Al-Qur’an adalah cahaya penuntun yang menerangi jalan hidup umat manusia. Di antara sekian banyak surah yang terkandung di dalamnya, Surah Al-Waqi’ah memiliki kedudukan yang sangat istimewa di hati umat Islam. Surah yang menempati urutan ke-56 dalam mushaf Al-Qur’an ini tidak hanya memuat gambaran agung nan mendalam mengenai Hari Kiamat, tetapi juga dikenal luas sebagai salah satu surah yang membawa ketenangan jiwa, melapangkan dada, serta mendatangkan keberkahan rezeki bagi siapa saja yang membaca dan mengamalkannya dengan penuh keikhlasan (Rohman, 2021).
Surah Al-Waqi’ah tergolong sebagai surah Makkiyah yang terdiri dari 96 ayat. Nama surah ini diambil dari kata pertama pada ayat pembukanya, yaitu Al-Waqi’ah, yang berarti “Hari Kiamat” atau “Kejadian yang Pasti Terjadi”.
Secara garis besar, tema utama surah ini berkisar pada Hari Kiamat dan pembalasan amal manusia (Rohman, 2021). Pada hari tersebut, manusia akan dikelompokkan menjadi tiga golongan (Muhammad, 2022):
- As-Sabiqun (Golongan yang Terdepan): Mereka yang paling dahulu beriman, beramal saleh, dan mendapatkan kedudukan paling dekat di sisi Allah SWT di surga yang penuh nikmat.
- Ash-habul Yamin (Golongan Kanan): Orang-orang saleh yang menerima catatan amal dari sebelah kanan dengan penuh kebahagiaan dan keberuntungan.
- Ash-habus Syimal (Golongan Kiri): Mereka yang mengingkari kebenaran dan berada dalam siksaan serta kepedihan.
Melalui pengelompokan ini, Surah Al-Waqi’ah menuntun pembacanya untuk merenungkan kembali orientasi hidup di dunia, menyadarkan bahwa kehidupan dunia bersifat sementara, serta mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk kehidupan yang kekal di akhirat (Muhammad, 2022).
Pandangan Ulama dan Rujukan Kitab Mengenai Keutamaannya
Para ulama salaf maupun khalaf telah banyak mengkaji serta menjelaskan keistimewaan surah ini dalam kitab-kitab tafsir dan hadis mu’tabarah. Terdapat dua rujukan utama yang sering disandarkan oleh para ulama terkait keutamaan Surah Al-Waqi’ah, khususnya dalam hal kecukupan rezeki:
1. Kisah Sahabat Abdullah bin Mas’ud dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Syu’abul Iman
Salah satu rujukan paling masyhur mengenai keutamaan Surah Al-Waqi’ah terdapat dalam atsar (perkataan atau perbuatan sahabat) yang dinukil oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (Ibnu Katsir) serta Imam Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (Al-Baihaqi).
Dikisahkan bahwa ketika sahabat mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu jatuh sakit menjelang wafatnya, Amirul Mukminin Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu datang menjenguknya. Utsman bertanya, “Apa yang engkau rasakan?” Abdullah bin Mas’ud menjawab, “Dosaku.” Utsman bertanya lagi, “Apa yang engkau inginkan?” Beliau menjawab, “Rahmat Rabb-ku.” Utsman menawarkan, “Tidakkah aku panggilkan dokter untukmu?” Beliau menjawab, “Dokter justru telah membuatku sakit.” Utsman kembali bertanya, “Tidakkah aku berikan bagian harta (bantuan dari Baitulmal) untuk anak-anak perempuanmu?”
Dengan penuh ketawakalannya kepada Allah, Abdullah bin Mas’ud menolak dan berkata, “Apakah engkau khawatir anak-anakku akan tertimpa kemiskinan? Aku telah memerintahkan anak-anak perempuanku untuk membaca Surah Al-Waqi’ah setiap malam. Sebab, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Barang siapa yang membaca Surah Al-Waqi’ah setiap malam, maka ia tidak akan ditimpa kesusahan atau kemiskinan selamanya.'” (Ibnu Katsir; Al-Baihaqi).
2. Pandangan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin
Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dalam kitab fenomenalnya, Ihya Ulumuddin, memberikan penekanan mendalam tentang pentingnya merenungkan isi kandungan Al-Qur’an secara utuh (Al-Ghazali). Beliau mengisyaratkan bahwa membaca surah-surah yang mengisahkan Hari Kiamat, kekuasaan Allah, dan penciptaan alam semesta seperti Surah Al-Waqi’ah memiliki efek terapeutik bagi hati manusia.
Membaca ayat-ayat tersebut dengan pemahaman akan melembutkan hati yang keras, menumbuhkan rasa syukur yang mendalam, serta melepaskan keterikatan jiwa yang berlebihan terhadap dunia yang fana (Al-Ghazali). Ketika seorang hamba menyadari bahwa segala sesuatu di alam semesta diatur oleh kekuasaan Allah yang mutlak, hatinya akan tenang dan bertawakal sepenuhnya.
Hikmah Merenungkan Ayat-Ayat Kehidupan
Selain keutamaan fadhilah bacaannya, keistimewaan Surah Al-Waqi’ah juga terletak pada rangkaian ayat pertengahan yang mengajak manusia merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah (Ayat 58–73), yaitu:
- Penciptaan Manusia: Dari setetes mani yang dipancarkan ke dalam rahim.
- Tumbuhnya Tumbuhan: Bagaimana air diturunkan dari awan untuk menumbuhkan tanaman dan biji-bijian.
- Sumber Api: Bagaimana api diciptakan dari kayu hijau yang menjadi sumber energi kehidupan.
- Ketersediaan Air Minum: Nikmat air segar yang sangat esensial bagi kelangsungan makhluk hidup di bumi.
Perenungan ini mengajarkan kita bahwa rezeki bukan sekadar uang atau materi semata, melainkan seluruh fasilitas kehidupan yang dianugerahkan Allah agar manusia dapat beribadah dengan khusyuk (Rohman, 2021).
Catatan Ilmiah: Derajat Hadis dan Pandangan Ahli Hadis
Meskipun atsar dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu populer di tengah masyarakat, para ulama ahli hadis (muhadditsin) memiliki catatan tersendiri mengenai status hukum riwayat tersebut.
Sebagian besar kritikus hadis menilai bahwa sanad (rantai periwayatan) hadis khusus tentang keutamaan Surah Al-Waqi’ah sebagai penolak kemiskinan bernilai daif (lemah). Kendati demikian, dalam tradisi keilmuan Islam, riwayat yang berderajat daif sering kali tetap diamalkan dalam kerangka fadha’il al-a’mal (keutamaan amal saleh), selama tidak berkaitan dengan akidah atau hukum halal-haram yang mutlak, serta didorong oleh semangat untuk mendekatkan diri kepada Al-Qur’an.
Membaca Al-Qur’an secara rutin—termasuk Surah Al-Waqi’ah—tetap mendatangkan pahala yang besar, ketenangan jiwa, serta keberkahan secara umum berdasarkan keumuman dalil-dalil keutamaan membaca Al-Qur’an (Rohman, 2021).
Penutup
Surah Al-Waqi’ah adalah permata berharga di dalam Al-Qur’an yang memadukan nasihat tentang hari akhir yang penuh keagungan dengan ketenangan hidup di dunia. Dengan memahaminya, merenungkan maknanya, serta membacanya secara istiqamah setiap malam sebagaimana dicontohkan oleh para ulama dan sahabat terdahulu, kita berharap mendapatkan curahan keberkahan, rahmat, serta kecukupan hidup yang halal dari Allah SWT, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Referensi
- Al-Baihaqi, Imam. Syu’abul Iman.
- Al-Ghazali, Imam. Ihya Ulumuddin.
- Ibnu Katsir, Imam. Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim.
- Muhammad, Z. M. (2022). Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Surat Al-Waqi’ah yang Terimplementasi Di Era Sekarang (Doctoral dissertation, UIN Raden Intan Lampung).
- Rohman, A. A. (2021). Isi Kandungan Surat al-Mulk dan al-Waqi’ah dan Korelasinya dengan Konsep Keberkahan Hidup. Jurnal Iman Dan Spiritualitas, 1(3), 272–279.

