Opini

Sejarah & Evolusi Iluminasi Manuskrip Al-Qur’an Kuno

5 Mins read

Sejak dahulu kala, salinan teks Al-Qur’an telah dihiasi oleh berbagai bentuk ornamen dan hiasan. Tujuan utamanya adalah untuk memisahkan bagian-bagian teks, mempermudah pembacaan, dan tentunya menambah daya tarik visual sebuah halaman atau buku.

​Penting untuk diketahui bahwa Al-Qur’an dalam agama Islam tidak pernah diilustrasikan dengan gambar, tidak seperti Taurat dalam agama Yahudi atau Alkitab (Bible) dalam agama Kristen. Fokus hiasannya selalu pada elemen nonfigural (hanya hiasan) dan dekorasi nonrepresentasi. Dalam studi manuskrip Barat, meskipun istilah iluminasi meliputi dekorasi figural dan nonfigural, para sarjana seni Muslim selalu teliti dalam membedakan antara ilustrasi dan iluminasi manuskrip yang didekorasi dengan desain geometris serta vegetal nonrepresentasi.

​Evolusi Hiasan pada Manuskrip Awal

​Memetakan perkembangan iluminasi Al-Qur’an adalah tugas yang menantang karena manuskrip tertua (sebelum akhir abad ke-3 H/9 M) tidak pernah mencantumkan tanggal. Manuskrip yang lebih akhir sering kali ditandai dan diberi tanggal oleh kaligrafer dan terkadang oleh iluminator. Di samping itu, manuskrip yang tidak diketahui penanggalannya terkadang dapat diidentifikasi dari prasasti, seperti riwayat wakaf (waqfiyya) atau petunjuk eksternal lainnya.

​Salah satu manuskrip awal bergaya Kufi yang bentuk-bentuk hurufnya masih kaku memiliki banyak bagian yang disumbangkan oleh Amajur, Gubernur Damaskus, pada masjid di Tyre. Perkembangan penambahan hiasan secara merata telah menjadi hal yang tidak terbantahkan selama berabad-abad. Meskipun ada asumsi yang mengatakan bahwa naskah awal berbentuk sederhana dan baru berkembang dengan hiasan yang lebih banyak belakangan, asumsi tersebut mudah terbantahkan oleh penemuan setidaknya satu set perkamen yang digunakan kembali (palimpsest) di Sana’a, di mana perkamen sebelumnya ternyata sudah memiliki hiasan.

​Sebuah penelitian terhadap 40.000 fragmen dari seribu perkamen manuskrip Al-Qur’an awal yang ditemukan di atas plafon Masjid Agung Sana’a pada tahun 1972 menunjukkan bahwa hanya satu sampai delapan dari bagian-bagian tersebut yang memiliki hiasan.

​Perubahan signifikan terjadi pada abad ke-4 H/10 M ketika kertas secara berangsur-angsur menggantikan perkamen sebagai media penulisan Al-Qur’an yang pertama kali digunakan di dunia bagian timur. Perkamen tetap digunakan sampai abad ke-7 H, bersamaan dengan perubahan format dari horizontal (landscape) menuju vertikal (portrait). Perubahan ini mendorong perkembangan variasi hiasan dan iluminasi menjadi semakin baik, serta menjadikan proses pembuatan halaman baru lebih mudah dan murah. Para kaligrafer dan iluminator menggunakan bahan-bahan terbaik dan menghiasi manuskrip Al-Qur’an dengan luar biasa demi menghormati kesucian Al-Qur’an.

Baca...  Latar Belakang Terjadinya Perjanjian Hudaibiyah

​Studi mendalam terhadap hiasan dan dekorasi Al-Qur’an baru mulai mendapat perhatian dari para sarjana Muslim maupun non-Muslim pada akhir-akhir ini. Sebelumnya, para ilmuwan Barat lebih menekankan aspek tekstual daripada hiasan non-gambar. Studi yang teliti kini dapat membantu menentukan tempat dan tanggal manuskrip tertentu, sekaligus mengungkapkan bagaimana manuskrip Al-Qur’an dibaca dan digunakan pada masa lalu.

​Fungsi Ornamen: Membagi dan Menandai Teks

​Ornamen mulai digunakan dalam manuskrip Al-Qur’an untuk memisahkan satu ayat, kumpulan ayat, surah, serta pembagian 7 bagian (manzil) atau 30 bagian (juz) yang memandu pembaca untuk menyelesaikannya dalam waktu 1 minggu atau 1 bulan. Pembagian ini, seperti contohnya judul surah, biasanya dibedakan dengan berbagai cara, baik melalui ukuran, jenis tulisan, warna, maupun ragam hiasannya.

​1. Tanda-Tanda Ayat dan Ornamen Kecil

​Pembagian teks Al-Qur’an ke dalam 114 surah dengan sekitar 6.200-an ayat sudah dilakukan sejak lama, dan peneliti sesekali memperdebatkan penempatan pembagian antarayat tersebut.

  • Pertama, pembagian dalam ayat ditandai dengan terjadinya rima atau akhiran suara.
  • Kedua, pada kaligrafi awal bergaya skrip Kufi, pembagian antara ayat diindikasikan secara sederhana lewat rangkaian garis miring diagonal yang dibuat oleh kaligrafer setelah menulis kata terakhir sebuah ayat.
  • Ketiga, tanda ayat juga dapat berupa lingkaran emas atau piramida tiga atau enam lingkaran yang ditambahkan oleh kaligrafer atau iluminator setelah seluruh halaman selesai disalin.
  • Keempat, kaligrafer terkenal, Ibn al-Bawwab (w. 413 H/1022 M), secara samar menandai akhir ayat-ayat dengan tiga titik kecil pada salinan Al-Qur’an yang ia tulis dalam skrip Naskh yang membulat.
  • Kelima, beberapa abad kemudian, kaligrafer Baghdadi bernama Yaqut al-Musta’simi (abad ke-7 H/13 M) menggunakan motif mawar emas yang diselingi titik biru untuk memisahkan setiap ayat. Gaya ini kemudian diadopsi oleh banyak ahli kaligrafi di era Mamluk Mesir, Turki Utsmani, dan wilayah lainnya.
  • Keenam, penanda emas—baik berupa roset tunggal maupun piramida lingkaran—akhirnya menjadi indikator standar untuk akhir sebuah ayat.
Baca...  Relasi Antara Ajaran-ajaran Dasar Kristen dan Islam

​2. Pembagian Surah

​Terdapat variasi yang kaya mengenai cara iluminator memisahkan satu bab atau surah dari surah lainnya.

  • Cara paling sederhana adalah dengan mengosongkan satu baris, namun iluminator lebih sering menambahkan hiasan tumbuhan atau geometris (iluminasi) sekaligus informasi mengenai surah tersebut. Informasi ini biasanya mencakup judul surah, jumlah ayat, tempat diturunkannya (Makkiyah atau Madaniyah), urutan kronologis, atau kombinasi dari semuanya.
  • ​Untuk menarik perhatian pembaca pada informasi ini, iluminator sering kali menulisnya dengan warna lain (biasanya emas), membingkainya dalam kotak, dan memperpanjang dekorasinya ke bagian margin luar menggunakan motif palmette (daun palem).
  • ​Motif palmette yang menonjol ke margin ini sudah ditemukan di banyak manuskrip Al-Qur’an berskrip Kufi. Fungsinya adalah sebagai pemandu visual agar pembaca mengetahui letak awal surah baru tanpa harus membuka seluruh halaman buku secara detail.

​Hiasan Halaman Penuh

​Untuk meningkatkan kualitas visual halaman teks, kaligrafer dan iluminator membingkai teks pada setiap halaman dengan dekorasi yang indah. Bingkai ini biasanya terdiri dari serangkaian garis dengan berbagai variasi lebar dan warna—umumnya hitam, biru, dan emas. Bingkai dekoratif seperti ini menjadi tren umum di Persia, Turki, dan India dari abad ke-7 H dan seterusnya, tetapi umumnya tidak ditemukan pada naskah awal Kufi.

​Salah satu pengecualiannya adalah naskah chrysographic unik (ditulis menggunakan tinta emas) yang sebagian besar tersimpan di Perpustakaan Nuruosmaniye, Istanbul. Pada manuskrip tersebut, setiap halaman perkamen dibingkai dengan hiasan putih dengan aksen emas, hijau, serta titik merah.

​Pada masa-masa awal, dekorasi halaman penuh (full-page illumination) biasanya ditemukan pada bagian pembuka dan penutup manuskrip Al-Qur’an. Secara khusus, halaman ganda pembuka biasanya memuat Surah Al-Fatihah dan ayat-ayat pertama dari Surah Al-Baqarah. Bagian ini menjadi panggung utama bagi para seniman untuk menampilkan keahlian terbaik mereka.

​Pada abad ke-9 H dan seterusnya, para kaligrafer berupaya membuat halaman pembuka semakin mengesankan. Caranya adalah dengan menyebarkan tulisan singkat Surah Al-Fatihah secara proporsional pada halaman pembuka, atau menempatkan Surah Al-Fatihah di halaman kanan dan menyelaraskan komposisinya dengan ayat-ayat awal surah kedua di halaman sebelah kiri.

Baca...  Di Balik Mukjizat Isra Mi'raj: Pesan Penghiburan Bagi Hati yang Luka

​Kolaborasi Kaligrafer dan Iluminator

​Pada masa awal, kaligrafer dan iluminator kemungkinan besar adalah orang yang sama—seperti Ibn al-Bawwab—yang menyalin sekaligus menghias naskahnya sendiri. Namun, seiring dengan semakin kompleksnya ragam hias, terjadi spesialisasi dan pembagian tugas yang jelas antara kaligrafer (penulis teks) dan iluminator (penghias teks).

​Di era Ilkhanid, tim kaligrafer dan iluminator bekerja sama secara berkelanjutan. Sebagai contoh, Ahmad al-Suhrawardi berpasangan dengan iluminator Muhammad bin Aybak bin Abdallah. Prosesnya, teks disalin terlebih dahulu oleh kaligrafer, baru kemudian diserahkan kepada iluminator untuk dihias.

Catatan Menarik: Kaligrafer diketahui bekerja dua kali lebih cepat daripada iluminator. Penyalinan satu juz teks membutuhkan waktu sekitar satu setengah bulan, sementara proses penghiasannya memakan waktu hampir tiga bulan. Secara keseluruhan, dibutuhkan waktu hingga tujuh tahun (701–707 H) hanya untuk menghasilkan satu manuskrip Al-Qur’an besar yang terdiri dari tiga puluh jilid.

​Kisah dan keahlian para seniman, seperti Ruzbihan Muhammad yang mewarisi seni ini dari ayah dan kakeknya, menunjukkan betapa serius dan sakralnya proses produksi manuskrip ini. Hingga abad ke-12 H, kota Shumen di Bulgaria tumbuh menjadi pusat industri produksi manuskrip Al-Qur’an dengan hiasan indah yang tradisinya bertahan hingga akhir abad ke-13 H.

​Penutup

​Ornamen dan iluminasi pada manuskrip Al-Qur’an bukanlah sekadar pelengkap visual atau dekorasi estetis semata. Lebih dari itu, seni ini merupakan manifestasi tertinggi dari penghormatan, takzim, dan kecintaan umat Muslim terhadap Kalamullah (Firman Allah).

​Dari tiga titik kecil ikonik milik Ibn al-Bawwab hingga motif mawar emas bertitik biru karya Yaqut al-Musta’simi, setiap garis geometris dan motif vegetal mencerminkan evolusi seni Islam yang dengan tegas menghindari ilustrasi figuratif demi estetika nonrepresentasi. Dengan memahami fungsi pembagian teks hingga penanggalan kronologisnya, kita tidak hanya mengagumi keindahan fisik manuskrip tersebut, tetapi juga menyelami bagaimana umat Islam selama berabad-abad membaca, menghormati, dan merayakan kitab suci mereka.

27 posts

About author
Dosen STAI Syubbanul Wathon Magelang
Articles
Related posts
Opini

Bahaya Menilai Tanpa Konteks di Media Sosial

3 Mins read
​Di era digital sekarang, satu klip video berdurasi beberapa detik dapat tersebar lebih cepat daripada penjelasan panjang yang diperlukan untuk klarifikasi. Media…
Opini

Islam sebagai Jalan Pembebasan Kaum Tertindas & Keadilan Sosial

5 Mins read
Dalam sejarah perjalanan hidup manusia, persoalan keadilan selalu menjadi kegelisahan yang tidak pernah benar-benar selesai. Mengapa kelompok yang lemah hampir selalu berada…
Opini

Sufisme dan Critical Thinking: Cara Bijak Hadapi Krisis Nalar Digital

3 Mins read
​Di era media sosial saat ini, banyak orang dengan mudah membagikan informasi tanpa memastikan kebenarannya. Cukup dengan satu klik, sebuah berita bisa…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Opini

Bahaya Menilai Tanpa Konteks di Media Sosial