يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ ﴿١﴾ يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَىٰ وَمَا هُم بِسُكَارَىٰ وَلَٰكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ ﴿٢﴾
Artinya: “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya guncangan hari Kiamat itu adalah sesuatu yang sangat besar. Pada hari kamu melihatnya (guncangan itu), semua perempuan yang menyusui melupakan anak yang disusuinya, setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk. Akan tetapi, azab Allah itu sangat keras.”
Surah Al-Hajj ayat 1–2 merupakan salah satu ayat yang menggambarkan secara sangat kuat tentang kedahsyatan Hari Kiamat (Kementerian Agama RI, 2019). Allah SWT menyeru seluruh manusia untuk bertakwa dan memperingatkan bahwa guncangan pada hari tersebut adalah peristiwa yang sangat besar. Gambaran Al-Qur’an tentang manusia yang kehilangan kendali, ibu yang melupakan anaknya, serta kondisi seperti orang mabuk menunjukkan betapa dahsyatnya peristiwa tersebut.
Sabab Nuzul
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa QS. Al-Hajj ayat 1–2 turun sebagai peringatan umum kepada manusia, khususnya masyarakat Arab yang saat itu meragukan adanya kebangkitan setelah kematian (At-Tabari, 2001). Orang-orang musyrik Mekah menganggap bahwa manusia yang telah menjadi tanah tidak mungkin dihidupkan kembali. Maka, Allah menurunkan ayat ini untuk menegaskan bahwa Hari Kiamat pasti terjadi dan jauh lebih dahsyat daripada segala peristiwa di dunia.
Dalam beberapa riwayat, ketika Nabi Muhammad SAW membacakan ayat ini kepada para sahabat, mereka merasakan ketakutan yang sangat mendalam (Ibnu Katsir, 1999). Namun, Nabi kemudian menenangkan mereka dengan menjelaskan bahwa rahmat Allah tetap luas bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa.
Munasabah Ayat
Hubungan (munasabah) QS. Al-Hajj dengan surah sebelumnya, QS. Al-Anbiya, sangat erat dalam tema hari akhir. Pada akhir QS. Al-Anbiya ditegaskan bahwa setiap manusia akan menerima balasan atas amalnya. QS. Al-Hajj kemudian membuka penjelasan lebih detail tentang suasana Hari Kiamat.
Selain itu, hubungan antara ayat 1 dan 2 juga sangat kuat. Ayat pertama memerintahkan manusia untuk bertakwa karena dahsyatnya guncangan kiamat, sedangkan ayat kedua menjelaskan secara rinci bentuk kondisi manusia saat peristiwa itu terjadi. Dengan demikian, ayat pertama bersifat umum (ijmal), sedangkan ayat kedua memberikan gambaran konkret (tafsil).
Kajian Kosa Kata dan Tafsir
Beberapa istilah penting dalam ayat ini antara lain “yā ayyuhan-nās” yang berarti “wahai manusia”, menunjukkan bahwa seruan ini bersifat universal. Kata “ittaqū rabbakum” berarti perintah untuk bertakwa, yaitu menaati Allah dan menjauhi larangan-Nya. Adapun “zalzalatus-sā‘ah” berarti guncangan besar Hari Kiamat (At-Tabari, 2001).
Kata “tadhhalu kullu murdi‘atin ‘ammā arda‘at” menggambarkan ibu yang menyusui hingga lupa pada anaknya karena ketakutan luar biasa. Gambaran ini menunjukkan betapa dahsyatnya kondisi psikologis manusia pada hari tersebut.
Menurut Ibnu Katsir (1999), ayat ini menegaskan bahwa Hari Kiamat adalah peristiwa nyata yang harus diimani, dan manusia harus mempersiapkan diri dengan iman serta amal saleh. Sementara itu, At-Tabari (2001) menjelaskan bahwa seruan kepada seluruh manusia menunjukkan sifat universal peringatan ini, tanpa terkecuali.
Asy-Sya’rawi (1997) menambahkan bahwa ayat ini merupakan bentuk kasih sayang Allah agar manusia segera sadar sebelum terlambat. Guncangan yang disebutkan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga psikologis yang membuat manusia kehilangan kendali.
Menurut Sayyid Qutb (2003), Al-Qur’an menghadirkan suasana kiamat secara hidup sehingga menggugah kesadaran spiritual manusia. Tujuan utama ayat ini adalah mengubah hati manusia agar kembali kepada Allah.
Hikmah dan Relevansi dalam Kehidupan Modern
Al-Hajj ayat 1–2 sangat relevan dalam kehidupan modern yang penuh ketidakpastian. Meskipun manusia saat ini merasa lebih aman dengan kemajuan teknologi, berbagai peristiwa besar seperti gempa bumi, banjir, kebakaran hutan, dan pandemi global menunjukkan bahwa manusia tetap memiliki keterbatasan.
Pandemi COVID-19 menjadi contoh nyata bagaimana dunia bisa berubah secara drastis dalam waktu singkat. Selain itu, krisis sosial, konflik global, ketegangan geopolitik seperti konflik Israel-Iran (Kompas.com, 2025), serta meningkatnya gangguan kesehatan mental menunjukkan bahwa kehidupan modern juga penuh “guncangan” dalam bentuk lain. Gaya hidup materialistis, tekanan media sosial, dan ketidakstabilan ekonomi sering membuat manusia kehilangan arah hidup. Dalam kondisi ini, ayat tersebut menjadi pengingat bahwa satu-satunya pegangan yang kokoh adalah ketakwaan kepada Allah SWT.
Kesimpulan
Al-Hajj ayat 1–2 adalah peringatan keras dari Allah kepada seluruh manusia tentang datangnya Hari Kiamat yang penuh dengan kedahsyatan luar biasa. Gambaran tentang ibu yang melupakan anaknya dan manusia yang tampak seperti mabuk menunjukkan betapa besar guncangan tersebut.
Para mufasir seperti Ibnu Katsir, At-Tabari, Asy-Sya’rawi, dan Sayyid Qutb menegaskan bahwa ayat ini mengandung pesan utama tentang pentingnya ketakwaan, keimanan, dan amal saleh sebagai bekal menghadapi kehidupan akhirat.
Dalam konteks modern, ayat ini juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia sangat rapuh dan dapat berubah kapan saja. Oleh karena itu, manusia tidak boleh hanya bergantung pada kekuatan materi dan teknologi, tetapi harus menjadikan iman dan takwa sebagai fondasi utama kehidupan. Dengan demikian, QS. Al-Hajj ayat 1–2 menegaskan bahwa kesiapan terbaik menghadapi segala bentuk “guncangan”, baik di dunia maupun akhirat, adalah dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Daftar Pustaka
Asy-Sya’rawi, Muhammad Mutawalli. (1997). Tafsir Asy-Sya’rawi. Kairo: Akhbar al-Yaum Press.
At-Tabari, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir. (2001). Jāmi‘ al-Bayān fī Ta’wīl al-Qur’ān. Beirut: Mu’assasah al-Risalah.
Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. (1999). Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan Tafsirnya (Edisi Penyempurnaan). Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
Kompas.com. (2025). “Menakar Untung Rugi Konflik Israel-Iran bagi Indonesia.” Diakses dari https://money.kompas.com/.
Sayyid Qutb. (2003). Fī Ẓilāl al-Qur’ān. Kairo: Dar al-Syuruq.

