Segala hal yang dialami oleh makhluk-Nya adalah manifestasi dari takdir yang telah ditulis oleh-Nya. Jauh sebelum dunia ini bising, Allah telah mengatur setiap jalinan peristiwa sejak zaman Azali. Garis hidup kita telah terukir rapi di Lauh Mahfudz, sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Hadid ayat 22:
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Artinya: “Tidak ada bencana (apa pun) yang menimpa di bumi dan tidak (juga yang menimpa) dirimu, kecuali telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah.”
Semesta tidak mengenal kata kebetulan; tidak ada satu pun ciptaan yang lahir tanpa alasan yang nyata. Jauh dari kata tidak adil, setiap jalinan takdir manusia sesungguhnya telah terangkai rapi dalam ketukan skenario-Nya yang presisi.
Terkait hal ini, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya Syifa al-Alil menegaskan bahwa keimanan terhadap takdir yang telah tertulis ini bukanlah untuk melemahkan semangat, melainkan dasar utama untuk membangun ketenteraman jiwa, karena seorang hamba tahu bahwa apa yang melewatkannya tidak akan pernah menimpanya, dan apa yang menimpanya tidak akan pernah melewatkannya (Al-Jauziyyah, 2005).
Sebagai manusia, kita diberkati kemampuan untuk menenun rencana-rencana hebat, menyusun target dengan jemari detail dan rinci. Namun, seindah apa pun cetak biru yang kita gambar, jika rida Allah tidak mendekapnya, maka jemari kita tak akan mampu menggerakkan apa-apa. Sebab pada akhirnya, ketetapan Allah adalah sebaik-baik pelabuhan. Keindahan rahasia takdir ini telah ditegaskan-Nya dalam Surah Al-Baqarah ayat 216:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: “Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Sesuatu yang kita anggap sebagai kemalangan, bisa jadi adalah cara Allah untuk menyelamatkan kita. Manusia hanya melihat apa yang ada di depan mata, sedangkan Allah melihat apa yang ada di masa depan. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini merupakan kaidah agung bahwa pilihan Allah untuk hamba-Nya jauh lebih baik daripada pilihan hamba itu untuk dirinya sendiri (Ibnu Katsir, 2000).
Apakah dengan dasar ini, manusia boleh berhenti berikhtiar? Apakah kita cukup berpangku tangan dan pasrah tanpa memilih jalan yang benar menurut agama?
Tentu saja tidak. Dalam ajaran Islam, takdir tidaklah sesederhana satu arah saja. Rahasia ketetapan Allah ini secara garis besar terbagi menjadi dua ruang yang saling melengkapi: takdir mubram dan takdir muallaq.
Mengenai pembagian ini, Syekh Ibrahim al-Bajuri dalam Tuhfat al-Murid menjelaskan bahwa Allah Swt. memang telah menentukan segala sesuatu, namun dalam implementasinya di kehidupan manusia, ada ketetapan yang berjalan melalui hukum sebab-akibat yang menuntut keterlibatan amal manusia (Al-Bajuri, 2002).
Takdir mubram adalah ketetapan mutlak yang sudah digariskan secara paten dan tidak dapat diubah oleh campur tangan manusia. Ia adalah wilayah di mana manusia hanya bisa menerima dan rida, seperti kapan kita dilahirkan, siapa orang tua kita, hingga tibanya ajal yang menjemput kelak. Di ruang ini, kepasrahan kita ditantang untuk sepenuhnya tunduk pada keagungan-Nya.
Namun di sisi lain, Allah yang Maha Bijaksana juga membentangkan takdir muallaq, yaitu ketetapan yang berjalan beriringan dengan ikhtiar dan doa manusia. Takdir ini bersifat dinamis; ia ibarat sebuah pintu yang kuncinya telah Allah titipkan pada kesungguhan usaha kita sendiri. Seseorang yang mendambakan ilmu yang luas harus mengetuknya dengan belajar, mereka yang menginginkan kesehatan harus mengusahakannya dengan menjaga tubuh, dan mereka yang mengharapkan keberkahan harus menjemputnya dengan bekerja keras serta berdoa.
Melalui takdir muallaq ini, Allah sedang memuliakan manusia dengan memberi mereka ruang untuk memilih dan berjuang. Pasrah bukanlah tanda menyerah sebelum bertarung, melainkan sebuah muara kedamaian setelah seluruh peluh dipertaruhkan. Islam mengajarkan bahwa setiap hamba harus berusaha dengan sungguh-sungguh dan maksimal, kemudian menyerahkan segala urusan dan hasil akhirnya kepada Allah. Rasulullah saw. bersabda:
“Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah; dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)
Berserah diri memiliki kedudukan yang sangat penting bagi setiap makhluk. Bagi jiwa yang beriman, kepasrahan kepada-Nya adalah sumber ketenangan hati yang sejati. Ketika kita bertawakal dan yakin bahwa Allah yang Maha Mengatur segalanya, maka beratnya ujian hidup tidak akan lagi terasa sebagai beban yang menghimpit. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28:
ٱلَّذِينَ آمَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.”
Fakhruddin ar-Razi dalam Tafsir al-Kabir memaparkan bahwa ketenteraman hati (thuma’ninah) sejati hanya akan tercapai ketika akal manusia menyadari bahwa tidak ada pencipta, pengatur, dan pelindung yang hakiki selain Allah Swt. Kesadaran inilah yang membebaskan manusia dari kecemasan berlebih terhadap dunia (Ar-Razi, 1999).
Pada akhirnya, dunia ini hanyalah tempat yang fana, sebuah ladang sementara untuk mengumpulkan amal dan bekal. Di sinilah kita belajar bahwa sekuat apa pun kita berencana, ketetapan Allah-lah yang terbaik, dan berserah diri adalah tempat pulang paling damai bagi hati manusia. Sesungguhnya Allah selalu bersama kita, “…Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita…” (QS. At-Taubah: 40).

