FilsafatKeislaman

Integrasi-Interkoneksi Menurut Pandangan Amin Abdullah

3 Mins read

Amin Abdullah adalah tokoh intelektual Muslim Indonesia yang sangat produktif dan dikenal sebagai guru besar gilsafat Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia lahir di Margomulyo, Pati, Jawa Tengah pada tanggal 28 Juli 1953.

Perjalanan akademiknya dimulai dari Pondok Pesantren Modern Gontor Darussalam (lulus 1972) dan berlanjut ke jurusan perbandingan agama IAIN Sunan Kalijaga (lulus 1982). Ia kemudian meraih gelar Ph.D. dalam fisafat Islam dari Middle East Technical University (METU), Ankara, Turki (1990), dan sempat menjalani program post-doctoral di Mc-Gill University, Kanada (1997-1998).

Amin Abdullah dihormati karena kemampuannya yang istimewa untuk mensintesis argumen-argumen yang bertentangan, menghasilkan konsep-konsep yang cerdas dan akomodatif. Karya-karyanya berfungsi sebagai analisis mendalam terhadap isu-isu kontemporer Islam dan memberikan jawaban yang berkelanjutan terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat Muslim.

Menghadapi Dikotomi Keilmuan

Gagasan utama Amin Abdullah adalah mengatasi masalah dikotomi yang telah lama memisahkan ilmu pengetahuan di kalangan ilmuwan Muslim dan Barat. Di Indonesia, pemisahan ini terlihat jelas dalam model pendidikan yang memisahkan antara ilmu sekuler dan ilmu agama. Pemisahan ini telah membawa dampak negatif pada perkembangan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan agama di Indonesia, karena terjadi pertumbuhan yang tidak seimbang pada kedua bidang keilmuan.

Menurut Amin Abdullah, konsep integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum ini muncul sebagai respons terhadap tantangan modernitas global. Pemahaman yang terbelah mengenai agama, ilmu, iman, amal, dunia, dan akhirat telah menyebabkan karakter pendidikan Islam berubah menjadi terpisah-pisah, yang pada akhirnya membuat dunia Islam tertinggal dalam persaingan dengan Barat.

Definisi dan Inti Paradigma

Konsep integrasi-interkoneksi adalah upaya penggabungan dan penyambungan dari berbagai ilmu umum, khususnya ilmu alam, dengan ilmu-ilmu agama. Hal ini didasarkan pada hakikat bahwa semua ilmu pengetahuan pada dasarnya saling berkaitan.

Baca...  Pandangan Al-Dihlawi Tentang Ijtihad (2): Pembaharuan Hukum Islam

Amin Abdullah berpendapat bahwa sudah bukan waktunya lagi bagi disiplin ilmu agama untuk berdiri sendiri, terpisah dan steril dari intervensi ilmu-ilmu sosial dan kealaman, dan sebaliknya.

Wacana ini bertujuan untuk memadukan dua entitas yang berbeda (ilmu umum dan ilmu agama Islam) menjadi satu payung keilmuan. integrasi ini juga dikenal sebagai upaya Islamisasi ilmu pengetahuan, yaitu memasukkan nilai-nilai agama ke dalam paradigma ilmu.

Interkoneksi sendiri didefinisikan sebagai paradigma yang mempertemukan ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum dan filsafat. Model integrasi-interkoneksi sains dan agama berusaha menyatukan kedua domain tersebut dalam kerangka keilmuan yang saling melengkapi.

Prinsip Kesatuan Ilmu Pengetahuan

Model ini menolak pembagian kaku antara “ilmu duniawi” (sains) dan “ilmu ukhrawi” (agama). Keduanya berasal dari sumber yang sama, yaitu Tuhan, dan memiliki tujuan yang sama: mencari kebenaran. Sains memberikan penjelasan empiris, sementara agama menyediakan kerangka nilai, etika, dan tujuan hidup.

Prinsip Dialog Kontekstual

Sains dan agama tidak bertentangan, melainkan saling berdialog. Sains menjawab pertanyaan “bagaimana” fenomena alam bekerja, sementara agama menjawab pertanyaan “mengapa” tentang moralitas dan tujuan hidup.

Sebagai contoh, ilmu biologi menjelaskan mekanisme kehidupan, sementara agama memberikan nilai tentang pentingnya menjaga kehidupan.

Tiga Pendekatan Epistemologis

Model ini diwujudkan melalui tiga pendekatan utama yang harus berdialog dan tidak berjalan sendiri-sendiri:

  1. Integrasi Tekstual (Bayani): Pemikiran yang menitikberatkan pada teks suci, dengan Al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber pengetahuan.
  2. Integrasi Rasional (Burhani): Pemikiran yang didasarkan pada akal dan rasio, dilakukan melalui dalil-dalil logika.
  3. Integrasi Spiritual (Irfani): Pemikiran yang berlandaskan pengalaman atau proses nalar berdasarkan Ilham dan kasyf. Pengetahuan rohani ini diperoleh melalui tiga tahapan: persiapan, penerimaan, dan pengungkapan.
Baca...  Konsep Talak Dalam Al-Qur’an

Aplikasi dan Manfaat

Paradigma integrasi-interkoneksi bertujuan untuk memudahkan proses pengetahuan dan memperkaya strategi pengetahuan pada umumnya, yang pada akhirnya dapat digunakan untuk mengembangkan penerapan yang integratif interkonektif.

Implementasi praktis terlihat dalam:

  1. Pendidikan: Integrasi ilmu agama dan sains dalam kurikulum. Contohnya, pelajaran biologi tidak hanya membahas anatomi, tetapi juga menyentuh aspek spiritual, seperti rasa syukur atas kompleksitas ciptaan Tuhan.
  2. Penelitian: Peneliti menggunakan nilai-nilai agama sebagai panduan etis. Contohnya, penelitian teknologi medis harus mempertimbangkan etika agama, seperti larangan manipulasi genetik yang melanggar kodrat manusia.
  3. Kehidupan Sehari-hari: Masyarakat menggunakan sains untuk memahami alam, dan agama sebagai panduan moral untuk menjaga keseimbangan ekosistem, misalnya melalui penggunaan teknologi ramah lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab spiritual terhadap alam.

Secara ringkas, paradigma yang digagas Amin Abdullah ini adalah opsi pemikiran komprehensif agar berbagai kajian keislaman dapat berkembang, menekankan bahwa ilmu agama (hadarah al-nass), ilmu alam (hadarah al-‘ilm), dan filsafat (hadarah alfalsafah) harus berintegrasi dan berinterkoneksi satu sama lain. Model ini menekankan pentingnya harmoni antara wahyu dan akal, serta nilai spiritual dan empiris.

Daftar pustaka

1. Sufratman. “Integrasi agama dan sains modern, studi analisis pemikiran M. Amin Abdullah”. Journal for Islamic Studies, Vol. 5, No. 1, Februari 2022.

2. Masyitoh Dewi. “AMIN ABDULLAH dan PARADIGMA INTEGRASI INTERKONEKSI”. JSSH (Jurnal Sains Sosial dan Humaniora) Vol. 4 No. 1 Maret 2020.

3. Hamzah Adi Ari. “Analisis Makna Integrasi – Interkoneksi”. Jurnal Pappasang, Vol. 2 No. 2 (2020).

4. Ichsanul Akmal Fathir. “Pemikiran Amin Abdullah Seputar Integrasi Keilmuan”. FATHIR: Jurnal Studi Islam, Vol. 1 No. 2 (202

Related posts
KeislamanTafsir

Tafsir Sya'rawi Q.S Al-Fatihah Ayat 2 Dan 3

13 Mins read
Kuliahalislam.com. ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ Arab-Latin: Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn. Artinya: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ Arab-Latin: Ar-raḥmānir-raḥīm. Artinya:…
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Gus Ulil Ngaji Ihya' Ulumuddin: Jika Ulama Memberikan Ilmu Hanya Karena Allah SWT

3 Mins read
Jika Imam Abul Hasan Al-Asy’ari—panutan teologi kaum Sunni—dianggap sebagai sumber kemunduran sains di dunia Islam karena ajarannya yang menentang teori kausalitas (nadzariyyah…
KeislamanOpini

Trilogi Pendidikan Spiritual yang Tak Sekadar Kalender

3 Mins read
Hari ini, mari kita bahas tentang Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan. Ini bukan sekadar tentang pergantian tanggal atau kewajiban puasa semata, melainkan sebuah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Keislaman

Ketika Diam Jadi Kesalahan: Gagasan Al-Zamakhsyari tentang Amar Makruf Nahi Munkar dalam Perspektif Muktazilah

Verified by MonsterInsights