KULIAHALISLAM.COM – Masa krisis atau kesulitan sering kali diibaratkan sebagai masa kegelapan (dark age). Pada fase ini, akal pikiran seolah berhenti, sementara kaki dan tangan jeda beristirahat. Hanya suara hati nurani (inner voice) yang berfungsi efektif dalam menghadapi masa-masa sulit di tengah masyarakat dan negara.
Segala peristiwa dan dinamika yang terjadi di masyarakat sebenarnya bergantung pada sudut pandang akal pikiran manusia itu sendiri—apakah kita akan meresponsnya secara negatif atau positif.
Kata orang bijak bestari, setiap kejadian selalu menyimpan hikmah atau sisi positif. Suasana krisis justru membentuk manusia menjadi pribadi yang tangguh, sabar, dan bersemangat untuk tetap fokus mencapai visi serta tujuan yang ingin diraih bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Hal ini selaras dengan ungkapan populer, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” serta “Kesatuan membentuk kekuatan”. Maknanya, jalinan kesatuan, kesabaran, kepercayaan, dan solidaritaslah yang membuat umat manusia berhasil melewati masa krisis.
Selain itu, krisis dan bencana yang menimpa sejatinya menjadi momentum bagi manusia untuk menengok ke dalam diri (refleksi diri dan mawas diri). Ini adalah saatnya mengosongkan diri dari perbuatan tercela, lalu mengisinya dengan perilaku mulia sehingga mampu menebar kemaslahatan bagi sesama.
Dengan demikian, manusia dapat tetap fokus, jernih, dan bersemangat untuk keluar dari masa krisis. Selanjutnya, kita akan siap menatap dan membangun tatanan masyarakat serta negara dengan perilaku, pandangan, dan tujuan hidup yang baru.
Hikmah di Balik Krisis
Alhasil, selalu ada sisi terang dari kegelapan. Kata “krisis” sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu krisis (kata benda) atau krino (kata kerja), yang berarti “menarik batas” atau “titik balik”.
Dalam bahasa Mandarin, padanannya adalah wei-ji. Wei artinya “bahaya”, sedangkan ji berarti “peluang”. Di dalam momen gelap akibat bahaya katastrofe, selalu ada celah peluang untuk menarik garis batas antara kejahiliahan dan keberadaban, sekaligus menjadi titik balik untuk menyehatkan serta memajukan kehidupan.
Kebenaran dan kesejatian itu sering kali ibarat bintang yang tak bisa dilihat kecuali di kegelapan malam. Dalam terang kehidupan yang normal, manusia kerap sulit mengenali kebenaran hakiki karena kesejatian tersamar oleh ornamen dan pernak-pernik penampilan.
”Saat zaman kelam datang, barulah kita kenali mana yang benar-benar sejati dan mana yang palsu atau manipulasi. Bila kita kurang yakin pada watak asli seseorang atau suatu bangsa, tunggulah hingga gelap menyergap: di sanalah kita bisa mengenali watak sesungguhnya.” — Yudi Latif (dalam Hitam-Putih Korona, Kompas.com, 19 Maret 2020)
Tatkala kita diuji oleh pandemi Corona beberapa waktu lalu, ada banyak keluhan atas kegamangan, ketidaksigapan, dan ketidaksinkronan jajaran pemerintahan dalam menangani wabah mematikan tersebut—meski keluhan serupa juga terjadi di sejumlah negara lain. Namun, ada sudut pandang lain yang menunjukkan sisi terang dari bangsa ini.
Shane Preuss, dalam tulisannya di The Diplomat (24 April 2020), memperlihatkan dimensi ketahanan nasional kita. Ia menyebutkan bahwa memang benar pemerintah Indonesia sempat terantuk, tetapi masyarakat sipilnya bangkit berinisiatif menghadapi masalah wabah tersebut. Lebih lanjut, Preuss menyatakan bahwa masyarakat Indonesia memiliki daya tahan yang kuat, telah teruji oleh berbagai cobaan di masa lalu, serta mampu menimba pelajaran tentang pentingnya menguatkan spirit gotong royong, memikul tanggung jawab bersama, dan menggalang aksi tolong-menolong dengan penuh sukacita.
Pernyataan Preuss tersebut bukanlah sebuah kesimpulan baru. Pada tahun 2018, The World Giving Index yang dikeluarkan oleh Charities Aid Foundation (CAF) berbasis di Inggris, menempatkan Indonesia sebagai the most generous country (negara paling dermawan) di dunia. Terdapat tiga perilaku yang menjadi ukuran penilaian tersebut: menyumbangkan uang, menolong orang asing, dan kerelawanan (Latif, dalam Cerah di Celah Wabah, Kompas, 30 April 2020).
Strategi Kebudayaan
Untuk bisa mendekatkan harapan dengan kenyataan, diperlukan ketepatan strategi kebudayaan yang dapat membangun hubungan proporsional antara tujuan (ends) dan sarana (means), serta antara aspirasi dan kapabilitas. Dalam kaitan itu, diperlukan kekuatan refleksi diri yang dapat menyatukan pikiran dan hati ke dalam satu spirit.
Dengan menyatu dalam spirit, kita bisa keluar dari lorong gelap menuju jalan cahaya melalui beberapa langkah nyata:
- Pengakuan Bersama: Kita memerlukan pengakuan bersama akan adanya krisis di berbagai bidang. Tanpa ketulusan dan kesepakatan bahwa krisis itu ada, kita tidak akan pernah bisa mengatasi masalah.
- Membuat Pagar Pemisah: Kita harus memilah secara apik antara aspek-aspek yang sudah berjalan baik dan sisi masalah yang membutuhkan solusi.
- Penilaian Mandiri (Self-Appraisal): Kita perlu melakukan penilaian secara jujur. Jangan mengecoh diri sendiri dengan rekayasa pencitraan yang membesar-besarkan pencapaian kecil.
- Belajar dari Sejarah dan Negara Lain: Kita bisa belajar dari pengalaman sejarah bangsa sendiri dalam mengatasi krisis di masa lalu, sekaligus mengadopsi model negara lain untuk disesuaikan dengan konteks spesifik negara kita.
- Penguatan Identitas Nasional: Situasi krisis memerlukan revitalisasi komitmen pada nilai-nilai inti (core values) kebersamaan (Diamond, 2019; dikutip dalam Latif, Kompas, 20 Mei 2020).
Akhirnya, kita harus berhenti sekadar meratapi kegelapan. Gelap tidak bisa disingkirkan dengan gelap; gelap hanya bisa dienyahkan oleh cahaya. Jutaan kunang-kunang yang serempak menyalakan cahaya budi akan memancarkan gelombang pencerahan sebagai penuntun bangsa ini ke arah kebangkitan (Latif, dalam Kebangkitan Pascakorona, Kompas, 20 Mei 2020).
Refleksi Bersama
Kesenjangan antara impian dan kenyataan sesungguhnya bisa dipecahkan dengan menghidupkan kembali Spirit yang menyatukan pikiran dan hati. Di bawah terang Spirit, katastrofe tidak perlu diratapi secara berlebihan. Krisis dapat dilihat sebagai derita ibu hamil yang sedang mengandung anak kemajuan. Seperti kata Georg Wilhelm Friedrich Hegel, sejarah memang menyerupai mahkamah penjagalan, namun prosesnya bukannya tanpa tujuan.
Kekacauan memberi ruang bagi kemunculan para pencerah dan juru selamat; mereka adalah bintang penuntun yang dapat menyingkap pola-pola tersembunyi untuk memandu manusia keluar dari lorong gelap menuju jalan cahaya.
Maka dari itu, tetaplah teguh dalam menyusuri gelapnya malam. Makin jauh kita melangkah, makin dekat kita dengan fajar. Tak usah terlalu gundah mengarungi kegelapan, karena di kelamnya malamlah manusia justru menyadari arti kehadiran bintang penuntun.
Selalu ada sisi terang dari kegelapan. Di tengah lautan gulita, bisa saja terbit rembulan pandu penerang. Kalaupun tiada purnama, kita bisa menyibak kelam dengan menyalakan lentera sendiri. Satu pijar lentera kecil sudah cukup untuk menuntun langkah di malam hari. Jika jutaan lentera serentak menyala, ia akan memancarkan gelombang pencerahan yang dahsyat.
Satu hal yang pasti: kegelapan tidak bisa disingkirkan dengan kegelapan. Gelap hanya bisa dienyahkan oleh cahaya. Daripada mengutuk kegelapan, marilah masing-masing pribadi tetap eling dan waspada dengan menghidupkan kembali Spirit kasih sejati yang menyalakan lentera jiwa.
Di langit jiwa yang mati, manusia berjalan bagai zombie—tumpul rasa, asing bagi diri sendiri, tak kenal asal, dan tak tahu tujuan, sementara mega mendung menyelimuti langit hati. Di tengah kehidupan yang kelam tersebut, penduduk negeri menanti kedatangan bintang penuntun. Namun, bagaimana bisa terlahir juru selamat tanpa adanya terang jiwa? Orang-orang harus menyalakan sumbu kalbunya terlebih dahulu.
Sesungguhnya, setiap pancaran jiwa sanggup menerangi alam batin kehidupan. Cahaya hati dari manusia-manusia agung bisa membangkitkan mata hati jutaan manusia lainnya dari dekapan kegelapan.
Sayangnya, banyak manusia cuma mengutuk kegelapan. Menanti cahaya ibarat pungguk merindukan bulan. Mereka terlanjur menikmati jalan yang sesat dan tak kuasa menempuh jalan tobat. Mereka gagal melihat betapa setiap pendosa memiliki masa depan, sebagaimana setiap orang suci pun memiliki masa lalu.
Orang-orang percaya mestinya memiliki sukma yang bercahaya. Pancaran kalbunya bergerak meninggi mendekati mentari di titik zenit.
Sebab, dengan penglihatan jiwa di kerendahan permukaan tanah, yang tampak hanyalah perbedaan antara pepohonan. Namun, dengan penglihatan jiwa dari ketinggian terbang elang garuda, segala perbedaan pohon tersebut akan tampak menyatu dalam keindahan hutan yang sama.


1 Comment