Berita

Teori KOMITMEN Dr Hosaini: Inovasi Pendidikan Global dari Pesantren

5 Mins read

​Hosaini, Doktor ke-103 Pascasarjana UIN SATU Tulungagung, Berhasil Menemukan Teori Baru “TEORI KOMITMEN” untuk Menjawab Kebutuhan dan Tantangan Global melalui Pendidikan Pesantren sebagai Pendidikan Tertua di Indonesia.

​Tanggal 19 Mei 2026 menjadi momentum bersejarah bagi dunia pendidikan Islam, khususnya bagi Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Pada hari tersebut, seorang akademisi muda asal Arjasa Kangean, Kabupaten Sumenep, Madura, yaitu Hosaini, berhasil menyelesaikan ujian promosi doktor dan resmi dinyatakan lulus sebagai Doktor ke-103 Program Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dengan predikat Cum Laude. Saat ini, Hosaini mengabdikan dirinya sebagai dosen di Universitas Bondowoso. Keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi capaian akademik personal, tetapi juga memberikan kontribusi ilmiah yang penting bagi pengembangan teori pendidikan Islam melalui lahirnya sebuah teori baru yang diberi nama Teori KOMITMEN (Kompetensi Iman, Taqwa, Moral, dan Ilmu Pengetahuan).

​Sidang promosi doktor dilaksanakan di Aula Lantai 5 Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung pada pukul 13.00–15.00 WIB. Acara berlangsung khidmat dan dihadiri oleh para guru besar, dosen, mahasiswa, keluarga, serta tamu undangan. Susunan acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan kemudian memasuki sesi utama berupa presentasi promosi doktor yang dipandu oleh ketua sidang. Tim penguji yang hadir terdiri atas tujuh akademisi terkemuka, yaitu Prof. Dr. H. Abd. Aziz, M.Pd.I. sebagai Ketua Penguji, Prof. Dr. Ahmad Tanzeh, M.Pd.I. sebagai Sekretaris Penguji, Prof. Dr. Mahmud Arif, M.Pd.I. dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai penguji eksternal, Prof. Dr. H. Mujamil Qomar, M.Ag. sebagai Promotor sekaligus penguji, Prof. Dr. H. Imam Fuadi, M.Pd. sebagai penguji, Prof. Dr. H. Kojin, M.A. sebagai Ko-Promotor sekaligus penguji, dan Assoc. Prof. Dr. Muhammad Zaini, M.A. sebagai penguji.

​Dalam sidang tersebut, Hosaini mempresentasikan disertasinya yang berjudul “Penguatan Desain Kurikulum Integratif, Pembelajaran Integratif dan Kompetensi Lulusan dalam Menjawab Kebutuhan dan Tantangan Global di Pesantren (Studi Kasus di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, dan Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Mulk Jember)”. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan dunia pendidikan pesantren untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya kuat dalam penguasaan ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga memiliki kemampuan akademik, sosial, dan profesional yang mampu bersaing di tingkat global. Menurut Hosaini, pesantren selama ini telah berhasil menjaga kompetensi utama berupa penguasaan ilmu agama Islam sebagai kompetensi primer. Namun demikian, penguatan kompetensi ilmu pengetahuan umum, sains, teknologi, ekonomi, sosial, dan humaniora perlu terus dikembangkan secara sistematis agar lulusan pesantren memiliki kompetensi yang utuh dan relevan dengan kebutuhan dan perkembangan zaman.

Baca...  Gus Ulil Ngaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad: Kebijaksanaan Tindakan Tuhan Mungkinkah?

​Temuan utama disertasi ini adalah lahirnya Teori KOMITMEN, sebuah teori kompetensi pendidikan integratif yang menggabungkan empat dimensi kompetensi utama, yaitu Kompetensi Iman, Kompetensi Taqwa, Kompetensi Moral, dan Kompetensi Ilmu Pengetahuan. Teori ini lahir dari hasil penelitian mendalam pada tiga pesantren besar yang memiliki karakteristik pendidikan integratif. Melalui proses analisis konseptual, konstruksi teori, pengembangan proposisi, dan verifikasi empiris, Hosaini berhasil merumuskan suatu model kompetensi lulusan pesantren yang tidak hanya menekankan aspek spiritual dan moral, tetapi juga menempatkan penguasaan ilmu pengetahuan sebagai instrumen penting dalam membangun peradaban.

​Secara filosofis, Teori KOMITMEN berangkat dari keyakinan bahwa pendidikan Islam tidak boleh memisahkan antara kebutuhan dunia dan akhirat. Gagasan ini diperkuat oleh firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 201 yang berbunyi, “Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar” yang berarti, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta peliharalah kami dari siksa neraka.” Ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara pencapaian duniawi dan ukhrawi. Dalam perspektif pendidikan, keseimbangan tersebut diwujudkan melalui integrasi antara IMTAQ (Iman dan Taqwa) dan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi). Pendidikan tidak hanya menghasilkan individu yang saleh secara spiritual, tetapi juga kompeten dalam menghadapi dinamika sosial, ekonomi, teknologi, dan peradaban global.

​Menurut rumusan teorinya, Kompetensi Iman merupakan fondasi utama yang membentuk keyakinan, orientasi hidup, dan kesadaran spiritual peserta didik. Kompetensi ini diwujudkan melalui penguasaan ilmu tauhid, pemahaman akidah Islam, serta kemampuan mengenal dan meyakini sifat-sifat Allah dan Rasul-Nya. Kompetensi kedua adalah Taqwa yang diwujudkan melalui pemahaman dan praktik ilmu fikih dalam kehidupan sehari-hari, baik yang berkaitan dengan ibadah mahdah maupun ibadah sosial. Kompetensi ketiga adalah Moral atau akhlak mulia yang berfungsi membentuk karakter, integritas, tanggung jawab, dan kemampuan mengambil keputusan yang berlandaskan nilai-nilai etika Islam. Sementara itu, Kompetensi Ilmu Pengetahuan berfungsi sebagai kompetensi penunjang yang memperkuat daya saing peserta didik dalam bidang akademik, profesional, teknologi, ekonomi, sosial, dan berbagai disiplin ilmu lainnya.

Baca...  Perguruan Tinggi Muhammadiyah Terbaik Versi UniRank 2021

​Teori KOMITMEN menempatkan iman, taqwa, dan moral sebagai core competence atau kompetensi inti yang menjadi fondasi kehidupan manusia. Sementara ilmu pengetahuan diposisikan sebagai kompetensi instrumental yang berfungsi memperluas kebermanfaatan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, teori ini tidak memandang ilmu agama dan ilmu umum sebagai dua kutub yang saling bertentangan, melainkan sebagai dua entitas yang berbeda secara substansi namun harus terintegrasi secara fungsional. Ilmu agama berfungsi sebagai penuntun nilai (guiding values), sedangkan ilmu pengetahuan umum menjadi instrumen pembangunan peradaban (civilizational tools).

​Dalam presentasinya, Hosaini menjelaskan bahwa teori tersebut dapat dirumuskan secara operasional melalui proposisi sederhana: “Semakin kuat kompetensi iman, taqwa, moral, dan ilmu pengetahuan yang dimiliki peserta didik, maka semakin besar potensi mereka dalam menjawab kebutuhan dan tantangan global.” Proposisi ini lahir dari temuan empiris bahwa lulusan pesantren yang memiliki keseimbangan antara spiritualitas, moralitas, dan intelektualitas cenderung lebih adaptif, inovatif, resilien, serta mampu menjaga identitas keislamannya di tengah perubahan zaman yang sangat cepat.

​Salah satu aspek yang menarik perhatian para penguji adalah proses lahirnya teori baru tersebut. Dalam sambutannya, Prof. Dr. H. Kojin, M.A. menyampaikan apresiasi yang tinggi atas capaian akademik Hosaini. Beliau menjelaskan bahwa menemukan teori baru dalam penelitian doktoral bukanlah perkara sederhana. Sebuah teori harus memenuhi berbagai persyaratan metodologis, mulai dari keberadaan hubungan antar-konsep, konstruksi teoretis yang kuat, pengembangan proposisi ilmiah, hingga pembuktian empiris yang memadai. Selain itu, penelitian harus dilakukan pada beberapa lokasi yang berbeda untuk memastikan validitas dan generalisasi temuan. Menurut beliau, penelitian Hosaini telah memenuhi syarat-syarat tersebut sehingga layak dikategorikan sebagai temuan teori baru.

​Prof. Kojin juga mengungkapkan bahwa dirinya pernah berdiskusi dengan Prof. Dr. H. Mujamil Qomar, M.Ag. mengenai kualitas disertasi tersebut. Dalam diskusi itu, keduanya sepakat bahwa Teori KOMITMEN merupakan salah satu kontribusi akademik yang unik dan inovatif karena berhasil mengintegrasikan kompetensi IMTAQ dan IPTEK dalam satu kerangka pendidikan pesantren yang utuh. Temuan ini dipandang memiliki relevansi yang sangat tinggi dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21 yang menuntut keseimbangan antara karakter, spiritualitas, dan kompetensi profesional.

​Lebih jauh lagi, Teori KOMITMEN memiliki kontribusi strategis terhadap penguatan karakter global. Teori ini diyakini mampu menghasilkan individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kompas moral yang kuat, toleran terhadap keberagaman, serta memiliki kesadaran sosial yang tinggi. Di tengah berbagai persoalan global seperti krisis moral, disrupsi teknologi, degradasi nilai, konflik sosial, dan ketimpangan ekonomi, pendidikan yang berlandaskan Teori KOMITMEN menawarkan pendekatan yang lebih holistik dan humanis.

Baca...  Dorong Keterbukaan di Amal Usaha Muhammadiyah, Ketum PP Pemuda Muhammadiyah Sarankan Bentuk LKPP

​Dalam konteks daya saing global, dimensi ilmu pengetahuan dalam teori ini memberikan ruang yang luas bagi pengembangan keterampilan abad ke-21, seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, literasi digital, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Pesantren tidak lagi dipandang hanya sebagai pusat transmisi ilmu agama, tetapi juga sebagai lembaga yang mampu melahirkan sumber daya manusia unggul yang siap berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan peradaban dunia.

​Keberhasilan Hosaini menemukan Teori KOMITMEN menjadi bukti bahwa pesantren memiliki potensi besar dalam menghasilkan inovasi akademik yang berakar pada tradisi Islam sekaligus relevan dengan kebutuhan masa depan. Temuan ini juga menunjukkan bahwa integrasi antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan bukan sekadar wacana, melainkan dapat dirumuskan menjadi kerangka teoretis yang operasional dan aplikatif. Melalui teori tersebut, pendidikan pesantren diharapkan mampu melahirkan generasi yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan spiritual, kematangan moral, dan keunggulan intelektual.

​Pada akhir sidang, seluruh tim penguji menyatakan bahwa promovendus telah berhasil mempertahankan disertasinya dengan sangat baik. Setelah melalui proses tanya jawab, klarifikasi, dan pendalaman substansi penelitian, sidang memutuskan bahwa Hosaini dinyatakan lulus dengan predikat Cum Laude dan resmi menyandang gelar Doktor. Keputusan tersebut disambut haru dan syukur oleh keluarga, sahabat, kolega, serta seluruh hadirin yang hadir dalam ruangan.

​Keberhasilan ini menjadi perjalanan penting bagi seorang putra daerah yang lahir di Arjasa Kangean, Sumenep, dan kini mengabdikan diri sebagai dosen di Universitas Bondowoso. Lebih dari sekadar pencapaian akademik, kelulusan doktor ke-103 Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung ini menandai lahirnya sebuah gagasan baru yang berpotensi memperkaya khazanah ilmu pendidikan Islam di Indonesia. Teori KOMITMEN yang digagas oleh Dr. Hosaini hadir sebagai tawaran konseptual untuk menjawab tantangan zaman melalui integrasi iman, taqwa, moral, dan ilmu pengetahuan. Dengan teori tersebut, pesantren tidak hanya menjadi benteng moral dan spiritual, tetapi juga menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia unggul yang mampu berkontribusi dalam membangun peradaban dunia yang lebih berkeadaban, berkemajuan, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.

243 posts

About author
Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Penulis juga kontributor tetap di E-Harian Aula digital daily news Jatim.
Articles
Related posts
Berita

Jasa Cetak Jersey Custom Jogja Berkualitas - Aflah Apparel

1 Mins read
Yogyakarta – Semangat penguatan usaha anggota terus menjadi fokus dalam ekosistem Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU). Salah satu pelaku usaha yang aktif menghadirkan…
Berita

Maarif Institute Sukses Menyelenggarakan Tadarus Pemikiran Ahmad Syafii Maarif dan Peluncuran Buku BUYA SYAFII di Mata Orang Biasa

1 Mins read
KULIAHALISLAM – Jakarta Pusat, Maarif Institute menyelenggarakan agenda Tadarus Pemikiran Ahmad Syafii, dengan mengangkat tema Pendidikan, Ekologi dan Keadaban Publik; Menjawab Krisis…
Berita

​Anggota DPRD Surakarta Roro: Politik Itu Seni, Bukan Hal Menakutkan

1 Mins read
​SURAKARTA – Mahasiswa Institut Islam Mamba’ul ‘Ulum (IIM) Surakarta melaksanakan praktik nyata Ujian Akhir Semester (UAS) untuk mata kuliah Civic Education yang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Opini

Belajar Mindfulness Spiritual dari Sahl Al-Tustari untuk Atasi Distraksi