Dalam karya monumental “Pedagogy of the Oppressed” (1970), Paulo Freire melontarkan kritik menohok terhadap model pendidikan konvensional yang ia sebut sebagai banking concept of education (konsep pendidikan gaya bank). Dalam model yang represif ini, pengetahuan dipandang sebagai komoditas atau hibah yang disetorkan oleh mereka yang menganggap diri mereka berpengetahuan kepada mereka yang dianggap tidak tahu apa-apa.
Murid diposisikan sebagai “wadah kosong” (empty vessels) yang pasif, yang tugasnya hanya menerima, mencatat, menghafal, dan mengulang. Freire menegaskan sebuah kebenaran mendasar: “Pendidikan bukanlah proses mengisi wadah kosong, melainkan proses menyalakan api pikiran untuk berubah.”
Hari ini, di dekade ketiga abad ke-21, kita menyaksikan lompatan teknosaintifik yang spektakuler dengan hadirnya kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Mesin-mesin pembelajar cerdas, model bahasa raksasa (large language models), dan algoritma generatif kini bertindak sebagai muara superinformasi yang mampu memberikan jawaban atas hampir setiap pertanyaan manusia dalam hitungan detik.
Di permukaan, AI tampak seperti dewa penyelamat yang mendemokratisasi akses pengetahuan. Namun, jika kita membedahnya secara kritis dan filosofis melalui kacamata Freirean, kehadiran AI justru berpotensi memunculkan artikulasi baru dari banking concept of education yang jauh lebih masif, halus, dan hegemonik.
Ketika manusia membiarkan AI menjadi satu-satunya otoritas penjelas atas realitas, kita sedang melanggengkan alienasi eksistensial. Kita terancam terjerumus ke dalam bentuk kepatuhan baru yang tidak lagi dipaksakan oleh guru otoriter di dalam kelas, melainkan oleh otoritas algoritma yang dingin, impersonal, dan tampaknya “netral”.
Sekurang-kurangnya, tulisan ini ingin membongkar dilema filosofis pendidikan di era AI, mengkritisi struktur teknokrasi digital, serta menegaskan kembali pemikiran Paulo Freire sebagai kompas emansipatoris menuju pendidikan yang membebaskan.
Dialektika Era AI: Informasi Berlimpah, Pemahaman Dangkal, dan Pengikisan Daya Kritis
Salah satu paradoks terbesar di era kecerdasan buatan adalah kelimpahan data yang berbanding terbalik dengan kedalaman pemahaman. Kita hidup dalam lanskap infodemi, di mana miliaran byte informasi lalu lalang tanpa henti. Alih-alih informasi berlimpah dan bermanfaat, justru sering kali membuahkan pemahaman yang amat dangkal.
Secara epistemologis, terdapat perbedaan mendasar antara “mengetahui data” (information processing) dan “memahami realitas secara mendalam” (critical comprehension). AI bekerja dengan memproses pola korelasi statistik dari sekumpulan data besar (big data), namun AI tidak memiliki kesadaran eksistensial (intentionality), emosi, maupun pengalamian hidup (lived experience). Ketika peserta didik menyerahkan seluruh proses pencarian makna kepada AI, terjadi proses de-skilling secara kognitif dan filosofis.
Ketergantungan pada teknologi yang berlebihan secara perlahan mengurangi daya kritis manusia. Daya kritis bukanlah keterampilan teknologis, melainkan sebuah disposisi etis dan eksistensial untuk meragukan dogma, mempertanyakan status quo, dan membongkar relasi kuasa yang tersembunyi di balik sebuah narasi.
AI dirancang untuk memberikan jawaban yang cepat, rapi, dan konformis. AI menjawab, tetapi tidak selalu mengajak berpikir. Dalam sistem pendidikan yang berorientasi pada kepatuhan teknokratis, jawaban instan AI menina-bubukkan rasa ingin tahu yang otentik. Siswa dipuaskan oleh rangkuman otomatis tanpa pernah mengalami “rasa sakit” dari proses pergulatan pemikiran (dialectical struggle).
Lebih jauh lagi, kita tidak boleh melepaskan era AI dari konteks ekonomi-politik global. Kesenjangan akses teknologi makin memperlebar ketidakadilan. Teknologi tidak pernah lahir di dalam ruang hampa yang netral. Pengembangan AI dikuasai oleh segelintir korporasi raksasa di belahan bumi utara (big tech) yang digerakkan oleh logika kapitalisme digital.
Ketika infrastruktur, kepemilikan data, dan akses terhadap AI terkonsentrasi di tangan segelintir elit, masyarakat terpinggirkan di belahan dunia berkembang semakin terasingkan. Kesenjangan ini bukan sekadar masalah ketimpangan fasilitas (digital divide), melainkan bentuk ketidakadilan struktural yang melestarikan penindasan epistemik.
Membedah Algoritma: Teknokrasi Digital sebagai Bentuk Penindasan Baru
Dalam pemikiran Freire, penindasan terjadi ketika manusia dihilangkan haknya untuk bersuara, menentukan nasib sendiri, dan menamai dunianya (to name the world). Kaum penindas melanggengkan dominasinya melalui mitos-mitos yang ditanamkan ke dalam kesadaran kaum tertindas, sehingga kaum tertindas menganggap penderitaan dan struktur yang tidak adil itu sebagai sesuatu yang alami, wajar, dan tidak terelakkan (fatalisme).
Di era kecerdasan buatan, mitos baru yang sedang dibangun adalah mitos “Netralitas Algoritma” dan “Determinisme Teknologi”. Kita sering kali dibimbing untuk percaya bahwa hasil analisis AI adalah objektif, bebas bias, dan mutlak benar karena didasarkan pada kalkulasi matematika murni.
Padahal, algoritma AI dilatih menggunakan data historis manusia yang secara inheren memuat bias rasisme, seksisme, klasisme, dan imperialisme pengetahuan. Tanpa kesadaran kritis, penggunaan AI dalam pendidikan akan mereproduksi dan mengotomatisasi bias-bias tersebut secara masif.
Ketika sistem pendidikan mengadopsi AI secara buta tanpa refleksi filosofis, kita sedang mengubah sekolah menjadi pabrik pemrosesan data, di mana pendidik dan murid direduksi menjadi instrumen pasif dari mesin. Pendidik tidak lagi bertindak sebagai fasilitator dialog, melainkan sebagai pengawas (supervisor) jalannya platform pembelajaran digital.
Murid tidak lagi dipandang sebagai subjek yang berhak menafsirkan dunia, melainkan sebagai konsumen produk informasi digital. Ini adalah bentuk dehumanisasi baru yang sangat memprihatinkan, di mana kebebasan berpikir digantikan oleh kepatuhan terhadap rekomendasi algoritma.
Relevansi Pendekatan Freirean di Era AI: Menuju Pembebasan Epistemik
Untuk menghadapi ancaman dehumanisasi dan depersonalisasi di era kecerdasan buatan, kita harus menggali kembali pilar-pilar utama filsafat pendidikan Paulo Freire. Pendekatan Freirean menyediakan basis metodologis dan ontologis untuk mentransformasi AI dari ancaman menjadi instrumen emansipasi.
Pertama, dialog, bukan doktrin. Freire mengajarkan bahwa hakikat pendidikan yang memanusiakan adalah dialog. Dialog bukan sekadar pertukaran kata-kata secara verbal, melainkan pertemuan antara manusia yang saling menghargai untuk bersama-sama menamai dan mengubah dunia. AI bisa memberi jawaban, tapi dialog menumbuhkan kesadaran kritis.
AI bersifat monologis; ia mengeluarkan respons berdasarkan prompt tanpa memiliki kesadaran etis atau tanggung jawab sosial. Sebaliknya, dialog sejati membutuhkan keberanian, kepekaan, empati, dan kerendahan hati: kualitas-kualitas eksistensial yang hanya dimiliki oleh manusia.
Di era di mana AI dapat menjawab pertanyaan faktual dalam sekejap, fokus pendidikan harus bergeser dari sekadar “mencari jawaban” menjadi “mengajukan pertanyaan kritis” (problem-posing education). Pendidik harus menciptakan ruang dialogis di mana jawaban AI tidak diterima sebagai kebenaran final, melainkan diinterogasi: Siapa yang diuntungkan oleh jawaban ini? Narasi siapa yang disingkirkan? Apa akar masalah yang tersembunyi di baliknya?
Kedua, pendidikan sebagai praksis. Filsafat Freire berakar kuat pada konsep praksis, yaitu dialektika tak terpisahkan antara refleksi dan tindakan untuk mengubah dunia (reflection and action upon the world in order to transform it). Belajar bukan sekadar kegiatan mengumpulkan pengetahuan teoretis di dalam kepala, tetapi belajar untuk memahami realitas dan bertindak mengubahnya, bukan sekadar tahu.
Di era AI, risiko terbesar adalah munculnya “kesadaran terfragmentasi” atau kontemplasi pasif, di mana manusia merasa telah paham banyak hal karena membaca rangkuman AI, namun sama sekali terpisah dari realitas konkret di sekitarnya. Pendidikan harus memicu siswa untuk menguji pengetahuan yang mereka dapatkan dari teknologi di medan aksi sosial.
Karena itu, pengetahuan tanpa aksi adalah intelektualisme kosong; aksi tanpa refleksi adalah aktivisme buta. AI harus diposisikan hanya sebagai pemantik awal refleksi yang kemudian harus ditindaklanjuti dengan keterlibatan langsung dalam masalah-masalah sosial-masyarakat.
Ketiga, memperjuangkan keadilan dan kebijakan epistemik. Pendidikan Freirean adalah pendidikan yang secara tegas memihak pada keadilan. Pendidikan tidak pernah netral; ia bisa menjadi alat untuk mengintegrasikan generasi muda ke dalam logika sistem yang ada (penindasan), atau menjadi “praktik kebebasan” (practice of freedom).
Dalam konteks AI, kita harus memastikan teknologi digunakan untuk pemberdayaan, bukan untuk menindas. Ini menuntut kita untuk bersikap kritis terhadap kepemilikan dan tata kelola teknologi digital. Kita harus menolak komersialisasi dan privatisasi pendidikan yang berkedok digitalisasi.
Pendidik dan peserta didik harus dilatih untuk membongkar ketidakadilan algoritmik (algorithmic injustice) dan memperjuangkan kedaulatan digital (digital sovereignty), sehingga teknologi melayani kepentingan kemanusiaan dan keadilan sosial, bukan akumulasi modal segelintir oligarki teknologi.
Keempat, kesadaran kritis (conscientization/conscientizacao). Proses kunci dalam filsafat Freire adalah conscientization, pengembangan kesadaran kritis yang memungkinkan manusia mengenali kontradiksi sosial, politik, dan ekonomi tempat mereka hidup, serta mengambil tindakan melawan unsur-unsur penindas dalam realitas tersebut.
Tugas pendidik adalah menyalakan kesadaran siswa agar tidak menjadi “pengguna pasif” teknologi. Kesadaran kritis di era AI berarti mendidik siswa untuk menjadi “produsen makna” yang aktif, bukan sekadar “konsumen konten” yang pasif. Siswa harus diajak memahami cara kerja di balik layar algoritma: bagaimana data dikumpulkan, bagaimana bias dimasukkan, dan bagaimana teknologi memengaruhi pola pikir serta emosi mereka. Tanpa kesadaran kritis, manusia di era AI akan terdegradasi menjadi sekadar objek yang dikendalikan oleh algoritma.
Kelima, pendidikan yang memanusiakan (humanization). Bagi Freire, panggilan historis dan eksistensial manusia adalah menjadi lebih sepenuhnya manusia (humanization). Namun, proses ini senantiasa terancam oleh dehumanisasi yang dilahirkan oleh penindasan dan alienasi.
Di tengah gelombang modernitas tinggi dan kecerdasan buatan, teknologi harus melayani manusia, bukan menggantikan nilai-nilai kemanusiaan. AI dapat mengkalkulasi data, namun AI tidak bisa mencintai; AI dapat menyusun kalimat, namun AI tidak memiliki empati; AI dapat memprediksi pola, namun AI tidak memiliki komitmen moral terhadap keadilan. Pendidikan yang memanusiakan adalah pendidikan yang merawat ruang-ruang kehangatan emosional, solidaritas, estetika, dan etika yang tidak akan pernah bisa direplikasi oleh baris-baris kode sintesis.
Langkah Konkret: Mengintegrasikan Pedagogi Kritis dalam Praxis Pembelajaran Modern
Pertanyaan fundamental yang kemudian muncul adalah: Apa yang bisa kita lakukan di dalam ruang-ruang kelas dan komunitas kita untuk menghidupkan kembali pemikiran Freire di tengah kepungan AI? Setidaknya, pendidikan di Era AI memberikan empat arah tindakan praksis yang sangat krusial untuk kita bedah lebih dalam:
Pertama, gunakan AI sebagai alat, bukan pengganti berpikir. Kita tidak boleh terjebak dalam kecenderungan Luddite, yaitu menolak atau memusuhi teknologi secara buta. Teknologi AI adalah produk dari kebudayaan dan karya cipta manusia. Yang harus kita lawan bukanlah teknologinya, melainkan penghambaan terhadap teknologi.
AI harus ditempatkan secara proporsional sebagai alat (tool/instrument) pembantu, seperti kalkulator atau mesin cetak pada zamannya, bukan sebagai pengganti proses berpikir. Pendidik harus melatih murid untuk berinteraksi dengan AI secara kritis: menggunakan AI untuk mengumpulkan ide dasar, namun kemudian membongkar, mengkritisi, memperdalam, dan merevisi argumen yang dihasilkan mesin tersebut melalui analisis mandiri dan penalaran etis.
Kedua, bangun euang dialog di kelas dan komunitas. Kelas tidak boleh lagi berpusat pada penyampaian materi ceramah searah (teaching by telling), karena fungsi transfer informasi telah diambil alih secara jauh lebih efisien oleh kecerdasan buatan. Sekolah harus bertransformasi menjadi laboratorium dialogis dan ruang perjumpaan kemanusiaan.
Di dalam ruang kelas Freirean, guru dan siswa menjadi co-intent on reality, bersama-sama menyelidiki realitas. Diskusi kelompok, debat kritis, studi kasus lokal, dan lingkaran dialog (cultural circles) harus menjadi inti dari kegiatan pembelajaran. Di dalam ruang-ruang dialog inilah rasa empati, kemampuan mendengarkan, serta kepekaan terhadap nuansa kehidupan dipupuk dan diasah.
Ketiga, hubungkan pembelajaran dengan masalah nyata di sekitar kita. Pendidikan sering kali terasing dari kenyataan hidup masyarakat (decontextualized learning). AI sering kali menyajikan pengetahuan yang sangat abstrak dan tergeneralisasi secara global. Untuk melawan alienasi ini, pendidikan harus dijangkarkan kembali pada masalah-masalah nyata yang dialami oleh komunitas lokal: kemiskinan, kerusakan lingkungan, penggusuran, kriminalitas, hingga ketimpangan ekonomi.
Ketika peserta didik dihadapkan pada realitas konkret di sekitar mereka, AI dapat digunakan sebagai instrumen pendukung untuk mencari data atau riset sekunder. Namun, pemecahan masalah dan artikulasi solusinya harus berakar pada pemahaman empati langsung terhadap jeritan masyarakat yang terdampak.
Keempat, tanamkan empati, solidaritas, dan keberpihakan pada yang tertindas. Pendidikan kritis bukan sekadar latihan intelektual yang dingin, melainkan sebuah komitmen etis. Di era yang mengagungkan efisiensi, produktivitas, dan metrik kuantitatif (yang sering kali diakselerasi oleh AI) pendidikan justru harus menanamkan nilai-nilai yang kontra-hegemonik: empati, solidaritas, dan keberpihakan radikal pada yang tertindas (option for the poor and marginalized).
Teknologi yang tidak dibimbing oleh empati dan keadilan hanya akan mempercanggih instrumen penindasan. Oleh karena itu, kurikulum pendidikan harus secara eksplisit mengarahkan peserta didik untuk mempertanyakan keberadaan struktur sosial yang memproduksi penderitaan manusia, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab kolektif untuk membebaskan sesama.
Kebebasan sebagai Horison Akhir Pendidikan
Lompatan teknologi kecerdasan buatan menyodorkan sebuah persimpangan jalan bagi peradaban manusia. Di satu sisi, AI bisa menjadi alat penundukan yang paling efektif dalam sejarah, sebuah mesin banking concept raksasa yang mencetak manusia-manusia pasif, patuh, terasing, dan tidak berdaya di hadapan kontrol teknokrasi digital. Di sisi lain, jika dituntun oleh pedagogi kritis Paulo Freire, era AI justru bisa menjadi momentum pembuktian bahwa kebebasan manusia tidak akan pernah bisa ditundukkan oleh baris-baris kode algoritmik.
Di era AI, pendidikan Freire mengingatkan kita bahwa tujuan akhir pendidikan adalah kebebasan, bukan kepatuhan. Kebebasan yang dimaksud di sini bukanlah kebebasan individualistis tanpa batas (libertarianism), melainkan kebebasan emansipatoris, kebebasan dari ketakutan, kebebasan dari dogma, kebebasan dari struktur penindasan, serta kebebasan untuk menyadari eksistensi diri sebagai subjek yang berdaulat atas sejarah.
Pendidikan yang sejati tidak bertugas mencetak tenaga kerja yang penurut bagi pasar industri digital, melainkan menyalakan api kesadaran dalam jiwa setiap manusia agar mereka mampu berpikir secara merdeka, mencintai sesama, membela keadilan, dan bersama-sama meretas jalan menuju dunia yang lebih humanis dan berkeadaban. Wallahu a’lam bisshawab.

