Opini

Mengurai Kelemahan Teori Benturan Peradaban Islam dan Barat

2 Mins read

Jika ditanya, benarkah Islam dan Barat berhadap-hadapan secara diametral? Apakah yang dimaksud dengan Barat? Siapakah yang disebut Islam? Serta, apa relevansi teori Samuel Huntington ini dalam kehidupan keberagamaan kita?

​Syahdan, dahulu kala muncul sebuah teori mengenai “Clash of Civilizations” atau benturan antarperadaban. Belakangan ini, berdasarkan teori tersebut, berkembang pandangan bahwa telah terjadi benturan peradaban yang meruncing antara dunia Islam dan Barat.

​Menurut Azyumardi Azra (2005), tesis ini populer setelah dikemukakan oleh seorang profesor ilmu politik dari Harvard University, Samuel P. Huntington, melalui artikelnya di jurnal Foreign Affairs (1993) yang kemudian diperluas menjadi buku berjudul The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order pada tahun 1996.

​Dalam hal ini, jika perbenturan antara peradaban Islam dan Barat dianalisis menggunakan kacamata Huntington, akan ditemukan banyak kelemahan substantif. Mengapa demikian? Karena mendikotomikan secara tegas antara Barat dan Islam, baik secara teoretis maupun empiris, sesungguhnya sangat sulit dilakukan.

​Dikatakan sulit karena apa yang disebut sebagai “dunia Islam” pada kenyataannya tidaklah tunggal, melainkan sangat beragam dan penuh faksi. Sebagai contoh, ada kelompok negara mayoritas Muslim yang sangat pro-Barat, bahkan menjadi sekutu strategis Barat di Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Yordania, dan Turki. Di sisi lain, geopolitik kawasan juga melibatkan dinamika rumit dengan negara seperti Israel.

​Sebenarnya, jika disederhanakan, prediksi Huntington mengenai benturan peradaban ini cenderung menggeneralisasi ketegangan geopolitik tertentu—seperti perseteruan antara Iran dan Amerika Serikat pasca-Revolusi Islam Ayatullah Khomeini pada tahun 1979—menjadi benturan skala global.

​Barat sendiri secara substantif tidak sepenuhnya menjadi satu blok yang monolitik. Di negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, Jerman, Prancis, dan Inggris, komunitas Muslim tumbuh pesat dan banyak yang memegang posisi strategis, mulai dari ranah akademik hingga menjadi tenaga ahli di lembaga kedirgantaraan seperti NASA.

Baca...  Pesan Al-Ghazali untuk Netizen: Jangan Jadi Dokter Palsu Agama

​Bahkan di daratan Eropa, jejak dan peninggalan peradaban Islam sangat melekat secara historis. Sejalan dengan laporan kajian kebudayaan global, akar dari peradaban Barat modern sesungguhnya ditopang oleh tiga tradisi keagamaan besar yang saling memengaruhi, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam (Ruthven, 2004).

​Oleh karena itu, Azra (2005) kembali menegaskan bahwa teori The Clash of Civilizations memiliki cacat logika yang besar. Dengan demikian, kita tidak perlu terjebak dalam arus dikotomi semu yang menghadapkan Islam secara hitam-putih dengan Barat.

​Pada realitasnya, negara-negara Muslim sendiri menerima banyak manfaat dari Barat, khususnya dalam adopsi ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Hal-hal positif dari Barat tentu dapat kita serap tanpa harus meniru budaya yang tidak sesuai. Sebaliknya, dunia Barat juga bisa belajar banyak dari nilai-nilai spiritualitas, humanisme, dan kedamaian yang ada di dunia Muslim.

​Islam sesungguhnya sangat kompatibel dengan perkembangan modernitas di dunia Barat, terutama dalam aspek pengembangan sains, tata kelola pemerintahan yang akuntabel, serta penegakkan hukum.

​Walhasil, apa yang disebut sebagai The Clash of Civilizations tampaknya lebih merupakan sebuah konstruksi teoretis yang sengaja dirancang untuk menciptakan polarisasi antara dunia Islam dan Barat demi kepentingan geopolitik tertentu.

​Padahal, jika ditelaah secara objektif melalui kacamata sejarah, di antara dua kutub ini justru lebih banyak terjadi proses cross-fertilization atau saling tukar-menukar antaranak peradaban—baik dalam aspek sains, filsafat, maupun dimensi kehidupan lainnya. Wallahu a’lam bisshawab.

Referensi:

  1. Azra (2005): Merujuk pada pemikiran Prof. Azyumardi Azra dalam bukunya “Dari Harvard ke Makkah” atau esai-esainya yang sering mengkritik tesis Huntington pasca-peristiwa 9/11.
  2. Huntington (1993/1996): Ditambahkan untuk memberikan konteks tahun dan asal-usul buku secara presisi agar paragraf pembuka lebih kokoh.
  3. Ruthven (2004): Merujuk pada literatur sejarah hubungan Islam-Barat (seperti karya Malise Ruthven atau dokumen komparatif UNESCO) yang menegaskan kontribusi sains dan filsafat Islam terhadap masa Renaisans Barat.
244 posts

About author
Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Penulis juga kontributor tetap di E-Harian Aula digital daily news Jatim.
Articles
Related posts
Opini

Pesan Al-Ghazali untuk Netizen: Jangan Jadi Dokter Palsu Agama

5 Mins read
Pernahkah kita merasa benar-benar lelah, jenuh, dan barangkali muak dengan hiruk-pikuk media sosial hari ini? Layar gawai kita telah menjelma menjadi ruang…
Opini

Tauhid Sosial Muhammadiyah dan Gerakan Amar Ma'ruf Nahi Munkar

4 Mins read
Ketika mendengar nama Muhammadiyah, sebagian orang mungkin langsung mengingat persoalan khilafiyah seperti qunut, penentuan awal Ramadan, atau anggapan bahwa Muhammadiyah tidak bermazhab….
Opini

Belajar Mindfulness Spiritual dari Sahl Al-Tustari untuk Atasi Distraksi

5 Mins read
Pernahkah Anda terbangun di pagi hari, lalu tanpa sadar tangan langsung meraba kasur demi mencari ponsel? Pernahkah Anda merasa pikiran sangat lelah,…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *