Ngaji Ihya’ Ulumuddin

Genealogi Hasrat dan Epistemologi Kekuasaan: Kritik Asketisme Ihya’ Ulumuddin (Refleksi Ngaji Bersama Gus Ulil Episode 441)

10 Mins read

Di tengah artikulasi modernitas yang kian mengagungkan materialisme, akumulasi kapital, dan libido dominandi (hasrat untuk berkuasa), manusia sering kali terjebak dalam disorientasi eksistensial. Kehidupan kontemporer yang diukur secara kuantitatif melalui indikator ekonomi dan status sosial telah mereduksi dimensi spiritual manusia menjadi sekadar sekrup kecil dalam mesin besar kapitalisme global.

Dalam konteks krisis spiritual akut inilah, pembacaan ulang terhadap adikarya Imam Al-Ghazali, “Ihya’ Ulumuddin”, menemukan relevansi kontekstualnya yang paling radikal. Melalui metodologi pembacaan kontekstual yang diampu oleh Gus Ulil Abshar Abdalla dalam serial “Ngaji Ihya’”, teks-teks klasik Islam tidak lagi dipandang sebagai artefak masa lalu yang membeku, melainkan sebagai pisau analisis yang tajam untuk membedah patologi sosial modern.

Episode ke-441 dari serial pengajian ini, yang secara spesifik menyoroti narasi asketisme melalui figurasi Nabi Isa AS dan Raja Dzul Qarnain (Alexander Agung dalam beberapa tradisi historiografi), menawarkan sebuah dekonstruksi radikal terhadap watak dasar manusia. Dua narasi yang dihadirkan dalam penggalan kitab ini bukan sekadar dongeng moral (moral fable) atau rekaman historis yang anakronistis. Sebaliknya, keduanya merupakan metafora epistemologis dan ontologis tentang bagaimana keterikatan pada dunia (hubbud-dunya) dapat merusak struktur kesadaran etis manusia dan bagaimana kekuasaan mutlak di bumi pada akhirnya harus bertekuk lutut di hadapan keniscayaan eskatologis: kematian.

Penulis akan menyingkap lapisan-lapisan makna tersembunyi (the hidden layers of meaning) di balik dialog Isa AS dengan sahabatnya yang khianat, serta konfrontasi intelektual-spiritual antara Dzul Qarnain dengan seorang raja asketis antropomorfis di sebuah wilayah antah-berantah. Melalui pendekatan ini, kita diajak untuk melihat bahwa esensi dari kritik Al-Ghazali bukanlah ajakan untuk melakukan pelarian antisosial yang pasif (eskapisme nihilistik), melainkan sebuah rekonstruksi kesadaran etis-profetis yang aktif dalam mengarungi realitas duniawi.

Eksperimen Sosial Nabi Isa AS dan Anatomi Pengkhianatan Manusia

Narasi pertama dibuka dengan sebuah riwayat dari Jarir, dari Layth, yang mengisahkan perjalanan teofanis Nabi Isa AS bersama seorang pengembara anonim. Dalam perspektif fenomenologi agama, perjalanan bersama seorang nabi atau figur suci selalu membawa beban eksistensial tersendiri bagi sang pengikut.

Perjalanan ini bukanlah mobilitas fisik belaka, melainkan sebuah medan ujian moral (moral probation). Kehadiran tiga potong roti di tepi sungai bertindak sebagai instrumen penguji awal bagi integritas moral sang sahabat. Ketika satu potong roti hilang saat Isa AS pergi minum, penolakan sang sahabat untuk mengaku (“Aku tidak tahu”) menandai titik awal jatuhnya martabat kemanusiaan ke dalam kubangan kebohongan.

Secara psikologis, ketidakmampuan untuk mengakui kesalahan kecil (pencurian sepotong roti) mencerminkan adanya resistensi ego yang akut. Sang sahabat terjebak dalam apa yang dalam psikologi modern disebut sebagai cognitive dissonance (disonansi kognitif); ia ingin dianggap sebagai pengikut yang saleh di hadapan seorang nabi, namun perilakunya dikendalikan oleh impuls keserakahan yang primitif.

Epistemologi Mukjizat sebagai Instrumen Pembuktian Etis

Untuk membongkar kebohongan sistematis ini, Nabi Isa AS tidak menggunakan otoritas penghakiman yang represif, melainkan menampilkan serangkaian mukjizat (tanda-tanda ketuhanan/ayat). Setiap mukjizat dirancang secara bertahap untuk menggugah kesadaran transendental sang sahabat:

Mukjizat Pertama (Resureksi Rusa): Isa AS memanggil seekor rusa, menyembelih, memanggang, memakannya bersama sang sahabat, lalu membangkitkannya kembali atas izin Allah. Mukjizat ini merepresentasikan kekuasaan atas rantai kehidupan dan kematian biologis. Mukjizat Sifat (Berjalan di Atas Air): Ketika melewati lembah air, Isa AS menggandeng tangan orang tersebut dan berjalan di atas permukaan air. Mukjizat ini melambangkan penaklukan hukum-hukum alam fisika materi.

Di akhir setiap mukjizat, Isa AS mengajukan pertanyaan retoris yang mengguncang eksistensi: “Aku bertanya kepadamu demi Dia yang telah menunjukkan tanda ini kepadamu, siapakah yang mengambil roti itu?” Formula pertanyaan ini menggunakan sumpah demi Allah yang baru saja mendemonstrasikan kuasa-Nya melalui mukjizat fisik yang tak terbantahkan. Namun, tanggapan sang sahabat tetap konsisten dalam kekeras-kepalaannya: “Aku tidak tahu.”

Secara akademis, fenomena ini menunjukkan sebuah tesis penting: mukjizat empiris tidak memiliki daya ubah terhadap hati yang telah tersublimasi oleh kerakusan. Ketika kesadaran seseorang telah terikat pada kepemilikan material (roti), keajaiban metafisik terbesar sekalipun tidak mampu meruntuhkan dinding penyangkalannya. Kebutaan spiritual ini bukan disebabkan oleh kurangnya bukti rasional atau empiris, melainkan oleh keputusan sadar dari kehendak bebas manusia (free will) untuk mempertahankan ilusi egonya.

Alkimia Pasir Menjadi Emas dan Puncak Degradasi Moral

Baca...  Gus Ulil Ngaji Ihya: Nasihat Al-Muhasibi untuk Ulama

Eksperimen etis Isa AS mencapai puncaknya di padang gurun, sebuah ruang kosong yang terisolasi dari struktur sosial, di mana watak asli manusia dapat muncul tanpa topeng kepalsuan. Di sana, Isa AS melakukan tindakan transmutasi materi (alkimia divine) dengan mengubah gundukan pasir menjadi emas murni. Emas tersebut kemudian dibagi menjadi tiga bagian secara proporsional: sepertiga untuk Isa AS, sepertiga untuk sang sahabat, dan sepertiga terakhir dikhususkan bagi “siapa saja yang mengambil roti itu”.

Di sinilah letak ironi tragis dari eksistensi manusia. Stimulus berupa emas terbukti jauh lebih perkasa daripada kesaksian atas mukjizat resureksi rusa atau berjalan di atas air. Demi mengklaim sepertiga bagian emas tambahan, sang sahabat tanpa ragu menjatuhkan harga dirinya dan mengakui kebohongannya yang terdahulu: “Akulah orang yang mengambil roti itu.” Pengakuan ini tidak lahir dari penyesalan teologis atau pertobatan spiritual (taubatun-nasuha), melainkan dari kalkulasi utilitarian-materialistis. Nilai kebenaran diposisikan di bawah nilai tukar komoditas.

Melihat kejatuhan moral yang begitu paripurna, Nabi Isa AS memutuskan untuk menarik diri dari lingkaran toksik tersebut. Beliau menyerahkan seluruh emas itu kepadanya dan pergi. Tindakan Isa AS ini mencerminkan sebuah sikap asketisme tertinggi: melepaskan materi bukan karena ketidakmampuan untuk menguasainya, melainkan karena kesadaran bahwa materi yang diperoleh melalui degradasi moral adalah racun eksistensial yang merusak jiwa.

Dialektika Tragedi di Padang Gurun: Harta sebagai Agen Destruksi Diri

Setelah kepergian Isa AS, panggung narasi bergeser menjadi sebuah drama kriminal murni yang menggambarkan bagaimana kapital memicu lingkaran setan kekerasan (circle of violence). Dua orang asing tiba-tiba muncul di padang gurun. Kehadiran emas dalam jumlah melimpah secara instan memicu insting predator di antara ketiga orang tersebut. Hubungan antarmanusia yang semula didasarkan pada prinsip koeksistensi sosial seketika hancur dan digantikan oleh relasi homo homini lupus: manusia adalah serigala bagi manusia lain.

Mereka sepakat untuk membagi emas itu menjadi tiga bagian, namun ketamakan personal segera meruntuhkan konsensus kolektif tersebut. Skema konspirasi saling membunuh pun dirancang melalui instrumen yang sangat simbolis: makanan. Orang pertama yang dikirim ke desa untuk membeli makanan memutuskan untuk meracuni makanan tersebut demi menguasai seluruh emas sendirian. Di sisi lain, dua orang yang tinggal di padang gurun berkonspirasi untuk membunuh orang pertama saat ia kembali, dengan motivasi yang persis sama.

Tragedi ini berakhir dengan kepunahan total (total annihilation). Orang pertama dibunuh seketika oleh dua rekannya, lalu kedua pembunuh itu tewas mengenaskan setelah menyantap makanan yang telah diracuni. Ketika Nabi Isa AS kembali melewati tempat tersebut bersama para sahabatnya, beliau menyaksikan sebuah pemandangan yang mengerikan sekaligus penuh pelajaran filosofis: tiga mayat manusia terbujur kaku di samping tumpukan emas yang tetap berkilau tanpa tersentuh.

Kalimat penutup dari Isa AS, “Inilah dunia, maka waspadalah terhadapnya,” merupakan sebuah kesimpulan aksiologis yang mendalam. Emas (dunia) bersifat netral secara ontologis, namun ia bertindak sebagai katalisator yang mengekspos keliaran nafsu manusia jika tidak dikendalikan oleh jangkar spiritual. Manusia hancur bukan karena emas itu memiliki kekuatan magis untuk membunuh, melainkan karena ilusi kepemilikan atas emas itu telah mematikan akal sehat dan nurani mereka.

Pertemuan Dzul Qarnain dan Epistemologi Kekuasaan Kontra-Heideggerian

Jika narasi pertama membedah watak serakah manusia pada level individu jelata, narasi kedua dalam esai ini melompat pada level makro: kekuasaan politik universal yang direpresentasikan oleh Dzul Qarnain. Dzul Qarnain, sang penakluk legendaris yang wilayah kekuasaannya membentang dari barat hingga timur bumi, dikisahkan bertemu dengan sebuah komunitas masyarakat unik yang mempraktikkan asketisme radikal secara kolektif. Komunitas ini tidak memiliki properti pribadi, tidak mengakumulasi modal, dan memisahkan diri secara sadar dari kemewahan peradaban arus utama.

Pertemuan ini menarik untuk dianalisis menggunakan kacamata filsafat eksistensial dan kritik kebudayaan. Ketika Dzul Qarnain mengamati perilaku mereka yang merawat kuburan setiap pagi, berdoa di sana, dan hanya mengonsumsi tumbuh-tumbuhan liar tanpa memelihara ternak, ia mengalami apa yang disebut sebagai “cultural shock” intelektual. Sebagai seorang penguasa imperium besar yang terbiasa mengukur kejayaan peradaban dari megahnya arsitektur, luasnya wilayah, dan melimpahnya cadangan emas dan perak, gaya hidup komunitas ini tampak aneh, eksentrik, atau bahkan subversif terhadap nalar kekuasaan universal.

Ketika Dzul Qarnain mengundang raja mereka untuk menghadap, sang raja asketis menolak dengan sebuah pernyataan harga diri yang kokoh: “Aku tidak membutuhkannya, tetapi jika dia membutuhkan sesuatu, biarlah dia datang kepadaku.” Respons ini membalikkan hierarki kekuasaan geopolitik yang konvensional. Dzul Qarnain, yang menyadari adanya kebenaran mendalam di balik penolakan tersebut, memilih untuk menanggalkan egonya dan mendatangi sang raja asketis. Dialog yang terjadi di antara keduanya merupakan salah satu debat filosofis terbaik tentang makna kebahagiaan, kecukupan (qana’ah), dan kefanaan.

Baca...  Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Syarat dan Pentingnya Etika Belajar

Ada tiga poin kritik fundamental yang dilayangkan oleh komunitas asketis tersebut terhadap peradaban materialis yang dibawa oleh Dzul Qarnain: Pertama, penolakan terhadap Logika Akumulasi (Emas dan Perak): Ketika ditanya mengapa mereka tidak mengumpulkan emas dan perak, mereka menjawab bahwa sifat dasar benda-benda berharga tersebut adalah memicu hasrat tak berujung (unquenchable thirst). Kepemilikan materi tidak pernah memuaskan jiwa, melainkan melahirkan adiksi untuk menambah lebih banyak lagi. Dalam perspektif ekonomi moral, ini adalah kritik terhadap sistem kapitalisme yang berbasis pada pertumbuhan tanpa batas (infinite growth) di atas bumi yang terbatas.

Kedua, Memento Mori sebagai Praktik Spasial Daily-Life: Praktik menggali, menyapu, dan merawat kuburan di depan rumah mereka setiap pagi bertindak sebagai intervensi psikologis yang konstan. Kuburan diposisikan sebagai jangkar visual yang mencegah mereka dari angan-angan kosong keduniawian (tulul-amal). Dalam istilah Martin Heidegger, mereka sedang mempraktikkan hidup sebagai Sein-zum-Tode (ada-menuju-kematian) secara autentik. Kematian tidak ditakuti atau disembunyikan di pinggiran kota, melainkan diintegrasikan ke dalam pusat ruang hidup sehari-hari sebagai pengingat akan batas eksistensial manusia.

Ketiga, Kritik Gastronomis: Tubuh Bukan Kuburan Hewan: Keengganan mereka memelihara ternak untuk dikonsumsi didasarkan pada prinsip spiritual yang radikal: “Kami tidak suka menjadikan perut kami sebagai kuburan untuk itu.” Mereka memandang bahwa vegetasi bumi sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan biologis minimum anak Adam. Makanan yang dikonsumsi melampaui batas kebutuhan esensial hanya akan memperbudak indra perasa dan mengeraskan hati.

Simbolisme Tengkorak: Egalitarianisme Maut dan Kritik Tirani

Puncak dari konfrontasi intelektual ini terjadi ketika sang raja asketis mengambil dua buah tengkorak manusia dari tanah dan mempresentasikannya di hadapan Dzul Qarnain. Tindakan ini merupakan sebuah performativitas pengajaran yang sangat dramatis.

Tengkorak pertama diidentifikasi sebagai milik seorang raja tiran masa lalu yang menguasai bumi dengan tangan besi, melakukan opresi, dan meluapkan keangkuhannya. Namun, ketika ajal menjemputnya atas perintah Allah, seluruh kekuasaan besarnya lenyap tanpa bekas, menyisakan seonggok tulang usang yang tidak berbeda dengan batu di jalanan. Tengkorak kedua adalah milik penguasa penerusnya yang memilih jalan keadilan, merendahkan diri di hadapan Tuhan, dan mengayomi rakyatnya setelah belajar dari kehancuran pendahulunya.

Secara visual dan fisik, kedua tengkorak itu kini tampak persis sama: usang, keropos, dan tak bernyawa. Sang raja asketis kemudian menunjuk langsung ke arah kepala Dzul Qarnain sendiri dan melontarkan kalimat yang mematikan ego: “Tengkorak ini telah menjadi seperti kedua tengkorak ini. Maka pertimbangkanlah, wahai Dzul-Qarnayn, apa yang akan kau lakukan.”

Pernyataan ini memaksa Dzul Qarnain untuk melakukan refleksi eksistensial yang radikal tentang masa depan dirinya. Kekuasaan politik universal yang ia genggam saat ini, wilayah taklukan yang tak bertepi, dan pasukan perang yang siap siaga, pada akhirnya akan mengerucut pada satu titik akhir yang sama: sebuah tengkorak kosong yang tertimbun tanah. Di hadapan maut, terjadi proses demokratisasi dan egalitarianisme total; tidak ada lagi perbedaan estetis maupun politis antara sang tiran, sang penguasa adil, maupun sang budak.

Solitude Versus Solisitude: Mengapa Penguasa Selalu Menghadapi Permusuhan

Terguncang oleh kedalaman kebijaksanaan tersebut, Dzul Qarnain menawarkan sebuah kemitraan strategis politik-spiritual. Ia mengajak sang raja asketis untuk bergabung dengannya, menjadi saudara, menteri, dan mitra dalam mengelola kekayaan imperiumnya. Namun, tawaran menggiurkan tersebut ditolak mentah-mentah dengan sebuah argumen sosiologis yang sangat brilian: “Tidak pantas jika kau dan aku berada di satu tempat… Karena semua orang adalah musuhmu… Mereka menentangmu karena kerajaan, kekayaan, dan harta duniawi yang kau miliki, tetapi aku tidak menemukan seorang pun yang menentangku karena penolakanku terhadap hal-hal tersebut dan kebutuhanku serta kekurangan sumber daya.”

Analisis sosiologis sang raja asketis membongkar hakikat dari struktur kekuasaan politik. Kekuasaan yang berbasis pada penguasaan materi dan wilayah secara inheren selalu melahirkan konflik, kecemburuan, dan permusuhan (inherent conflictuality). Seorang penguasa, sekaya dan seadil apa pun dia, akan selalu dikelilingi oleh musuh-musuh potensial yang mengincar takhta dan hartanya. Kebahagiaan seorang penguasa selalu dibayangi oleh paranoid politik dan kecemasan akan kehilangan (anxiety of loss).

Sebaliknya, individu yang memilih jalan asketisme, melepaskan diri dari kompetisi perebutan sumber daya keduniawian, secara otomatis keluar dari radar konflik sosial. Karena ia tidak memiliki apa pun yang berharga di mata duniawi, tidak ada seorang pun yang merasa terancam oleh kehadirannya. Kemiskinan material yang dipilih secara sadar (voluntary poverty) bertindak sebagai perisai sosial yang melindunginya dari intrik, pengkhianatan, dan permusuhan antarsesama manusia. Ia mendapatkan kedamaian sejati yang tidak bisa dibeli dengan seluruh cadangan emas di dalam perbendaharaan Dzul Qarnain.

Baca...  Ngaji Jawahir Al-Qur’an Gus Ulil: Menyelami 14 Permata Al-Baqarah

Integrasi Makna Dualitas Kisah dalam Filsafat Moral Ghazalian

Ketika Imam Al-Ghazali menempatkan dua kisah ini secara berdampingan dalam “Ihya’ Ulumuddin”, beliau sedang membangun sebuah argumen teologis-moral yang koheren tentang bahaya laten dari delusi keduniawian. Kisah Nabi Isa AS memberikan peringatan tentang bagaimana keterikatan pada level mikro-individual terhadap harta dapat menghancurkan ikatan persaudaraan, melahirkan kebohongan, memicu kejahatan, dan berakhir pada kematian sia-sia. Sementara itu, kisah Dzul Qarnain memperluas analisis tersebut ke level makro-struktural, menunjukkan bahwa kekuasaan politik universal sekalipun tidak bernilai apa-apa jika tidak diimbangi dengan kesadaran akan kefanaan eksistensial.

Secara akademis, kita dapat memetakan dialektika moral dari kedua narasi tersebut melalui beberapa konsep teoretis berikut: pertama, Komodifikasi versus Sakralitas Hidup. Dalam kisah Isa AS, sahabatnya mengalami disorientasi nilai di mana ia melakukan komodifikasi terhadap hubungan spiritualnya dengan seorang nabi demi sepotong roti dan beberapa karat emas. Manusia dalam jeratan keserakahan cenderung mereduksi hal-hal yang bersifat sakral menjadi profan, dan menilai segala sesuatu berdasarkan kegunaan instrumentalnya (instrumental rationality).

Kedua, Ilusi Kepemilikan Mutlak. Kedua kisah ini secara radikal menggugat konsep kepemilikan mutlak manusia atas properti. Emas di padang gurun yang ditinggalkan oleh ketiga mayat, serta tengkorak para raja di hadapan Dzul Qarnain, menegaskan tesis bahwa manusia bukanlah pemilik sejati dari dunia ini. Manusia hanyalah pengelola sementara yang sering kali tertipu oleh ilusi kepemilikannya sendiri (the illusion of ownership).

Ketiga, Reorientasi Teleologis melalui Asketisme (Zuhud). Asketisme yang diajarkan oleh Al-Ghazali melalui figur-figur dalam kisah ini bukanlah sebuah tindakan anti-sosial yang ekstrem tanpa tujuan. Zuhud bukanlah pengosongan tangan dari harta secara absolut, melainkan pengosongan hati dari ketergantungan terhadapnya. Dzul Qarnain tetap kembali memimpin kerajaannya setelah pertemuan tersebut, namun ia kembali sebagai individu yang berbeda: seorang penguasa yang jiwanya telah tercerahkan oleh pelajaran berharga tentang tengkorak dan kematian. Ia mengelola kekuasaan bukan lagi sebagai tujuan akhir (end in itself), melainkan sebagai sarana etis untuk menegakkan keadilan sebelum maut menjemput.

Relevansi Kontemporer Etika Asketsime di Era Disrupsi

Melalui dekonstruksi akademis terhadap teks “Ngaji Ihya’” Episode ke-441 ini, kita disuguhkan sebuah refleksi filosofis yang mendalam tentang fundamental etika kemanusiaan. Kisah tragis pengikut Nabi Isa AS dan dialog mencerahkan antara Dzul Qarnain dengan sang raja asketis bukan sekadar warisan naratif masa lalu, melainkan sebuah kritik kebudayaan yang sangat tajam bagi masyarakat modern yang tengah menderita sindrom hiper-konsumerisme dan alienasi spiritual.

Dunia modern dengan segala disrupsinya sering kali memaksa kita untuk menjadi seperti sahabat Isa AS yang rela mengorbankan integritas moral, kebenaran, dan persaudaraan demi mengejar “sepertiga bagian emas” yang semu di padang gurun kehidupan. Di saat yang sama, kita juga sering kali terbuai oleh ambisi-ambisi kekuasaan dan akumulasi kapital seperti Dzul Qarnain sebelum ia disadarkan oleh seonggok tengkorak usang.

Pesan moral yang disarikan dari mutiara hikmah “Ihya’ Ulumuddin” ini mendesak kita untuk melakukan jeda spiritual (spiritual pause). Kita ditantang untuk merumuskan kembali indikator kesuksesan hidup kita: apakah ia diukur dari seberapa banyak emas yang berhasil kita kumpulkan di padang gurun keduniawian, atau seberapa siap kita menghadapi realitas ruang kubur yang menanti di ujung perjalanan?

Syahdan. Keselamatan eksistensial manusia tidak ditemukan dalam kepemilikan material yang melimpah, melainkan dalam ketenangan jiwa yang mampu menundukkan ego, mengendalikan ketamakan, dan melangkah di atas bumi dengan penuh kerendahan hati serta keadilan. Sebagaimana yang disimpulkan secara indah di akhir kitab: Dan Allah-lah yang membimbing ke jalan yang benar. Wallahu a’lam bisshawab.

250 posts

About author
Penulis Lepas dan Pemerhati Isu Sosial Politik. Penulis juga merupakan Tim Redaksi Kuliah Al-Islam.
Articles
Related posts
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Gus Ulil Ngaji Ihya: Khutbah Al-Muhasibi tentang Bahaya Harta

2 Mins read
Kita tahu Imam Haris Al-Muhasibi adalah salah satu dari sekian tokoh sufi yang cukup terkenal. Banyak yang belum mengetahui bahwa julukan “Al-Muhasibi”…
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Gus Ulil Ngaji Ihya: Nasihat Al-Muhasibi untuk Ulama

2 Mins read
Suatu ketika, Imam Haris Al-Muhasibi berkata kepada ulama pencinta dunia, “Telah diceritakan bahwa beberapa ulama berkata: ‘Aku tidak akan senang memiliki unta-unta…
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Gus Ulil Ngaji Ihya: Pesan Haris Al-Muhasibi Soal Ulama & Harta

3 Mins read
Kita tahu bahwa konsep menjauhi harta menurut Al-Ghazali bukan berarti hidup dalam keadaan miskin atau “kere”, melainkan menjadi zuhud. Zuhud adalah suatu…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *