Prof. Dr. Fazlur Rahman dijuluki sebagai “Bapak Neo-Modernisme Islam”. Fazlur Rahman lahir pada tahun 1919 di daerah Barat Laut Pakistan dan wafat di Chicago pada 26 Juli 1988. Beliau adalah seorang pemikir Muslim dan sarjana kelas dunia yang menjabat sebagai Guru Besar dalam bidang Pemikiran Islam di University of Chicago.
Fazlur Rahman merupakan guru dari para tokoh intelektual Indonesia, seperti Prof. Dr. M. Amien Rais, Prof. Dr. Nurcholish Madjid, dan Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif (Amal, 1990). Beliau dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang memegang teguh tradisi Mazhab Hanafi di daerah Barat Laut Pakistan. Meskipun dibesarkan dalam tradisi Mazhab Hanafi yang kental dengan corak rasionalitas, Rahman berhasil melepaskan diri dari keterbatasan pemikiran sempit di dalam batas-batas Mazhab Sunni.
Pada awalnya, meskipun berlatar belakang Sunni, Rahman sempat menyetujui beberapa praktik ibadah kaum Syiah. Namun, belakangan ia mengembangkan pemikiran yang sangat kritis, baik terhadap tradisi Syiah maupun Sunni. Rahman bahkan menyerukan pentingnya perumusan ulang secara total dan tuntas terhadap warisan sejarah Islam, baik dalam bidang teologi maupun hukum (Rahman, 1979).
Ia memperoleh pendidikan formal awal di madrasah tradisional paling bergengsi yang didirikan oleh Muhammad Qasim Nanotawi (Madrasah Darul Uloom Deoband). Namun, pengajaran Islam tradisional yang diperolehnya tidak membatasi daya pikirnya. Rahman memiliki sikap skeptis terhadap keabsahan historis hadis, sebuah pandangan yang dipengaruhi oleh warisan pemikiran Sir Sayyid Ahmad Khan (Amal, 1990). Berkelit dari mutu pendidikan di anak benua India-Pakistan yang kala itu dinilai masih rendah, Rahman memutuskan untuk melanjutkan studinya ke Inggris.
Keputusan tersebut merupakan langkah yang tergolong berani pada zamannya, sebab muncul anggapan umum bahwa sangat aneh apabila seorang Muslim mempelajari Islam ke Barat. Ketika sarjana Hindu ternama, Sir S. Radhakrishnan, bertanya kepadanya mengapa ia tidak melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar di Mesir, Rahman mengemukakan bahwa lembaga pendidikan Islam tradisional tersebut pada kenyataannya hanya mewakili wujud akhir pemikiran Islam abad pertengahan dengan sedikit modifikasi minor.
Fazlur Rahman di “Sarang Orientalis”
Fazlur Rahman menempuh pendidikan akademis di Punjab University dan berhasil memperoleh gelar Magister di bidang Sastra Arab pada tahun 1942. Pada tahun 1946, ia melanjutkan studi doktoralnya di Oxford University, Inggris, hingga meraih gelar Doktor di bidang Filsafat pada tahun 1951. Desertasinya di Oxford membahas tentang pemikiran psikologi Ibnu Sina. Dua tahun kemudian, Oxford University Press menerbitkan desertasi tersebut dengan judul Avicenna’s Psychology (Rahman, 1952). Rahman dikenal sangat menguasai konsep-konsep filsafat dan psikologi Ibnu Sina.
Setelah menyelesaikan studinya, Rahman mengajar di Durham University, Inggris, dan kemudian berlanjut ke Institute of Islamic Studies, McGill University, Montreal, Kanada, dengan jabatan sebagai Associate Professor of Philosophy. Di Kanada, Rahman menjalin persahabatan erat dengan seorang orientalis kenamaan, Wilfred Cantwell Smith. Meskipun banyak menimba ilmu dari sarjana-sarjana Barat, Rahman tetap bersikap kritis terhadap pandangan-pandangan Barat yang berkaitan dengan Islam dan umatnya.
Saat mengajar di Durham University, Rahman berhasil merampungkan karyanya yang monumental, Prophecy in Islam: Philosophy and Orthodoxy (Rahman, 1958). Penulisan karya ini dilatarbelakangi oleh keprihatinannya bahwa para sarjana modern yang mengkaji pemikiran keagamaan Islam kurang menaruh perhatian pada doktrin kenabian. Karya tersebut bertujuan memfokuskan kembali perhatian intelektual pada area pemikiran religio-filosofis Islam. Di samping itu, Rahman juga memberikan perhatian mendalam terhadap gerakan modernisme, tradisionalisme, dan fundamentalisme Islam.
Kontroversi-Kontroversi di Pakistan
Setelah melanglang buana di Barat, Fazlur Rahman akhirnya kembali ke Pakistan pada awal tahun 1960-an. Dengan mengidentifikasi dirinya sebagai seorang Modernis, Rahman siap terjun ke dalam gelanggang pertarungan pemikiran melawan kubu tradisionalis dan fundamentalis guna merumuskan definisi ideologis bagi Pakistan sebagai negara Islam.
Pada Agustus 1962, Rahman ditunjuk sebagai Direktur Lembaga Riset Islam (Central Institute of Islamic Research) di Pakistan. Selanjutnya pada tahun 1964, ia diangkat sebagai anggota Advisory Council of Islamic Ideology oleh Pemerintah Pakistan.
Penunjukan Rahman oleh Presiden Ayub Khan memicu keberatan dari kalangan ulama tradisionalis. Mereka menilai latar belakang pendidikan Rahman berasal dari “sarang orientalis”. Selain itu, kedekatan pemikirannya dengan Sir Sayyid Ahmad Khan membuatnya menuai banyak kecaman. Sir Sayyid berpandangan bahwa hadis bukanlah sumber utama Islam karena sumber Islam sejati hanyalah Al-Qur’an. Sir Sayyid menilai bahwa banyak hadis memuat hal yang tidak masuk akal, terlalu antropomorfis, dan secara moral meragukan.
Meskipun mengagumi Sir Sayyid, Rahman tetap mengkritik pandangan radikal tersebut. Rahman berpandangan:
“Hadis merupakan interpretasi yang kreatif dan dinamis terhadap Sunnah Nabi SAW, dan karenanya harus dipandang sebagai indeks terhadap Sunnah Nabi.” (Rahman, 1965)
Rahman memandang Sunnah Nabi sebagai konsep pengayom (umbrella concept) yang dinamis, bukan statis. Menurutnya, Sunnah Nabi SAW harus ditafsirkan secara situasional dan diadaptasikan ke dalam konteks zaman modern.
Ketika artikel-artikel Rahman dipublikasikan di jurnal Islamic Studies, reaksi keras dari ulama belum muncul. Namun, ketika artikel tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Urdu, kontroversi pun meledak. Kritikan utama yang ditujukan kepada Rahman adalah tuduhan bahwa penolakan terhadap keabsahan historis hadis akan membahayakan keseluruhan pranata religio-sosial Islam. Para ulama berargumen bahwa menyatakan suatu hadis tidak sahih secara historis tetapi tetap otoritatif secara religius adalah ungkapan kosong yang tidak bermakna, serta konsep Sunnah yang diajukan Rahman dianggap merusak rincian ajaran agama.
Meskipun ulama tradisionalis mengajukan keberatan keras, mereka tidak memvonis “kafir” kepada Rahman; ia hanya dituduh sebagai seorang “Westernis” atau “Orientalis”.
Ketika Majelis Nasional Pakistan mengesahkan amandemen konstitusi yang menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai landasan konstitusi, Rahman melayangkan protes kepada Presiden Ayub Khan. Rahman menganggap tidak tepat membatasi sumber otoritatif Islam hanya pada teks Al-Qur’an dan Sunnah secara harfiah sembari mengabaikan kekayaan mazhab hukum klasik.
Kontroversi Keluarga Berencana
Seperti negara berkembang lainnya, Pakistan menghadapi masalah pertumbuhan penduduk yang pesat. Lembaga Riset Islam yang dipimpin Rahman berupaya menggagas ide Keluarga Berencana (KB). Rahman menerjemahkan fatwa Syekh Mahmud Syaltut (Rektor Universitas Al-Azhar, Mesir) ke dalam bahasa Urdu, yang mendukung ide pembatasan kelahiran. Fatwa tersebut menegaskan bahwa dalam ajaran sosial Islam, orang tua bukanlah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab terhadap anak, melainkan masyarakat dan negara turut memikul tanggung jawab tersebut.
Rahman mengkritik argumen kalangan tradisionalis dan fundamentalis yang menolak gagasan kontrol populasi. Rahman menilai bahwa cita-cita menciptakan masyarakat yang kuat justru terancam oleh pertumbuhan populasi yang tidak terkendali. Menurutnya, kejayaan umat dapat dicapai melalui perbaikan kualitatif, bukan sekadar jumlah kuantitatif.
Ulama tradisionalis menolak ide KB dengan alasan bahwa gagasan tersebut berasal dari Barat. Rahman menanggapi bahwa terlepas dari mana asal ide tersebut, masyarakat dunia harus bersikap rasional dalam melihat perlunya kontrol populasi. Meskipun didukung oleh pemerintahan Presiden Ayub Khan, Rahman terus mendapat tekanan dari ulama tradisionalis. Abul A’la Al-Mawdudi bersama Partai Jama’at-i-Islami bahkan mengumumkan manifesto politik bahwa apabila mereka berkuasa, mereka akan menghapuskan program Keluarga Berencana.
Kontroversi Riba dan Bunga Bank
Taufik Adnan Amal (1990) menyatakan bahwa salah satu isu kritis yang mengganggu perkembangan ekonomi Islam adalah penafsiran atas larangan riba dalam Al-Qur’an dan kaitannya dengan sistem perbankan modern. Konstitusi Pakistan berjanji menghapuskan riba, di mana konstitusi mendefinisikan riba sebagai usury (rente/pemerasan), bukan interest (bunga bank biasa).
Kalangan ulama tradisionalis menegaskan bahwa seluruh bentuk bunga bank adalah riba dan hukumnya haram. Pada tahun 1962, ketika pemerintah mengajukan Rancangan Anggaran Belanja ke Majelis Nasional, rancangan tersebut ditolak karena dianggap tidak Islami akibat melibatkan sistem bunga bank.
Menghadapi persoalan ini, Rahman melakukan penelitian mendalam mengenai hakikat riba yang dilarang Al-Qur’an serta latar belakang pelarangannya (Rahman, 1964). Rahman menyimpulkan bahwa secara ideal sistem ekonomi Islam dapat disusun tanpa bunga bank, namun kondisi riil Pakistan saat itu belum memungkinkan untuk menerapkan konstruksi idealis tersebut secara mendadak. Menurut Rahman, menghapuskan bunga bank secara terburu-buru sebelum masyarakat direkonstruksi secara Islami secara menyeluruh justru merupakan langkah bunuh diri bagi perekonomian negara.
Media massa di Pakistan kemudian melansir opini bahwa Rahman menghalalkan bunga bank yang ringan dan hanya mengharamkan bunga yang berlipat ganda (usury). Ulama tradisionalis menuduh Rahman melakukan konspirasi untuk merusak Islam. Rahman membantah hal ini dan menyatakan bahwa para ulama hanya mengutip pemikirannya secara parsial tanpa memahami kerangka berpikirnya secara utuh.
Kontroversi Zakat dan Pajak
Fazlur Rahman menyarankan kepada Pemerintah Pakistan agar struktur perpajakan dirasionalkan dan diefisienkan melalui modernisasi institusi zakat. Ia mengusulkan penyesuaian tarif zakat dan perluasan cakupannya hingga ke sektor investasi kekayaan modern guna meminimalkan pengelakan pajak serta meningkatkan motivasi keagamaan warga negara.
Saran Rahman ini didasarkan pada penafsirannya terhadap distribusi zakat dalam QS. At-Taubah [9]: 60, yang menurutnya mencakup seluruh aktivitas kemaslahatan negara modern.
Formulasi zakat ini tidak hanya dikritik oleh ulama tradisionalis, tetapi juga oleh kalangan modernis. Mereka menilai Rahman terlalu terburu-buru. Kalangan modernis menyarankan agar perubahan dilakukan secara bertahap: diawali dengan pengumpulan zakat secara sukarela, kemudian diubah menjadi pajak formal, hingga akhirnya seluruh sistem perpajakan diintegrasikan ke dalam naungan zakat.
Kontroversi Wahyu Al-Qur’an dan Hijrah ke Chicago
Puncak gelombang kontroversi pemikiran Fazlur Rahman pecah sehubungan dengan pandangannya mengenai wahyu dalam bukunya yang terkenal, Islam (1966).
Secara mendasar, Rahman tetap mempertahankan keyakinan ortodoksi Islam bahwa Al-Qur’an adalah wahyu verbal dari Allah. Namun, ia tidak sependapat dengan formula standar ortodoksi yang menggambarkan proses pewahyuan secara mekanis dan eksternalistis. Rahman menilai pandangan umum yang menggambarkan penyampaian wahyu oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW mirip seperti seorang tukang pos yang mengantarkan surat adalah pandangan yang dangkal.
Bagi Rahman, pemikiran abad pertengahan tidak memiliki perangkat intelektual yang memadai untuk menggabungkan dua sisi wahyu secara bersamaan: yaitu sifat ilahi wahyu sebagai “Kalam Allah” di satu sisi, dan keterkaitannya yang sangat erat dengan kepribadian serta jiwa Nabi Muhammad SAW di sisi lain (Rahman, 1966).
Pada bulan April 1968, Rahman mengalami serangan jantung akibat beban mental menghadapi gelombang kecaman yang masif terhadap buku dan pemikirannya. Unjuk rasa besar-besaran terjadi di berbagai kota di Pakistan. Kasus ini memperlihatkan dilema nyata yang dihadapi oleh seorang sarjana Muslim modern ketika isu-isu keagamaan berkelindan dengan kepentingan politik praktis.
Demi keselamatan diri dan kebebasan akademik, Prof. Fazlur Rahman akhirnya memutuskan meninggalkan Pakistan dan hijrah ke Amerika Serikat. Sejak tahun 1970, ia menjabat sebagai Guru Besar Kajian Islam (Professor of Islamic Thought) di Department of Near Eastern Languages and Civilizations, University of Chicago.
Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif menyatakan bahwa kepindahan Rahman ke Chicago semakin mengukuhkan reputasinya sebagai salah seorang Guru Besar yang sangat dihormati di dunia internasional. Ketenaran University of Chicago sebagai salah satu pusat studi Islam terkemuka di dunia Barat salah satunya didorong oleh kehadiran Rahman (Maarif, 1988).
Di University of Chicago, Rahman mengajar berbagai mata kuliah penting, meliputi: Studi Al-Qur’an, Filsafat Islam, Tasawuf, Hukum Islam, Pemikiran Politik Islam, Modernisme Islam, serta kajian khusus mengenai pemikiran tokoh-tokoh besar seperti Al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, Shah Waliullah, hingga Muhammad Iqbal.
Referensi
- Amal, Taufik Adnan. (1990). Islam dan Tantangan Modernitas: Studi atas Pemikiran Intelektual Fazlur Rahman. Bandung: Mizan.
- Maarif, Ahmad Syafii. (1988). Fazlur Rahman dan Pembentukan Intelektual Muslim. Jakarta.
- Rahman, Fazlur. (1952). Avicenna’s Psychology. London: Oxford University Press.
- Rahman, Fazlur. (1958). Prophecy in Islam: Philosophy and Orthodoxy. London: George Allen & Unwin.
- Rahman, Fazlur. (1964). Riba and Interest. Islamic Studies, 3(1).
- Rahman, Fazlur. (1965). Islamic Methodology in History. Karachi: Central Institute of Islamic Research.
- Rahman, Fazlur. (1966). Islam. London: Weidenfeld and Nicolson.
- Rahman, Fazlur. (1979). Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. Chicago: University of Chicago Press.

