Biografi Singkat Yusuf Itfisy
Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Yusuf bin Isa bin Shalih Itfisy al-Wahbi, al-Ibadi, atau dikenal dengan Uthfayyisy. Beliau lahir pada tahun 1236 H di kota Mzab (Al-Mizabi).
Beliau diberi julukan “Al-Wira’i” (orang yang wara’) karena kesibukannya dalam belajar serta mengarang kitab sejak usia 16 tahun. Yusuf Itfisy memiliki beberapa karya monumental, di antaranya tafsir Da’i al-Amal li Yaum al-Amal, Tafsir Hamyan al-Zad ila Dar al-Ma’ad, dan Taisir al-Tafsir.
Dinamika Penulisan Dua Kitab Tafsir
Mengapa satu penulis memiliki gaya penulisan kitab tafsir yang berbeda?
Penafsiran yang dihasilkan Yusuf Itfisy berlandaskan pada ideologi teologi yang dianutnya (Ibadiyah/Khawarij). Tujuannya adalah memperkuat argumen mazhab tersebut. Namun, penafsirannya hadir dalam format yang berbeda karena setiap karya lahir dari konteks, tujuan, dan fase perkembangan intelektual yang tidak sama.
Tafsir Hamyan al-Zad ila Dar al-Ma‘ad ditulis pada masa mudanya. Kitab ini dikenal lebih panjang, padat, serta penuh dengan rincian kebahasaan dan catatan teknis. Seiring berjalannya waktu, ketika masyarakat umum mulai merasa berat dan jenuh dengan uraian yang terlalu mendalam, Itfisy terdorong untuk menyusun karya yang lebih ringkas agar mudah dipahami. Pada tahap inilah ia mulai memadatkan penjelasan, menyederhanakan uraian, serta memilih fokus yang lebih praktis dalam kitab selanjutnya.
Perbedaan Metodologis: Hamyan al-Zad vs Taisir al-Tafsir
Baik Tafsir Hamyan al-Zad maupun Taisir al-Tafsir memiliki kecenderungan yang kuat dipengaruhi oleh mazhab Khawarij (Ibadiyah) yang dianutnya. Yusuf Itfisy menggunakan kedua tafsir ini sebagai sarana penguatan mazhab.
- Tafsir Hamyan al-Zad: Menggunakan metode tahlili dan lebih cenderung pada corak bi al-ra’yi dengan pendekatan teologi, kebahasaan, fikih, hadis, israiliyyat, dan qira’at. Tafsir ini berjumlah 21 jilid.
- Taisir al-Tafsir: Secara metode sama dengan Hamyan al-Zad, namun penulisannya jauh lebih jelas dan ringkas. Penafsiran ini konsisten menggunakan satu qira’ah, yakni Imam Nafi’, sehingga penjelasan ayatnya lebih fokus dibandingkan tafsir sebelumnya yang banyak menggunakan variasi qira’ah. Tafsir ini terdiri dari 17 jilid.
Studi Kasus: Penafsiran Surah Al-Fath Ayat 10
“Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad), (pada hakikatnya) mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka…” (QS. Al-Fath: 10)
Penafsiran dalam Hamyan al-Zad
Dalam menafsirkan kata “Yadullah” (Tangan Allah), Tafsir Hamyan al-Zad menjelaskan beberapa pandangan ulama:
- Ibnu Abbas: Mengartikan sebagai janji kebaikan dan balasan Allah.
- As-Suddi: Mengartikan sebagai “berada dalam kekuasaan-Nya”.
- Al-Kalbi: Mengartikan sebagai nikmat besar Allah, terutama hidayah.
- Sebagian Ulama: Menafsirkan sebagai kekuatan dan pahala.
- Jumhur: Menafsirkan sebagai nikmat Allah secara umum.
Secara tegas, Tafsir Hamyan al-Zad menolak makna Yadullah secara literal (fisik). Tafsir ini menggunakan metode takwil dan menyimpulkan bahwa Yadullah adalah ungkapan majazi (metaforis) yang merujuk pada nikmat Allah.
Penafsiran dalam Taisir al-Tafsir
Dalam kitab Taisir al-Tafsir, yang merupakan ringkasan dari Hamyan al-Zad, penjelasan mengenai makna “Yadullah” menjadi lebih spesifik. Mengutip pendapat Az-Zajjaj, Itfisy memberikan tiga penjelasan makna tangan Allah: (1) memenuhi janji, (2) pahala ketaatan, atau (3) kekuatan dan pertolongan Allah.
Pada sub-bab akidah, dijelaskan penolakan terhadap tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk) secara sangat tegas. Ia menyatakan bahwa menyerupakan Allah dengan makhluk hidup hukumnya adalah buruk/tercela. Jika ungkapan tersebut digunakan untuk perbuatan Allah (seperti pertolongan-Nya), maka itu bukan penyerupaan Zat-Nya.
Yusuf Itfisy mengkritik keras mereka yang mengartikan “tangan” sebagai sifat hakiki (anggota badan) lalu menutupinya dengan dalih bila kaifa (tanpa menanyakan bagaimana).
Menurutnya, ungkapan bila kaifa tidak menghilangkan masalah tasybih. Dengan demikian, tafsir ini menegaskan bahwa Yadullah wajib dipahami secara takwil sebagai nikmat, kekuasaan, dan pertolongan Allah, bukan anggota tubuh.
Kesimpulan
Penafsiran Yusuf Itfisy terhadap kata Yadullah dalam kedua kitabnya sama-sama menegaskan bahwa makna tersebut bukanlah tangan fisik, melainkan ungkapan majazi yang merujuk pada nikmat, pertolongan, dan kekuasaan. Hal ini sejalan dengan teologi yang berbasis takwil dan tanzih (penyucian Allah dari sifat makhluk).
Meskipun demikian, terdapat inkonsistensi metodologis dalam penyajian rujukan. Taisir al-Tafsir (sebagai kitab ringkasan) hanya mencantumkan pendapat Az-Zajjaj dan tidak memuat kutipan Ibnu Abbas, As-Suddi, maupun Al-Kalbi yang terdapat dalam kitab induknya (Hamyan al-Zad).
Hal ini menunjukkan bahwa dalam proses peringkasan, banyak referensi yang dipangkas sehingga kekayaan referensi pada karya ringkasan tampak berkurang dibandingkan karya induknya.

