan peradaban yang sejati.

Bagi mereka yang berada dalam himpitan ekonomi, kalimat Mus’ab ini adalah oase harapan dan bahan bakar perjuangan. Ia menegaskan bahwa kemiskinan materi bukanlah akhir dari segalanya, selama akses terhadap ilmu pengetahuan terus diperjuangkan.

Pendidikan dan literasi tetap menjadi senjata paling ampuh untuk memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi. Ilmu adalah investasi dengan tingkat pengembalian paling pasti; ia tidak pernah bangkrut dan tidak pernah terdevaluasi oleh waktu.

Syahdan. Petuah Mus’ab bin Az-Zubair yang diabadikan dalam kitab “Minhajul Muta’allim” adalah sebuah panggilan untuk melakukan reorientasi atas makna keberhasilan hidup. Beliau mengajarkan kepada kita bahwa ilmu pengetahuan memiliki fungsi ganda yang saling melengkapi: ia adalah estetik (jamal) sekaligus utilitarian (maal). Ia memperindah mereka yang sudah berada di atas dan mengangkat mereka yang sedang berada di bawah.

Pesan ini menuntut kita (baik sebagai individu, orang tua, maupun pendidik) untuk meletakkan pencarian ilmu pada hierarki tertinggi dalam perencanaan kehidupan. Jangan sampai kita menghabiskan seluruh energi kehidupan hanya untuk mengumpulkan harta yang kelak akan kita tinggalkan, seraya melupakan ilmu yang akan terus menemani kita hingga ke liang lahat dan kehidupan setelahnya.

Ilmu adalah satu-satunya perhiasan yang tidak membuat pemiliknya menjadi sombong dan satu-satunya harta yang tidak membuat pemiliknya takut kehilangan. Mengajarkan nasihat Mus’ab bin Az-Zubair kepada generasi mendatang berarti membekali mereka dengan perisai terbaik untuk menghadapi segala kemungkinan zaman: membuat mereka tetap anggun dan bermanfaat saat kaya, serta membuat mereka tetap terhormat dan berdaya saat miskin. Di situlah letak kemuliaan hakiki manusia yang tak tergoyahkan. Wallahu a’lam bisshawab.

295 posts

About author
Penulis Lepas dan Pemerhati Isu Sosial Politik.
Articles
Related posts
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Tamparan Logika Al-Ghazali terhadap Kesombongan Nasab Dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin

8 Mins read
Di dalam labirin sejarah kemanusiaan, salah satu ilusi paling tegar yang terus bertahan melewati berbagai zaman adalah anggapan bahwa martabat seseorang secara…
KeislamanOpini

Trinitas Eksistensial: Menemukan Inti Kehidupan di Tengah Kebisingan Dunia

4 Mins read
Pertanyaan tentang apa yang paling berharga dalam hidup sering kali terjebak dalam jebakan konsumerisme dan obsesi pencapaian material. Ketika manusia dihadapkan pada…
KeislamanOpini

Ketika Peradaban Menjauhi Lentera Ilmu: Refleksi atas Peringatan dalam Kitab Nashaihul Ibad

5 Mins read
Dalam panggung sejarah manusia, keberadaan penuntun moral dan pemikir spiritual selalu menjadi pilar yang menjaga keseimbangan peradaban. Dalam tradisi Islam, kedudukan tersebut…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *