KeislamanOpiniSejarah

Ketika Abdullah bin Mubarak Menjadikan Ilmu Sebagai Pelabuhan Terakhir Kehidupan

5 Mins read

Bayangkan sebuah kondisi ketika rahasia terbesar semesta mendadak tersibak di hadapan manusia. Sebuah kabar gaib turun dari langit, menyampaikan kepastian yang paling ditakuti sekaligus paling nyata: napas kehidupan akan terhenti saat matahari terbenam sore ini.

Apakah yang akan bergolak di dalam dada? Sebagian besar jiwa mungkin akan tenggelam dalam kepanikan yang luar biasa. Manusia akan berlarian mengejar bayang-bayang dunia yang tersisa, memeluk erat harta yang sebentar lagi menjadi tak berharga, atau meratapi setiap detik yang mengalir begitu cepat tanpa bisa ditahan.

Dalam ketakutan yang mencekam itu, lisan manusia umumnya akan menjeritkan permohonan untuk memutar kembali waktu. Ada dorongan kuat untuk bersujud tanpa henti, membagikan seluruh kekayaan kepada mereka yang membutuhkan, atau sekadar memohon ampunan atas segala janji yang terabaikan.

Manusia cenderung memandang kematian sebagai titik batas yang menuntut penyelesaian instan atas segala beban dosa. Kematian dilihat sebagai ancaman yang mengharuskan seseorang berganti jubah secara mendadak menjadi sosok yang amat saleh dalam hitungan jam.

Namun, sejarah mencatat sebuah jawaban yang sangat berbeda, sebuah kedalaman berpikir yang mendobrak nalar awam. Ketika pertanyaan mengerikan itu diajukan kepada seorang ulama besar bernama Abdullah bin Mubarak, mengenai apa yang akan beliau lakukan jika kabar kematian sore nanti sampai kepadanya, beliau tidak memilih untuk mengurung diri dalam ratapan.

Beliau juga tidak memilih untuk membagikan seluruh hartanya sampai habis dalam sekejap. Jawaban yang keluar dari lisan beliau sungguh menggetarkan jiwa: beliau memilih untuk berdiri dan melangkahkan kaki demi menuntut ilmu. Dikatakan:

ومما حكي : أنه قيل لعبد الله بن المبارك: لو أن الله تعالى أوحى إليك

أنك تموت العشية، فماذا تصنع اليوم؟ قال: أقوم وأطلب العلم، لأن الله تعالى أعطى لنبينا عليه الصلاة والسلام كل شيء ولم يأمره بطلب الزيادة، وأعطاه العلم وأمره بطلب الزيادة، لما مر

Artinya: “Dan diceritakan bahwasanya Abdullah bin Mubarak pernah ditanya, “Seandainya Allah memberikan wahyu kepadamu bahwa kamu akan mati sore ini, maka apa yang akan kamu lakukan?” Abdullah bin Mubarak menjawab, “Aku akan berdiri dan mencari ilmu, karena sesungguhnya Allah SWT memberikan kepada nabi kita segala sesuatu, akan tetapi Allah tidak memerintahkannya untuk mencari tambahan atau sesuatu yang lebih, dan Allah memberikan kepada Nabi Muhammad SAW ilmu dan Allah memerintahkannya untuk meminta atau mencari tambahan ilmu.”

Pilihan tersebut bukanlah sebuah sikap acuh tak acuh terhadap kematian, melainkan sebuah pemahaman yang amat dalam tentang hakikat keberadaan manusia. Bagi jiwa yang telah terikat dengan kebenaran, menuntut ilmu bukanlah sekadar aktivitas sampingan atau kewajiban masa muda yang selesai setelah mendapatkan gelar. Ilmu adalah napas dari jiwa itu sendiri.

Baca...  Perspektif Islam dalam Menyikapi Quarter Life Crisis

Ketika seorang hamba memilih untuk menghabiskan sisa waktunya di dunia dengan mengejar pemahaman akan kebenaran, ia sebenarnya sedang mempersembahkan ibadah tertinggi kepada Sang Pencipta.

Pengagungan Tertinggi Di Atas Segala Karunia

Alasan di balik keputusan Abdullah bin Mubarak memuat sebuah kebenaran mendasar yang sering terlewatkan oleh banyak orang. Dalam perenungannya yang mendalam, beliau menatap perjalanan hidup sosok tercinta, Nabi Muhammad.

Beliau mengamati betapa Sang Pencipta telah melimpahkan begitu banyak kemuliaan kepada utusan-Nya. Kepemimpinan yang adil, kedudukan yang tinggi, keindahan akhlak, hingga pengaruh yang menembus batas zaman, semuanya telah diberikan secara sempurna kepada sang nabi.

Akan tetapi, jika seluruh lembaran wahyu diteliti dengan cermat, ada sebuah fenomena yang sangat unik. Dari sekian banyak karunia megah yang telah digenggam oleh sang nabi, Sang Pencipta tidak pernah memerintahkan beliau untuk meminta tambahan atas kekayaan, kekuasaan, maupun usia. Hanya ada satu hal yang secara eksplisit diperintahkan untuk terus dimohonkan pertambahannya, yaitu ilmu pengetahuan.

Perintah untuk meminta pertambahan ilmu menunjukkan bahwa ilmu memiliki kedudukan yang sangat istimewa di mata Pemilik Semesta. Ilmu bukanlah sekadar sarana untuk bertahan hidup di dunia, melainkan wujud pencapaian spiritual tertinggi seorang hamba.

Segala bentuk kemewahan fisik akan hancur dimakan waktu, kepemimpinan akan berganti, dan jasad akan menyatu kembali dengan tanah. Namun, cahaya ilmu yang tertanam dalam jiwa akan terus memancar, melampaui batas-batas kehidupan duniawi.

Ketika Abdullah bin Mubarak memilih untuk menuntut ilmu di batas akhir usianya, beliau sedang menyelaraskan diri dengan prinsip utama tersebut. Beliau ingin mengakhiri perjalanan hidupnya dalam keadaan menjalankan perintah yang paling diagungkan oleh Sang Pencipta.

Berada dalam majelis ilmu pada detik-detik terakhir kehidupan adalah bentuk penghambaan yang paling murni, sebuah bukti bahwa jiwa tersebut masih haus akan kebenaran hingga napas terakhir berhembus.

Menuntut Ilmu Sebagai Bentuk Sujud Yang Tak Terputus

Sering kali terdapat pandangan yang keliru dalam memahami hierarki ibadah. Banyak yang menganggap bahwa ibadah hanyalah sebatas gerakan ritual fisik seperti ruku, sujud, dan pembacaan bait-bait doa.

Baca...  Sekaten Tradisi Maulid Keraton Yogyakarta

Sementara itu, kegiatan melangkahkan kaki menuju majelis ilmu, membaca buku, atau mendiskusikan kebenaran sering kali dianggap sebagai kegiatan duniawi yang terpisah dari kesucian ritual.

Kisah dalam kitab tersebut datang untuk meluruskan pandangan yang sempit ini. Menuntut ilmu sejatinya adalah fondasi dari seluruh bentuk peribadatan. Sujud yang dilakukan tanpa kejelasan ilmu hanya akan menjadi gerakan fisik tanpa jiwa.

Doa yang dipanjatkan tanpa pemahaman hanya akan menjadi deretan kata yang hampa. Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan ibadah, membuat setiap detakan jantung dan hembusan napas bernilai di hadapan Yang Mahakuasa.

Oleh karena itu, ketika seseorang memutuskan untuk mempelajari ilmu agama maupun kebenaran semesta di akhir hayatnya, ia sebenarnya sedang melakukan ritual sujud yang paling panjang.

Pikiran yang terus ditajamkan untuk memahami kehendak Sang Pencipta adalah wujud penyerahan diri yang sangat dalam. Akal yang digunakan untuk menggali kebaikan adalah bentuk rasa syukur atas karunia tertinggi yang membedakan manusia dari makhluk lainnya.

Meninggal dunia dalam keadaan mengejar ilmu berarti menghembuskan napas terakhir di atas jalan perjuangan. Ada janji mulia yang menaungi para pencari ilmu, di mana setiap langkah mereka dinaungi oleh penghormatan dari para penghuni langit.

Mengakhiri hidup dalam proses belajar adalah sebuah kemenangan besar, sebab jiwa tersebut dijemput oleh ajal bukan dalam keadaan lelah mengejar kenikmatan fana, melainkan dalam keadaan mendaki tangga menuju pemahaman yang lebih tinggi.

Menyemai Benih Abadi Di Batas Senja

Pelajaran berharga ini memberikan tamparan keras bagi cara pandang manusia modern yang kerap bersikap pragmatis. Banyak orang menunda untuk belajar dengan alasan usia yang tak lagi muda, sibuk dengan urusan pekerjaan, atau merasa bahwa ilmu tidak lagi memiliki nilai guna secara finansial. Ilmu sering kali hanya dihargai sejauh ia bisa ditukarkan dengan materi dan kedudukan sosial.

Sikap Abdullah bin Mubarak menghancurkan seluruh alasan pragmatis tersebut. Jika seseorang yang tahu bahwa dirinya akan meninggal beberapa jam lagi masih menganggap penting untuk belajar, maka tidak ada lagi alasan bagi orang yang masih memiliki rentang waktu panjang untuk bermalas-malasan. Nilai sebuah ilmu tidak terletak pada seberapa lama ilmu itu bisa dimanfaatkan di dunia, melainkan pada proses pencarian ilmu itu sendiri yang menyucikan jiwa.

Baca...  Mengenal Qira’at

Memulai mempelajari suatu hal yang baru di sore hari, meskipun ajal menjemput di malam harinya, bukanlah sebuah kesia-siaan. Pengetahuan yang diserap mungkin belum sempat diajarkan kepada orang lain atau diwujudkan dalam karya besar.

Namun, niat dan usaha yang dikerahkan untuk memahami kebenaran telah mencatat jiwa tersebut sebagai golongan pencari ilmu. Di sinilah letak keindahan nilai sebuah amal: yang dinilai oleh Sang Pencipta bukanlah garis akhir pencapaian, melainkan arah dan kesungguhan langkah kaki saat berjalan.

Ilmu yang dicari dengan keikhlasan di akhir hayat menjadi bukti bahwa manusia tersebut tidak pernah menyerah pada kebodohan hingga detik terakhir. Ia menolak untuk membiarkan pikirannya tumpul dan hatinya membatu. Ia memilih untuk menutup lembaran hidupnya sebagai seorang murid, seorang pembelajar yang senantiasa rendah hati di hadapan Mahaluasnya Pengetahuan Semesta.

Renungan Jiwa Di Ujung Perjalanan

Kisah singkat namun sarat makna dari kitab tersebut pada akhirnya mengajak setiap diri untuk bermeditasi secara mendalam tentang prioritas hidup. Jika kabar tentang batas usia itu sampai ke telinga kita hari ini, warisan apakah yang paling ingin kita pegang erat? Kejar-kejaran apakah yang ingin segera kita hentikan?

Kematian sebenarnya bukanlah peristiwa mendadak yang hanya terjadi di masa depan, melainkan kepastian yang terus berjalan mendekat di setiap detak jarum jam. Setiap senja yang menyapa adalah pengingat bahwa jatah waktu di bumi semakin berkurang. Pertanyaan yang diajukan kepada Abdullah bin Mubarak pada dasarnya adalah pertanyaan yang ditujukan kepada setiap manusia yang masih bernapas hari ini.

Menjadikan ilmu sebagai prioritas utama hingga ujung usia adalah sebuah bentuk kemerdekaan jiwa. Jiwa yang merdeka tidak lagi terikat oleh ketakutan akan kehilangan materi atau obsesi terhadap pengakuan sesama manusia. Jiwa tersebut hanya memiliki satu kerinduan: ingin kembali kepada Sang Pencipta dalam keadaan membawa hati yang terang oleh cahaya ilmu dan kebenaran.

Semoga senja yang kelak menyapa perjalanan hidup kita tidak mendapati kita dalam keadaan lengah atau tenggelam dalam penyesalan yang terlambat. Semoga kita termasuk ke dalam golongan jiwa-jiwa yang tetap berdiri tegak, melangkahkan kaki dengan penuh keyakinan, dan terus menggali ilmu hingga batas napas yang terakhir. Sebab di dalam pencarian itulah keabadian yang sejati menemukan bentuknya yang paling indah. Wallahu a’lam bisshawab.

295 posts

About author
Penulis Lepas dan Pemerhati Isu Sosial Politik.
Articles
Related posts
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Tamparan Logika Al-Ghazali terhadap Kesombongan Nasab Dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin

8 Mins read
Di dalam labirin sejarah kemanusiaan, salah satu ilusi paling tegar yang terus bertahan melewati berbagai zaman adalah anggapan bahwa martabat seseorang secara…
KeislamanOpini

Trinitas Eksistensial: Menemukan Inti Kehidupan di Tengah Kebisingan Dunia

4 Mins read
Pertanyaan tentang apa yang paling berharga dalam hidup sering kali terjebak dalam jebakan konsumerisme dan obsesi pencapaian material. Ketika manusia dihadapkan pada…
KeislamanOpini

Membedah Nasihat Mus’ab bin Az-Zubair tentang Hakikat Ilmu Dalam Kitab Minhajul Muta’allim

5 Mins read
Dalam relung sejarah peradaban Islam, pengajaran bukan sekadar transfer informasi teknis, melainkan sebuah pewarisan nilai dan penataan orientasi hidup. Salah satu petuah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *