Di era digital yang terus berkembang pesat saat ini, banyak orang tua merasakan kekhawatan dan kegelisahan saat melihat pertumbuhan anak mereka. Fenomena balita yang lebih cepat mengingat lirik lagu viral di media sosial, menghafal nama-nama idola televisi, atau terampil menggunakan perangkat gawai dibandingkan menghafalkan doa-doa harian dan kalimat thayyibah menjadi pemandangan umum yang kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari (Septiya, 2025). Banyak orang tua merasa cemas bahwa invasi teknologi dan akses terhadap konten digital yang tidak terbatas dapat merusak nilai-nilai moral, etika, serta dasar-dasar keagamaan anak sejak usia dini. Padahal, usia 0–6 tahun adalah masa keemasan (golden age) di mana semua potensi kognitif, emosional, dan spiritual anak tumbuh dengan cepat serta berpengaruh besar pada karakter mereka di masa mendatang (Sari & Sutrisno, 2022). Pertanyaannya, bagaimana cara terbaik bagi orang tua di rumah dan guru di sekolah untuk menanamkan nilai-nilai akidah dengan cara yang alami, komunikatif, dan menyenangkan tanpa membuat anak merasa tertekan?
Mengembalikan Fitrah Tauhid dan Tanggung Jawab Pengasuhan
Dalam ajaran Islam, setiap anak dilahirkan ke dunia dengan kesucian serta potensi iman yang dikenal sebagai fitrah tauhid (Feba et al., 2023; Risnawati & Priyanto, 2021). Anak dalam tahap awal diibaratkan seperti kertas putih yang belum ternodai atau mutiara asli yang siap menerima corak dan warna dari lingkungannya. Oleh sebab itu, agama memosisikan orang tua dan keluarga sebagai madrasatul ula (lembaga pendidikan pertama dan utama) yang memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi serta merawat fitrah keimanan agar tidak menyimpang (Bain & Mubarokah, 2024; Fajriah, 2025; Wardana et al., 2025). Tanggung jawab besar dalam pengasuhan ini ditekankan oleh Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah RA (Kurnia et al., 2024):
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tualah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (H.R. Bukhari).
Tanggung jawab untuk melindungi keselamatan moral dan spiritual anggota keluarga ini juga diperintahkan oleh Allah SWT langsung melalui wahyu:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
Sebagaimana yang diungkapkan dalam firman Allah SWT Q.S. At-Tahrim [66]: 6, pendidikan akidah pada fase awal kehidupan dimulai dengan stimulasi ketauhidan yang sangat mendasar namun berkesan, seperti mengumandangkan adzan dan iqamah ketika bayi baru lahir (Zahra et al., 2023). Seiring bertambahnya usia anak, orang tua melatih kelancaran berbicara mereka dengan mengajak melafalkan kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah, memperkenalkan nama-nama indah Allah SWT (Asmaul Husna), serta mengarahkan anak untuk mengamati keagungan ciptaan-Nya di alam sekitar sebagai bagian dari pengenalan kepada Allah Yang Maha Pencipta.
Pengajaran Akidah dari Penasihat Luqman Al-Hakim
Al-Qur’an menyajikan panduan pengasuhan Islami yang sempurna melalui kisah Luqman Al-Hakim dalam mendidik anaknya (Ayyubi et al., 2024). Pendidikan akidah dijadikan sebagai fondasi paling utama sebelum mengajarkan aspek ibadah dan muamalah. Pesan Luqman kepada putranya dicatat oleh Allah SWT dalam Q.S. Luqman [31]: 13:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Panggilan Bunayya (wahai anakku tercinta) yang diucapkan Luqman mencerminkan kelembutan, kasih sayang, dan ikatan emosional yang kuat. Hal ini mengajarkan kita bahwa penanaman akidah dan pertahanan tauhid tidak boleh disampaikan dengan cara yang keras, teriakan, atau ancaman emosional, melainkan dengan nasihat yang menyentuh hati seorang anak secara bertahap. Setelah dasar tauhid dan larangan syirik terbangun dengan kuat, Luqman melanjutkan pengajarannya tentang perintah melaksanakan shalat, menegakkan kebaikan (amar ma’ruf nahi munkar), serta melatih kesabaran:
يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَ ۗاِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ
Sebagaimana diungkapkan dalam firman Allah SWT Q.S. Luqman [31]: 17, aspek etika dan kesopanan sosial juga ditekankan supaya anak tidak berkembang menjadi individu yang angkuh atau sombong, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya pada Q.S. Luqman [31]: 18:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Peran Guru dan Pendekatan Pembelajaran Inovatif di Sekolah
Apabila rumah menjadi dasar dari keimanan, maka lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD/TK/RA) serta para guru berperan sebagai penguat, fasilitator, dan pelengkap karakter religius seorang anak (Aiyanti et al., 2023; Azimah, 2025; Huda & Widyastuti, 2025; Sumiati et al., 2025). Dalam buku Ihya ‘Ulumuddin (3: 70), Imam Ghazali menjelaskan bahwa hati anak yang bersih siap untuk menerima benih kebaikan apa pun yang ditanamkan di dalamnya (Musthofa et al., 2025). Dengan demikian, guru di sekolah memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang Islami, mendukung, dan menyenangkan (Sari, 2021). Pendidikan agama bagi anak-anak di usia dini harus menerapkan prinsip belajar sambil bermain. Sebagaimana diuraikan oleh Syaikh Abdullah Nashih Ulwan dalam Kitab Tarbiyatul Aulad fil Islam (1: 37), terdapat sejumlah metode dasar yang sangat ampuh dalam membangun akidah dan sifat anak:
- a. Metode Keteladanan (Uswah Hasanah): Anak-anak usia dini adalah peniru yang sangat handal. Contoh nyata dari pengajaran yang diberikan oleh guru dan orang tua, seperti cara berbicara yang lembut, kejujuran, dan kepatuhan terhadap shalat, memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan hanya mengikuti instruksi verbal (tarbiyah bi lisan al-hal).
- b. Metode Pembiasaan (Ta’widiyyah): Menerapkan kebiasaan ibadah harian seperti mengucapkan doa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan, membiasakan mengucap salam, menghafalkan surah pendek, serta melaksanakan shalat dhuha berjamaah secara rutin setiap pagi.
- c. Metode Bercerita (Qashash) dan Media Kreatif: Mengisahkan teladan nabi dan orang-orang shalih dengan menggunakan boneka tangan, buku bergambar, atau video animasi Islami yang edukatif.
- d. Metode Gerak, Lagu Religi, dan Permainan Pendidikan: Mengajarkan rukun iman/Islam serta tata cara wudhu lewat lagu ceria, tepuk religi (seperti tepuk wudhu), kuis moral, dan permainan mencocokkan kata.
- e. Penguatan Positif (Tsawab): Menyampaikan pujian verbal “MasyaAllah anak shalih”, stiker bintang, atau pengakuan positif ketika anak menunjukkan perilaku religius demi membangun kebanggaan intrinsik.
Peran Keluarga dan Sekolah dalam Mengawasi Penggunaan Media Digital
Di era digital, hambatan utama dalam mengembangkan akidah sering kali disebabkan oleh ketidaksesuaian antara kebiasaan di sekolah dan rumah (Septiya, 2025). Jika guru di sekolah mengajarkan shalat dan etika kesopanan, namun anak melihat pembiaran dan penggunaan perangkat elektronik yang tidak terkontrol di rumah, maka anak akan menghadapi kebingungan moral. Sebagai akibatnya, komunikasi dan kolaborasi yang aktif antara guru dan orang tua adalah kunci keberhasilan yang tidak bisa dinegosiasikan (Hasnawati & Saragih, 2025). Pemanfaatan media komunikasi seperti catatan mingguan atau grup pesan singkat sangat membantu dalam menyelaraskan kemajuan ibadah seorang anak. Selain itu, daripada melarang penggunaan teknologi secara keseluruhan, orang tua dan guru perlu menerapkan literasi digital Islami, yaitu dengan membimbing anak dalam menggunakan teknologi secara cerdas melalui aplikasi Al-Qur’an interaktif, permainan edukasi doa, dan tayangan kisah nabi digital yang menumbuhkan kecintaan pada agama.
Kesimpulan
Mendidik iman dan menanamkan akidah pada anak-anak usia dini bukanlah proses yang instan dan segera menghasilkan, melainkan usaha terus-menerus yang memerlukan teladan yang jelas, kesabaran yang luas, bahasa yang lembut, serta doa yang konsisten dari orang tua dan guru. Dengan menciptakan suasana keluarga yang akrab dan spiritual di rumah serta didukung oleh pengajaran guru yang inovatif di sekolah, nilai-nilai tauhid akan terserap dan tertanam di dalam jiwa anak. Mari kita arahkan anak-anak kita dengan lembut dan penuh kasih sayang, agar mereka nantinya tumbuh menjadi generasi muslim yang tidak hanya pintar secara intelektual, tetapi juga memiliki iman yang kuat, berperilaku baik, dan menenangkan hati orang tua.
DAFTAR PUSTAKA
Aiyanti, Nyoman Asti, Ni Made Linda Dewi, Ni Nyoman Pujiani, and Ida Bagus Alit Arta Wiguna. (2023). “Peran Guru Dalam Menumbuhkan Nilai Moral Dan Agama Pada Anak Usia Dini.” Widya Sundaram: Jurnal Pendidikan Seni Dan Budaya 01, no. 02: 125–35.
Ayyubi, Ibnu Imam Al, Ai Sri Masfuroh, Firda Noerzanah, Abdul Muhaemin, and Niken Siti Nur Apriyanti. (2024). “Konsep Pendidikan Anak Usia Dini Perspektif Q . S Luqman Ayat 13-19.” Al-Fahmu: Jurnal Ilmu Al-Qur’an Dan Tafsir 3, no. 1: 31–41.
Azimah, Luthfiyatul. (2025). “PERAN GURU DALAM PENDIDIKAN KARAKTER ISLAMI ANAK USIA DINI DI TK ISLAM AL IKHLAS MALANG.” Skripsi/Artikel Riset.
Bain, Muhammad Nur, and Azwirotul Mubarokah. (2024). “Peran Keluarga Dalam Pendidikan Islam.” Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknologi dan Pendidikan 1, no. 2: 84–88.
Fajriah, Inayah Nur. (2025). “PERAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN ANAK PERSPEKTIF AL-QUR’AN.” Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar 10.
Feba, Nabila Diana, Nazhira Septiana, and Nazwa Azzahra. (2023). “Pentingnya Penanaman Pendidikan Tauhid Pada Anak Usia Dini.” Gunung Djati Conference Series 22: 222–33.
Hasnawati, Wahyu, and Ismawati Saragih. (2025). “PERAN ORANG TUA DAN PENDIDIK DALAM MEMBENTUK KARAKTER ISLAMI ANAK USIA DINI: TINJAUAN KURIKULUM BERBASIS AL-QUR’AN.” Jurnal Kajian Islam Modern 12, no. 02: 41–51. https://doi.org/10.56406/jkim.v12i2.668.
Huda, Nur, and Sisca Widyastuti. (2025). “Peran Guru Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Keislaman Pada Anak Di PAUD Dzakiyyah Tungkal Ulu.” DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini 4, no. 2: 194–202. https://doi.org/10.61104/dz.v4i2.6918.
Kurnia, Asraf, Syafruddin, Hendrizal, Heri Effendi, and Sartika Fortuna Ihsan. (2024). “PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DALAM PERSPEKTIF AL-QUR ’ AN DAN HADIS: KAJIAN LITERATUR DAN IMPLEMENTASI DALAM KELUARGA.” AL-ATHFAL STAI MUHAMMADIYAH PROBOLINGGO 05, no. 02: 314–24.
Musthofa, Darul, Desta Tri Wahyuni, Erlina, Fahrul Ghazi, and Idham Kholid. (2025). “ANALISIS KRITIS KONSEP PENANAMAN AKIDAH ANAK USIA DINI MENURUT PEMIKIRAN IMAM AL-GHAZALI DAN IMPLEMENTASINYA PADA PENDIDIKAN ISLAM MODERN.” Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar 10: 237–46.
Risnawati, Atin, and Dian Eka Priyanto. (2021). “Pentingnya Penanaman Nilai-Nilai Agama Pada Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Perspektif Al-Quran.” As-Sibyan: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 6, no. 1: 1–16.
Sari, Anjeli Aliya Purnama. (2021). “Penerapan Nilai-Nilai Moderasi Beragama Pada Pendidikan Anak Usia Dini Melalui Pendidikan Agama Islam.” Karya Ilmiah.
Sari, Diana Martharita, and Sutrisno. (2022). “Mengembangkan Potensi Anak Usia Dini Dalam Pendidikan Islam ( Al- Qur ’ an Dan Hadis ).” JAMBURA Early Childhood Education Journal 4: 207–21. https://doi.org/10.37411/jecej.v4i2.1375.
Septiya, Marenda Adhi. (2025). “Peran Orang Tua Dalam Pendidikan Islam Anak Usia Dini Di Era Digital.” Jurnal Ath-Thufail: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini 3, no. 1: 10–20.
Sumiati, Saleh, Rachman, and La Jeti. (2025). “PERAN GURU DALAM MENANAMKAN NILAI AGAMA DAN MORAL PADA ANAK USIA DINI DI LEMBAGA ISLAM TERPADU RUMAH ANAK SHOLEH.” Jurnal Riset Ilmiah 2, no. 5: 2449–56. https://doi.org/10.62335.
Wardana, Raja, Nana, and Azka. (2025). “Peran Keluarga Dalam Membentuk Pola Pembiasaan Pendidikan Agama Islam Pada Anak Usia Dini.” JOCDEM: Journal of Community Development and Empowerment 1, no. 2: 26–30.
Zahra, D, Apri Wardana Ritonga, Awis Atansyah, and Anisa Auliya. (2023). “PENGUATAN PENDIDIKAN AQIDAH ISLAM PADA ANAK SEBELUM AQIL BALIGH.” Rabbani: Jurnal Pendidikan Agama Islam 4, no. 1: 78–97.

