KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Pidato Imam Haris Al-Muhasibi

3 Mins read

Suatu waktu, Imam Haris Al-Muhasibi—salah satu pembesar ulama sufi yang hidup di abad ke-3 Hijriah, yang karyanya, kitab Al-Ri’ayah li Huquqillah Ta’ala, telah memengaruhi pemikiran Al-Ghazali—pernah ditanya mengenai mana yang lebih utama antara orang kaya yang bersyukur dan orang fakir miskin yang sabar. Imam Haris Al-Muhasibi menjawab, “Lebih utama dan baik orang fakir miskin yang sabar.”

​Mengapa orang fakir yang sabar lebih utama daripada orang kaya yang bersyukur? Karena ia tidak akan pernah tergoda dan dekat dengan harta. Berbeda dengan orang kaya, yang kemungkinan besar pada suatu waktu bisa tergoda oleh gemerlap hartanya sehingga melupakan Allah SWT.

​Imam Haris Al-Muhasibi kemudian mengutip pidato Nabi Isa as. kepada kaumnya yang munafik: “Wahai ulama su’! Kalian berpuasa dan membayar zakat, tetapi kalian tidak mengerjakan apa yang telah diperintahkan. Kalian belajar-mengajar kitab suci di madrasah-madrasah, tetapi tidak mengamalkannya. Sungguh, betapa buruknya kalian.”

​“Bukankah kalian sudah menyuruh orang-orang untuk bertobat, tetapi kalian sendiri masih melakukan dosa? Jangan hanya pandai berbicara sementara kalian tidak melakukannya, sebab jika demikian, sifat dengki akan timbul dari kalian. Kalian telah menjadikan dunia berada di bawah mulut (ucapan), dan amal kebaikan di bawah telapak kaki. Mengapa kalian menukar agama dan akhirat dengan urusan dunia?”

​“Wahai budak-budak dunia! Kalian dikatakan bertakwa tidak bisa, dikatakan merdeka juga tidak bisa. Bahkan disebut budak pun tidak pantas karena kalian sangat alim. Kalian telah disungkurkan oleh gemerlap dunia. Kelak di akhirat kalian akan telanjang bulat, dan Allah SWT akan membalas perbuatan buruk kalian selama di dunia.”

​Secara tidak langsung, menurut Gus Ulil, Imam Haris Al-Muhasibi ingin mengatakan bahwa dunia bisa membuat siapa pun terlena, bahkan memperbudak para ulama yang sangat alim sekalipun.

Baca...  Gus Ulil Ngaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad: Hukum dan Ketentuan Sifat Tuhan

​Setelah mengutip pidato Nabi Isa as., Imam Haris Al-Muhasibi berkata: “Wahai teman-temanku, mereka semua adalah ulama yang jahat (su’). Mereka sangat alim, tetapi lebih mendahulukan dunia daripada akhirat. Mereka menukar agamanya demi dunia. Di akhirat kelak, mereka termasuk orang-orang yang rugi, kecuali jika Allah mengampuninya.”

​Imam Haris Al-Muhasibi juga menambahkan: “Menurutku, orang yang hancur karena mencintai dunia dan mendahulukannya daripada akhirat adalah mereka yang memiliki kesenangan berlebih pada dunia. Mereka tak sadar bahwa di balik kemilau dunia, akan ada ‘cegukan’ yang membuatnya tidak nyaman. Akibat cegukan itu, pada akhirnya ia akan muntah-muntah.”

​Dunia, betapa pun indahnya, menyimpan kecacatan yang dahsyat. Maka waspadalah dan mohonlah pertolongan kepada Allah SWT agar tidak terjerumus di dalamnya. Jangan sampai tertipu godaan setan karena kenikmatan dunia. Ulama su’ adalah mereka yang saling berebut dan berlomba dalam kekayaan, bahkan membuat hujjah (argumen) untuk membenarkannya. Mereka tidak sadar telah jatuh ke lubang kesesatan, sementara musibah sudah mengintai di depan mata.

​“Wahai ulama yang gemar berfatwa! Celakalah kalian. Sesungguhnya argumentasi kalian tentang harta sahabat Abdurrahman bin Auf yang melimpah itu bukanlah argumen yang jujur, melainkan dari setan. Jika kalian menyangka bahwa sahabat yang kaya raya itu bertujuan menumpuk harta, maka kalian telah berghibah. Tanpa sadar, kalian menuduh sahabat cinta dunia, bahkan secara tidak langsung menghina Baginda Nabi Muhammad SAW.”

​“Jika kalian mengatakan menumpuk harta itu bagus, sementara Al-Qur’an dalam surah At-Takatsur melarangnya, itu berarti kalian beranggapan Allah tidak mengerti bahwa menumpuk harta adalah keburukan. Seolah-olah kalian lebih tahu tentang kebaikan daripada Allah SWT. Apakah kalian merasa lebih baik dari Allah?”

Baca...  Gus Ulil: Adat Istiadat Kritikal Pada Masa Al-Ghazali (1)

​Gus Ulil menjelaskan, sebahagia apa pun orang kaya, mereka akan tetap merasakan “cegukan”. Ibarat orang makan nasi rendang yang lezat, tiba-tiba di tengah kenikmatannya ia tersedak (keselek) dan batuk-batuk. Begitulah tabiat dunia.

​Kritik ini menunjukkan bahwa sejak zaman dahulu mulai muncul oknum ulama yang bergaya hidup hedonis dan mendekat pada penguasa demi materi. Inilah yang meresahkan rakyat, termasuk Imam Haris Al-Muhasibi. Inilah ciri ulama su’, yang menjadikan ilmu sebagai batu loncatan untuk meraih jabatan, popularitas, dan kekayaan duniawi.

​Dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 175-177, Allah SWT berfirman yang artinya:

“Bacakanlah (Nabi Muhammad) kepada mereka berita orang yang telah Kami anugerahkan ayat-ayat Kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari (ayat-ayat) itu, lalu setan mengikutinya sehingga dia termasuk orang yang sesat. Seandainya Kami menghendaki, niscaya Kami tinggikan derajatnya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung pada dunia dan mengikuti hawa nafsunya. Maka, perumpamaannya seperti anjing…” (QS. Al-A’raf: 175-177).

Wallahu a’lam bisshawab.

213 posts

About author
Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Penulis juga kontributor tetap di E-Harian Aula digital daily news Jatim.
Articles
Related posts
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Membenci Karakter dari Sifat Kikir

2 Mins read
Sudah jelas bahwa sifat kikir memiliki tingkatan. Tingkat yang paling tinggi menunjukkan ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kewajibannya, seperti mengeluarkan zakat, memberikan nafkah…
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Tanggung Jawab Harta dalam Islam: Ngaji Ihya Ulumuddin Gus Ulil

2 Mins read
Pada pengajian Ihya’ Ulumuddin episode ke-429, Gus Ulil menjelaskan lima pokok tanggung jawab dalam mengelola harta yang harus dipatuhi oleh setiap pemiliknya….
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Gus Ulil Ngaji Ihya: Cara Mengobati Sifat Pelit Menurut Al-Ghazali

2 Mins read
Sudah maklum bahwa peduli dan berbagi adalah salah satu ajaran Islam yang diperintahkan Allah SWT kepada umat-Nya. Tentu saja, ajaran ini tidak…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Membenci Karakter dari Sifat Kikir

Verified by MonsterInsights