KULIAHALISLAM.COM- Beberapa waktu lalu, lini masa kita mendadak adem—atau lebih tepatnya, dipaksa adem. Penyebabnya adalah Maudy Ayunda. Sosok yang potret hidupnya nyaris tanpa cela di mata netizen ini mengajak kita untuk mempraktikkan mindfulness demi menjaga kesehatan mental. Caranya ringkas: kalau berita di luar sana bikin cemas, bikin stres, dan bikin kita merasa dunia sedang hancur, ya matikan saja televisinya, scroll lewat saja media sosialnya. Fokus pada diri sendiri dan rawat kedamaian batin.Ajakan ini jelas menggiurkan. Siapa, sih, yang tidak ingin hidup tenang di tengah gempuran berita korupsi yang makin kreatif, harga beras yang melonjak, dan lowongan kerja yang syaratnya mirip lowongan anggota Avengers? Menutup mata dari kekacauan dunia dan bersembunyi di balik selimut positive thinking adalah kemewahan yang sangat menggoda.Namun, sebagai kaum yang saban hari harus berhadapan dengan realitas jalanan yang berdebu, ajakan ini menyisakan ganjalan. Apakah hidup ini sesederhana mematikan notifikasi berita?
Jika yang dimaksud Maudy adalah mengondisikan jiwa agar tidak gila, lalu setelah tenang kita kembali bergerak memperbaiki keadaan, Maudy 100 persen benar. Islam sangat mengenal konsep manajemen hati lewat ikhtiar dan tawakal. Namun, jika mindfulness ini diterjemahkan mentah-mentah sebagai pembenaran untuk berpangku tangan, menutup mata dari ketidakadilan, dan memelihara toxic positivity, di sinilah kita harus mulai bersikap kritis.
Antara Pejuang yang Charge Energi dan Kaum Borjuis yang Apatis
Dalam teologi Islam, seorang Muslim memang dilarang keras larut dalam keputusasaan saat melihat kekacauan masyarakat. Respons pertama yang harus dijaga adalah kestabilan iman dan kejernihan hati. Allah SWT bahkan menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa janganlah kamu berputus asa dari rahmat-Nya, karena hanya kaum yang ingkar yang berputus asa.Di sinilah letak benarnya ajakan mindfulness tadi. Jiwa yang tenang adalah modal utama untuk bergerak. Jika tujuan menyaring informasi adalah untuk recharging energi emosional—seperti halnya seorang prajurit yang mundur selangkah ke dalam benteng untuk mengobati luka sebelum kembali ke medan laga—maka praktik ini sangat sah. Ketenangan batin dalam Islam bukanlah tujuan akhir yang egois, melainkan bahan bakar untuk melakukan perbaikan (ishlah).
Masalahnya, mindfulness hari ini sering dipotong kompas menjadi komoditas gaya hidup kelas menengah atas yang melahirkan apatisme akut. Muncul pemikiran, “Ah, yang penting batin saya damai. Perihal kemiskinan struktural atau hukum yang acak-acakan, itu di luar kendali saya.” Nah, pemikiran seperti ini yang berbahaya.Islam adalah agama yang menuntut aksi nyata di ruang publik.
Ketika melihat kekacauan atau kemungkaran, Nabi Muhammad SAW tidak menyuruh kita “menutup informasi yang tidak enak”. Dalam hadis riwayat Muslim, panduannya tegas: ubah dengan tangan (kekuasaan/tindakan), jika tidak mampu maka dengan lisan (kritik/edukasi), dan jika masih tidak mampu baru dengan hati (doa/penolakan batin). Mengubah dengan hati—yang di dalamnya mencakup rasa tidak nyaman dan cemas melihat kebatilan—disebut sebagai selemah-lemahnya iman. Jadi, kalau kita sengaja memutus informasi agar hati tetap happy, kita tidak sedang menolak kemungkaran dengan hati, melainkan sedang memelihara willful ignorance alias kebodohan yang disengaja.
Ketika Ruang Spiritual Menjadi Alat Pembius Masalah
Para pemikir besar Islam sejak abad klasik hingga era modern sebenarnya sudah sering menyentil fenomena pelarian spiritual dari realitas sosial ini. Imam Al-Ghazali, misalnya. Dalam kitab monumental Ihya Ulumuddin, beliau menekankan bahwa gerakan menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah poros utama agama. Al-Ghazali bahkan mengingatkan adanya tipu daya setan (ghurur) yang membuat seseorang merasa sudah menjadi hamba yang saleh hanya karena rajin beribadah ritual dan berzikir sendirian, sementara ia diam saja melihat kerusakan di sekitarnya.
Ketenangan batin yang egois di tengah masyarakat yang hancur, bagi Al-Ghazali, adalah ketenangan yang palsu.Gagasan ini dipertegas di Indonesia oleh Prof. Dr. HM Rasjidi. Menteri Agama pertama kita ini kerap mengingatkan bahwa Islam tidak boleh direduksi menjadi sekadar urusan “hiburan batin” (spiritual entertainment). Ketika masyarakat menghadapi krisis moral dan ekonomi, kaum beragama tidak boleh lari ke dalam ruang estetika spiritual lalu mengabaikan tanggung jawabnya di bumi.Kritik yang jauh lebih menohok datang dari sosiolog dan filsuf Islam asal Iran, Ali Shariati.
Beliau membedakan antara “Agama Kesadaran” dengan “Agama Pembiusan”. Bagi Shariati, segala bentuk gagasan spiritual yang membuat penganutnya pasif, menerima nasib begitu saja, dan mengalihkan fokus dari problem struktural ke problem psikologis individu adalah bentuk candu. Toxic positivity yang dibungkus bahasa self-healing tanpa aksi nyata bertindak sebagai alat pembius masyarakat. Efek pembiusan ini membuat orang merasa bahwa kemiskinan dan penderitaan sosial adalah akibat dari individu yang “kurang bersyukur” atau “pola pikirnya salah”, bukan karena adanya sistem yang korup.
Bahkan jika ditarik ke ranah sosiologi sejarah versi Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah, peradaban akan runtuh jika individu-individunya mulai menarik diri dari urusan publik. Ketika orang-orang pintar dan baik hanya peduli pada kenyamanan domestik masing-masing, maka apatisme akan menjadi penyakit akut yang menghancurkan kemakmuran bangsa tersebut.
Mendudukkan Ikhtiar dan Tawakal Sebagai Mindfulness yang Paripurna.
Lantas, bagaimana Islam memberikan jalan keluar? Kita tidak perlu mengorbankan kewarasan kita untuk tetap peduli, dan kita juga tidak perlu menjadi apatis untuk mempertahankan kesehatan mental. Kuncinya adalah mendudukkan konsep ikhtiar dan tawakal pada porsi yang tepat.Ikhtiar adalah tindakan aktif kita di dunia nyata.
Melihat kekacauan masyarakat bukan untuk diratapi di pojokan kamar hingga membuat kita lumpuh karena cemas, melainkan untuk dipetakan: apa yang bisa kita perbaiki sesuai dengan kapasitas kita? Jika Anda seorang penulis, menulislah untuk menyuarakan kebenaran. Jika Anda seorang pengusaha, bukalah lapangan kerja yang adil. Jika Anda seorang Artis, maka jadilah teladan yang menginspirasi perilaku dan pemikiran positif (bukan positivisme). Dan jika Anda hanya rakyat biasa yang tidak punya kuasa apa-apa, minimal jangan ikut menjadi bagian dari kekacauan tersebut. Jangan sebar hoaks, jangan buang sampah sembarangan, dan tetaplah menjaga nurani untuk menolak kezaliman.
Setelah ikhtiar itu dilakukan secara optimal, barulah tawakal masuk sebagai jangkar emosionalnya. Inilah mindfulness Islam yang sesungguhnya. Sadarilah bahwa hasil akhir ada di tangan Allah SWT. Kita tidak dituntut oleh Tuhan untuk menyelesaikan seluruh masalah dunia ini sendirian, kita hanya diminta untuk mengambil peran dalam perbaikan tersebut. Kesadaran inilah yang menjaga seorang Muslim dari burnout aktivisme atau depresi sosial.Ketenangan batin yang diajarkan Islam bukan didapat dari ruang steril yang kedap dari penderitaan sesama. Ia justru ditempa di tengah riuh rendahnya perjuangan menegakkan keadilan.
Mari kita bermindfulness ria, tetapi dengan gaya yang membumi. Tetaplah membaca berita, tetaplah peduli pada isu sosial, dan peliharalah rasa gelisah yang sehat saat melihat ketidakadilan di depan mata. Setelah itu, bentangkan sajadah, serahkan segala kerumitan dunia ini kepada Yang Maha Kuasa, lalu kembali bergerak. Jangan berpangku tangan; mari berikhtiar, lalu bertawakal. Itu baru mindfulness yang paripurna nan presisi. Begitulah ,Ayunda!

