Opini

Antara Rp300 Triliun dan Rp6 Juta: Kisah Dua Dunia di Balik MBG

3 Mins read

​Ada momen ketika sebuah bangsa berhenti sejenak, menarik napas, lalu bertanya pada dirinya sendiri: apa yang sebenarnya sedang terjadi? Demonstrasi bertajuk #MenujuIndonesiaBangkrut yang menggerakkan ribuan mahasiswa ke Bundaran HI dan puluhan titik lain di Jakarta pertengahan Juni lalu adalah salah satu momen itu. Bukan sekadar riak kemarahan sesaat, melainkan akumulasi dari kelelahan kolektif yang sudah lama mengendap.

Memvalidasi, Sebelum Meminta Introspeksi

​Banyak dari kita mungkin merasakan getir yang sama: harga Pertamax yang naik diam-diam dari Rp12.600 ke Rp16.650, rupiah yang terus tertekan, dan kabar korupsi yang menjerat program Makan Bergizi Gratis (MBG)—program yang semestinya jadi simbol keberpihakan negara pada rakyat kecil. Dalam konteks budaya kita yang terbiasa menahan diri, ledakan kemarahan publik biasanya bukan reaksi pertama, melainkan yang terakhir, setelah berbagai saluran keluhan terasa buntu.

​Maka sebelum bicara soal introspeksi, ada baiknya kita berhenti dulu untuk mengakui: kemarahan itu wajar. Ia lahir dari jarak yang makin lebar antara janji kebijakan dan pengalaman hidup sehari-hari. Mahasiswa yang turun ke jalan bukan sedang mencari sensasi; mereka sedang menyuarakan sakit perut jiwa yang sudah lama tidak didengar.

​Terlalu cepat mengarahkan rakyat untuk “introspeksi diri” sebelum mengakui beban yang mereka pikul sama saja dengan meminta seseorang tersenyum di tengah demam tinggi. Ada urutan yang perlu dijaga: dengar dulu, validasi dulu, baru ajak berpikir bersama. Ketika ribuan orang dari berbagai kampus rela berdesakan di tengah blokade aparat hanya untuk menyampaikan lima tuntutan, itu bukan aksi spontan tanpa dasar, melainkan akumulasi kekecewaan yang akhirnya menemukan momentum bersama.

Ketika Jari Saling Menunjuk Keluar

​Pola yang kemudian muncul cukup familiar. Mahasiswa mengajukan lima tuntutan, menyoroti pemborosan anggaran, kenaikan harga, hingga tata kelola MBG. Pemerintah, melalui Kepala Badan Komunikasi Republik Indonesia, merespons dengan klaim bahwa negara sudah berhasil menghemat APBN hingga Rp300 triliun dan berjanji akan mengevaluasi MBG.

Baca...  Penerapan Hukum di Timor-Leste: Kritik atas Kinerja PNTL dan Dampak Sosial

​Sepekan kemudian, Badan Gizi Nasional benar-benar menghentikan sementara operasional dapur MBG di seluruh Indonesia selama masa libur sekolah. Alasan resminya adalah optimalisasi tata kelola, efisiensi sumber daya, dan standardisasi—sembari mengakui langkah ini juga terkait pembenahan pascakasus korupsi yang menjerat pucuk pimpinan lama badan tersebut. BGN sendiri memperkirakan langkah ini akan menghemat anggaran hingga Rp3,4 triliun.

​Di permukaan, ini tampak seperti respons yang wajar. Namun, perhatikan arah gerak narasinya: pemerintah menekankan keputusan itu soal efisiensi yang kebetulan bertepatan dengan libur sekolah, bukan hasil langsung tekanan jalanan. Mahasiswa, di sisi lain, cenderung membingkai setiap langkah pemerintah sebagai bukti tuntutan mereka terbukti benar. Dua jari yang sama-sama menunjuk keluar, jarang berhenti untuk melihat ke dalam.

​Angka Rp300 triliun dan Rp3,4 triliun itu sendiri menarik untuk direnungkan bersama: keduanya adalah bahasa efisiensi dari kacamata anggaran negara, yang penting namun bukan satu-satunya kacamata yang dipakai rakyat untuk menilai sebuah kebijakan.

Biaya yang Tak Terlihat

​Siklus tudingan-defensi ini punya ongkos yang sering luput dari perhitungan. Ketika kebijakan lahir dari tekanan reaktif alih-alih basis data yang matang, hasilnya jarang berkelanjutan. Ketika pemerintah lebih sibuk membela diri daripada membuka ruang evaluasi jujur, kepercayaan publik terus terkikis pelan-pelan. Dan ketika energi masyarakat tersedot habis untuk konfrontasi, ruang untuk kolaborasi menyempit dengan sendirinya.

​Ada juga ongkos yang lebih dekat dengan tanah, tenggelam di balik angka-angka besar tingkat kebijakan. Selama dapur MBG berhenti beroperasi, insentif harian sekitar Rp6 juta yang biasa diterima setiap satuan pelayanan pemenuhan gizi turut tertahan. Kecil dibanding triliunan rupiah yang disebut dihemat negara, tetapi bagi mitra pengelola dapur, jeda ini bukan sekadar angka di atas kertas—ia adalah penghasilan yang tertunda. Dua skala yang berbeda ini, makro dan mikro, sama-sama nyata dan berhak didengar tanpa saling meniadakan.

Baca...  Ketika Pesan Sederhana Menggema: Mengingat bahwa Semua Milik Allah

​Pertanyaannya kini: apakah penghentian sementara MBG ini benar-benar jeda reflektif—momentum pembenahan yang tulus—atau sekadar reaksi defensif yang dibungkus bahasa teknokratis? Bedanya penting. Penyesalan yang tulus mengubah cara kerja ke depan. Reaksi defensif hanya menunda krisis berikutnya.

Pertanyaan, Bukan Jawaban Mutlak

​Alih-alih menghakimi siapa yang lebih benar, mungkin yang lebih berguna adalah mengajukan pertanyaan yang memancing refleksi dari semua pihak.

  • Untuk aktivis dan mahasiswa: apakah tuntutan yang disuarakan sudah berpijak pada data lapangan yang komprehensif, atau masih banyak terbawa arus narasi viral yang cepat menyebar namun sulit diverifikasi?
  • Untuk pemerintah dan pemangku kebijakan: apakah pola komunikasi selama ini sudah dirancang untuk membangun kepercayaan, atau justru—tanpa disadari—memicu kecurigaan yang lebih dalam? Seorang pakar komunikasi politik dari Universitas Airlangga pernah mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah kebijakan tak hanya ditentukan oleh substansinya, tetapi juga oleh kemampuan pemerintah menjelaskan alasan dan dampaknya kepada publik.
  • Untuk kita, publik dan warganet: bagaimana caranya berpartisipasi dalam diskursus ini tanpa terjebak label partisan yang memecah, atau tenggelam dalam kebisingan digital yang menutupi substansi?

Menuju Ruang Aman untuk Evaluasi Bersama

​Kesadaran itu otot, bukan bakat. Ia perlu dilatih terus-menerus, bukan ditunggu sampai krisis meledak di jalanan. Jeda yang tercipta pascademonstrasi ini—baik dari sisi kebijakan maupun dari sisi wacana publik—semestinya tidak dibiarkan berlalu begitu saja sebagai jeda administratif biasa.

​Ia bisa menjadi momentum untuk membangun mekanisme umpan balik yang lebih sehat: forum evaluasi kebijakan yang rutin, bukan hanya reaktif; saluran aspirasi yang benar-benar didengar, bukan sekadar formalitas; dan budaya introspeksi kolektif yang tidak menunggu tagar viral untuk mulai bekerja.

Baca...  Sosok Ahmad Muzani: Penjahit Komponen Bangsa dan Figur Strategis yang layak menjadi Menkopolhukam

​Sebab pada akhirnya, bangsa yang sehat bukanlah bangsa yang tak pernah berkonflik, melainkan bangsa yang mampu mengubah konfliknya menjadi ruang belajar bersama—tanpa harus menunggu demo berikutnya untuk mulai bertanya pada diri sendiri.

1 posts

About author
Ahmad Rahmatulloh adalah penulis independen yang aktif menulis tentang refleksi kehidupan, kesehatan mental, kesadaran diri, dan nilai-nilai kemanusiaan. Baginya, menulis merupakan ikhtiar untuk mengajak pembaca mengenali diri, merawat kesehatan batin, dan menemukan makna hidup di tengah perubahan zaman. Ia merupakan penulis buku Diri Yang Selama Ini Terlupa, Anjing Hitam, Perjalanan Ke Dalam Diri, dan Menuju Cahaya. Melalui karya-karyanya, ia berupaya menghadirkan tulisan yang sederhana, reflektif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Articles
Related posts
OpiniPolitik

Menggugat Alibi Stunting dalam Makan Bergizi Gratis: Sebuah Kritik Kebijakan yang Irasional

5 Mins read
Kebijakan publik yang ideal lahir dari rahim objektivitas teknokratik, bukan dari syahwat politik yang dipaksakan. Ketika sebuah program nasional bernilai ratusan triliun…
KisahOpiniSejarahTokoh

Lentera di Ujung Pulau: Refleksi Teologis dan Sosiologis KH. Syarfuddin Abdus Shomad

7 Mins read
Narasi besar tentang penyebaran Islam di Nusantara sering kali berpusat pada kota-kota besar, pesisir utara Jawa, atau pusat-pusat kesultanan yang megah. Kita…
Opini

Krisis Air Bersih di Negeri Seribu Mata Air: Peran Religiusitas dalam Konservasi Alam

5 Mins read
​Indonesia, sebuah negeri yang sering kali diibaratkan sebagai cerminan surga, diberkahi dengan kekayaan alam yang melimpah, khususnya air. Limpahan air ini adalah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *